Pustaka Digital Ibu dan Anak


“Perisai” si Kecil di Tahun Kedua

Posted in Uncategorized by nugraad001 on January 2, 2008

parent-guide.jpg

Begitu bisa berjalan, anak mengeksplorasi lingkungan yang lebih luas. Risiko terinfeksi bakteri dan virus pun meningkat, padahal kekebalan tubuh anak belum sempurna. Pemberian ASI di tahun kedua meningkatkan kekebalan tubuh anak batita.

Ditya, Riza dan Dani, tiga anak lelaki yang bersaudara sepupu. Ditya langganan pilek dan mengidap asma sejak batita. Riza, di usianya yang belum genap dua tahun, sudah dua kali menjalani rawat-inap di rumah sakit karena diare. Ia juga sering batuk dan panas karena radang tenggorokan. Sedangkan Dani, meski mengalami juga pilek, batuk dan radang tenggorokan, tidak mengidap asma dan tidak pernah diare — apalagi sampai dirawat di rumah sakit.

Ditya disusui ibunya sampai usia tiga bulan, tapi di rumah sakit sudah dikenalkan susu formula. Sejak usia 3 bulan Ditya sepenuhnya diberi susu formula. Riza disusui sampai lima bulan, tapi sudah dikenalkan susu formula sejak awal. Sejak usia 3 bulan Riza diberi susu formula di siang hari. Di usia 5 bulan Riza sepenuhnya diberi susu formula. Dani disusui eksklusif sejak lahir. Mulai usia 3 bulan ia diberi ASI perah eksklusif di siang hari, sementara pagi dan malamnya tetap disusui. Mulai usia 6 bulan Dani diberi ASI perah bersama makanan pendamping, pagi dan malam tetap disusui. Di tahun keduanya, Dani tidak mendapat ASI perah lagi (sudah makan nasi), tapi tetap disusui pagi dan malam.

Nurita, ibu Dani, bersyukur putranya tidak mengalami sakit yang ‘berat-berat’ seperti saudara-saudara sepupunya. Ia mengatakan, bisa saja salah satu penyebabnya adalah karena Dani mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, dan masih disusui sampai sekarang. “Target saya memang menyusui Dani sampai umurnya dua tahun. Saya senang kalau ternyata ASI bikin Dani lebih sehat. Soalnya anak seumur Dani biasanya sering sakit. Habis segalanya dicoba”
 
Risiko Menjelajah
Di tahun kedua, anak batita biasanya sudah bisa berjalan, punya rasa ingin tahu yang besar, sudah mulai minum dan makan segala-macam. Walhasil, area jelajah anak meluas, baik di dalam maupun luar rumah. Objek pengamatan mereka bertambah, baik orang, hewan atau benda. Minuman dan makanan yang masuk ke mulut mereka pun beragam. Semua itu baik untuk perkembangan anak batita, tapi di sisi lain memperbesar kemungkinan mereka bertemu bakteri serta virus penyakit yang lebih banyak dan beragam.

Dalam Fatcs for Life di situs online UNICEF disebutkan, “Bayi-bayi sering jatuh sakit begitu mulai merangkak, berjalan, bermain, serta minum dan makan makanan selalin ASI.” Untuk menghadapi macam-macam bakteri dan virus, sistem kekebalan tubuh anak batita belum sepenuhnya berkembang. Itulah sebabnya mereka kurang tahan melawan berbagai penyakit. Dan jika anak batita sakit, gejala yang mereka alami bisa lebih parah dibandingkan gejala yang dialami anak yang lebih besar – meski bakteri atau virus penyebabnya sama. 
   
Pentingnya Pemberian ASI
Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu melindungi tubuh anak dari berbagai penyakit selama tahun kedua ini? Selain pemberian makanan padat yang bergizi seimbang serta imunisasi dasar, berbagai sumber menyebutkan pentingnya pemberian ASI. UNICEF, misalnya, memberi panduan agar anak usia 12-24 bulan disusui sesering mungkin, dan diberi makanan keluarga lima kali sehari. Apa manfaat memberi ASI kepada anak di tahun kedua hidup mereka? Inilah beberapa di antaranya:          

  1. ASI di tahun kedua meningkat kandungan faktor kekebalannya. Penelitian menyebutkan, zat antibodi tersedia dalam jumlah besar di dalam ASI selama masa menyusui. Tapi Goldman dan Goldblum menemukan, sebagian faktor kekebalan dalam ASI meningkat konsentrasinya selama tahun kedua dan selama proses penyapihan.
  2.  ASI memperkecil risiko sakit pada anak usia 16-30 bulan. American Academy of Family Physicians melihat, anak-anak yang disapih sebelum usia 2 tahun meningkat risiko sakitnya (AAFP 2001). Penelitian lain menyebutkan: anak usia 16-30 bulan yang disusui lebih jarang sakit, dan sakitnya lebih singkat dibanding anak sebaya yang tidak disusui.
  3.  Pemberian ASI jauh di atas usia 6 bulan cegah alergi dan asma. Salah satu cara terbaik mencegah alergi dan asma, menurut berbagai penelitian, adalah menyusui eksklusif selama 6 bulan dan meneruskan menyusui sampai jauh sesudah itu. Memperlama pemberian ASI, berarti ‘menunda’ persinggungan bayi dengan alergen, dan memperkecil kemungkinan terjadinya reaksi alergi. ASI sendiri membantu mempercepat pematangan lapisan pelindung dalam usus bayi, melapisi usus bayi dan menghalangi masuknya molekul penyebab alergi ke dalam darah bayi, serta memberi perlindungan antiradang, sehingga mengurangi risiko infeksi-pemicu-alergi.
  4. ASI diperlukan anak yang sedang sakit. UNICEF merekomendasikan anak (batita) yang sakit diberi ASI banyak-banyak, karena ASI adalah makanan bergizi yang paling mudah dicerna jika anak sedang kehilangan nafsu makan. Bahkan WHO menyatakan, kenaikan angka menyusui bisa mencegah sampai 10 persen kematian seluruh anak balita.  

Ada rencana menyapih si kecil setelah ulang tahun pertamanya? Tundalah. ASI akan menjadi salah satu ‘perisai’ penting yang membantu melindungi kesehatan si kecil di tahun keduanya. PG


 ASI di Tahun Kedua Kaya Nutrisi!

  • ASI di tahun kedua lebih ‘kaya’ lemak dan energi. Penelitian Dr. Dror Mandel, dkk menyebutkan, ASI dari para ibu yang sudah menyusui lebih dari 1 tahun meningkat kandungan lemak dan energinya, dibanding ASI dari para ibu yang menyusui lebih singkat. Penelitian ini dimuat di jurnal Pediatrics, 2005. 
  • ASI di tahun kedua adalah sumber lemak dan vitamin A yang tak tergantikan. Penelitian Adelheid W. Onyango dkk menyimpulkan, ASI adalah sumber lemak dan vitamin A yang tak tergantikan oleh makanan sapihan apapun. Saat makanan sapihan tak memadai sebagai sumber gizi utama karena asupan minim (misalnya, saat anak ‘susah makan’) ASI menjadi sumber gizi yang semakin penting di tahun kedua, tapi tidak menjamin kecukupan asupan gizi secara keseluruhan. Penelitian ini dimuat di buletin WHO tahun 2002.
  • ASI di tahun kedua tetap menyediakan sejumlah zat gizi penting. Merujuk Profesor Kathryn Dewey, ahli nutrisi dari College of Agricultural and Environmental Sciences, AS (2001), ASI selepas tahun pertama tetap menyediakan sejumlah zat gizi penting — terutama protein, lemak dan sebagian besar vitamin — dengan (jumlah dan kualitas) baik. ASI di tahun kedua (usia 12-23 bulan) mampu mencukupi:
  • 29% kebutuhan energi anak usia 12-23 bulan
  • 43% kebutuhan protein
  • 36% kebutuhan kalsium
  • 75% kebutuhan vitamin A
  •  76% kebutuhan asam folat
  • 94% kebutuhan vitamin B12
  • 60% kebutuhan vitamin C. PG

Mmm… Nyaman Dipeluk Mama!
Mengapa anak usia 1 tahun senang minta dipeluk? Sebut saja namanya Sibitu, asal Jepang. Dari tingkah laku dan gerak-geriknya, usianya diperkirakan 1-3 tahun. Suatu hari, tanggal 8 Juni 2007, Sibitu duduk sendirian saja di ruang Laboratorium Osaka University, Jepang. Ketika Shuhei Ikemoto, salah seorang mahasiswa Osaka University menunduk dan menggenggam tangannya dengan hangat, Sibitu balas menatap Shuhei.

Sibitu, si kecil yang diduga berusia 1-3 tahun itu, tampaknya senang jika ada yang menyentuhnya. Tingkahnya benar-benar seperti anak batita pada umumnya. Tapi Sibitu, yang namanya biasa ditulis CB2 itu, bukan anak batita. Seperti diberitakan Associated Press, CB2 adalah Child-Robot with Biomimetic Body —  robot anak ciptaan sekelompok ilmuwan peneliti Jepang.

Meski ukurannya terlalu besar untuk ukuran tubuh anak batita (tinggi sekitar 122 cm, berat sekitar 35 kg), robot-anak ini dirancang untuk bergerak dan bertingkah mirip anak usia 1-3 tahun sungguhan: ekspresi wajahnya bisa berubah-ubah, tubuhnya bisa mengayun ke depan dan ke belakang, bisa bicara dengan pita suara buatan, bisa ‘menatap’ karena matanya dilengkapi kamera kecil, dan bisa mendengar dengan sensor bunyi. Yang istimewa, CB2 punya 197 sensor untuk sentuhan!

Pelukan: Sentuhan Besar 
Kehadiran CB2, seperti halnya kehadiran Tinky Winky, Dipsy, Lala dan Po –empat tokoh film Teletubbies — yang sering mengulang-ulang kalimat “Berpelukan!” sambil memeluk satu sama lain, mengingatkan kita kembali betapa pentingnya arti sentuhan, terutama bagi anak kecil.

Sentuhan adalah ‘kebutuhan vital’ manusia. Deborah Spaide — penulis Teaching Your Kids to Care, pendiri Kids Care Clubs and Family Cares, AS – dalam tulisannya Stress and Fear in Children menyebutkan bahwa kulit kita dipenuhi syaraf-syaraf yang bertindak sebagai penerima-sentuhan. Dan ini, menurut Spaide, membuktikan bahwa tubuh kita dirancang untuk merespon sentuhan.

Sentuhan juga menyehatkan tubuh. “Sebuah sentuhan kecil saja bisa menurunkan tekanan darah, meredakan depresi, memperkaya fungsi kekebalan, menurunkan kadar hormon-hormon stres, meningkatkan penyerapan makanan, merangsang hormon-hormon pertumbuhan, bahkan mengatur suhu tubuh,” tulis Spaide, dalam situs online-nya, soulrise.com. Ia menambahkan, sentuhan memudahkan transfer energi, cinta, penerimaan, kehangatan dan kasih sayang dari seseorang kepada orang lain.

Jika sebuah sentuhan kecil saja begitu besar manfaatnya, bagaimana dengan sebuah pelukan? Pelukan bisa dibilang ‘sentuhan besar’. Ia melibatkan permukaan kulit yang amat luas. Pelukan orang tua terhadap anak kecil yang usianya belum dua tahun bahkan menyentuh hampir seluruh permukaan kulit anak, dari kepala sampai kaki. Bisa dipastikan, manfaatnya terhadap anak akan luar biasa.   

Lima Manfaat Pelukan   
Apa saja manfaat ‘sentuhan besar’ bernama pelukan, untuk anak batita? Inilah segelintir di antaranya:

  1. Membuat otak tumbuh. Memeluk anak dengan tulus berarti memberinya sentuhan dan kasih sayang. Sedangkan kasih sayang dan sentuhan, menurut ilmuwan ahli syaraf University of California, Berkeley Marian Diamond, Ph.D., benar-benar menyebabkan otak anak tumbuh. Dr. Marian adalah penulis buku Magic Trees of the Mind: How to Nurture Your Child’s Intelligence, Creativity, and Healthy Emotions from Birth Through Adolescence.
  2. Menentramkan hati. Menurut Robert P. Lindeman, MD, Ph.D dari Natick Pediatrics, Massachusetts, AS, anak batita sangat sering memeluk (dan mencium) ibu atau ayahnya. Ini adalah cara anak untuk terus menerus menentramkan kembali hatinya, bahwa dirinya tetap disayang.
  3. Memberi anak rasa-kedekatan. Merujuk buku Building Healthy Minds: The Six Experiences That Create Intelligence And Emotional Growth In Babies And Young Children dari Dr. Stanley I. Greenspan, anak usia 12 bulan belum paham soal jarak dalam ruang fisik, misalnya jauh-dekat. Itulah sebabnya mereka selalu ingin membaui dan menyentuh orang tuanya.

    Menempel secara fisik pada orang tua (atau pengasuh) adalah cara anak seusia ini merasakan sense of closeness dengan orang tua atau pengasuh (“Mama ada di dekatku. Aku bisa menyentuh dan menciumnya”). Pola ini membuat anak merasa aman. Rasa aman adalah modal awal anak untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan rasa diri (sense of self).

  4. Meredakan tantrum. Saat anak tantrum, pelukan erat bisa membantu mengendalikan emosinya. Jika ternyata reaksi anak justru sebaliknya (semakin marah atau rewel), berarti anak sedang tidak ingin dipeluk dan kita perlu mencari cara lain untuk meredakan tantrumnya.
  5. Membuat anak merasa dihargai. Menurut Alice Sterling Honig — profesor emeritus bidang perkembangan anak di College of Human Services and Health Professions, Syracuse University, AS – memeluk anak adalah salah satu cara mengingatkan anak bahwa ia bagian yang berharga dari keluarganya.

Tahun ini si kecil memang tidak harus digendong sebanyak tahun lalu. Tapi ia tetap memerlukan banyak sekali pelukan dan sentuhan. Ingatlah, di sekujur tubuh si kecil ada miliaran syaraf penerima-sentuhan yang ‘haus disentuh’ – jauh lebih banyak dari 197 sensor sentuhan yang dimiliki Sibitu alias CB2, si robot batita dari Jepang. PG 


Sebuah Pelukan Bernama Menyusui
Salah satu alasan mengapa ibu disarankan menyusui sampai anak berusia dua tahun, adalah karena sambil menyusu anak bisa mendapatkan pelukan ibunya. Dari segi sentuhan fisik, berikut ini manfaat menyusu untuk anak batita, menurut berbagai sumber:

  • Menenangkan anak yang sedang gelisah.
  • Menenangkan anak dari stres sehari-hari
  • Menenangkan anak yang sedang frustrasi, terguncang atau terluka perasaannya
  • Menggembirakan dan menyemangati anak
  • Membantu anak membuat transisi-bertahap memasuki masa kanak-kanak
  • Membantu anak mencapai kemandirian dengan kecepatannya sendiri. PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: