Pustaka Digital Ibu dan Anak


Aku Mau Minum Sendiri

Posted in Parent Guide by nugraad001 on December 4, 2007

parent-guide.jpg

Kemampuannya minum sendiri, sebenarnya sejalan dengan perkembangan usianya. Pada usia ini, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, dan ingin melakukan banyak hal secara mandiri.

Adnan (1,5 tahun) terlihat semangat minum sendiri dari gelas plastik berwarna biru. Sementara kedua tangannya memegangi gagang cangkir yang terdapat di kedua sisi gelas itu. ’’Wah, cucu oma sudah pintar minum sendiri ya?’’kata Sundari (55 tahun) saat bertandang ke rumah Alia (26 tahun), putri pertamanya, untuk menengok cucunya yang masih batita itu. ’’Iya, sekarang kalau mau minum, Adnan selalu mau melakukannya sendiri, bu,’’timpal Alia, bangga.

Kemampuan Adnan, kemungkinan juga dimiliki oleh anak-anak lain seusianya. Seperti diketahui, kemampuan anak melakukan sesuatu akan bertambah seiring dengan perkembangan usianya. Hal ini, seperti yang dituturkan oleh Jeremy Lichtman, MD, seorang dokter anak dari Pediatric Medical Associates di Pennsylvania. ’’Setelah usia 12 bulan, anak mulai mampu untuk berdiri sendiri, berjalan sambil memegangi satu furnitur ke furnitur lainnya, dan minum dari gelas,’’katanya di pennhealth.com.

Kemampuan minum dari gelas sendiri, merupakan dampak dari perkembangan organ-organ mulut si kecil. Kemampuan minum berkembang sesuai kematangan organ-organ mulut. Awalnya, di usia 0 bulan, refleks menelan yang berkembang. Sehingga masih sulit bagi bayi untuk melakukan ‘pengolahan’ makanan dan minuman dengan lidah atau gigi (gusi). Itulah sebabnya bayi sampai usia 6 bulan tidak disarankan untuk ‘makan’ atau ‘mengunyah’.

‘’Seiring dengan pertumbuhan si kecil, maka kemampuan organ makan pun akan berkembang. Rahang makin kuat, gigi geligi mulai tumbuh, dan lidah pun bisa mulai dikendalikan. Demikian pula dengan kemampuan minumnya,’’ kata  Alzena Masykouri, M. Psi, seorang psikolog yang saat ini menjadi dosen luar biasa di Universitas Paramadina, Jakarta.

Bayi 6 bulan ke atas mulai dapat mengendalikan kecepatan minumnya, bahkan ia bisa menahan air (ngemut) sebelum ditelan. ’’Setelah usia 1 tahun, biasanya anak sudah mampu untuk mengendalikan laju/kecepatan air, misalnya anak minum dalam jumlah banyak, tapi yang ditelan sedikit-sedikit-tidak sekaligus sehingga tidak tersedak,’’kata psikolog lulusan Magister Psikologi Universitas Indonesia, Depok itu.

Si Kecil Ingin Mandiri
Kemampuannya minum sendiri, sebenarnya sejalan dengan perkembangan usianya. Pada usia ini, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, dan ingin melakukan banyak hal secara mandiri. Termasuk, minum sendiri. ‘’Setelah 10 bulan, biasanya anak menunjukkan keinginan untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Apalagi setelah 12 bulan. Inilah masa yang tepat untuk mengembangkan kemandirian atau autonomy yang sangat berguna untuk keterampilan hidupnya (life skill) kelak,’’ kata psikolog yang berpraktek di Klinik Kancil itu.

Meski demikian, Anda haruslah bersikap sabar dalam menghadapi keingintahuan yang sangat besar dari si kecil. Ingatlah, bahwa ini merupakan proses belajar baginya.’’Belajar adalah suatu proses, jadi butuh kesabaran dan ketelatenan untuk mendapatkan hasil yang optimal,’’Alzena mengingatkan. Terpenting bagi orang tua adalah membiasakan anak untuk memegang alat minumnya sendiri,  dan mengajari sikap minum yang tepat.

Amati Kebiasaan Minum Anak
Memang di pasaran saat ini terdapat bermacam-macam jenis gelas plastik untuk anak, dengan rancangan ’gaya minum’ yang bermacam-macam. Sebut saja, gelas plastik bertutup yang dipinggirnya ada ‘moncong’ tempat keluar air, atau gelas dengan sedotan, gelas tanpa tutup,dll. Lantas, gelas seperti apa yang tepat digunakan si kecil? Menurut Alzena, Setiap gelas diciptakan dengan manfaat dan kelebihannya masing-masing.

‘’Kalau gelas bertutup, lebih untuk higienitasnya, bukan fungsinya. Sedangkan gelas yang ada ‘corong’ dan sedotan berguna untuk membantu anak dalam mengatur aliran dan jumlah cairan yang masuk ke dalam mulut,’’tuturnya.

Mengenai gelas mana yang lebih tepat, kata Alzena, tergantung pada kebutuhan anak. ‘’Bagi anak-anak yang tidak terbiasa menggunakan dot, mungkin gelas dengan sedotan atau bahkan gelas biasa menjadi pilihan. Tetapi bila terbiasa menggunakan dot, biasanya gelas dengan corong menjadi peralihan sebelum akhirnya menggunakan gelas biasa,’’paparnya. Untuk menentukan pilihan, dapat dengan cara mencoba setiap jenisnya atau dengan mengamati kebiasaan minum anak. Nah, selamat mengajari si kecil minum ya! PG


Kok Si Kecil Malas Belajar !
Seperti kata Jeremy Lichtman, MD, seorang dokter anak dari Pediatric Medical Associates di Pennsylvania., pada usia ini umumnya anak sudah bisa minum sendiri menggunakan gelas. Selain sesuai dengan fase perkembangan organ mulutnya, secara psikologis, ini pun menjadi momen bagi untuk si kecil belajar mandiri. Tetapi, sebenarnya tidak sedikit pula anak yang terkesan ‘malas’untuk melakukannya lho.

Inilah  yang seringkali membuat para ibu frustrasi. ‘’Anak seringkali menolak perubahan, apalagi bila perubahan itu mengurangi rasa nyamannya. Bila ia terbiasa minum susu/air dengan menggunakan dot kemudian diminta untuk beralih menggunakan gelas yang notabene tidak lagi nyaman karena tidak bisa sambil tiduran, tentu ada reaksi penolakan,’’kata Alzena Masykouri, M. Psi . Nah, bila dihadapkan pada kondisi seperti ini, sebaiknya Anda :

  1. Konsisten. Kunci penting bagi orang tua adalah konsisten. Banyak orang tua yang gagal dalam masa peralihan ini karena merasa putus asa, kasihan melihat anak tidak ‘nyaman’, atau bosan berdebat/bertengkar dengan anak.
  2. Sabar. Bersabarlah untuk tetap konsisten mencoba membujuk dan mengajarinya. Pasalnya, bila Anda tidak konsisten dan sabar, tidak sedikit anak yang masih minum susu dari botol sampai usia SD. Bukan saja kemandirian yang tidak berkembang, tapi susunan gigi juga pasti terpengaruh.
  3. Libatkan anak dalam perubahan. Dalam setiap perubahan (misalnya, perubahan dari botol ke gelas, tidur di kamar sendiri, tidak lagi ditunggui di sekolah, punya adik baru, dsb), buatlah anak sebagai subyek, bukan objek yang harus menurut atau menerima perubahan apa adanya. Caranya, buat ia terlibat dalam perubahan itu dan merasa penting akan hasil yang dicapai. ‘’Alasannya, momen bahwa sang anak sudah besar biasanya sangat berpengaruh dalam pengembangan konsep diri,’’ucap penggagas dan pengelola Taman Bestari itu.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: