Pustaka Digital Ibu dan Anak


Kehamilan Pada Penderita Kelainan Jantung

Posted in Parent Guide by nugraad001 on October 10, 2007

parent-guide.jpg

Wanita dengan riwayat jantung sangat beresiko bila hamil. Bahkan, pada derajat kelainan jantung tertentu seorang wanita tidak disarankan untuk hamil.

Amanda (28 tahun) telah menikah selama 3 tahun. Selama ini kehidupan rumah tangganya dengan Tommy (35 tahun) berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Hanya saja belakangan ini, ia merasa ada sesuatu yang kurang dari perkawinannya. Ya, Amanda merasa pernikahannya belum terasa lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Anak yang terlahir dari rahimnya. Tetapi, mungkinkah hal itu terjadi, mengingat dirinya adalah seorang pengidap kelainan jantung?

Bagi setiap wanita, kemampuan untuk mengandung dan melahirkan merupakan sesuatu yang sangat penting. Adalah kebanggaan sekaligus anugerah yang luar biasa, bisa memberikan keturunan kepada suami yang dicintainya. Tetapi, bagi sebagian wanita ada kalanya, keinginan untuk hamil menjadi masalah. Termasuk bagi wanita yang mengidap kelainan jantung. ‘’Wanita yang memiliki kelainan jantung sangat beresiko bila mengandung. Namun, bukan berarti semua wanita dengan riwayat penyakit jantung ‘tidak boleh’ hamil,’’kata dr. Boy Abidin, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekolog, Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Sangat Beresiko
Meski pada derajat kelainan jantung tertentu, kehamilan tetap diperbolehkan, tetap saja mengandung resiko tinggi. Menurut Mark W. Tomlinson, dalam bukunya Cardiac Disease, menuliskan pembagian derajat kelainan jantung dalam 4 kelas. ‘’Pembagian kelas ini berdasarkan pada New York Heart Association Cardiac Functional Classification,’’kata Tomlinson. Pada kelas 1, gejalanya masih tergolong ringan yakni penderita tidak mengalami sesak napas atau jantung berdebar. Jadi seakan-akan ia baik-baik saja. Kelas ke-2 adalah penyakit jantung golongan sedang, dimana penderita sehari-hari merasa sehat tapi saat beraktivitas sedikit berat, misalnya berlari, maka jantung terasa sesak, berdebar atau cepat lelah.

Kelas ke-3 sudah termasuk penyakit jantung kategori berat. Saat istirahat penderita merasa nyaman, tapi saat mengerjakan pekerjaan sehari-hari, kendati aktivitas itu ringan, ia akan mengalami sesak atau muncul gejala kelemahan jantung. Pada kelas ke-4 sudah masuk kategori sangat berat. Penderita, tanpa mengerjakan apa-apa pun sudah kerap merasa sesak. Sependapat dengan itu, menurut dr. Boy, pada penderita kelainan jantung kelas 1 dan 2 seorang wanita masih dimungkinkan untuk hamil, namun dengan pengelolaan intensif oleh tim dokter dan kedisiplinan ibu hamil tersebut. Sedangkan pada kelas 3 dan 4 sudah tidak disarankan untuk hamil.

Tim dokter yang dimaksud diantaranya adalah dokter spesialis jantung, dokter spesialis kebidanan, dokter anestesi, dan bila perlu ditambah dengan dokter spesialis gizi. Pasalnya, seperti calon ibu umumnya, saat hamil, Anda yang memiliki riwayat kelainan jantung pun perlu memperhatikan gizi untuk perkembangan janin yang optimal. Hanya saja, pada kasus wanita dengan kelainan jantung mungkin ada jenis makanan tertentu yang dianggap beresiko.

Periksakan Sejak Awal
Mengenai tingkatan derajat kelainan jantung yang Anda miliki, untuk mengetahuinya Anda harus berkonsultasi dengan dokter jantung. Bahkan, menurut dr. Boy, sebaiknya seorang wanita melakukan pre marital test atau tes kesehatan sebelum menikah. Pada uji kesehatan yang dilakukan, selain memeriksa kesehatan alat reproduksi, juga jantung. Pasalnya, tidak sedikit wanita yang merasa baik-baik saja, setelah dilakukan uji kesehatan ditemukan adanya kelainan jantung meski baru pada kelas 1 (ringan).

Jika seorang wanita memiliki kelainan jantung kelas 3 atau 4 dan tanpa disadari mengalami kehamilan, kemudian setelah mengetahui sedang mengandung bersikeras meneruskan kehamilannya, maka ada sejumlah resiko –meski pun sudah dilakukan perawatan intensif dari tim medis– diantaranya :

* Kematian ibu hamil
* Bayi lahir dengan berat rendah, disebabkan sirkulasi darah dan makanan dari ibu ke janin tidak lancar.
* Keguguran, terutama di trimester pertama.

Sejalan dengan itu, pada wanita yang memiliki penyakit jantung golongan ringan atau sedang yang diperbolehkan hamil pun, biasanya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain :

* Rutin memeriksakan kesehatan Anda dan janin pada tim dokter yang menangani, dan disiplin menjalankan saran dokter.
* Banyak istirahat, dan menghindari segala aktivitas yang bisa membuat Anda lelah.

* Hindarkan diri Anda dari stress. Gangguan emosional bisa menyebabkan stress, kondisi ini pun berbahaya bagi kelangsungan kehamilan Anda. Tenangkanlah pikiran dan bathin Anda selama kehamilan. Peran serta suami dan keluarga turut mendukung dalam menghindarkan kemungkinan stress.

Perlu disadari adalah meski derajat kelainan jantung Anda masih pada tingkatan ringan atau sedang (kelas 1 dan 2), resiko kelainan akan memburuk atau naik ke kelas 3 atau 4 tetap dimungkinkan, seiring perkembangan janin. Pasalnya, semakin bertambah usia kehamilan, beban jantung akan semakin bertambah pula.

Menurut dr. Boy, apabila selama kehamilan terjadi gagal jantung (derajat kelainan meningkat dari ringan menjadi buruk), pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu, bisa saja diambil tindakan therminasi (pengakhiran kehamilan), dengan kata lain kehamilan disarankan untuk tidak dilanjutkan, dan lebih fokus pada bagaimana menyelamatkan sang ibu. Sebaliknya, apabila kondisi memburuk saat kehamilan berusia di atas 20 minggu, dan setelah diobservasi akan membahayakan bayi dalam kandungan, biasanya diambil tindakan operasi caesar untuk menyelamatkan bayi –meski belum waktunya ia lahir.

Nah, dengan demikian pertimbangkanlah niat Anda untuk hamil bila ternyata Anda mengidap kelainan jantung. Konsultasikan dengan dokter jantung dan dokter kebidanan sebelum benar-benar positif hamil. Kalaupun tim dokter menyarankan untuk tidak hamil, sebaiknya Anda dan suami bijak dalam menyikapi ini. Bukankah ini demi kebaikan Anda? Lagi pula, Anda masih bisa kok memiliki anak dengan cara lain, seperti adopsi, misalnya. Apapun itu, keputusan tetap ada di tangan Anda dan suami. PG

Bisakah Melahirkan Normal?
Setelah mengupayakan agar tetap sehat selama hamil, calon ibu yang memiliki kelainan jantung mungkih masih memiliki 2 pertanyaan. Pertama, bisakah melahirkan normal? Kedua, akankah Anda mewariskan panyakit jantung pada si kecil? dr. Boy Abidin, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekolog, Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading memberikan jawabannya.

* Dimungkinkan lahir per vagina. Jika Anda adalah pengidap kelainan jantung ringan dan selama kehamilan tidak terjadi kondisi memburuk atau gagal jantung. Anda tetap dimungkinkan untuk bisa melahirkan bayi sesuai waktunya (cukup bulan), dengan jalan per vagina (normal). ‘’Syaratnya, tidak boleh mengejan saat melahirkan. Melainkan dibantu oleh alat, seperti vakum atau forceps,’’ katanya.
* Belum tentu mewariskan penyakit. Bayi yang memiliki ibu dengan kelainan jantung, bukan berarti harus terlahir dengan kelainan jantung. Pasalnya, penyebab kelainan jantung sendiri bermacam-macam, termasuk karena infeksi dan kelainan katup. ‘’Meski terlahir dari ibu dengan riwayat kelainan jantung, bayi bisa tetap dapat terlahir sehat dan berkembang seperti seharusnya,’’ paparnya.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: