Pustaka Digital Ibu dan Anak


Jangan Biarkan Si Kecil Dehidrasi

Posted in Parent Guide by nugraad001 on October 10, 2007

parent-guide.jpg

Dehidrasi tidak selalu disebabkan oleh diare. Sebaliknya, diare tidak senantiasa menimbulkan dehidrasi. Muntah, demam dan flu pun memungkinkan bayi terkena dehidrasi.

Ramona (27 tahun) tampak gelisah. Sejak pagi tadi, ibu muda itu seolah tak bisa konsentrasi dalam menjalankan rutinitasnya di rumah. Pasalnya, Diandra (1,5 bulan) sudah 3 hari ini terkena flu. Kemungkinan putra pertamanya itu tertular Jose (32 tahun) –suaminya, yang beberapa hari sebelumnya juga terkena flu.

‘’Ada apa, Mona?’’, tanya Maria (37 tahun) sahabat Ramona, saat dihubunginya via telepon. ‘’Aku cemas, Brian sudah 3 hari ini terkena flu. Selain demam, dia juga rewel dan kehilangan nafsu minum,’’katanya cemas.
‘’Mmh, hati-hati lho. Jangan sampai Brian mengalami dehidrasi. Bisa bahaya nanti,’’ungkap Maria mengingatkan.

Ya, dehidrasi tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa tetapi juga bayi. ‘’Efek dehidrasi pada bayi akan lebih berbahaya ketimbang pada orang dewasa,’’kata Dr. Sander D. Teddy, SpA, dokter spesialis anak, Brawijaya Women and Children Hospital.

Pendapat senada tertulis pula dalam situs webmd.com yang menyebutkan bahwa pada usia dewasa, dehidrasi dapat diatasi dalam waktu relatif cepat, tetapi apabila dehidrasi didera bayi, dapat lebih berbahaya. Pasalnya, bayi belum memiliki kemampuan berbicara, sehingga dimungkinkan orang tua atau pengasuh tidak mengetahui bila si kecil mulai terkena dehidrasi. Padahal bila berlanjut, efeknya bisa sangat berbahaya.

Bukan hanya karena diare
Umumnya dehidrasi diasosiasikan sebagai dampak dari diare, apabila seringnya frekuensi buang air besar (BAB). Jika, bayi di bawah usia 6 bulan mengalami diare, kata dr. sanders, para orang tua biasanya cepat tanggap mengantisipasi kemungkinan dehidrasi dengan memberinya asupan nutrisi cair, seperti ASI atau susu formula. Padahal, lanjutnya, dehidrasi tidak harus disebabkan oleh diare.

Nancy Showen, MD, seorang pediatri dari Oakland, California, menyatakan jika bayi mengalami demam atau kepanasan dan membuatnya mengeluarkan banyak keringat, bisa saja ia terkena dehidrasi. ‘’Saat bayi demam atau mengeluarkan banyak keringat, berikanlah banyak nutrisi cair. Tetapi, bila ia memiliki kesulitan menelan, sebaiknya konsultasikan pada dokter. Bisa saja dokter akan memberikan obat yang aman bagi bayi, untuk membantu mengurangi ketidaknyamanan yang dideritanya,’’katanya dalam babycenter.com.

Secara garis besar, dehidrasi dapat diakibatkan oleh dua penyebab :

1. Kekurangan cairan tubuh secara berlebih. Bisa karena diare, muntah, dan demam tinggi yang menyebabkan banyak keluar keringat.
2. Pemasukan asupan nutrisi yang kurang. Mungkin karena nyeri tenggorokan, perut tidak enak, sehingga anak menolak minum susu, dan terserang flu –yang umumnya menyebabkan turunnya nafsu makan/minum–.

Dehidrasi bisa berkelanjutan
Dua hal terpenting bagi tubuh –termasuk bayi—adalah oksigen dan air. Apabila cairan dalam tubuh kurang, darah akan mengental, gerakan ke otak pun menjadi lambat. Pasokan oksigen pun berkurang, karena oksigen tidak bisa bergerak sendiri ke otak tanpa ada cairan tubuh (darah). ‘’Jika berkelanjutan lama-lama bisa muncul syok yang dapat menimbulkan kejang,’’paparnya. Bila benar-benar terjadi, dapat menghadirkan komplikasi kemana-mana termasuk menjadi salah satu faktor yang bisa mengurangi kecerdasan. Pasalnya, organ tubuh manusia saling beriteraksi satu dan lainnya, dan otak menjadi pusatnya.

Dari ringan hingga berat
Secara garis besar, dehidrasi dapat dibagi dalam 3 tingkatan, masing-masing dehidrasi ringan, sedang, dan berat. ‘’Hanya saja, tingkat dehidrasi ringan dan sedang umumnya disatukan dalam satu kelompok, karena relatif sulit untuk membedakan apakah bayi terkena dehidari ringan atau sedang,’’ ucap dr. Sanders. Dehidrasi ringan, berarti bayi kehilangan cairan 5%, dehidrasi sedang 6-9%, sementara bila cairan tubuh berkurang 10% (bisa diukur dari adanya penurunan berat badan sekitar 10% dari bobot sebelumnya), sudah dikategorikan sebagai dehidrasi berat.

Dehidrasi ringan dapat dibantu di rumah dengan pemberian asupan cairan. Berikan bayi nutrisi cair sesering mungkin. Jenis cairan dapat disesuaikan dengan kategori usianya. Misalnya :

* ASI (untuk bayi yang masih diberi ASI Eksklusif)
* Susu formula (anti alergi)
* Jus/sari buah
* Teh manis
* Larutan gula garam

‘’Bayi yang berusia 0-6 bulan yang masih diberikan ASI Eksklusif, pastikan saja ASI-nya cukup. Konsultasikan dengan dokter anak ahli laktasi agar bisa menyusui secara optimal,’’saran dr. Sanders.

Pada kondisi lebih lanjut, segeralah bawa si kecil ke rumah sakit untuk mendapat tindakan medis, dengan cara diberi infus. ‘’Tetapi bayi adakalanya memiliki pembuluh darah yang tipis. Jadi untuk memasang infus relatif lebih sulit daripada orang dewasa. Kadang-kadang diperlukan tindakan operasi kecil untuk mencari jalan darahnya (pembuluh darah),’’terang dr. Sanders. Meski demikian, apabila tindakan tersebut dianggap perlu, akan dilakukan agar si kecil jangan sampai syok. PG

Mendeteksi Dehidrasi pada bayi

Dr. Sander D. Teddy, SpA, dokter spesialis anak, Brawijaya Women and Children Hospital, menyebutkan ada sejumlah cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kondisi dehidrasi pada bayi. Diantaranya :

* Buang air kecil yang berkurang. Bahkan, kurang dari 6 kali sehari. Cara mudah memantau antara lain popok yang sering basah jadi jarang (penggantian popok berkurang).
* Ubun-ubun. Bayi biasanya memiliki ubun-ubun besar segi empat di atas kepala yang belum menutup. Bila mengalami dehidrasi kemungkinan jadi mencekung. Ini berlaku bagi bayi di bawah usia 19 bulan.
* Mata cekung dan air mata sedikit. Bila menangis, mungkin hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak mengeluarkan air mata.
* Bibir, mulut, dan lidah kering.
* Kelenturan kulit terngganggu. Saat normal, bila dicubit dalam 2 detik kulit akan kembali semula, bila dehidrasi akan agak lama. Tetapi ini tidak bisa dijadikan standar untuk mendeteksi apakah anak dehidrasi atau tidak, bila tubuh bayi montok. Pasalnya, pada kulit berlemak tebal, apabila dicubit cepat, kembalinya juga cepat.
* Anak menjadi rewel, gelisah, lemah, lesu.
* Penurunan berat badan. Bayi yang terkena dehidrasi –apalagi dehidrasi berat– bobotnya akan turun.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: