Pustaka Digital Ibu dan Anak


Cegah Obesitas Pada Anak

Posted in Parent Guide by nugraad001 on October 10, 2007

parent-guide.jpg

Bukan tidak mungkin, apabila obesitas pada anak tidak ditanggulangi sejak dini, akan semakin meningkatkan pravelensi kasus-kasus stroke dan serangan jantung di usia muda. Terlebih pada sejumlah kasus, sudah ditemukan adanya serangan jantung pada orang-orang berusia di bawah 30 tahun, dan stroke pada usia di bawah 40 tahun.

Rio (7 tahun) saat ini memiliki bobot 55kg, padahal tingginya baru mencapai 140cm, sedangkan Adnan (8,5 tahun) berat badannya mencapai 65kg dengan tinggi 147cm. Tak jauh berbeda, Alfin yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 9, dengan tinggi badan 150cm, ia mempunyai berat 70kg. Melihat postur tubuh tambun yang dimiliki siswa-siswa salah satu SD swasta di Jakarta itu tentu mengkhawatirkan.

Betapa tidak, di usia belia mereka sudah mengalami obesitas. Tetapi, menurut dr.Cindiawaty Pudjiati, MARS, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinik, Rumah Sakit Medistra, Jakarta, kenyataan itu tidak terlalu aneh. Pasalnya, memang angka obesitas di Jakarta saja, saat ini sudah semakin tinggi. ‘’Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir peningkatannya terjadi dari 9,6% menjadi 20%,’’katanya. Angka tersebut, lanjutnya, didapat dari hasil penelitian pada anak usia 6-12 tahun disejumlah sekolah dasar Jakarta.

Fast food dan games
Meningkatnya jumlah anak usia pertumbuhan yang mengalami obesitas, diyakini dr. Cindi –panggilan akrabnya—sebagai dampak kegemaran anak-anak mengkonsumsi fast food atau junk food, ice cream, kue-kue manis, dan soft drink yang menawarkan kadar lemak dan gula tinggi, termasuk air soda serta teh kemasan, disertai minimnya aktivitas fisik. ‘’Sekarang anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan monitor, baik untuk nonton TV, maupun main games.

Demikian pula menurut pakar gizi kuliner anak Tuti Soenardi. ‘’Tingginya tingkat konsumsi makanan yang tidak seimbang gizinya oleh anak-anak usia sekolah di kota besar memunculkan beberapa masalah gizi, yaitu obesitas pada anak,’’katanya ketika menjadi pembicara dalam Kampanye Gerakan Sosial Makan Sehat Pada Anak di Sekolah Al Izhar.

Pendapat serupa pun terlontar dari Rick Kulkarni, MD, director of Informatics, Department of Emergency Medicine, UCLA/Olive View-UCLA Medical Center. Tak jauh berbeda dengan anak-anak di Indonesia, obesitas pun menjadi momok bagi anak-anak di Amerika Serikat (AS). Dalam emedicinehealth.com ia menyebutkan beberapa penyebab semakin meningkatnya jumlah penderita obesitas dini, antara lain :

* Popularitas TV, komputer, dan video games semakin tinggi dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak-anak AS.
* Anak-anak di AS menghabiskan waktunya lebih dari 3 jam per hari untuk menonton TV. Tidak hanya membuat mereka hanya menggunakan sedikit energi, juga mengurangi aktivitas fisik.
* Semakin sedikit orang tua di AS (terutama yang sibuk bekerja) yang melakukan olah raga rutin. Dalam hal ini, anak-anak tidak melihat contoh dari para orang tuanya tentang pentingnya berolah raga.
* Hanya 1/3 anak-anak di AS yang mendapatkan pendidikan fisik (pelajaran olah raga) setiap hari.

Si lucu yang mengandung resiko
Sampai saat ini masih terdapat persepsi yang salah mengenai kegemukan pada anak. Seolah-olah anak yang gemuk itu ‘lucu’. Sehingga semua orang menyukai mereka dan memanggilnya ‘si lucu’. Orang tuanya pun terkesan bangga dengan kondisi fisik anaknya yang bertumbuh tambun. Terkesan sehat dan sejahtera. Padahal, menurut dr.

Cindi, dalam jangka panjang si anak memiliki resiko terkena berbagai penyakit. Sebut saja, koleterol tinggi, jantung, diabetes, dan stroke. Bahkan, lanjutnya, terdapat kecenderungan penyakit-penyakit tersebut –yang dulu menyerang orang usia di atas 50 tahun—terjadi pada usia yang semakin muda. ‘’Pada sejumlah kasus, sudah ditemukan adanya serangan jantung pada usia di bawah 30 tahun, dan stroke pada usia di bawah 40 tahun, meski pun masih jarang,’’katanya.

Bukan tidak mungkin, apabila obesitas pada anak tidak ditanggulangi sejak dini, akan semakin meningkatkan pravelensi kasus-kasus stroke dan serangan jantung di usia muda. Tak hanya itu, apabila kegemukan berlanjut hingga usia remaja, dimungkinkan anak akan kesulitan dalam bersosialisasi. Pada sejumlah kasus, terutama anak perempuan, akan merasa rendah diri ketika harus melewati masa puberitasnya dalam kondisi fisik yang obesitas.

Nah, demi kesehatan si kecil dan rasa percaya dirinya di usia remaja dan dewasa, ada baiknya apabila saat ini ia memiliki bobot tubuh yang tergolong gemuk melebihi rata-rata teman-teman seusianya, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter spesialis gizi. Fungsinya untuk mengetahui apakah sudah masuk dalam kategori obesitas (kegemukan) atau masih dalam tahap gemuk. Jika masih tergolong gemuk, dokter dapat membantu agar tidak berlanjut ke tahap obesitas. Demikian pula sebaliknya, jika telah masuk dalam kategori obesitas, si kecil pun akan mendapat bantuan yang tepat.

Jangan buat anak stress
Dr. Cindi mengingatkan bahwa meski saat ini Anda menyadari bahwa si kecil terlalu gemuk, bukan berarti lantas mengambil langkah ekstrim dan memaksanya melakukan diet ketat. ‘’Selain dapat membuat anak strees, dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatannya. Perlu dicatat bahwa saat ini anak sedang dalam masa pertumbuhan, dalam peridode ini gizi yang cukup sangat diperlukan,’’ujarnya.

Dengan demikian pada anak obesitas yang ingin diobati, pada tahap pertama sebaiknya kuantitas makanan yang dikonsumi belum dikurangi. Jumlahnya tetap sama tetapi jenisnya yang diganti serta cara pengolahannya di rubah. Misalnya, roti diganti dengan roti gandum, nasi putih jadi nasi merah, karena beras merah mengandung banyak serat namun memiliki nilai gizi yang sama. Cara pengolahan lauk pauk pun jangan terlalu banyak digoreng, melainkan direbus, kukus, tumis, bakar,dll. ‘’Anak kecil tidak langsung diharuskan untuk turun berat badannya, yang penting stabil dulu. Nanti sedikit-sedikit dengan diimbangi aktivitas fisik akan turun teratur tanpa mengganggu kebutuhan nutrisi yang cukup dan sesuai untuk usia pertumbuhan,’’terangnya.

Dalam hal ini, peran ibu sangat penting. Selain menyediakan nutrisi yang sehat bagi anak –sebaiknya makanan olahan di rumah—juga memperhatikan kandungan nilai gizinya. Tak hanya itu, sebaiknya Anda pun lebih selektif dalam menyediakan makanan cemilan bagi buah hati tercinta. Bila perlu, olah sendiri cemilan untuk si kecil di rumah, tanpa menggunakan gula berlebih.

Perlu diakui bahwa saat ini iklan makanan/minuman di TV sangat marak dan cenderung menggiurkan bagi anak-anak. Nah, disinilah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Meski sangat mencintai si kecil, bukan berarti harus membeli semua produk makanan/minuman tersebut. Alihkan saja perhatian anak dan berikan nutrisi lainnya yang lebih tepat. Tetapi, bukan berarti 100% melarang. Lebih tepatnya, disiasati. ‘’Boleh saja makan ice cream, tapi katakanlah 1 minggu sekali pada porsi tertentu,’’ucap dr. Cindi.

Nah, supaya tidak salah dalam menentukan pola diet si kecil, ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk menentukan menu nutrisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan si kecil. PG

Pentingnya Aktivitas fisik
Tak dipungkiri bahwa obesitas terjadi apabila nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tidak sesuai dengan yang dikeluarkan, termasuk melalui keringat. Nah, keringat atau pembakaran tubuh sebenarnya dapat ditempuh melalui aktivitas fisik. Bisa melalui olah raga, seperti berenang, , senam, main bola, dll. Maupun, melalui permainan. Sebut saja, main petak umpet, lompat tali, bermain sepeda dan permainan lainnya yang membutuhkan gerak motorik, seperti berlari, meloncat,dll. Bila perlu, tak ada salahnya lho Anda ‘turun’ langsung dan ‘mewariskan’ permainan lama yang dulu biasa Anda mainkan bersama teman-teman, seperti engklek, galasin, dll.

Menu sehat bagi anak obesitas
Berikut ini adalah contoh menu sehat yang dapat dikonsumsi anak obesitas dari dr.Cindiawaty Pudjiati, MARS, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinik, Rumah Sakit Medistra.

1. Sarapan : roti gandum 2 lembar, dioles mentega, ditambah keju, buah-buahan, susu. Bila masih ingin makan biskuit pilihlah yang tidak menggunakan krim (gula/coklat).
2. Makan siang : nasi sekitar 12-18 sendok makan (dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak), ayam antara 1-3 potong (sesuai kebutuhan), tahu-tempe 2-3 potong. Jangan terlalu banyak digoreng, misalnya bila ayamnya digoreng, tahu/tempenya tidak (bisa saja dipepes), sup sayuran, dan buah. Bila anak harus makan siang di sekolah, tanyakan makanan apa saja yang tersedia, pilihlah makanan yang paling minimal resikonya.
3. Sore : diantara makan siang dan makan malam, anak boleh mendapat makanan kecil. Tetapi, berikan cemilan yang sehat. Misalnya, buah-buahan, roti gandum, atau agar-agar buatan rumah yang tidak terlalu manis. Dalam hal ini kreativitas Anda sangat diperlukan.
4. Makan malam : komposisinya bisa seperti saat makan siang. Jenis dan cara pengolahannya dapat Anda kreasikan sendiri. Asalkan tetap merupakan makanan/minuman sehat sesuai anjuran dokter.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: