Pustaka Digital Ibu dan Anak


Memberi Obat pada Anak

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

USAHAKAN memberikan obat dalam jangka waktu yang tepat. Aturan meminum obat 3 x 1 tablet berarti dalam satu hari (24 jam) obat tersebut harus diminum tiga kali, setiap kali minum satu tablet. Itu pun berarti obat harus diminum setiap 8 jam sekali (24 jam dibagi 3 kali). Jika bingung, tanyakan dengan jelas aturan minum obat ini pada apoteker tempat Anda membeli obat.

Urusan memberikan obat pada anak saat sedang sakit memang menjadi pekerjaan yang gampang-gampang sulit. Tidak setiap anak akan dengan sukarela membuka mulutnya dan menelan obat dengan manisnya. Sering kali terjadi “peperangan” sebagai akibat “pemberontakan” si kecil yang menolak minum obat.

Karena khawatir dengan kondisi sakit anak, orang tua sering kali akhirnya memutuskan untuk memberikan obat dengan cara apa pun, bahkan dengan “kekerasan” sekalipun. Bujuk rayu bisa berubah menjadi bentakan, ancaman, cubitan, bahkan “pengeroyokan”. Jerih payah itu pun kadang kala mengecewakan, obat yang dengan susah payah berhasil dimasukkan terbuang kembali, seiring muntahan si kecil kadang isi perut lainnya pun ikut tertumpah. Kalau sudah begini, orang tua jadi pusing tujuh keliling, alih-alih manfaat obat dirasakan, kekhawatiran pun semakin bertambah.

Sabar dan berempati

Memberikan obat pada anak saat sakit memang membutuhkan “keahlian” tersendiri, tetapi kunci terpentingnya adalah kesabaran. Usahakan tidak memaksa anak untuk meminum obat. Biasanya anak menolak minum obat karena rasa obat yang tidak enak, umumnya karena pahit. Namun, ada juga anak yang mengasosiasikan pengalaman minum obat sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan karena “trauma“ pernah dipaksa minum obat. Itulah yang menyebabkan anak memuntahkan kembali obat atau menolak dengan kuat upaya pemberian obat.

Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua perlu membujuk atau mencoba cara lain mengurangi rasa tidak enak obat. Dapat diberikan sedikit demi sedikit diselingi dengan cairan favoritnya, misalnya jus, sari buah, sirup, atau madu. Sebaiknya jangan membohongi anak dengan mencampur obat pada susu, makanan, minuman. Dikhawatirkan anak berpikiran makanan dan minuman tersebut tidak enak dan menolak mengonsumsinya ketika sedang sehat, padahal dia membutuhkannya untuk asupan nutrisi yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.

Cara pemberian obat pun sebaiknya dilakukan sambil bercanda atau bersifat permainan. Misalnya bermain dokter-dokteran, pesawat-pesawatan, atau pura-pura memberikan obat pada boneka kesayangannya.

Pada anak yang lebih besar dapat diajak bercerita mengenai manfaat yang akan dia dapatkan jika meminum obat, tentunya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.

Selain itu, orang tua pun harus ingat bahwa anak sedang sakit sehingga ia perlu mendapatkan empati lebih banyak. Sehingga, jangan lupa memberikan pujian jika anak berhasil melakukannya, namun jangan dikecilkan hatinya dengan dimarahi atau dikecam jika anak belum dapat sepenuhnya kooperatif. Pemberian obat dapat dicoba beberapa menit kemudian.

Tepat dosis dan tepat waktu

Saat dokter membuat resep, orang tua sebaiknya tahu persis obat apa yang akan diberikan pada anaknya. Jangan sungkan untuk berkomunikasi dan bertanya pada dokter tentang tujuan pemberian obat-obatan tersebut, dan bagaimana cara meminumnya, efek samping yang mungkin muncul, kapan waktu meminumnya, serta sediaan obat yang diresepkan. Selain itu, orang tua juga perlu tahu dengan jelas jenis obat yang harus dihabiskan walau sudah terlihat perbaikan kondisi kesehatan anak (misalnya obat antibiotik).

Kadang kala dokter meresepkan obat dalam bentuk puyer. Jika anak sulit meminum obat jenis ini sampaikan pada dokter untuk mencari alternatif sediaan obat lainnya. Jika disampaikan dengan alasan yang tepat tentunya dokter akan memahami kebutuhan pasiennya.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah dosis obat. Perhatikan jumlah takaran yang tepat. Dosis obat sudah dipertimbangkan dengan saksama, gunakanlah sendok takar khusus untuk obat jangan diganti dengan sendok ukuran rumah tangga, misalnya sendok teh atau sendok makan.

Kadang kala obat untuk anak sulit diberikan dengan sendok obat. Orang tua dapat mencoba memberikannya dengan pipet, sebaiknya pilih pipet dari bahan plastik agar tidak pecah saat tergigit anak.

Usahakan memberikan obat dalam jangka waktu yang tepat. Aturan meminum obat 3 x 1 tablet berarti dalam satu hari (24 jam) obat tersebut harus diminum tiga kali, setiap kali minum satu tablet. Itu pun berarti obat harus diminum setiap 8 jam sekali (24 jam dibagi 3 kali). Jika bingung, tanyakan dengan jelas aturan minum obat ini pada apoteker tempat Anda membeli obat.

Saat menerima obat di apotek pun sebaiknya orang tua meminta kopi resepnya, cek tanggal kedaluwarsa obat, pastikan obat yang tertera di resep sama dengan obat yang diberikan. Jika obatnya diganti tanyakan pada apotekernya apakah dokter Anda sudah mengetahui hal tersebut? Seharusnya dokter selalu dikonfirmasi untuk setiap perubahan obat dari resep yang ditulisnya.

Jika anak mutah tidak lama setelah meminum obat, ulangi pemberian obat dengan dosis yang sama. Namun, jika muntah setelah lebih dari setengah jam, tidak perlu diulangi. Ikuti saja pola pemberian obat pada waktu pemberian obat berikutnya.

Orang yang sakit yang minum obat

Saat meresepkan obat, dokter akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk siapa yang akan meminum obat tersebut. Tentunya obat untuk anak akan berbeda dosisnya dengan obat untuk dewasa. Umumnya, dosis untuk anak akan disesuaikan dengan berat badannya. Kekurangan dan kelebihan dosis akan berakibat pada efektivitas dan efek samping yang mungkin timbul.

Oleh karena itu, sebaiknya orang tua memberikan obat sesuai dengan dosis yang tertera dan diberikan pada anaknya. Sering kali ibu-ibu menyusui yang anaknya sakit memutuskan menelan obat untuk anaknya, dengan pemikiran bahwa obat tersebut akan dikeluarkan melalui air susu ibu. Sayangnya, perwujudan bentuk kasih ibu yang bersedia melakukan apa pun demi buah hatinya tersebut tidaklah tepat. Obat yang dikeluarkan melalui ASI kadarnya tidak akan cukup untuk mengatasi sakit anaknya. Akibatnya manfaat obat untuk anak tidak didapatkan, malah ibu menelan obat yang tidak perlu. Logikanya yang sakitlah yang meminum obat, yang tidak sakit yang memberikan obat.

Tidak ada satu pun orang tua yang senang jika anaknya sakit. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan akan lebih bermakna daripada pengobatan. Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?*** (dr. Ginna Megawati, pengelola media keluarga dan kesehatan ”Sehati Paper”.)

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: