Pustaka Digital Ibu dan Anak


Antibiotik Sang Penyelamat yang Bisa Jadi Musuh

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

Patut diakui, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat kuman atau bakteri. Oleh karena itu, antibiotik dapat menjadi penyelamat jiwa. Akan tetapi, penggunaan yang membabi buta menyebabkan antibiotik kehilangan kemujarabannya. Saat ini di seluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Sang kuman ini, kita sebut “superbugs”, menyebabkan infeksi merajalela, kematian meningkat, biaya pengobatan mahal.

DOKTER spesialis anak Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto, Sp.A.K., M.M.Ped. dari Yayasan Orangtua Peduli mengatakan, bakteri resisten alias si superbugs telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius terhadap masyarakat luas. “Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya ‘merugikan’ individu yang berangkutan atau pasien yang memperoleh terapi antibiotik, melainkan juga lingkungan sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik,” katanya dalam seminar di Bandung, belum lama ini.

Ia mengingatkan, antibiotik hanya bisa digunakan untuk penyakit infeksi berat akibat bakteri. Akan tetapi, antibiotik “impoten” terhadap penyakit infeksi akibat virus. “Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh antibiotik. Demam, diare, radang tenggorokan, batuk, hampir selalu diberi antibiotik. Padahal, penyebab umum penyakit itu adalah infeksi virus. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau lambat kita akan ‘terpental balik’ kembali ke era kegelapan, era praantibiotik di mana kematian akibat infeksi kuman mencuat akibat kebalnya kuman terhadap antibiotik yang ada,” ujar Purnamawati.

Apabila kita tak mengubah perilaku menggunakan antibiotik (tidak rasional), niscaya dalam waktu singkat antibiotik keluaran teranyar sekalipun akan menjadi “impoten”.

Bakteri dan virus

Apa bedanya bakteri dan virus? Jelas berbeda, dari ukurannya pun keduanya sudah menunjukkan perbedaan. Virus berukuran lebih kecil daripada bakteri.

Banyak sekali bakteri di tubuh kita, bahkan ASI pun mengandung bakteri, tapi bakteri “baik”. Menurut Purnamawati, mayoritas bakteri memang tidak jahat, bahkan menguntungkan bagi kesehatan kita.

Ada dua jenis bakteri, bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif umumnya lebih mudah dilawan dibandingkan dengan gram negatif. Infeksi di bagian atas diafragma, umumnya disebabkan oleh bakteri gram positif, sedangkan di bawah diafragma umumnya disebabkan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif umumnya dapat diatasi dengan antibiotik ringan (narrow spectrum antibiotic). Antibiotik spektrum luas mampu menyerang kedua kelompok bakteri tersebut.

Tubuh kita penuh bakteri, terutama di saluran cerna (mulut, usus, sampai anus). Usus dipenuhi kurang lebih 500 jenis bakteri, dan berat bakteri di usus orang dewasa mencapai 1,5 kg!

Bakteri di usus kita berfungsi banyak, seperti mengubah makanan menjadi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, memproduksi vitamin B dan K, memperbaiki sel dinding usus yang tua dan rusak, merangsang gerak usus (peristaltis), dan menghambat berkembang biaknya bakteri jahat. Secara tidak langsung, bakteri baik mencegah tubuh agar tidak terinfeksi bakteri jahat. Nah, jika kita mengonsumsi antibiotik, bakteri baik pun mati.

Virus berkembang biak dengan menggunakan sel tubuh kita. Di luar tubuh kita virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat maupun antibiotik. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh.

Antibiotik vs bakteri

Penelitian menunjukkan, paling tidak ada empat kondisi yang umumnya diterapi antibiotik, yakni demam, radang tenggorokan, batuk, dan diare. Namun perlu diingat, antibiotik tidak bekerja untuk colds dan flu, batuk atau bronkhitis, radang tenggorokan yang disebabkan virus, infeksi telinga (tidak semua infeksi telinga membutuhkan antibiotik), sebagian besar sinusistis, influenza, cairan di telinga tengah.

Pada dasarnya, antibiotik aman dipakai untuk memerangi infeksi kuman jahat. Akan tetapi, seperti obat lainnya, antibiotik juga dapat merugikan, menyebabkan maraknya superbugs dan bisa menimbulkan beberapa komplikasi:

1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah) merupakan efek samping yang paling sering terjadi. Terkadang hal ini dapat menimbulkan dehidrasi.

2. Reaksi alergi, mulai dari yang ringan berupa ruam di kulit hingga yang berat berupa pembengkakan bibir, mata, atau gangguan napas.

3. Demam (drug fever).

4. Gangguan darah. Beberapa antibiotik dapat mengganggu sumsum tulang, misalnya menurunkan produksi sel-sel darah. Beberapa antibiotik juga menurunkan produksi sel darah putih atau menurunkan kadar trombosit.

5. Kelainan hati.

6. Gangguan fungsi ginjal.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak mati mengalami perubahan (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan dengan antibiotik atau menjelma jadi superbugs. Superbugs juga sering berhasil meloloskan diri dari serangan sistem imun kita.

“Infeksi akibat superbugs memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya kembali kebal terhadap antibiotika yang superkuat tadi. Yang akan dirugikan bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” papar Purnamawati.

Pemberian antibiotik memang harus tepat. Sebab, alih-alih sembuh, antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan matinya “kuman baik” di tubuh kita. Tempat yang sebelumnya mereka tempati akan diisi oleh “kuman jahat” atau jamur. Ini disebut dengan superinfection.

Semakin sering dan lama kita mengonsumsi antibiotik, kian besar risiko terbentuknya superbugs dan risiko superinfection. “Semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin sering kita sakit,” ujar Purnamawati.

Aman dengan antibiotik

Setelah mengetahui bahaya antibiotik, sebaiknya kita berhati-hati untuk mengonsumsi dan menggunakannya. Berikut ini cara bijaksana menggunakan antibiotik.

1. Seandainya anak membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik yang hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju (antibiotik yang narrow spectrum)

2. Untuk infeksi bakteri yang ringan (infeksi saluran napas, telinga, sinus) yang memang perlu antibiotik, pilih yang bekerja terhadap bakteri gram positif.

3. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi di bawah diafragma: infeksi ginjal, saluran kemih, usus buntu, tifus, meningitis bakteri) pilih antibiotik yang membunuh kuman gram negatif.

4. Hindarkan pemakaian salep antibiotik, kecuali untuk infeksi mata.

5. Jika Anda diberi antibiotik oleh dokter, tanyakan kenapa perlu antibiotika? Apa yang dilakukan oleh antibiotik tersebut? Apa efek sampingnya? Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah efek sampingnya? Apakah antibiotik itu harus dimakan pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan? Bagaimana kalau antibiotik itu dimakan dengan obat yang lain? “Cerewet” sedikit tak apa, asalkan kesehatan tubuh terjaga.

Jika Anda punya alergi makanan atau obat tertentu, jangan segan untuk memberi tahu dokter.

Kehatian-hatian Anda bisa menyelamatkan diri dan lingkungan sekitar dari sang superbugs. (Ella Yuniaperdani/”PR”)***

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: