Pustaka Digital Ibu dan Anak


Pentingnya Memberikan ASI Sejak Awal Kelahiran

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on September 25, 2007

pr-head.gif

IKATAN emosional yang kuat antara ibu dan bayinya akan segera tercipta, jika bayi yang baru lahir setelah dikeringkan langsung diberikan pada ibu, diletakkan di antara perut dan dada ibu untuk didekap dan diberikan ASI pertama kalinya. Ini disebut sebagai perlekatan dini.

Penantian panjang selama sembilan bulan kehamilan terjawab sudah. Sesosok makhluk mungil terlahir ke dunia, semua kesakitan dan perjuangan yang melelahkan selama kehamilan dan persalinan bagai tak pernah menampakkan kehadirannya. Derita ibu seolah menguap tak berbekas tergantikan oleh sukacita dan luapan perasaan indah saat menyentuh kulit bayi dan merasakan kehangatan tubuhnya dalam dekapan, seiring lirihnya panggilan yang terucap, “aku ibumu!”

Ikatan emosional yang kuat antara ibu dan bayinya akan segera tercipta jika bayi yang baru lahir setelah dikeringkan langsung diberikan pada ibu, diletakkan di antara perut dan dada ibu untuk didekap dan diberikan ASI pertama kalinya. Ini disebut sebagai perlekatan dini.

Kontak langsung kulit ibu dan bayi tanpa terhalang kain akan menciptakan sensasi yang memberikan banyak manfaat untuk bekal kehidupan si kecil dan banyak membantu ibu untuk melalui proses setelah melahirkan. Bayi akan lebih tenang, merasa hangat, mengatur napas seperti napas ibunya dan denyut jantungnya akan lebih teratur. Sentuhan lembut ibu akan merangsang bayi menemukan payudara ibunya dan memulai proses belajar menyusui.

Menyentuh bayi serta menyusui akan merangsang pelepasan hormon oxytocin. Hormon ini menyebabkan uterus (rahim) berkontraksi sehingga proses pengeluaran ari-ari (plasenta) akan lebih mudah dan mengurangi risiko perdarahan sesudah persalinan. Hormon oksitoksin pun akan menstimulasi pelepasan hormon lainnya yang membuat ibu merasa tenang, relaks, dan “jatuh cinta” pada bayinya. Hal ini akan mempercepat timbulnya ikatan antara ibu dan bayinya (bonding).

Peran serta aktif dan dukungan ayah selama proses kehamilan dan persalinan akan memberikan rasa nyaman dan aman bagi ibu. Dengan kondisi ibu yang tenang, nyaman, dan aman bayi pun akan merasakan hal yang sama. Keterlibatan dan kedekatan ayah secara langsung pada bayi tentunya akan memicu timbulnya ikatan emosional yang kuat antara ayah dan bayinya.

Seluruh proses tersebut sebaiknya dilakukan dalam satu jam pertama kehidupan bayi. Jika fase ini terlewatkan, bayi akan kehilangan kesempatan berharga untuk mengembangkan kemampuan yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupannya. Sayangnya kesempatan bayi, ibu, dan ayah menikmati masa penting tersebut secara bersama-sama sering kali terganggu oleh rutinitas kegiatan yang berkaitan dengan prosedur medis seperti cap kaki, pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, disarankan agar pelaksanaan prosedur medis tersebut ditunda sampai satu jam kemudian.

Kolostrum

Penelitian yang dilakukan di Ghana tahun 2006, menunjukkan bayi yang diberi ASI dalam satu jam pertama kehidupannya lebih dapat bertahan hidup pada periode perinatal dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan ASI pada satu jam pertama tersebut.

Melakukan perlekatan dini akan memberikan kesempatan pada bayi agar membuka mulutnya untuk menemukan puting susu dan mulai belajar menyusu. Hal ini merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap bayi.

Selain itu, bayi pun akan mendapatkan kolostrum, ASI yang pertama keluar. Kolostrum memiliki banyak keunggulan karena kaya dengan antibodi dan berbagai protein yang bermanfaat untuk kekebalan tubuh bayi. Kolostrum pun kaya akan vitamin A, mengandung hormon pertumbuhan dan membantu agar usus bayi dapat berfungsi dengan baik.

Agar mendapatkan tumbuh kembang yang optimal, tentunya hal tersebut harus dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI eksklusif berarti hanya memberikan ASI sebagai satu-satunya makanan dan minuman bayi selama enam bulan pertama kehidupannya.

Hilangkan mitos

Di masyarakat berkembang mitos yang berkaitan dengan pemberian ASI segera setelah melahirkan. Misalnya ASI yang keluar pertama (kolostrum) harus dibuang karena tidak baik bahkan membahayakan bayi, atau bayi baru lahir memerlukan cairan khusus sebelum diberikan ASI. Bahkan banyak yang beranggapan bayi akan kelaparan jika hanya diberikan kolostrum dan ASI secara eksklusif.

Sebagian menentang menempatkan bayi pada perut dan dada ibu segera setelah lahir karena akan menyebabkan bayi kedinginan. Banyak juga yang berpendapat setelah proses melahirkan, ibu akan terlalu lelah untuk langsung menyusui.

Dengan pemahaman bahwa kolostrum memiliki begitu banyak manfaat, serta ASI merupakan satu-satunya makanan terbaik untuk bayi, diharapkan anggapan tersebut di atas dapat dihilangkan.

Kolostrum merupakan cairan yang tepat dan mencukupi kebutuhan bayi pada hari-hari pertama kehidupannya. Merupakan hal yang normal jika bayi kehilangan sekitar 3-6% dari berat badan lahirnya. Bayi memiliki cadangan air dan gula yang cukup untuk digunakan pada masa-masa tersebut.

Dukung ibu untuk menyusui

Bagi sebagian besar ibu, terutama ibu-ibu yang baru pertama kali mempunyai anak, upaya menyusui tidaklah mudah. Diperlukan “perjuangan” khusus agar berhasil menyusui.

Upaya persiapan menyusui sudah harus dilakukan sejak trimester akhir kehamilan. Perawatan payudara dan pengetahuan mengenai teknik menyusui yang benar sudah harus diketahui oleh ibu. Biasanya ini diajarkan di kelas-kelas senam hamil dan persiapan persalinan.

Namun, dalam pelaksanaannya ibu membutuhkan lebih dari sekadar teori, petugas kesehatan yang sabar, ramah, dan komunikatif akan sangat membantu ibu dalam mengaplikasikan cara menyusui yang baik, sehingga faktor-faktor yang sering menjadi kendala saat menyusui seperti puting lecet dan pembengkakan akibat bendungan ASI dapat dihindari. Bimbingan yang baik pun akan memotivasi ibu untuk terus memberikan ASI serta menimbulkan rasa percaya diri ibu bahwa ia siap dan akan berhasil melaksanakan “tugas” barunya dalam memberikan cairan kehidupan yang sangat berharga untuk anaknya tersebut.

Setelah ibu merasa mantap bahwa apa yang dilakukannya sudah tepat, dukungan terbesar selanjutnya yang diperlukan datang dari orang-orang terdekat, terutama suami. Kasih sayang, pengertian dan uluran tangan akan sangat besar artinya untuk ibu. Ketegangan dan kelelahan setelah proses kehamilan dan persalinan serta perubahan hormonal yang terjadi sangat memengaruhi ibu secara fisik maupun emosional.

Sebaiknya berikan keleluasaan pada ibu untuk belajar dan menikmati peran barunya tersebut. Terlalu banyak komentar tentang bagaimana seharusnya merawat anak dan tentang ASI akan menimbulkan ketegangan tersendiri. Sedangkan untuk dapat menyusui dengan baik, ibu membutuhkan rasa tenang, senang, dan nyaman. Ibu yang tegang, kelelahan, asupan gizi tidak terjaga karena begitu banyaknya pantang makan, dan kurang minum tidak akan dapat memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan anaknya.***

(dr. Ginna Megawati, pengelola media keluarga dan kesehatan Sehati Paper)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: