Pustaka Digital Ibu dan Anak


Menyiasati Perkembangan Tinggi Badan si Kecil

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on September 25, 2007

pr-head.gif
PUNYA anak sehat, cerdas, apalagi berpostur tubuh tinggi serta proporsional sesungguhnya amat membanggakan. Terlebih, kini begitu banyak lapangan pekerjaan yang mensyaratkan tinggi badan minimal. Ketika mendapati buah hati lebih tinggi dibanding teman-teman sebayanya, mungkin rasa bangga menyelinap di hati para ibu. Sayang, tak semua anak tumbuh dengan baik.

Pertumbuhan seorang anak melalui 3 fase, yakni fase bayi, fase anak, dan fase puber. Fase bayi dipengaruhi oleh nutrisi dan hormon. Faktor-faktor lain yang turut menentukan pertambahan tinggi badan adalah lingkungan dan kondisi emosional. Artinya, anak tak boleh stres atau buruk lingkungannya, terutama pada fase kedua atau masa kanak-anak. Sedangkan pada fase puber, hormon memegang peran cukup besar.

Secara genetis, beda tinggi tubuh wanita dan laki-laki adalah 13 cm. Namun, sebenarnya, itu hanyalah gambaran umum. Karena, tak jarang juga perempuan lebih tinggi dibandingkan lawan jenisnya.

Di usia remaja, anak biasanya ingin menjaga penampilan lewat tubuhnya yang jangkung. Sementara, pertumbuhan tinggi badannya mulai memasuki masa kendur. Secara biologis, saat puber, tinggi badan biasanya tinggal 15% dari seluruh pertumbuhan.

Oleh karena itu, kaum ibu harus memerhatikan gizi makanan sejak anak masih dalam kandungan. Gizi yang tak bagus saat hamil akan berefek buruk bagi pertumbuhan. Setelah anak lahir, jangan abaikan mengontrol dan memonitor pertumbuhan anak. Setiap bulan sampai setahun, ukurlah tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala secara rutin. Setelah 2-3 tahun, bisa dikurangi 3 bulan dan 6 bulan sekali, sementara di atas 5 tahun cukup sekali setahun.

Masa pertumbuhan paling penting adalah masa anak-anak. Berikan nutrisi terbaik baginya. Tentu, terbaik tak berarti harus mahal. Yang penting, cukupkan protein dan kalsium, serta berikan bahan pangan empat sehat lima sempurna. Selain itu, biasakan juga anak berolah raga. Para pakar kesehatan menyakini bahwa olah raga teratur bisa merangsang pertambahan tinggi badan.

Yang juga harus diperhatikan, jika setelah usia 3 tahun pertumbuhan anak melambat, atau tinggi badan di bawah potensi genetiknya, harus segera ditindaklanjuti. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan akan mengakibatkan anak gagal dalam mencapai potensi genetiknya secara optimal.

Ya, saat meninggi, seorang anak memang terus mencari potensi genetiknya. Namun, ketika memasuki masa puber, akan ada sedikit penurunan pola pertumbuhan, dan selanjutnya naik kembali. Pasca pubertas, rata-rata ada penambahan tinggi sebanyak 4 sampai dengan 5 cm. Namun, itu pun tergantung bakat tinggi si anak. Ada kalanya penambahan itu terjadi sampai 6-8 cm.

Sebenarnya, di usia remaja, pertambahan tinggi badan anak bisa diprediksi menggunakan sebuah rumus, berdasarkan tinggi badan ayah dan ibu.

Anak perempuan (tinggi ayah -13) + tinggi ibu : 2 = X

Anak laki-laki (tinggi ibu + 13) + tinggi ayah : 2 = X

Dengan demikian, kita bisa tahu perkiraan tinggi badan anak kelak.

Seorang anak disebut pendek bila tinggi badannya di bawah ukuran normal, sesuai umur dan jenis kelaminnya. Atau, secara teoretis, tinggi badannya berada di bawah 2 standar devisa (SD) dari rata-rata populasi, atau di bawah rata-rata tinggi badan kurva pertumbuhan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak pendek. Salah satunya adalah faktor keturunan. Kalau ayah dan ibunya pendek, bisa jadi anak pun ikut pendek. Tapi anak pendek belum tentu tidak normal. Sebaiknya, cari dulu penyebabnya kenapa anak pendek. Contohnya, anak dari ayah ibu yang sama-sama tinggi.

Karena orang tuanya tinggi, meski bayi lahir dengan panjang hanya 47 cm pun, dari fase bayi ke fase anak, ia akan mengejar pertumbuhannya. Sebaliknya, pada beberapa kasus, kadang terjadi bayi lahir ekstra panjang, yakni 52 cm. Namun pada masa puber pertumbuhannya macet, sehingga tinggi tubuhnya malah di bawah rata-rata.

Memang tidak mengherankan jika pada masa puber anak mengalami lambat tumbuh. Di masa ini, anak jadi tampak pendek, meski dalam batasan normal. Tapi, setelah puber, tinggi badannya akan normal. Pada anak laki-laki, setelah usia 13-15 tahun atau setelah puber, barulah pertambahan tinggi tubuhnya terpacu. Sebelum itu, dia masih mengalami tubuh pendek.

Jadi, jangan heran jika anak laki-laki tampak pendek saat SD atau SMP. Sekitar 15-20% anak laki-laki mengalaminya. Pendek sebelum masa puber masih normal kok.

Selain faktor-faktor itu, penyakit juga merupakan penyebab terhambatnya tinggi badan. Di antaranya adalah penyakit kronis seperti kelainan pada jantung, paru, pencernaan, ginjal, atau nutrisi yang buruk, terutama pada waktu bayi dan pubertas.

Bisa juga anak pendek karena faktor-faktor lain. Jika ingin lebih jelas, sebaiknya semua hal yang berkaitan dengan tubuh kembang anak diteliti.

Menambah tinggi badan

Bagi perempuan, batas berhenti pertumbuhan badan di usia 18 tahun, sedangkan laki-laki usia 20 tahun. Laki-laki biasanya akan tumbuh lebih cepat di awal pubertas dan mendekati akhir pubertas. Sementara saat terjadi menstruasi, pertumbuhan tinggi badan perempuan malah macet. Tak banyak lagi pertumbuhan tinggi badan, meski tidak berhenti sama sekali.

Jika pertumbuhan tinggi badan sudah berhenti total, berarti kondisi tulangnya perlu diamati. Kalau terbukti pemekaran tulang benar-benar sudah mogok, berarti tak dapat diapa-apakan lagi, tak bisa dipacu lagi tinggi badannya. Makan banyak atau minum obat perangsang tinggi badan pun, hanyalah menambah lebar ke samping.

Nah, karena tinggi badan juga bisa menambah rasa percaya diri kelak, memonitor pertumbuhan anak sejak dini merupakan keharusan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. (dr. Prasanthi)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: