Pustaka Digital Ibu dan Anak


Seruan Itu Telah Bergema, Anakku…..

Posted in _Pendidikan Islam by nugraad001 on September 6, 2007

Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Shalat adalah ibadah utama seorang muslim. Baik buruknya
shalat seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan akhiratnya.
Namun di masa kini, betapa banyak orang yang tidak mengerjakan amalan
ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memang malas untuk
mengerjakan shalat, tidak tahu pentingnya shalat, dan tersibukkan
dengan urusan dunia. Uraian berikut mencoba untuk membimbing seorang
anak sedini mungkin untuk mengerjakan shalat sehingga ketika dewasa ia
senantiasa menjunjung tinggi kewajiban ini.

Adzan berkumandang. Anak-anak itu tetap tak beranjak dari
depan TV, tempat bermain atau pembaringannya, bahkan hingga akhir waktu
shalat datang menjelang. Orang tua mereka pun tak pernah ambil pusing
dengan itu semua. Betapa mengherankan! Sementara mereka begitu
perhatian dan semangat membangunkan anak-anaknya atau memanggil mereka
pulang dari bermain agar tidak terlambat sekolah, atau terlambat masuk
les ini dan itu.
Duhai…! Lupakah mereka dengan peringatan dari Rabb semesta alam:

???? ???????????? ?????????? ??????????. ???????????? ?????? ?????????

“Akan tetapi kalian mengutamakan dunia, sementara akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17)
Seorang mukmin yang berakal tentu tidak akan memilih sesuatu yang hina
dengan meninggalkan yang lebih baik. Pun tidak akan membeli kesenangan
sesaat dengan ketenangan yang abadi, karena kecintaan terhadap dunia
merupakan pangkal setiap kesalahan. (Taisirul Karimir Rahman hal. 921)
Duhai, siapa kiranya orang tua yang ingin membiarkan bahkan menanjurkan
anak-anak mereka memilih sesuatu yang hina? Tidakkah mereka merasa
senang melihat anak-anaknya tumbuh dalam ketaatan kepada Rabbnya untuk
menikmati kesenangan yang abadi? Siapa kiranya orang tua yang tak
berbesar hati mengharap kebaikan bagi anak-anak yang seperti itu?
Anjuran, bimbingan, dan arahan tentu dibutuhkan sepanjang perjalanan si
anak agar dia menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya. Di antaranya
adalah anjuran untuk menjalankan ibadah badaniyah terbesar, yakni
shalat.
Inilah yang dilakukan sosok teladan bagi para orang tua, Luqman Al-Hakim, ketika menyampaikan wasiat kepada anaknya:

?????????? ?????? ??????????

“Wahai anakku, dirikanlah shalat…” (Luqman: 17)
Yang dimaksud adalah menunaikan shalat dengan seluruh batasan, kewajiban, dan waktu-waktunya (Tafsir Ibnu Katsir, 6/194)
Inilah tanggung jawab yang harus ditunaikan kepada keluarga, sebagai perwujudan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

???????? ???????? ???????????? ??????????? ?????????

“Perintahkanlah keluargamu untuk menunaikan shalat dan bersabarlah atasnya.” (Thaha: 132)
Keluarga adalah siapa pun yang ada dalam sebuah rumah tangga, baik
istri, putra-putri, bibi, ataupun ibu. (Syarh Riyadhush Shalihin,
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/119)
Mereka dianjurkan untuk menunaikan shalat dan didorong untuk
menjalankan shalat, baik shalat fardhu maupun nafilah. Sementara
memerintahkan pada sesuatu berarti memerintahkan pada seluruh perkara
yang dapat menyempurnakan sesuatu itu. Demikian pula perintah untuk
shalat. Berarti mengajarkan pula hal-hal yang dapat memperbagus shalat,
merusak, maupun menyempurnakannya.
Juga bersabar dalam menegakkan shalat dengan seluruh batasan, rukun,
adab, dan khusyu’ dalam shalat, karena hal ini terasa berat bagi jiwa.
Akan tetapi, jiwa ini harus dipaksa dan diperangi untuk menjalankannya,
diiringi pula senantiasa oleh kesabaran, karena bila seorang hamba
menegakkan shalat sesuai dengan apa yang diperintahkan ini, maka dia
akan lebih menjaga dan menegakkan perkara agama yang lainnya.
Sebaliknya, bila seorang hamba menyia-nyiakan shalatnya, maka dia akan
lebih menyia-nyiakan perkara agama yang lainnya. (Taisirul Karimir
Rahman hal. 517)
Begitu pula yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang disampaikan oleh Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:

?????? ????????????? ???????????? ?????? ????????? ??????
????????? ?????????????? ????????? ?????? ????????? ??????? ???????????
?????????? ??? ???????????

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka
berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada
usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.”
(HR. Ahmad dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam
Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5744: “Hadits ini hasan.”)
Inilah di antara sekian hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua,
dengan memerintahkan mereka shalat ketika telah mencapai usia tujuh
tahun, dan memukul mereka bila meremehkan dan menyia-nyiakannya ketika
telah menginjak sepuluh tahun, dengan syarat anak itu berakal. Artinya,
bila anak telah mencapai tujuh atau sepuluh tahun namun mereka tidak
berakal (gila), maka mereka tidak diperintah dengan sesuatu pun, tidak
pula dipukul bila meninggalkan hal itu. Akan tetapi, orang tua harus
mencegah terjadinya kerusakan pada diri mereka, baik di dalam maupun di
luar rumah.
Yang dimaksud dengan pukulan di sini adalah yang mendidik, yakni
pukulan yang tidak membahayakan. Sehingga tidak diperkenankan seorang
ayah memukul anaknya dengan pukulan yang melukai, tidak boleh pula
pukulan yang bertubi-tubi tanpa ada keperluan. Namun bila dibutuhkan,
misalnya sang anak tidak mau menunaikan shalat kecuali dengan pukulan,
maka sang ayah boleh memukulnya dengan pukulan yang membuat jera, namun
tidak melukai, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan orang tua untuk memukul bukan untuk menyakiti si anak,
melainkan untuk mendidik dan meluruskan mereka. (Syarh Riyadhush
Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/123-124)
Tak heran bila didapati perintah untuk mengajarkan shalat kepada
anak-anak, mengingat begitu penting dan berartinya shalat bagi seorang
hamba. Di antara sekian banyak keutamaan yang bakal dipetik adalah
penjagaan dirinya dari kekejian dan kemungkaran.

????? ?????????? ??????? ???? ??????????? ?????????????

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Al-Fahsyaa’ dalam ayat ini meliputi seluruh kemaksiatan yang diingkari
dan dianggap kotor serta disukai oleh hawa nafsu. Sementara Al-Mungkar
mencakup seluruh perbuatan maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah.
Seorang hamba yang senantiasa menunaikan shalat dengan menyempurnakan
rukun-rukun, syarat-syarat dan khusyu’ di dalamnya, akan beroleh cahaya
di kalbunya, bersih hatinya, bertambah iman, takwa dan kecintaannya
terhadap kebaikan, akan berkurang atau bahkan hilang keinginannya
terhadap kejelekan. Dengan begitu, kesinambungan dan penjagaannya
terhadap shalat dengan cara seperti ini akan mencegahnya dari segala
perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara tujuan terbesar dan buah
yang dipetik dari shalat.
Sementara itu, di dalam ibadah shalat terdapat maksud yang lebih agung
dan lebih besar, yaitu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
kalbu, lisan dan badan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan
hamba-hamba-Nya, dan ibadah paling utama yang dilakukan oleh para hamba
adalah shalat, di dalamnya terkandung ibadah seluruh anggota badan yang
tidak terdapat pada ibadah selainnya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 632)
Keutamaan lain yang bakal diperoleh seorang hamba dengan shalatnya
digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak
perkataan beliau. Di antaranya yang disampaikan oleh Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu:

???????? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ?????????
????????: ???????????? ???? ????? ??????? ??????? ?????????? ??????????
?????? ????? ?????? ?????? ???????? ???? ??????? ???? ???????? ???????
???????: ??? ??????? ???? ???????? ??????? ?????: ???????? ??????
???????????? ?????????? ??????? ????? ??????? ??????????

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: ‘Bagaimana menurut kalian, bila ada sebuah sungai besar di
depan pintu salah seorang dari kalian yang dia mandi di dalamnya lima
kali dalam sehari, apakah ada dakinya yang tertinggal?’ Para shahabat
menjawab: ‘Tidak akan tertinggal dakinya sedikit pun.’ Beliau pun
berkata: ‘Demikian permisalan shalat lima waktu, dengannya Allah
menghapuskan kesalahan-kesalahan’.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim
no. 668)
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

???????????? ????????? ????????????? ????? ??????????? ?????????? ????? ??????????? ??? ???? ?????? ???????????

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya,
merupakan penggugur bagi dosa yang ada di antaranya selama tidak
dilakukan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)
‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu menyampaikan pula:

???????? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ?????????
???????: ??? ???? ??????? ???????? ?????????? ??????? ????????????
?????????? ?????????? ???????????? ???????????? ?????? ???????
?????????? ????? ????????? ???? ??????????? ??? ???? ?????? ???????????
???????? ????????? ???????

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang didatangi waktu shalat wajib,
lalu dia memperbagus wudhu’nya, khusyu’nya dan ruku’nya, kecuali
shalatnya akan menjadi penggugur bagi dosa-dosanya yang lalu selama
tidak melakukan dosa-dosa besar dan ini terus berlangsung sepanjang
masa.” (HR. Muslim no. 228)
Mengajarkan shalat pada anak-anak dapat dilakukan dengan berwudhu dan
menunaikan shalat di hadapan mereka, mengajak mereka ke masjid,
mendorong mereka dengan adanya kitab yang berisi tata cara shalat agar
seluruh keluarga dapat pula mempelajari hukum-hukum shalat. Selain itu,
diajarkan pula Al-Qur’an, dimulai dengan Surat Al-Fatihah serta
surat-surat pendek lainnya, kemudian diajarkan untuk menghapal bacaan
tahiyyat.
Anak-anak diajari pula hukum-hukum, syarat-syarat, kewajiban-kewajiban
shalat, serta hal-hal yang membatalkan shalat, sunnah-sunnah, adab-adab
dan dzikir-dzikir dalam shalat.
Di samping itu, anak laki-laki diberi dorongan untuk menunaikan shalat
Jum’at dan jamaah di masjid di belakang barisan shaf laki-laki. Tentu
saja harus disertai kelemahlembutan ketika menasihati mereka bila
terjatuh dalam kesalahan, tidak membentak ataupun menghardik mereka,
agar nantinya mereka tidak meninggalkan shalat hingga justru membuahkan
dosa bagi orang tuanya. (Kaifa Nurabbi Auladana hal. 25)
Sementara anak-anak perempuan diajari keutamaan shalat mereka di dalam
rumah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari
para wanita:

??????? ?????????? ??? ????????? ???????? ???? ?????????? ???
???????????? ???????????? ??? ??????????? ???????? ???? ?????????? ???
?????????

“Shalat seorang wanita di kamar khusus dalam rumahnya lebih
utama daripada shalatnya di kamarnya, dan shalatnya di makhda’nya1
lebih utama daripada shalatnya di dalam kamar khusus di rumahnya.” (HR.
Abu Dawud dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam
Al-Jami’ush Shahih 2/150: “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Imam
Muslim.”)
Hal yang tak boleh luput dari pengajaran shalat adalah masalah khusyu’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

???? ???????? ???????????????. ????????? ???? ??? ??????????? ???????????

“Beruntunglah orang-orang yang beriman, yang khusyu’ di dalam shalat mereka.” (Al-Mukminun: 1-2)
Khusyu’nya seorang hamba dalam shalat adalah hadirnya hati di hadapan
Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasakan kedekatan dengan-Nya, hingga
tenang hati, jiwa dan gerakannya, hampir-hampir tidak berpaling
dari-Nya, dengan sepenuh adab di hadapan Rabbnya, menghadirkan segala
yang diucapkan dan dilakukan di dalam shalat, dari awal hingga akhir
shalatnya, hingga hilanglah segala bisikan dan pikiran yang hina.
Inilah ruh shalat, inilah yang diinginkan dalam shalat seorang hamba,
dan inilah yang diwajibkan atas seorang hamba. Oleh karena itu, shalat
tanpa khusyu’ dan tanpa disertai hadirnya hati, walaupun mencukupi
untuk menggugurkan kewajiban dan mendapatkan pahala, namun sesungguhnya
pahala itu sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. (Taisirul Karimir
Rahman hal. 547-548)
Demikian semestinya yang menjadi perhatian orang tua, demi mengantarkan
putra-putrinya ke gerbang kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Siapa
kiranya yang tak tergiur dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
tidak pernah diselisihi-Nya:

??????????? ???? ????? ??????????? ?????????????. ????????? ??? ???????? ????????????

“Dan orang-orang yang menjaga shalatnya, mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (Al-Ma’arij: 34-35)

Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Seruan Itu Telah Bergema, Anakku…..

Posted in _Pendidikan Islam by nugraad001 on September 6, 2007

Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Shalat adalah ibadah utama seorang muslim. Baik buruknya
shalat seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan akhiratnya.
Namun di masa kini, betapa banyak orang yang tidak mengerjakan amalan
ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memang malas untuk
mengerjakan shalat, tidak tahu pentingnya shalat, dan tersibukkan
dengan urusan dunia. Uraian berikut mencoba untuk membimbing seorang
anak sedini mungkin untuk mengerjakan shalat sehingga ketika dewasa ia
senantiasa menjunjung tinggi kewajiban ini.

Adzan berkumandang. Anak-anak itu tetap tak beranjak dari
depan TV, tempat bermain atau pembaringannya, bahkan hingga akhir waktu
shalat datang menjelang. Orang tua mereka pun tak pernah ambil pusing
dengan itu semua. Betapa mengherankan! Sementara mereka begitu
perhatian dan semangat membangunkan anak-anaknya atau memanggil mereka
pulang dari bermain agar tidak terlambat sekolah, atau terlambat masuk
les ini dan itu.
Duhai…! Lupakah mereka dengan peringatan dari Rabb semesta alam:

???? ???????????? ?????????? ??????????. ???????????? ?????? ?????????

“Akan tetapi kalian mengutamakan dunia, sementara akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17)
Seorang mukmin yang berakal tentu tidak akan memilih sesuatu yang hina
dengan meninggalkan yang lebih baik. Pun tidak akan membeli kesenangan
sesaat dengan ketenangan yang abadi, karena kecintaan terhadap dunia
merupakan pangkal setiap kesalahan. (Taisirul Karimir Rahman hal. 921)
Duhai, siapa kiranya orang tua yang ingin membiarkan bahkan menanjurkan
anak-anak mereka memilih sesuatu yang hina? Tidakkah mereka merasa
senang melihat anak-anaknya tumbuh dalam ketaatan kepada Rabbnya untuk
menikmati kesenangan yang abadi? Siapa kiranya orang tua yang tak
berbesar hati mengharap kebaikan bagi anak-anak yang seperti itu?
Anjuran, bimbingan, dan arahan tentu dibutuhkan sepanjang perjalanan si
anak agar dia menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya. Di antaranya
adalah anjuran untuk menjalankan ibadah badaniyah terbesar, yakni
shalat.
Inilah yang dilakukan sosok teladan bagi para orang tua, Luqman Al-Hakim, ketika menyampaikan wasiat kepada anaknya:

?????????? ?????? ??????????

“Wahai anakku, dirikanlah shalat…” (Luqman: 17)
Yang dimaksud adalah menunaikan shalat dengan seluruh batasan, kewajiban, dan waktu-waktunya (Tafsir Ibnu Katsir, 6/194)
Inilah tanggung jawab yang harus ditunaikan kepada keluarga, sebagai perwujudan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

???????? ???????? ???????????? ??????????? ?????????

“Perintahkanlah keluargamu untuk menunaikan shalat dan bersabarlah atasnya.” (Thaha: 132)
Keluarga adalah siapa pun yang ada dalam sebuah rumah tangga, baik
istri, putra-putri, bibi, ataupun ibu. (Syarh Riyadhush Shalihin,
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/119)
Mereka dianjurkan untuk menunaikan shalat dan didorong untuk
menjalankan shalat, baik shalat fardhu maupun nafilah. Sementara
memerintahkan pada sesuatu berarti memerintahkan pada seluruh perkara
yang dapat menyempurnakan sesuatu itu. Demikian pula perintah untuk
shalat. Berarti mengajarkan pula hal-hal yang dapat memperbagus shalat,
merusak, maupun menyempurnakannya.
Juga bersabar dalam menegakkan shalat dengan seluruh batasan, rukun,
adab, dan khusyu’ dalam shalat, karena hal ini terasa berat bagi jiwa.
Akan tetapi, jiwa ini harus dipaksa dan diperangi untuk menjalankannya,
diiringi pula senantiasa oleh kesabaran, karena bila seorang hamba
menegakkan shalat sesuai dengan apa yang diperintahkan ini, maka dia
akan lebih menjaga dan menegakkan perkara agama yang lainnya.
Sebaliknya, bila seorang hamba menyia-nyiakan shalatnya, maka dia akan
lebih menyia-nyiakan perkara agama yang lainnya. (Taisirul Karimir
Rahman hal. 517)
Begitu pula yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang disampaikan oleh Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:

?????? ????????????? ???????????? ?????? ????????? ??????
????????? ?????????????? ????????? ?????? ????????? ??????? ???????????
?????????? ??? ???????????

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka
berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada
usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.”
(HR. Ahmad dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam
Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5744: “Hadits ini hasan.”)
Inilah di antara sekian hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua,
dengan memerintahkan mereka shalat ketika telah mencapai usia tujuh
tahun, dan memukul mereka bila meremehkan dan menyia-nyiakannya ketika
telah menginjak sepuluh tahun, dengan syarat anak itu berakal. Artinya,
bila anak telah mencapai tujuh atau sepuluh tahun namun mereka tidak
berakal (gila), maka mereka tidak diperintah dengan sesuatu pun, tidak
pula dipukul bila meninggalkan hal itu. Akan tetapi, orang tua harus
mencegah terjadinya kerusakan pada diri mereka, baik di dalam maupun di
luar rumah.
Yang dimaksud dengan pukulan di sini adalah yang mendidik, yakni
pukulan yang tidak membahayakan. Sehingga tidak diperkenankan seorang
ayah memukul anaknya dengan pukulan yang melukai, tidak boleh pula
pukulan yang bertubi-tubi tanpa ada keperluan. Namun bila dibutuhkan,
misalnya sang anak tidak mau menunaikan shalat kecuali dengan pukulan,
maka sang ayah boleh memukulnya dengan pukulan yang membuat jera, namun
tidak melukai, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan orang tua untuk memukul bukan untuk menyakiti si anak,
melainkan untuk mendidik dan meluruskan mereka. (Syarh Riyadhush
Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/123-124)
Tak heran bila didapati perintah untuk mengajarkan shalat kepada
anak-anak, mengingat begitu penting dan berartinya shalat bagi seorang
hamba. Di antara sekian banyak keutamaan yang bakal dipetik adalah
penjagaan dirinya dari kekejian dan kemungkaran.

????? ?????????? ??????? ???? ??????????? ?????????????

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Al-Fahsyaa’ dalam ayat ini meliputi seluruh kemaksiatan yang diingkari
dan dianggap kotor serta disukai oleh hawa nafsu. Sementara Al-Mungkar
mencakup seluruh perbuatan maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah.
Seorang hamba yang senantiasa menunaikan shalat dengan menyempurnakan
rukun-rukun, syarat-syarat dan khusyu’ di dalamnya, akan beroleh cahaya
di kalbunya, bersih hatinya, bertambah iman, takwa dan kecintaannya
terhadap kebaikan, akan berkurang atau bahkan hilang keinginannya
terhadap kejelekan. Dengan begitu, kesinambungan dan penjagaannya
terhadap shalat dengan cara seperti ini akan mencegahnya dari segala
perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara tujuan terbesar dan buah
yang dipetik dari shalat.
Sementara itu, di dalam ibadah shalat terdapat maksud yang lebih agung
dan lebih besar, yaitu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
kalbu, lisan dan badan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan
hamba-hamba-Nya, dan ibadah paling utama yang dilakukan oleh para hamba
adalah shalat, di dalamnya terkandung ibadah seluruh anggota badan yang
tidak terdapat pada ibadah selainnya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 632)
Keutamaan lain yang bakal diperoleh seorang hamba dengan shalatnya
digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak
perkataan beliau. Di antaranya yang disampaikan oleh Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu:

???????? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ?????????
????????: ???????????? ???? ????? ??????? ??????? ?????????? ??????????
?????? ????? ?????? ?????? ???????? ???? ??????? ???? ???????? ???????
???????: ??? ??????? ???? ???????? ??????? ?????: ???????? ??????
???????????? ?????????? ??????? ????? ??????? ??????????

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: ‘Bagaimana menurut kalian, bila ada sebuah sungai besar di
depan pintu salah seorang dari kalian yang dia mandi di dalamnya lima
kali dalam sehari, apakah ada dakinya yang tertinggal?’ Para shahabat
menjawab: ‘Tidak akan tertinggal dakinya sedikit pun.’ Beliau pun
berkata: ‘Demikian permisalan shalat lima waktu, dengannya Allah
menghapuskan kesalahan-kesalahan’.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim
no. 668)
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

???????????? ????????? ????????????? ????? ??????????? ?????????? ????? ??????????? ??? ???? ?????? ???????????

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya,
merupakan penggugur bagi dosa yang ada di antaranya selama tidak
dilakukan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)
‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu menyampaikan pula:

???????? ??????? ????? ?????? ????? ???????? ?????????
???????: ??? ???? ??????? ???????? ?????????? ??????? ????????????
?????????? ?????????? ???????????? ???????????? ?????? ???????
?????????? ????? ????????? ???? ??????????? ??? ???? ?????? ???????????
???????? ????????? ???????

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang didatangi waktu shalat wajib,
lalu dia memperbagus wudhu’nya, khusyu’nya dan ruku’nya, kecuali
shalatnya akan menjadi penggugur bagi dosa-dosanya yang lalu selama
tidak melakukan dosa-dosa besar dan ini terus berlangsung sepanjang
masa.” (HR. Muslim no. 228)
Mengajarkan shalat pada anak-anak dapat dilakukan dengan berwudhu dan
menunaikan shalat di hadapan mereka, mengajak mereka ke masjid,
mendorong mereka dengan adanya kitab yang berisi tata cara shalat agar
seluruh keluarga dapat pula mempelajari hukum-hukum shalat. Selain itu,
diajarkan pula Al-Qur’an, dimulai dengan Surat Al-Fatihah serta
surat-surat pendek lainnya, kemudian diajarkan untuk menghapal bacaan
tahiyyat.
Anak-anak diajari pula hukum-hukum, syarat-syarat, kewajiban-kewajiban
shalat, serta hal-hal yang membatalkan shalat, sunnah-sunnah, adab-adab
dan dzikir-dzikir dalam shalat.
Di samping itu, anak laki-laki diberi dorongan untuk menunaikan shalat
Jum’at dan jamaah di masjid di belakang barisan shaf laki-laki. Tentu
saja harus disertai kelemahlembutan ketika menasihati mereka bila
terjatuh dalam kesalahan, tidak membentak ataupun menghardik mereka,
agar nantinya mereka tidak meninggalkan shalat hingga justru membuahkan
dosa bagi orang tuanya. (Kaifa Nurabbi Auladana hal. 25)
Sementara anak-anak perempuan diajari keutamaan shalat mereka di dalam
rumah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari
para wanita:

??????? ?????????? ??? ????????? ???????? ???? ?????????? ???
???????????? ???????????? ??? ??????????? ???????? ???? ?????????? ???
?????????

“Shalat seorang wanita di kamar khusus dalam rumahnya lebih
utama daripada shalatnya di kamarnya, dan shalatnya di makhda’nya1
lebih utama daripada shalatnya di dalam kamar khusus di rumahnya.” (HR.
Abu Dawud dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam
Al-Jami’ush Shahih 2/150: “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Imam
Muslim.”)
Hal yang tak boleh luput dari pengajaran shalat adalah masalah khusyu’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

???? ???????? ???????????????. ????????? ???? ??? ??????????? ???????????

“Beruntunglah orang-orang yang beriman, yang khusyu’ di dalam shalat mereka.” (Al-Mukminun: 1-2)
Khusyu’nya seorang hamba dalam shalat adalah hadirnya hati di hadapan
Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasakan kedekatan dengan-Nya, hingga
tenang hati, jiwa dan gerakannya, hampir-hampir tidak berpaling
dari-Nya, dengan sepenuh adab di hadapan Rabbnya, menghadirkan segala
yang diucapkan dan dilakukan di dalam shalat, dari awal hingga akhir
shalatnya, hingga hilanglah segala bisikan dan pikiran yang hina.
Inilah ruh shalat, inilah yang diinginkan dalam shalat seorang hamba,
dan inilah yang diwajibkan atas seorang hamba. Oleh karena itu, shalat
tanpa khusyu’ dan tanpa disertai hadirnya hati, walaupun mencukupi
untuk menggugurkan kewajiban dan mendapatkan pahala, namun sesungguhnya
pahala itu sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. (Taisirul Karimir
Rahman hal. 547-548)
Demikian semestinya yang menjadi perhatian orang tua, demi mengantarkan
putra-putrinya ke gerbang kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Siapa
kiranya yang tak tergiur dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
tidak pernah diselisihi-Nya:

??????????? ???? ????? ??????????? ?????????????. ????????? ??? ???????? ????????????

“Dan orang-orang yang menjaga shalatnya, mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (Al-Ma’arij: 34-35)

Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: