Penulis: Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Orang tua mengharap anaknya menjadi anak yang shalih adalah biasa.
Sayangnya, tidak banyak orang tua yang mau menempuh jalan agar
harapannya itu bisa terwujud. Padahal Islam telah banyak memberikan
bimbingannya baik di dalam Al Qur’an maupun Sunnah, termasuk saat masih
di dalam rahim.

Anak adalah sosok mungil idaman yang sangat dinanti kehadirannya
oleh sepasang ayah bunda. Semenjak melangkah ke jenjang pernikahan,
mereka berdua telah menumbuhkan harapan akan lahirnya si buah hati.
Mereka terus memupuk harapan itu dengan menjaga calon bayi yang memulai
kehidupannya di rahim ibunya, hingga saatnya hadir di dunia.

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir dalam keadaan yang
sebaik-baiknya. Segala upaya dikerahkan untuk mewujudkan keinginan
mereka. Tentu tak patut dilupakan sisi-sisi penjagaan dan pendidikan
yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dengan inilah
orang tua akan mendapatkan kemuliaan bagi anaknya dan bagi diri mereka.

Dapat disimak pengajaran ini dalam indahnya sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Di sana didapati bimbingan yang sempurna
untuk kita terapkan dalam mendidik anak. Bahkan sebelum hadirnya sosok
mungil itu pun Islam telah memberikan tuntunan penjagaan. Terus
demikian tuntunan itu secara runtut didapati hingga saat melepas anak
menuju kedewasaan.

Saat Kedua Orang Tua Bertemu
Inilah tuntunan Islam sebelum bertemunya dua mani yang menjadi bakal
janin dengan izin Allah. Usai pernikahan, ketika sepasang pengantin
bertemu untuk pertama kalinya, disunnahkan mempelai pria memegang
ubun-ubun istrinya dan mendoakannya. Didapati hal ini di dalam ucapan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam:
“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau
membeli seorang budak, maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya,
menyebut nama Allah dan mendoakannya dengan barakah, serta mengucapkan,
‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan seluruh sifat
yang Engkau jadikan padanya dan aku memohon perlindungan-Mu dari
kejelekannya dan kejelekan sifat yang Engkau jadikan padanya.’ Apabila
ia membeli unta, maka hendaknya ia pegang ujung punuknya dan berdoa
seperti itu juga.”
(Diriwayatkan oleh Imam al- Bukhari dalam
Af’alil ‘Ibad dan Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi dan
Abu Ya’la dalam Musnadnya dengan sanad hasan, dan disahihkan oleh Imam
al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat “Adabuz Zifaaf fis
Sunnatil Muthahharah”, hal. 20, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al
Albani rahimahullah)
Dalam suasana pengantin baru, sang mempelai tak lepas dari tuntunan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Demikian pula ketika kehidupan
rumah tangga terus berlangsung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam
juga memberikan pengajaran kepada setiap suami istri untuk mulai
menjaga calon anak mereka ketika mereka hendak bercampur (jima’).
Beliau bersabda :
“Apabila salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya
mengatakan : ‘Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah syaithan dari
kami dan jauhkanlah syaithan dari apa yang engkau rizkikan kepada
kami’, jika Allah tetapkan terjadinya anak, syaithan tidak akan dapat
memudharatkannya.”
(Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari)

Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud perkataan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam “Syaithan tidak akan
memudharatkannya” yaitu syaithan tidak akan memalingkan anak itu dari
agamanya menuju kekafiran, dan bukan maksudnya terjaga dari seluruh
dosa (‘ishmah).

Menjaga Janin dari Hal-hal yang Menggugurkannya

Ketika benih telah mulai tumbuh, banyak upaya yang dilakukan oleh
sepasang calon ayah bunda untuk menjaga janin yang ada di perut ibunya.
Sang calon ibu akan mulai memilih makanannya, mengkonsumsi segala macam
vitamin yang dapat menunjang kehamilannya, menjaga waktu istirahatnya,
melakukan olah raga khusus dan mengatur aktivitasnya. Tak lupa mereka
memantau keadaan calon bayi dengan terus memeriksa kesehatannya.

Akan tetapi, adakalanya janin gugur bukan karena semata sebab medis.
Terkadang ada sebab lain yang mengakibatkan gugurnya kandungan seorang
ibu. Inii kadang-kadang tidak disadari oleh kebanyakan orang.

Semestinya kita mengetahui peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
Wasallam dari hal-hal semacam ini yang diterangkan oleh syari’at,
sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan untuk
membunuh ular yang disebut dengan dzu thufyatain yang dapat menyebabkan
gugurnya janin. Beliau bersabda:
“Bunuhlah dzu thufyatain, karena dia dapat membutakan mata dan menggugurkan janin.”(Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari)
Apakah dzu thufyatain? Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abdil Barr bahwa dzu
thufyatain adalah jenis ular yang mempunyai dua garis putih di
punggungnya.

Perintah Rasulullah ‘Shallallahu ‘alaihi Wasallam ini menunjukkan
wajibnya menjaga dan menjauhkan hal-hal yang dapat mebahayakan janin,
dan ini merupakan salah satu pintu penjagaan dan perhatian syari’at ini
terhadap janin dan keadaannya.

Keringanan bagi Wanita Hamil untuk Berbuka

Tak jarang kondisi seorang ibu yang mengandung calon bayi di dalam
rahimnya lemah. Suplai makanan yang dikonsumsinya harus terbagi
untuknya dan untuk janin yang ada di dalam kandungannya. Sementara
ketika bulan Ramadhan tiba, kaum muslimin diwajibkan untuk melaksanakan
puasa, menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga
tenggelamnya bulatan matahari. Dengan ilmu dan hikmah-Nya, Allah
Subhanahu wa ta’ala memberikan keringanan kepada hamba-hamba wanitanya
yang sedang hamil dan menyusui untuk tidak menjalankan kewajiban
berpuasa.

Ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi menggugurkan
separuh shalat atas orang yang bepergian dan menggugurkan kewajiban
berpuasa dari wanita yang hamil dan menyusui.”
(Diriwayatkan oleh
Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan sanadnya hasan
sebagaimana yang dikatakan oleh Imam at-Tirmidzi. Dihasankan oleh
Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan An Nasa’i” dan dalam “Shahih Sunan
Ibnu Majah” no. 1353, beliau berkata: hadits hasan shahih)

‘Abdullah ibnu ‘Abbas radliyallahu‘anhuma memberikan penjelasan
bahwa jika seorang wanita yang hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita
yang menyusui mengkhawatirkan anaknya selama Ramadhan, maka keduanya
berbuka (tidak berpuasa) dan setiap hari memberi makan satu orang
miskin serta tidak mengqadha’ puasanya.

Inilah bentuk-bentuk penjagaan Islam terhadap anak sebelum ia lahir
ke dunia. Terlihat dengan gamblang perlindungan agama Allah ini
terhadap jiwa seorang manusia. Terbaca dengan jelas kasih sayang Allah
Subhanahu wata’ala bagi seluruh hamba-Nya. Oleh karena itu, selayaknya
ayah dan bunda memperhatikan penjagaan buah hati mereka.
“Barangsiapa yang menjaga kehidupan satu jiwa, maka seakan-akan ia menjaga kehidupan seluruh manusia.” (al-Maidah: 32)

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.


Bacaan :

– Adabuz-Zifaaf, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
– Ahkamuth Thifl, asy-Syaikh Ahmad al-‘Aisawy

Dicopy dari www.asysyariah.com