Pustaka Digital Ibu dan Anak


Mengenal Sudden Infant Death Syndrome

Posted in Parent Guide by nugraad001 on August 8, 2007

parent-guide.jpg

90 persen ” jumlah kematian akibat SIDS terjadi pada bayi berusia di bawah 6 bulan. Terbanyak diantaranya adalah bayi usia 2–4 bulan. Betapa lega dan bahagianya Lucy (19 tahun), ketika pertama kali memeluk buah hatinya, Ruben, sesaat setelah dilahirkan. Demikian pula sang ayah, Rio (24 tahun). Orang tua baru itu berusaha memeluk putra pertama mereka dengan hati–hati dan penuh cinta.

Selepas dari rumah sakit, Ruben tidak memperlihatkan tanda–tanda yang tidak lazim. Seperti layaknya bayi, Ia tampak mungil, lucu, dan sehat.
“Ruben mana, Ma?”, tanya Rio, sepulang dari kantor.
“Tidur, Pah”, jawab Lucy.
“Sudah lama tidurnya?.”tambah Rio.
“Kira–kira dari jam 2–an tadi,”ungkap Lucy, tanpa rasa curiga.

Seolah tak bisa menahan perasaan rindu pada si kecil, Rio pun lekas menjambangi kamar Ruben yang saat ini telah berusia 2 bulan.

“Ma..Ma..Maaaa!,”teriak Rio.
Sambil berlari, Lucy langsung mendatangi Rio di kamar Ruben.
“Ada apa, Pah?”, tutur Lucy cemas.
“Ruben, Ma…Ruben..,”rintih Rio, sambil menahan air mata.

Siapa sangka bayi mungil yang lucu itu, pergi untuk selamanya tanpa pernah memperlihatkan gejala penyakit apapun sebelumnya. Terhadap kematian yang menggemparkan itu, diduga Ruben terserang SIDS.

Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)
Patrick L Carolan, MD, Medical Director of Minnesota Sudden Infant Death Center, Children”s Hospital and Clinics of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa secara sederhana, SIDS didefinisikan sebagai kematian mendadak pada bayi berusia di bawah 1 tahun. “SIDS banyak terjadi pada bayi yang kelihatannya sehat–sehat saja. Meski bisa terjadi pada bayi berusia di bawah 1 tahun, 90% jumlah kematian akibat SIDS terjadi pada bayi di bawah 6 bulan. Terbanyak adalah bayi usia 2–4 bulan. Sementara pada bayi usia 1 bulan jarang terjadi,”katanya.

Penyebabnya Masih Misterius
Bagi para orang tua, SIDS memang menjadi momok yang menakutkan. Terlebih hingga kini penyebabnya masih misterius.
Sebagian kalangan menganggap SIDS dipicu gangguan saluran pernapasan secara tiba–tiba. Tetapi, berdasar laporan yang termuat dalam American Journal of Medical Genetics, peneliti dari Rush University telah menemukan adanya mutasi genetika dalam gen bernama 5–HTT. Mutasi ini banyak terjadi pada bayi–bayi yang mengalami SIDS. Menurut mereka, gen ini berfungsi sebagai pengatur serotonin, yakni salah satu zat kimia dalam otak yang berfungsi membantu pernapasan dan detak jantung.

Dr Deborah Weese–Mayer, profesor pediatrik di Rush University sekaligus direktur Rush Presbyterian St. Luke’s Medical Center, Chicago, Amerika Serikat, dan timnya melakukan penelitian berdasarkan penemuan terdahulu terhadap gen 5–HTT. Dalam riset sebelumnya di Jepang, dikatakan bahwa bayi–bayi Negeri Sakura yang meninggal akibat SIDS lebih banyak memiliki allele di dalam gen 5–HTT dibanding bayi normal. Alele sendiri merupakan gen mutasi yang mampu mengubah karakteristik fisik. Berdasarkan dari hasil riset terdahulu, Weese–Meyer dan rekannya kemudian mengumpulkan sampel DNA dari 87 bayi Amerika Serikat (AS) yang meninggal akibat SIDS. Lalu, para peneliti itu membandingkannya dengan DNA bayi–bayi normal.

Alhasil, layaknya pada hasil riset di Jepang, studi yang dilakukan di AS itu, menemukan bahwa bayi yang meninggal akibat SIDS lebih banyak memiliki alele di dalam gen 5–HTT–nya. Meski demikian, ditemukan pula bayi korban SIDS yang tidak mengidap alele. Dengan demikian walaupun penelitian tersebut membuktikan adanya faktor genetika sebagai pemicu SIDS, tetap saja diperlukan screening test untuk mengidentifikasi risiko bayi. “Ini masih sebuah hipotesis yang sedang dalam uji coba, belum hasil akhir. Kemungkinan, ada gen lain. Sehingga, bisa jadi gen ini berupa gen gabungan, ” tutur Weese–Meyer.

Pencegahan
Marc Peterzell, ketua The American SIDS Institute, menyebutkan bahwa sekitar 2.500 bayi/tahun di AS meninggal akibat SIDS, dan ribuan bayi lainnya di seluruh dunia turut menjadi korban SIDS. Sebenarnya, terdapat sejumlah upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Rutin memeriksa kehamilan ke dokter kandungan.
  2. Konsumsilah makanan dengan kandungan nutrisi bergizi seimbang.
  3. Hindari gaya hidup tidak sehat. Seperti, merokok, atau menggunakan obat–obatan terlarang.

Menurut George Cohen, MD, professor klinikal pedriatri dari sekolah kedokteran, Universitas George Washington, AS, Terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan para orang tua untuk meminimalkan kemungkinan SIDS pada bayinya, diantaranya :

  1. Jangan tidurkan bayi dalam posisi membelakangi (tengkurap). Tidur yang paling aman adalah dalam posisi telentang.
  2. Tidurkan bayi di ruang tidur dengan temperatur yang aman (tidak terlalu panas), dan di atas tempat tidur yang nyaman.
  3. Jangan merokok di kamar bayi/hindarkan bayi dari menghirup asap rokok.
  4. Sebaiknya, orang tua mempelajari teknik pemberian nafas buatan pada bayi (Infant CPR), sebagai pertolongan pertama pada bayi bila terkena SIDS.

Sementara itu, The Amerikan SIDS Institute menambahkan:

  • Beri ASI Eksklusif. Bayi yang disusui secara eksklusif dengan ASI memiliki resiko yang lebih kecil untuk terkena SIDS.
  • Bila bayi sedang tidur, lakukan monitoring berkala untuk memastikan kondisinya.
  • Selalu berkonsultasi dengan dokter anak. PG

Siapa yang Beresiko Terkena SIDS?
SIDS bisa terjadi pada bayi mana pun. Tetapi, ada sejumlah kriteria yang paling beresiko terkena SIDS, seperti:

  • Bayi prematur
  • Bayi yang terlahir dari ibu berusia remaja
  • Bayi yang usianya terlampau dekat dengan kakaknya. Untuk itu, bila memungkinkan, sebaiknya tunggulah setidaknya 1 tahun setelah melahirkan, sebelum memutuskan untuk hamil lagi.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: