Pustaka Digital Ibu dan Anak


Kalau Kutampar, Jadinya Gimana, Ya?

Posted in Parent Guide by nugraad001 on August 8, 2007

parent-guide.jpg

Apa tujuan bayi ‘menampar’ pipi seseorang? Bagaimana semestinya reaksi dan respon kita?
“Aduh! Sakit, Josefine!”

Cepat-cepat Zus –
panggilan untuk babysiter yang mengasuh Josefine (10 bulan) – menahan
tangan kanan momongannya, agar tak menampar dirinya lagi. Selain karena
memang tak suka ditampar, Zus juga mendapat pesan agar Josefine tak
diizinkan melakukan tindakan berbau kekerasan seperti menampar,
memukul, menggigit, dan merenggut rambut orang. “Jangan sampai seperti
Jacklyn,” pesan mama Josefine. Jacklyn, kakak perempuan Josefine,
termasuk ‘ringan tangan’. Tangannya gampang memukul dan mencubit.

Kuatir Agresi
Upaya
orang tua untuk mendidik anak tidak cenderung pada kekerasan dan
perilaku agresi sejak dini patut dihargai. Apa bayi yang menampar
bermaksud melakukan kekerasan atau menyerang?

Dalam situs
askdrsears.com yang diasuh keluarga dokter William dan Martha Sears
disebutkan, begitu giginya tumbuh dan kedua tangannya bisa memukul,
yang ingin bayi kerjakan hanyalah melakukan percobaan serta menggunakan
gigi dan kemampuan tangannya itu (memukul) terhadap berbagai objek. Hal
ini dilakukan bayi untuk melihat reaksinya. Sekali lagi, sekedar
melihat reaksi. Jadi, saat bayi menampar dan memukul – atau melakukan
‘kekerasan’ lainnya — bayi tak punya maksud buruk, misalnya saja untuk
melecehkan atau menyerang. Bayi hanya ingin tahu reaksi objeknya.

Disebutkan
pula, semengerikan apapun gigitan atau pukulan ‘dini’ ini, semua itu
merupakan komunikasi main-main, bukan tingkah laku agresif dan kurang
ajar. Jadi, saat menampar mungkin bayi hanya ingin bilang begini,
“Kalau kubeginikan (tanganku kutamparkan ke pipi mama atau Zus),
jadinya gimana, ya?” Oleh sebab itu, tamparan bayi memang tak perlu
diambil hati. Jika orang tua atau pengasuh tak ingin bayi menampar,
tahan tangannya sambil mengatakan “Jangan”. Bila tamparannya cukup
pedas di pipi, katakan “Sakit” – tanpa harus marah-marah. Ingatlah,
bayi tak bermaksud agresif atau kurang ajar.

Tak Cukup dengan “Jangan”
Saat
bayi mulai menampar kita, selain perlu memahami bahwa itu bukan
serangan atau kekurangajaran, sebenarnya dua hal penting yang harus
kita pahami: perkembangan kemampuan tangan bayi dan pembelajaran bayi
untuk menggunakan tangannya.

Tangan, mengacu penjelasan dalam
situs askdrsears.com, adalah satu dari dua perangkat sosial pertama
bayi (perangkat satunya adalah mulut). Segala yang bayi lakukan akan
berkisar pada tangan (dan mulut) ini. Bayi belajar memakai tangan (dan
mulut) dari respon yang mereka terima. Apa artinya ini?

Artinya,
respon dari orang tua dan pengasuh saat bayi menampar akan mengajarkan
kepada bayi saat itu juga bagaimana seharusnya ia menggunakan
tangannya. Maka, sekedar menahan tangan bayi agar tidak menampar, lalu
mengatakan “Jangan. Sakit” belumlah cukup. Respon itu baru mengajarkan
bayi agar tidak menampar pipi orang tua atau pengasuhnya. Respon itu
belum mengajarkan bagaimana seharusnya menggunakan tangan yang sudah
bisa menampar.

Dalam buku 365 Hari Pertama Perkembangan Bayi
Sehat yang disusun Prof. Dr. Theodore Hellbrugge dan JH von Wimpffen
dari Jerman dijelaskan, pada bulan ke-10 bayi tidak lagi sekedar
melepaskan dan menjatuhkan benda-benda begitu saja, tapi mulai
melemparkannya dengan mengayunkan tangannya. Bagi bayi, permainan ini
amat menggembirakan. Disebutkan pula, pengertian akan ruangan memegang
peranan penting dalam hal ini (melempar dengan mengayunkan tangan,
Red), begitu juga kesadaran akan tenaga yang digunakan saat melempar,
serta pengalaman bahwa ia pun turut aktif untuk mengambil benda-benda.
Menampar pipi, agak mirip melempar benda.

Menampar pipi
memerlukan ayunan tangan, pengertian akan ruangan, serta kesadaran akan
tenaga yang digunakan untuk mengayunkan dan memukulkan tangan ke pipi.
Respon kita menahan tangan bayi dan mengatakan “Jangan. Sakit” baru
sekedar mencegah bayi mengayunkan tangan sembarangan ke pipi orang
(kalau menepuk pelan, sekedar membantu menepuk nyamuk, boleh kan?). Dan
itu belum cukup. Bagi bayi, menampar pipi bisa jadi sama
menggembirakannya dengan melempar benda. Kita perlu mengajarkan bayi
bahwa masih banyak cara menggunakan ayunan tangan (plus ‘pengertian
ruang’ dan ‘kesadaran tenaga’), yang sama menyenangkannya dengan
menampar pipi orang. PG


Main Tepuk Balon, Yuk!
Pipi
orang tua atau pengasuh adalah objek yang paling dikenal bayi dan
‘tersedia setiap saat’. Wajar bila bayi menjadikannya sasaran favorit
ayunan tangannya. Permainan tepuk balon bisa menyalurkan antusiasme
bayi mengayunkan tangan. Permainan ini juga mengakomodasi ‘pengertian
ruang’ dan ‘kesadaran tenaga’ pada bayi.

  • Sediakan balon karet warna lembut cerah (siapkan beberapa
    buah, simpan untuk cadangan). Jangan bermotif wajah manusia, hewan atau
    karakter animasi, agar tak terkesan menjadikan sesama makhluk sebagai
    ‘sasaran’.
  • Tiup seukuran kepala manusia, jangan terlalu besar (agar tidak mudah pecah).
  • Ikat dan pegang simpulnya dengan satu tangan.
  • Dengan
    tangan yang satu lagi, contohkan cara menepuk balon. Perlihatkan balon
    yang bergoyang-goyang di tangan Anda. Lihat reaksi bayi (atau tanyakan
    apakah bayi mau mencoba?).
  • Jika bayi tertarik, pegang tangannya dan ayunkan ke arah balon. Biarkan bayi mengamati reaksi yang terjadi.
  • Biarkan
    bayi mencoba menepuk balon sendiri, dengan kekuatan bervariasi. Boleh
    juga Anda mecontohkan mana tepukan keras, mana tepukan lemah.
  • Geser-geser sedikit posisi balon, untuk memperkaya pengertian ruang pada bayi.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: