Pustaka Digital Ibu dan Anak


Berani Acak-acakan Itu Baik

Posted in Parent Guide by nugraad001 on August 8, 2007

parent-guide.jpg

ebebasan eksplorasi amat penting untuk tumbuh kembang bayi. Salah satu cara untuk mendukung kebebasan tersebut, orang tua atau pengasuh perlu memiliki sikap “berani acak-acakan”. “Mas, rumahnya Mbak Niniek interiornya enak banget, ya. Blong, kayak lapangan bola…” kata seorang ibu muda pada suaminya, sepulang menengok kerabat yang baru melahirkan bayi.

“He-eh. Yang merancang suaminya sendiri, lho. Tadi Mas Budi mengaku.”
“Masak? Wah, canggih juga ya Mas Budi. Aku senang deh lihat desain dindingnya, penuh lemari dan laci. Menurutku, rumah kayak gitu bagus buat keluarga yang punya bayi.”

“Bisa bebas merangkak, ya?”
“Bukan hanya itu. Kita jadi nggak repot dan was-was waktu bayi mulai senang ngacak-acak. Semua pajangan kan sudah disimpan di lemari atas. Mau bongkar laci dan lemari bawah silakan. Toh isinya mainan dan benda-benda yang boleh disentuh bayi. Kalau bayi sudah bosan ngacak-acak, semua tinggal masukkan lagi ke laci…”
“Iya ya. Bagus juga barangkali kalau rumah kita dibuatkan banyak laci dan lemari dinding. Kalau perlu, meja kerjaku sekalian bisa dilipat ke dinding. Kita jadi nggak takut rumah diacak-acak anak.”

Berbagai Keberatan
Orang dewasa – terutama yang menyukai kerapian dan kebersihan – sering tak tahan menghadapi situasi berantakan gara-gara keasyikan bayi mengacak-acak (baca: mengeksplorasi). Bahkan ada lho, pembantu rumah tangga menolak tawaran bekerja di rumah yang ada bayinya. Mereka menganggap tugas akan semakin berat karena harus bolak-balik membereskan dan membersihkan bekas-bekas ‘ulah’ bayi majikan.

Harus diakui, jika bayi dibiarkan mengacak-acak seisi rumah, semua yang tadinya rapi-bersih bisa berantakan dan kotor. Segala mainan dan bukan mainan campur aduk jadi satu. Makanan, minuman, kotoran bercampur — basah, lengket dan bernoda. Belum lagi kalau bayi suka memasukkan benda-benda ‘kotor’ masuk rumah seperti sandal, sepatu, sapu, tempat sampah dan ikrak. Wah! Merapikan dan membersihkan semua itu tentu perlu alokasi waktu dan tenaga tidak sedikit — apalagi kalau dilakukan lebih dari sekali sehari.

Di luar soal repotnya beres-beres, orang tua atau pengasuh juga kuatir soal keselamatan bayi. Membiarkan bayi bebas mengacak-acak kadang dianggap berisiko. Tanpa sengaja bayi bisa menemukan dan menggunakan benda-benda yang mengundang celaka, misalnya benda tajam, beracun, atau yang bisa membuat bayi tersedak dan tercekik (tidak bisa bernafas).

Selain itu juga ada soal cara pandang. Ada yang menganggap makanan dan minuman tak boleh diperlakukan sembarangan — ditumpahkan, diaduk-aduk, diobok-obok, dipenyet-penyet, diremas-remas, diawur-awur dan disembur-sembur tanpa tujuan. Makanan dan minuman adalah anugerah yang harus dihargai dan dihormati, apalagi di luar sana masih banyak orang yang tak bisa makan-minum. Masih soal cara pandang, ada juga yang kuatir anak jadi ‘pengacau’ jika dibiarkan mengacak-acak. Maka sebagian orang keberatan jika bayi mengacak-acak, apalagi makanan dan minuman…

Empat Manfaat
Jika kita – atau pengasuh si kecil — termasuk yang keberatan bayi mengacak-acak, barangkali pandangan Bernadette Duffy terasa aneh. Kepala Thomas Coram Centre for Children and Families, Inggris ini justru menganjurkan bayi bermain acak-acakan. Dalam artikelnya All About… Messy Play (pertama kali dimuat di Nursery World, 2004, kemudian dijadikan salah satu sumber rujukan Early Years Foundation Stage, Departemen for Education and Skills, Inggris),

Duffy mengungkapkan bahwa anak-anak menjadi kreatif manakala mereka menggunakan benda-benda dengan cara-cara baru, mengkombinasi benda-benda yang sebelumnya tidak berhubungan, serta menjajaki hal-hal yang baru bagi mereka. “Bermain acak-acakan memungkinkan anak melakukan semua itu,” tulis Duffy.

Merujuk penjelasan Duffy, ciri pertama bermain acak-acakan adalah digunakannya seluruh indera dalam proses eksplorasi anak — terutama indera peraba — untuk membentuk dan memanipulasi benda. Ciri kedua, anak tidak harus memfokuskan diri untuk membuat atau menghasilkan sesuatu. Dengan kedua ciri tersebut, bermain acak-acakan ternyata mampu:

  1. Membangkitkan rasa ingin tahu bayi terhadap dunia di sekitarnya. Karena tak punya tujuan khusus, bayi bebas mengeksplorasi segala sesuatu.
  2. Menumbuhkan kesenangan belajar. Kebebasan mengeksplorasi menumbuhkan keasyikan belajar dari dalam diri anak.
  3. Menciptakan proses kreatif. ‘Kebingungan’ yang dihadapi saat bermain acak-acakan merangsang keberanian bayi mengambil risiko, mencoba dan bereksperimen.
  4. Mempermudah interaksi. Tidak ada aturan dalam bermain acak-acakan. Bayi bisa melakukan apa saja dengan caranya sendiri, bersama (bersebelahan dengan) siapa saja.

Singkatnya, membiarkan si kecil bermain acak-acakan berarti membantunya menjadi pembelajar yang aktif dan kreatif – salah satu ciri manusia unggul. Beranikah kita mengubah sikap? PG


Tips Bermain Acak-acakan

  1. Periksa semua bahan dan alat sebelum digunakan bayi. Jangan sampai ada yang membahayakan. Letakkan semuanya di lantai, atau meja pendek (bisa dijangkau bayi sambil duduk di lantai).
  2. Pakaikan bayi baju yang simpel dan memudahkan gerak. Baju tua lebih baik.
  3. Batasi area bermain. Tutupi lantai dan dinding dengan lembaran plastik.
  4. Jangan tinggalkan bayi tanpa pengawasan. Kehadiran Anda (pengasuh) adalah ‘syarat rasa aman’ bagi seorang bayi.
  5. Libatkan diri Anda (atau pengasuh) untuk mendampingi. Tunjukkan cara-cara mengeksplorasi bahan atau alat, sambil mengucapkan kalimat-kalimat ‘curious’, misal: Bagaimana ya kalau…? Kenapa jadi begini ya…”
  6. Jika bayi sedang ‘asyik’, jangan intervensi atau mengajak bicara. Amati saja ‘proses kreatif’ bayi.
  7. Sediakan waktu yang cukup (mungkin tidak akan sama dari hari ke hari). Waktu mandi dan makan biasanya paling diminati bayi. Perhatikan tanda-tanda kebosanan bayi.
  8. Seimbangkan antara bermain di dalam dan luar ruang.
  9. Soal mengacak-acak makanan/minuman, gunakan ambang toleransi tertinggi Anda (misalnya: cegah bayi menginjak-injak atau menuangkan/mengoleskan/meletakkannya di tempat kotor).
  10. Alokasikan waktu (dan tenaga) yang cukup untuk merapikan kembali segalanya. PG

Disclaimers:

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: