Pustaka Digital Ibu dan Anak


7 Cara Ayah Dukung ASI Eksklusif

Posted in Parent Guide by nugraad001 on August 8, 2007

parent-guide.jpg

Ada banyak hal yang bisa ayah lakukan untuk mendukung keberhasilan ibu menyusui secara eksklusif. “Kalau anak kita dikasih ASI Eksklusif, aku bisa bantu apa? Kan aku nggak punya ASA…”
“ASA, apa itu?”
“Air susu ayah, hehehe…”
“Ada-ada saja si ayah. Banyak kok caranya, kalau ayah mau bantu…”

Ya. Banyak yang bisa para ayah lakukan untuk membantu keberhasilan para ibu menyusui bayinya secara eksklusif. Ini dia:

  1. Pastikan bayi bersama ibunya selama satu jam pertama
    setelah persalinan. Dalam rentang waktu satu jam pertama setelah lahir,
    bayi akan menunjukkan gerak refleks ‘mencari payudara dan puting’ ibu,
    dan refleks mengisap. Refleks ini sangat penting untuk memastikan bayi
    mendapatkan kolostrum sedini mungkin dan merangsang keluarnya ASI. Ayah
    perlu berkoordinasi dengan petugas kesehatan agar bayi diberi
    kesempatan melakukan kontak kulit-ke-kulit selama 1 jam pertama setelah
    lahir, dan tidak dipisahkan ke ruang bayi.
  2. Sering-sering
    menggendong bayi di depan ibunya. Denise Parker, IBCLC — konsultan
    laktasi yang juga koordinator humas The Lactation Insititute and
    Breastfeeding Clinic di Encino, California, AS — dalam Dad and the
    Breastfed Baby mengatakan, bayi-bayi baru lahir itu ‘lapar sentuhan
    manusia’. Mereka senang didekap dekat degup jantung, merasakan
    permukaan kulit dan membaui tubuh orang tuanya, mendengar suara orang
    tuanya, serta merasakan gerakan dan aktivitas tubuh manusia. “Sementara
    ibu bisa memenuhi segalanya lewat menyusui, ayah bisa memenuhi
    kebutuhan bayi dalam banyak sekali cara yang luar biasa,” tulis Denise.
  3. Segeralah
    belajar memandikan dan menggantikan popok bayi. Jika ayah belum bisa
    memandikan dan mengganti popok bayi, mintalah izin agar bisa mengamati
    perawat melakukannya. Kalau perlu, minta perawat mengajarkan.
    Keterampilan ini akan sangat berguna untuk membantu ibu merawat bayi di
    rumah. Jika ayah terampil memandikan dan mengganti popok, ibu bisa
    cukup beristirahat, sehingga hormon oksitosin (hormon yang mengalirkan
    ASI) bisa bekerja secara efektif.
  4. Dorong ibu
    mengikuti bimbingan menyusui selama di fasilitas persalinan. Biasanya,
    1-2 hari setelah melahirkan ibu akan diminta mengikuti bimbingan
    menyusui yang diberikan petugas kesehatan. Ayah bisa mendorong ibu agar
    tidak melewatkan kesempatan berharga ini.
  5. Aktiflah
    bertanya kepada konselor atau konsultan menyusui di fasilitas
    persalinan tentang masalah-masalah menyusui yang paling umum terjadi,
    dan cara mencegahnya. Penelitian oleh para pakar dari Departemen Ilmu
    Kesehatan Anak, Universitas Federico II, Napoli-Itali menyimpulkan,
    mengajarkan para ayah cara mencegah dan mengatasi kesulitan-kesulitan
    yang paling lazim dalam menyusui, berhubungan dengan lebih tingginya
    tingkat keberhasilan menyusui 6 bulan penuh. Hasil penelitian tersebut
    dimuat dalam jurnal Pediatrics, Oktober 2005.
  6. Berusahalah
    terlibat dalam berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Menurut
    Denise, bayi memiliki begitu banyak kebutuhan. Perlu makan, perlu
    kontak fisik dengan manusia lain, perlu dibuat nyaman, perlu dijaga
    agar selalu kering dan bersih, dan perlu dikenalkan dengan dunia yang
    begitu besar, luas serta menakjubkan. “Ayah dapat berpartisipasi dalam
    semua kegiatan tersebut sambil melindungi kegiatan menyusui,” tulis
    Denise. Jika ayah mau menidurkan bayi, ayah tidak hanya memberi
    kesempatan ibu yang kelelahan menyusui dan merawat bayi seharian untuk
    beristirahat, melainkan menciptakan kebersamaan yang intim dengan bayi.Ayah bisa mengajak bayi melihat-lihat gambar di dinding,
    tanaman di halaman, atau diam-diam menikmati kebersamaan mereka.
    Menyaksikan ayah dan bayi tertidur bersama akan menimbulkan emosi
    positif dalam diri ibu menyusui, dan membantu meningkatkan hormon
    oksitosin (hormon yang mengalirkan ASI). Ibu menyusui akan merasakan
    emosi positif yang sama, jika ayah mau membacakan buku untuk bayi,
    mengajak bayi berjalan-jalan, mengobrol, memijat, dan masih banyak lagi.
  7. Dukunglah
    ibu tetap menyusui setelah cuti melahirkan habis. Ingatkan agar ibu
    berlatih memerah ASI minimal dua minggu sebelum cuti habis. Bantulah
    ibu melakukannya, misalnya, membantu menyiapkan mangkuk penampung,
    wadah penyimpan ASI perah, menuliskan tanggal dan jam pemerahan, dll.
    Lebih bagus lagi jika ayah belajar memberi ASI perah kepada bayi dengan
    sendok atau cangkir. Setelah ibu kembali bekerja, secara teratur
    ingatkanlah ibu agar menyempatkan memerah ASI di kantor. Dalam keadaan
    darurat (misalkan stok ASI perah di rumah habis) perjuangkanlah untuk
    ‘menjemput’ ASI hasil perahan ibu di kantor untuk diantarkan kepada
    bayi di rumah.
  8. Dukunglah ibu menyusui sesering
    mungkin di malam hari. Di malam hari tubuh ibu memproduksi lebih banyak
    hormon prolaktin (hormon yang merangsang produksi ASI). Hormon
    prolaktin dihasilkan jika bayi mengisap payudara. Semakin sering ibu
    menyusui di malam hari, semakin tinggi kadar prolaktin, dan semakin
    banyak produksi ASI. Ayah perlu tahu pentingnya menyusui di malam hari,
    sehingga tidak ‘menuntut’ ibu menyusui melayani kebutuhan biologis,
    jika memang ibu sibuk menyusui dan tidak ingin berhubungan intim.

Kesungguhan ayah melakukan kedelapan hal di atas (dan masih banyak
lagi selain itu) akan sangat mendukung keberhasilan ibu menyusui
eksklusif. Cobalah, wahai para ayah. Semoga sukses! PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: