Pustaka Digital Ibu dan Anak


Makan sebagai Ajang Belajar Anak

Posted in Ayah Bunda by nugraad001 on August 7, 2007

ayah-bunda.jpg

Dari sepiring nasi yang dimakannya, si kecil bisa belajar banyak hal yang mencerdaskan.

Di balik kegiatan makan (yang tampaknya sepele), ternyata ada banyak hal yang bisa digali. Bahkan, dimulai dari kegiatan makan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu minum ASI.

Bagi si 6 bulan yang baru mengenal makanan padat, ada sederet keterampilan yang harus ia kuasai dan dilatih terus menerus. Keterampilan tersebut antara lain keterampilan makan, merupakan hasil dari serangkaian penguasaan dan kontrol terhadap anggota tubuhnya, untuk digerakkan dengan sadar, sesuai keinginan atau kehendaknya.

Melalui kegiatan mengisi perut yang dilakukan rutin setiap hari, si kecil sebetulnya juga melatih keterampilan yang sudah dimiliki, sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan baru.

Kesempatan emas

Pada bayi dan anak usia balita, sekitar 70% dari waktu bangun mereka digunakan untuk melakukan kegiatan makan. Selama kegiatan ini, akan terjadi interaksi antara anak dengan orang yang membantunya dalam mengurus berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama ayah dan bundanya.

Tapi, kapan kita dapat memanfaatkan kegiatan makan sebagai ajang belajar bagi si kecil? Di sinilah dibutuhkan kejelian Anda untuk mengamati saat-saat di mana si kecil menunjukkan perhatian penuh terhadap kegiatan makan.

Minat “belajar” makan bayi biasanya dimulai saat ia berusaha memegang makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Itulah momen atau kesempatan emas! Biarkan si kecil bereksplorasi dengan makanannya. Biarkan dia memegang dan meremas-remas bubur atau biskuitnya atau , apa pun yang ingin dilakukannya terhadap makanannya.

Belajar apa?

Kalau kesempatan emas itu datang, Anda dapat mengajak si kecil belajar banyak hal. Anda bisa mengenalkan kepadanya bahwa apa yang sedang ia makan adalah nasi atau bubur. Kenalkan aneka tekstur seperti bubur yang lembut, ada pisang yang empuk, atau wortel rebus yang lebih keras.

Bila si kecil sudah mulai bisa diajak bicara, Anda dapat mengembangkan pelajaran selanjutnya. Misalnya, kenalkan nama aneka sayuran dan buah-buahan yang tersaji di atas meja makan. Lengkapi juga dengan pelajaran tentang berbagai jenis warna. Ada pepaya dan jeruk yang berwarna oranye, pir dan nasi yang warnanya putih, pisang yang kulitnya kuning tapi dalamnya putih, dan sebagainya.

Bahkan, bila Anda senang berkreasi, Anda dapat membuat 1001 macam penampilan yang menarik dari makanan yang Anda sajikan untuk si kecil, sekaligus sebagai media si kecil belajar tentang berbagai macam hal. Puding jelly aneka warna berbentuk wajah, misalnya, bisa jadi media belajar si kecil tentang warna dan nama-nama bagian wajah seperti mata, hidung dan mulut.

Sesuai keterampilan

Kegiatan makan melibatkan proses menelan dan mengunyah. Padahal, kedua keterampilan itu tidak begitu saja dikuasai si kecil, melainkan melalui serangkaian proses perkembangan yang bertahap. Agar Anda dapat memberikan makanan yang benar-benar tepat sesuai tahap perkembangan keterampilan maupun sistem pencernaannya, sebaiknya pahami setiap tahapannya. Dengan begitu, Anda dapat mengolah dan memberikan variasi makanan kepada buah hati Anda secara tepat.

Pada umumnya, si kecil sudah benar-benar siap diperkenalkan makanan yang padat, bertekstur lebih kasar, bercita rasa lebih kuat, dan jenisnya lebih bervariasi, pada saat dia memasuki usia 6 bulan. Yakni, bersamaan dengan tumbuhnya gigi pertama (gigi susu). Pada rentang usia ini, indera pengecap si kecil berkembang pesat.

Jadi, setelah si kecil memasuki usia 6 bulan, picu sensitivitas indera pengecapkan dengan memperkenalkan aneka rasa makanan melalui berbagai jenis makanan baru. Misalnya, bila si kecil sudah mampu menggenggam dan menggerakkan tangannya ke arah mulut, beri ia finger food, seperti potongan buah, rebusan aneka sayuran yang berbentuk batangan, serta keju.

Selanjutnya, ketika usianya semakin beranjak, si kecil pun makin pandai mengontrol gerak anggota tubuhnya. Di rentang usia 9-12 bulan, si kecil akan berada pada tahap perkembangan fase oral, yakni senang mencicipi berbagai benda yang menarik perhatiannya untuk dipegang dan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Ia juga akan berubah menjadi “si pemilih”! Kini bayi Anda tidak mau menerima begitu saja setiap makanan yang Anda sodorkan ke mulutnya. Ini karena indera pengecapnya semakin berkembang. Kini ia tidak hanya sekadar menelan ‘mentah-mentah’ makanan yang Anda berikan, tetapi sudah mulai dapat menikmati rasa dari setiap jenis makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Tantangan yang menarik bagi Anda untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya adalah terus berkreasi mengolah aneka makanan yang tidak saja sesuai dengan tahap perkembangan keterampilan makan serta sistem pencernaannya, tetapi juga sesuai dengan selera makannya. Hal ini, antara lain, bertujuan agar anak kelak tidak mengalami kesulitan makan, atau sebaliknya, jadi obesitas (kegemukan).

Makan bersama

Salah satu cara untuk menggugah selera makan si kecil adalah dengan mengajaknya ikut dalam acara makan bersama seluruh anggota keluarga. Secara psikologis, acara makan bersama ini merangsang kecerdasan emosi si kecil. Menurut Fiona Wilcock, ahli gizi dari Amerika Serikat dalam artikelnya “Fun Food For All The Family”, makan bersama sekeluarga merupakan ajang bagi anak untuk belajar bersosialisai, sekaligus merupakan kesempatan baginya untuk menikmati kebersamaan.

Wilcock menambahkan, bagi bayi, timbulnya perasaan ikut terlibat dalam aktivitas sehari-hari akan membuatnya merasa senang. Dari acara makan bersama yang ia ikuti, banyak hal yang dapat dipelajarinya, sekali pun hanya melalui kegiatan melihat dan mengamati. Si kecil bisa belajar tentang cara dan kebiasaan makan dari masing-masing anggota keluarganya.

Untuk itu, sangat dianjurkan menghadirkan si kecil pada acara makan bersama. Dengan begitu, ia akan merasa dibutuhkan oleh kelurga karena ia termasuk dalam anggota keluarga. Si kecil tidak selalu harus makan menu utama yang disajikan.

Melalui acara makan bersama keluarga ini, emosi-emosi positif pada si kecil dapat ditanamkembangkan, dan ini akan memperkuat tali kekeluargaan. Jadi, jelaslah mengapa melalui sepiring nasi beserta lauk-pauk yang disajikan, kelak si kecil akan memahami “warna-warni” kehidupan, seperti halnya warna-warni lauk-pauk yang ada di dalam piringnya.

Sri Lestariningsih

Foto: Dachri MS dan Honda T.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: