Pustaka Digital Ibu dan Anak


Awas, Jamur di Kulit Bayi

Posted in Ayah Bunda by nugraad001 on July 4, 2007

ayah-bunda.jpg

Walau tidak berakibat fatal, infeksi jamur ini sebaiknya segera diatasi. Sebab, kesehatan dan kebersihan tubuh bayi Anda jadi taruhannya.

Sebenarnya, infeksi jamur pada kulit bisa dialami oleh siapa saja, tanpa mengenal usia. Meski begitu, bayi biasanya relatif lebih rentan terinfeksi jamur ketimbang orang dewasa. Ini antara lain karena kulit bayi, terutama yang lahir kurang bulan (prematur), lebih tipis. Nggak heran kalau masih kurang kuat melindungi tubuh.

Bisa karena bakat

Timbulnya infeksi jamur ini bukan tanpa gejala. “Biasanya, gejala yang timbul berbeda-beda, tergantung pada lokasi terjadinya infeksi dan jamur penyebabnya. Misalnya, gejala infeksi jamur yang menyerang kepala tentu saja lain dengan yang menyerang kaki,” kata dr. Titi Lestari Sugito, Sp.KK, Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia , FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta .

Bahkan, dr. Titi melanjutkan, karena jamur yang jadi biang keladi infeksi beda-beda, maka gejala infeksi yang menyerang kepala si kecil bisa saja beberapa macam. Untuk gampangnya, jenis jamur yang sering menginfeksi kulit dapat dikelompokkan menjadi tiga (lihat boks “Kenali Jenis Jamurnya”).

Yang menarik adalah, faktor kerentanan bawaan atau bakat perlu pula jadi perhatian. Bukan apa-apa. Ada bayi/anak yang lebih mudah terinfeksi jamur ketimbang teman sebayanya. Para ahli menduga, ini ada hubungannya dengan jenis keringat si kecil. Mungkin saja, keringatnya lebih berlemak sehingga mudah kena infeksi kulit seperti panu.

Beda usia, beda gangguan

Yang pasti, infeksi jamur yang terjadi pada bayi dan anak tidak sama. Mana yang lebih sering menyerang bayi? Umumnya sih, infeksi jamur jenis candida. “Hanya saja, ini merupakan infeksi sekunder. Jadi, infeksi pada lipatan paha dan bokong si kecil timbul karena sebelumnya sudah ada eksim popok yang berlangsung agak lama. Sampai lebih dari 3 hari!

Eksim popok adalah radang kulit pada daerah yang tertutup popok, serta ditandai dengan ruam, gelembung atau lecet dan biasanya amat gatal. Nah, kulit yang lembap dan peradangan (kerusakan jaringan) akan mempermudah terjadinya infeksi jamur,” tutur dr. Titi.

Pada anak yang lebih besar, infeksi jamur jenis ini banyak terjadi pada anak yang bertubuh gemuk. Selain banyak lipatan di ketiak atau paha, si kecil kan sering berkeringat. Makanya, kulitnya sering lembap. “Bila anak tinggal di negara beriklim tropis (panas dan lembap), seperti Indonesia, wah.. penyakit kulitnya akan tumbuh dengan subur,” sambungnya.

Basmi dulu jamurnya

Penanganan infeksi jamur kulit memang tergantung pada penyebabnya. Cuma saja, jika ada ruam (bintil-bintil merah) pada kulit bayi, sebaiknya Anda segera membawanya ke dokter. Yang penting, Anda harus tahu dulu penyebab gangguan kulit si kecil. Gara-gara jamur atau bukan?

Bila si kecil hanya terkena eksim popok, biasanya dokter tidak perlu memberi obat antijamur. Kalaupun penyebab gangguannya benar-benar jamur, harus dicari tahu dulu jenisnya. “Penampakan infeksi suatu jamur kadang-kadang mirip dengan infeksi jamur lain. Jadi, penanganannya harus ekstra hati-hati. Jika sampai obatnya salah, penyakit si kecil tidak akan sembuh-sembuh,” ujar dr. Titi.

Dokter Titi mengingatkan, untuk mencegah agar penyakit kulit bayi Anda tidak kambuh lagi, faktor pendukungnya harus diperhatikan (lihat boks “Agar Tidak Kambuh Lagi” ).

Hati-hati, infeksi bisa meluas

Memang, infeksi jamur yang dibiarkan berlarut-larut tidak akan berakibat fatal pada si kecil. Infeksinya bisa meluas. Kalau sudah begini, proses penanganan bayi butuh biaya lebih banyak dan waktu yang lebih lama. “Padahal, normalnya, infeksi jamur candida sembuh dalam waktu seminggu. Tentu saja, ini ada syaratnya, yakni asal faktor-faktor pendukungnya diperhatikan,” ujar dr. Titi.

Bagaimana infeksi jamur lainnya? Umumnya, butuh waktu penanganan yang lebih lama lagi. Minimal 2 minggu.

Dewi Handajani

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Awas, Jamur di Kulit Bayi

Posted in Ayah Bunda by nugraad001 on July 4, 2007

ayah-bunda.jpg

Walau tidak berakibat fatal, infeksi jamur ini sebaiknya segera diatasi. Sebab, kesehatan dan kebersihan tubuh bayi Anda jadi taruhannya.

Sebenarnya, infeksi jamur pada kulit bisa dialami oleh siapa saja, tanpa mengenal usia. Meski begitu, bayi biasanya relatif lebih rentan terinfeksi jamur ketimbang orang dewasa. Ini antara lain karena kulit bayi, terutama yang lahir kurang bulan (prematur), lebih tipis. Nggak heran kalau masih kurang kuat melindungi tubuh.

Bisa karena bakat

Timbulnya infeksi jamur ini bukan tanpa gejala. “Biasanya, gejala yang timbul berbeda-beda, tergantung pada lokasi terjadinya infeksi dan jamur penyebabnya. Misalnya, gejala infeksi jamur yang menyerang kepala tentu saja lain dengan yang menyerang kaki,” kata dr. Titi Lestari Sugito, Sp.KK, Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia , FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta .

Bahkan, dr. Titi melanjutkan, karena jamur yang jadi biang keladi infeksi beda-beda, maka gejala infeksi yang menyerang kepala si kecil bisa saja beberapa macam. Untuk gampangnya, jenis jamur yang sering menginfeksi kulit dapat dikelompokkan menjadi tiga (lihat boks “Kenali Jenis Jamurnya”).

Yang menarik adalah, faktor kerentanan bawaan atau bakat perlu pula jadi perhatian. Bukan apa-apa. Ada bayi/anak yang lebih mudah terinfeksi jamur ketimbang teman sebayanya. Para ahli menduga, ini ada hubungannya dengan jenis keringat si kecil. Mungkin saja, keringatnya lebih berlemak sehingga mudah kena infeksi kulit seperti panu.

Beda usia, beda gangguan

Yang pasti, infeksi jamur yang terjadi pada bayi dan anak tidak sama. Mana yang lebih sering menyerang bayi? Umumnya sih, infeksi jamur jenis candida. “Hanya saja, ini merupakan infeksi sekunder. Jadi, infeksi pada lipatan paha dan bokong si kecil timbul karena sebelumnya sudah ada eksim popok yang berlangsung agak lama. Sampai lebih dari 3 hari!

Eksim popok adalah radang kulit pada daerah yang tertutup popok, serta ditandai dengan ruam, gelembung atau lecet dan biasanya amat gatal. Nah, kulit yang lembap dan peradangan (kerusakan jaringan) akan mempermudah terjadinya infeksi jamur,” tutur dr. Titi.

Pada anak yang lebih besar, infeksi jamur jenis ini banyak terjadi pada anak yang bertubuh gemuk. Selain banyak lipatan di ketiak atau paha, si kecil kan sering berkeringat. Makanya, kulitnya sering lembap. “Bila anak tinggal di negara beriklim tropis (panas dan lembap), seperti Indonesia, wah.. penyakit kulitnya akan tumbuh dengan subur,” sambungnya.

Basmi dulu jamurnya

Penanganan infeksi jamur kulit memang tergantung pada penyebabnya. Cuma saja, jika ada ruam (bintil-bintil merah) pada kulit bayi, sebaiknya Anda segera membawanya ke dokter. Yang penting, Anda harus tahu dulu penyebab gangguan kulit si kecil. Gara-gara jamur atau bukan?

Bila si kecil hanya terkena eksim popok, biasanya dokter tidak perlu memberi obat antijamur. Kalaupun penyebab gangguannya benar-benar jamur, harus dicari tahu dulu jenisnya. “Penampakan infeksi suatu jamur kadang-kadang mirip dengan infeksi jamur lain. Jadi, penanganannya harus ekstra hati-hati. Jika sampai obatnya salah, penyakit si kecil tidak akan sembuh-sembuh,” ujar dr. Titi.

Dokter Titi mengingatkan, untuk mencegah agar penyakit kulit bayi Anda tidak kambuh lagi, faktor pendukungnya harus diperhatikan (lihat boks “Agar Tidak Kambuh Lagi” ).

Hati-hati, infeksi bisa meluas

Memang, infeksi jamur yang dibiarkan berlarut-larut tidak akan berakibat fatal pada si kecil. Infeksinya bisa meluas. Kalau sudah begini, proses penanganan bayi butuh biaya lebih banyak dan waktu yang lebih lama. “Padahal, normalnya, infeksi jamur candida sembuh dalam waktu seminggu. Tentu saja, ini ada syaratnya, yakni asal faktor-faktor pendukungnya diperhatikan,” ujar dr. Titi.

Bagaimana infeksi jamur lainnya? Umumnya, butuh waktu penanganan yang lebih lama lagi. Minimal 2 minggu.

Dewi Handajani

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: