Pustaka Digital Ibu dan Anak


Laki-laki atau Perempuan?

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 8, 2007
Ketika menantikan kelahiran sang buah hati, tak jarang orang tua mengharapkan jenis kelamin tertentu. Kapan sebenarnya kelamin bayi terbentuk? Mungkinkah kita menentukan jenis kelamin calon buah hati?

Mia (29 tahun) terperanjat kegirangan saat dinyatakan positif hamil. Menurut dokter, usia kehamilannya sudah mencapai 3 minggu. Mendengar penjelasan dokter, ia seolah terbang ke angkasa. Kabar yang telah dinantikan selama dua tahun selama masa pernikahannya itu, akhirnya datang juga. Demikian pula dengan Andrew (32), suami Mia. Mudah-mudahan, bayinya perempuan ya mas.., kata Mia setibanya di rumah. Ah, mudah-mudahan laki-laki, tandas Andrew. Perempuan, tegas Mia. Laki-laki, ucap Andrew.

Apakah Anda termasuk pasangan yang mengalami kondisi yang sama dengan Mia dan Andrew? Bila ya, Anda tak perlu malu mengakuinya. Memang, pada sejumlah pasangan, istri memiliki kecenderungan berharap dapat melahirkan bayi perempuan yang cantik, seperti boneka. Sebaliknya, tidak sedikit calon ayah yang mengharapkan bisa memiliki momongan laki-laki yang bisa diajak bermain bola bersama! Keinginan itu mungkin merupakan sesuatu yang wajar. Namun, sebenarnya di saat Anda dan suami memperdebatkan kelamin jabang bayi, kemungkinan besar alat kelamin janin, sebenarnya sudah terbentuk.

Terbentuknya Alat Kelamin
Menurut dr UF Bagazi, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Brawijaya Women and Children Hospital (BWCH), sebenarnya kelamin janin sudah terbentuk pada minggu ke-3 atau hari ke 21 setelah masa konsepsi. Kemudian, alat kelamin janin akan terus berkembang, dan umumnya pada minggu ke-21 kelamin sudah sempurna, katanya. Namun, menurut dr Bagazi, akurasi USG dalam memperlihatkan jenis kelamin bayi, akan lebih optimal pada saat menginjak usia kehamilan 28 minggu atau sekitar 7 bulan. Mungkin, karena itulah ada mitos yang menyebutkan pantang bagi wanita hamil untuk membeli pernak-pernik bayi sebelum usia 7 bulan .

Nah, seiring dengan terbentuknya kelamin, sifat-sifat pun telah menyertainya. Bila kelaminnya laki-laki, maka komponen sifat kelaki-lakiannnya sudah sama dengan laki-laki umumnya. Meskipun pada saat lahir, terlihat biasa saja, seolah tak berbeda dengan bayi perempuan, tuturnya. Jadi, bayi laki-laki yang baru lahir, sebenarnya sudah memiliki hormon sex laki-laki, meskipun pengaktifan hormon tersebut baru akan terjadi di usia remaja. Demikian pula, pada bayi perempuan.

Nah, bila demikian faktanya, bukankah daripada meributkan jenis kelamin janin, akan lebih baik berdoa saja, semoga bayi Anda tumbuh menjadi anak yang sehat. Terlebih, sebenarnya seiring dengan perkembangan kelamin, dan organ-organ lainnya, meski masih dalam rahim, bayi Anda sudah dapat mendengar rangsangan suara dari dunia luar, lho.lPG


Merencanakan Jenis Kelamin Bayi
Banyak pasangan yang memasrahkan jenis kelamin bayinya. Seperti Lucy (27 tahun), misalnya. Bagi saya, anak perempuan atau laki-laki bukan masalah, asalkan sehat, katanya. Berbeda dengan Mona (30 tahun). Ia sudah memiliki dua orang anak perempuan, sedangkan suaminya masih menginginkan anak laki-laki. Untuk itu, Mona dan suami sepakat untuk merencanakan kehamilan yang ketiga. Tetapi, mereka menginginkan bayi laki-laki sebagai anak ketiganya. Sedangkan Lisa (37 tahun) yang telah menikah selama 10 tahun — belum juga dikaruniai anak. Akhirnya, ia memilih untuk mengikuti program bayi tabung. Melalui program tersebut, ia dan suami memilih untuk memiliki anak perempuan. Mungkinkah itu?

Menurut dr. Bagazi, sebenarnya tidak ada faktor-faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi jenis kelamin janin. Meski demikian, ada sejumlah cara yang dapat diusahakan pasangan yang menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu, seperti :

  1. Konvensional
    Melalui cara ini, Anda dapat berhubungan dengan suami pada masa subur. Untuk mengetahui kepastian masa subur Anda, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Berhubungan pada masa subur, memungkinkan sperma Y (laki-laki) dapat berjalan menuju telur lebih cepat . Bila demikian kondisinya, kemungkinan didapat bayi laki-laki. Tapi, bila sperma tersebut tidak dapat bertemu dengan telur, sperma tersebut akan mati. Setelah itu sperma X yang akan berjalan menuju telur, bila berhasil, akan didapat anak perempuan. Sehingga, meski dengan berhubungan di masa subur memungkinkan pasangan mempunyai bayi laki-laki, namun kemungkinan untuk mendapatkan anak perempuan pun cukup besar.

  2. Bantuan orang lain (Intervensi)
    Memilih menggunakan cara ini, berarti Anda akan membutuhkan bantuan dokter. Istilah yang cukup populer dalam merencanakan jenis kelamin dengan intervensi adalah inseminasi . Dokter akan mengambil komponen sperma suami. Bila ingin anak laki-laki, misalnya, maka komponen sperma yang diambil adalah yang kemungkinan akan menjadi anak laki-laki. Kemudian, sperma yang telah dipilih itu disuntikan ke dalam rahim istri. Meski pun pada banyak kasus, cara ini cukup berhasil, tetap saja kegagalan dapat terjadi.

  3. Bayi Tabung
    Anda dapat menggunakan sistem Pre-implantation Genetic Diagnostic (PGD). Cara ini cenderung lebih aman, karena dapat melakukan diagnostik mengenai faktor-faktor kemungkinan adanya kelainan pada janin, bagi ibu yang berisiko. Setelah itu, barulah dilakukan screening. Selain dapat lebih memastikan jenis kelamin janin, juga dapat memungkinkan terhindar dari berbagai kelainan. Di Indonesia, program bayi tabung dilakukan menggunakan sperma suami, dan melalui rahim istri. Sehingga, bayi yang akan dilahirkan benar-benar anak kandung dari pasangan yang bersangkutan. Program bayi tabung dapat diikuti oleh siapapun, terutama bagi pasangan yang kesulitan memiliki anak.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: