Pustaka Digital Ibu dan Anak


Kenapa Adik Bayi Cuma Minum Susu?

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 8, 2007

parent-guide.jpg
Sistem pencernaan bayi di bulan-bulan pertama masih belum berkembang sempurna. Itulah sebabnya si kecil tidak direkomendasikan diberi makanan apapun selain susu.

“Harish, apa itu di tanganmu, Sayang?” tanya mamanya.
“Jeruk!” jawab si kecil Harish (4 tahun) sambil mulai menjejalkan gumpalan kekuningan itu ke bibir adiknya.
“Aduh, Naaaaak! Jangan, Sayang! Dedek Luth belum bisa makan jeruk!” seru mamanya. Cepat-cepat ditahannya tangan Harish yang masih berusaha menjejal-jejalkan kepingan buah jeruk tadi ke mulut adiknya. Melihat kepanikan mamanya, Harish terpana.
“Kenapa Dedek nggak boleh makan jeruk, Ma? Kasihan kan cuma minum susu?”

ASI: Prioritas Utama
Bayi baru lahir sampai usia 6 bulan memang hanya boleh diberi susu. Prioritas utama adalah air susu ibunya (ASI), yang didapat dengan jalan menyusu langsung. Prioritas kedua adalah ASI perah – dari ibunya sendiri, atau dari wanita lain. Prioritas terakhir barulah susu formula bayi

W. Allan Walker, profesor ilmu gizi The Conrad Taff pada HMS dan Massachussetts General Hospital menyebutkan, bahwa bayi memiliki sumber perlindungan alami dalam menjalani transisi antara dua jenis lingkungan yang sangar berbeda (rahim dan dunia luar). “Menyusui itu seperti perpanjangan tali pusar,” kata Walker, seperti dikutip Jurnal Perinatology Juni 2001. ASI tidak hanya menyediakan zat-zat gizi, melainkan juga mengandung hormon-hormon,  dan faktor pertumbuhan yang membantu pematangan usus halus bayi. ASI juga mengandung semacam zat gula yang melapisi dinding usus halus dan bertindak sebagai perangkap bagi bakteri patogenik, sekalgus mencegah bakteri tersebut menembus dinding usus. Inilah antara lain yang membuat ASI tak tergantikan oleh susu lainnya.  

7 Alasan
Nellie Hedstrom, nutrition specialist dari University of Maine Cooperative Extension menyebutkan, memberi makanan tambahan sebelum bayi berusia 4-6 bulan bisa menyebabkan gangguan makan dan masalah kesehatan. Itulah sebabnya hal itu tidak direkomendasikan. Mengapa bayi bisa mengalami gangguan makan dan masalah kesehatan jika diberi makanan selain susu? Berikut ini tujuh alasan yang dikemukakan Hedstrom, dalam tulisannya Feeding Your Baby: 

  • Perkembangan motorik belum memadai. Penelitian menunjukkan, bayi di bawah usia 4-6 bulan belum mencapai perkembangan motorik yang cukup untuk makan makanan tambahan. Kendali-umum pada lidah bayi belum berkembang sempurna. Jadi, bayi hanya memakai ‘refleks mendorong’ dengan lidahnya. Kemampuan bayi untuk menelan makanan non-juga lemah. Bayi juga belum sanggup duduk sambil menahan leher dan kepala secara sengaja untuk makan.  
  • Sistem pencernaan belum ‘menggiling’ sempurna. Makanan keras (misalnya: buah-buahan dan sayuran segar) susah dicerna oleh sistem pencernaan bayi yang belum sempurna.    
  • Risiko tersedak. Karena bayi di bawah usia 4-6 bulan belum mampu mengendalikan lidah, menelan, serta menahan leher-kepala dengan baik, mereka bisa tersedak bila diberi:
  1. makanan keras (misalnya: buah-buahan dan sayuran mentah);
  2. makanan licin, liat dan halus – yang gampang tergelincir ke tenggorokan sebelum sempat dikunyah (misalnya: permen keras, kacang-kacangan, buah angur, roti sosis); 
  3. makanan keras, kecil dan kering yang sulit dikunyah dan mudah ditelan utuh-utuh (misalnya: berondong jagung, keripik, kacang-kacangan, biji-bijian dan potongan wortel);
  4. Makanan kental dan lengket, yang susah dipisah-pisahkan dan disingkirkan dari jalan masuk udara (misalnya: selai kacang, daging yang alot, buah kering, kismis dan kruma)
  • Risiko alergi. Penelitian menunjukkan, reaksi alergi bisa terjadi bila makanan diperkenalkan terlalu dini. Itulah sebabnya beberapa jenis makanan yang bersifat memicu alergi sebaiknya dihindarkan, yakni:
  1. buah-buahan dari keluarga jeruk-jerukan
  2. putih telur
  3. kerang-kerangan
  4. kacang-kacangan
  5. cokelat sebaiknya dihindarkan sebelum bayi berusia 1 tahun.
  • Risiko iritasi saluran pencernaan. Pemberian makanan tambahan ‘membuka’ peluang bayi untuk mencicipi makanan berbumbu, makanan asin atau pedas atau makanan manis dalam jumlah berlebihan. Padahal, sebagian dari bumbu-bumbu tersebut bisa mengiritasi saluran pencernaan bayi.
  • Risiko keracunan. Madu – mentah atau dalam masakan – kadang-kadang mengandung spora Clostridium botulinum. Jika spora ini termakan, spora ini bisa menghasilkan racun yang dapat menyebabkan botulisma (keracunan) pada bayi baru lahir. Itu sebabnya madu tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 1 tahun.  
  • Tidak bermanfaat. Penelitian menunjukkan, makanan tambahan tidak membantu bayi tidur nyenyak semalaman. Penelitian juga menunjukkan bahwa dari segi gizi, pemberian makanan tambahan kepada bayi di bawah usia 4-6 bulan tidak bermanfaat.

Meski istilah ‘susu’ yang digunakan mencakup ASI dan susu formula, secara khusus Nellie mengakui besarnya kerugian apabila bayi sampai mengurangi konsumsi ASI, gara-gara pemberian makanan tambahan terlalu dini. “Pemberian makanan tambahan mungkin akan menyebabkan bayi memerlukan tambahan cairan,” terang Nellie. Dan hal ini sudah pasti akan mengurangi — bahkan bisa menghentikan — konsumsi ASI. PG


Sebaiknya Pertahankan ASI Eksklusif
Pengurangan konsumsi ASI pada bayi di bawah usia 4-6 bulan, menurut Nellie Hedstrom, bisa menimbulkan kerugian-kerugian sebagai berikut:

  1. Perlindungan kekebalan dan manfaat nutrisi tidak maksimal. ASI mengandung banyak sekali komponen kekebalan untuk bayi. Tapi, bayi hanya bisa memperoleh perlindungan kekebalan serta manfaat nutrisi secara maksimal jika disusui eksklusif (ketimbang hanya disusui secara parsial/campuran).
  2. Mempertinggi risiko penyakit. Bayi yang disusui memiliki risiko terkena penyakit pencernaan lima kali lebih kecil. Risiko terkana penyakit pernafasan tiga kali lebih kecil, dan hanya berisiko mengalami setengah dari jumlah penyakit infeksi telinga.
  3. Berkurangnya perlindungan terhadap alergi makanan dan eksim. ASI mengandung faktor pertumbuhan yang merangsang perkembangan usus, sehingga tak bisa ditembus molekul-molekul protein susu. Jika molekul-molekul ini sampai tembus dan terserap ke dalam darah, bayi bisa mengalami intoleransi dan alergi terhadap protein tersebut. Berkurangnya konsumsi ASI akan mengurangi perlindungan terhadap molekul penyebab intoleransi dan alergi ini. Bersamaan dengan berkurangnya perlindungan, masuklah molekul-molekul protein dari makanan tambahan yang dikonsumsi bayi. Risiko alergi makanan dan eksim pada bayi pun meningkat.  
  4. Mengurangi ‘potensi’ berprestasi. Menurut beberapa penelitian National Institutes of Health, bayi-bayi yang disusui sedikit lebih besar kemungkinannya untuk berprestasi, dibandingkan anak-anak yang disusui dengan botol. PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: