Pustaka Digital Ibu dan Anak


Bila Air Ketuban Tercemar

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 8, 2007
Bayangan bila air ketuban tercemar dan terminum bayi memang menakutkan. Namun dalam banyak kasus, si bayi masih dapat diselamatkan dan hidup normal.

Kelahiran seorang anak merupakan momen yang dinantikan oleh setiap pasangan. Terutama, bagi sang ibu. Meski mendebarkan, detik-detik yang fenomenal itu akan menjadi waktu bagi seorang ibu untuk berjuang demi membawa buah hati menghirup udara dunia. Siapapun tentu menginginkan proses persalinannya lancar, demikian pula dengan kondisi bayinya. Namun, di luar dugaan, apapun dapat terjadi.

Seperti Tanya (27 tahun) yang memiliki pengalaman memilukan pada saat menghadapi persalinan, setahun yang lalu. ‘’Bayi yang saya lahirkan hanya bertahan 30 jam saja. Kata dokter bayi saya ‘minum’ air ketuban yang warnanya sudah hijau kecokelatan hingga mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) yang kronis,’’paparnya sendu. Kasus serupa tentu tidak hanya dialami oleh Tanya. Sejumlah pasangan lain mengalami kejadian yang sama. Hanya saja, tidak semua kasus berakhir dengan kematian pada bayi.

Meconium Aspiration Syndrome

Kasus yang dialami Tanya dikenal dengan sebutan MAS. Secara sederhana, MAS diartikan sebagai sindrom aspirasi air ketuban atau sindrom pencemaran air ketuban. Jadi, bayi ‘meminum’ atau ‘menghirup’ air ketuban yang sudah tercemar.

Air ketuban sendiri mulai terbentuk pada usia kehamilan 4 minggu dan bera
sal dari sel darah ibu. Namun sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban. Seperti diketahui, air ketuban merupakan cairan yang memenuhi seluruh rahim dan memiliki berbagai fungsi untuk menjaga janin.

Diantaranya, memungkinkan janin bergerak dan tumbuh bebas ke segala arah, melindungi terhadap benturan dari luar, melindungi dari kuman di luar tubuh ibu, dan menjaga kestabilan suhu tubuh janin. Air ketuban juga berfungsi untuk membantu proses persalinan, dengan membuka jalan lahir saat persalinan berlangsung maupun sebagai alat bantu diagnostik dokter pada pemeriksaan amniosentesis (pemeriksaan pada sel-sel janin).

Ada sejumlah indikasi penyebab MAS. Salah satunya adalah proses kelahiran yang sulit. Sehingga, janin pun turut merasa kesulitan mencari jalan keluar dari rahim ibu. Hal ini kemudian dapat berlanjut dengan terjadinya stress bayi di dalam kandungan. Janin yang stress, dimungkingkan untuk mengalami hipoksia. Pada saat bayi mengalami hipoksia, ia kemungkinan akan ‘berontak’, dan meningkatkan pergerakannya di dalam rahim ibu.

Dalam kondisi stress dan kekurangan oksigen itulah kemudian janin mengeluarkan meconium, yaitu kotoran pertama bayi, biasanya berwarna hijau tua dan umumnya  dikeluarkan beberapa hari pertama setelah kelahiran. Saat itu air ketuban yang harusnya berwarna jernih pun, kemudian berubah menjadi hijau, karena tercampur air meconium. Hal ini menjadi berbahaya apabila janin kemudian menghirupnya.

Bisa Hidup Normal

Dampak dari MAS beragam. Tergantung dari seberapa lama janin mengalami hipoksia, dan seberapa  banyak meconium yang terhirup bayi. Menurut dr. UF Bagazi, SpOG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Brawijaya Women and Children Hospital (BWCH), bayi yang mengalami MAS dapat saja terkena penyakit infeksi paru-paru, epilepsi, bahkan yang terburuk adalah kematian. “Namun pada banyak kasus, bayi tetap dapat diselamatkan dan hidup normal. Hal itu selain tergantung pada seberapa besar derajat kasus MAS yang dialami bayi, faktor penanganan yang cepat dan tepat pun akan turut berperan,’’imbuhnya.

Artinya, bayi yang dapat diselamatkan adalah bila MAS yang diidap relatif ringan, penanganannya pun dilakukan dengan cepat dan tepat. Untuk itu, ungkap dr.Bagazi – panggilan akrabnya — bagi ibu hamil yang berisiko mengalami MAS, sebaiknya pada saat persalinan, selain ditangani oleh dokter kandungan juga  didampingi oleh dokter anak.

Ada sejumlah penangangan pertama yang biasanya dilakukan kepada bayi yang lahir dengan kasus MAS. Menurut dr. Lindana Sastra, SpA, Dokter Spesialis Anak, BWCH, meconium yang terhirup bayi sangat dimungkinkan untuk menyumbat saluran napas bayi, oleh sebab itu penanganan yang cepat harus dilakukan. Apabila bayi diindikasikan mengalami MAS, penanganan akan dilakukan sejak proses persalinan. Tak lama setelah kepala bayi ke luar, meconium dari hidung dan mulut bayi akan dibersihkan, sebelum bayi bernapas untuk pertama kalinya. Hal ini kemungkinan besar dapat mencegah bayi menghirup lebih banyak lagi meconium.   

Cara lain yang lebih akurat dalam mendeteksi MAS adalah dengan memeriksa suara pernapasan bayi dengan laryngoscope setelah persalinan.  Bila terjadi aspirasi pada saluran pernapasan, umumnya suara pernapasan terdengar kasar. Dokter pun kemungkinan akan mendengarkan detak jantung bayi menggunakan stetoskop. Bayi yang lahir dengan kasus MAS juga akan diberikan tindakan tes darah yang disebut blood gas analysis. Tes ini akan membantu mendeterminasi apakah bayi mendapatkan suplai oksigen yang cukup atau tidak.Tindakan lainnya adalah melalui penyinaran X-ray pada bagian dada bayi untuk melihat kondisi paru-paru bayi.

Nah, dalam banyak kasus, dengan penanganan yang cepat dan tepat seperti dijelaskan di atas, bayi bisa diselamatkan. Jadi, bila dokter mengatakan bayi Anda kelak berisiko mengalami MAS, berkolaborasilah segera dengan dokter spesialis kandungan dan anak! lPG


Siapa yang paling berisiko?
Selain karena proses kelahiran yang sulit, MAS dapat pula terjadi pada bayi dengan ibu yang memiliki kondisi tertentu. Ada sejumlah kriteria ibu hamil yang bayinya paling berisiko mengalami MAS pada saat persalinan, diantaranya adalah :

  • Kehamilan sudah lebih bulan (usia kandungan lebih dari 40 minggu, pada sejumlah kasus bahkan terjadi pada usia kandungan lebih dari 38 minggu)
  • Ibu hamil perokok berat
  • Ibu hamil pengidap hipertensi, diabetes, penyakit paru-paru kronik, atau penyakit jantung

Cegah Sejak Dini

Sebenarnya kemungkinan terjadinya MAS dapat dicegah sejak dini. Untuk itu, sangat penting bagi wanita hamil untuk memeriksakan diri secara teratur kepada dokter. Termasuk berterus terang apabila mengidap penyakit atau kebiasaan tertentu. Selain dapat memberikan saran dan pengobatan yang tepat, dokter pun dimungkinkan untuk melakukan sejumlah pencegahan dan tindakan yang tepat. Selain itu, lakukan juga tindakan pencegahan berikut ini :

  • Hidup sehat, termasuk makan dan tidur teratur.
  • Hindari makanan-makanan yang mengandung  pengawet.
  • Selama masa kehamilan, hindari obat-obatan yang tidak disarankan/tanpa sepengetahuan dokter.
  • Hindari rokok dan alkohol.
  • Olah raga secukupnya.
  • Periksakan kehamilan ke dokter secara teratur.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: