Pustaka Digital Ibu dan Anak


Biarkan Aku Merangkak

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 8, 2007

parent-guide.jpg

Bayi yang mulai aktif sebaiknya tidak ‘dikurung’ di dalam boks. Ia perlu bergerak untuk mengembangkan motorik kasarnya. Merangkak amat baik, tetapi bukan satu-satunya cara untuk bergerak.

“Jadi kita beli play pen Ma?” tanya seorang suami kepada istrinya. 
“Nggak ah, Pa…”
“Lho, kenapa?”

“Nanti anak kita malah terkungkung terus di situ. Terus jadi kurang merangkak, atau tidak merangkak sama sekali.”
“Memangnya kenapa kalau bayi tidak merangkak?”
“Ada yang bilang, anak yang tidak merangkak waktu bayi kurang seimbang perkembangan otaknya…”

“Masak sih? Aku tidak merangkak lho, waktu bayi. Aku mengesot, lalu merambat dan berjalan…”
“Oh ya? Wah, kalau begitu Papa perlu ikut kelas merangkak untuk orang dewasa yang waktu kecilnya belum merangkak.”
“Hah?!”

Manfaat Merangkak 
Merangkak, menurut teori, adalah refleks primitif (sederhana) yang membantu bayi-bayi mengontrol tubuhnya. Refleks ini akan hilang seiring perkembangan bayi. Kalangan yang gencar menganjurkan kegiatan merangkak untuk bayi menyebutkan berbagai manfaat merangkak, antara lain :

  • Memperkuat leher, lengan, sendi dan otot.
  • Memperkuat kelompok-kelompok otot besar dan kecil, sehingga menghaluskan kemampuan motorik kasar dan halus.
  • Menunjang koordinasi mata-tangan, kekuatan, tegangan otot, keseimbangan, keterampilan jari.
  • Gerakan menyilang saat merangkak akan merangsang, memperkuat dan mengintegrasikan kedua belahan otak atau area-area yang berbeda pada otak. Hal ini membantu mengkoordinasi penggunaan kedua belah mata, telinga, tangan dan kaki secara simultan.
  • Gerakan menyilang saat merangkak juga memungkinkan kedua belahan otak berbagi, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi indrawi penting secara lebih cepat. Merangkak diyakini dapat meningkatkan produksi myelin, yakni suatu zat yang melapisi sel saraf. Zat ini lah yang membantu otak mengirim dan menerima pesan lebih cepat dan jelas. Dikatakan juga, merangkak akan merangsang bagian otak ‘reseptif’ dan ‘ekspresif’.
  • Gerakan yang berulang-ulang saat merangkak akan merangsang, mengorganisir dan mengembangkan sambungan jaringan saraf otak bayi secara lebih baik. Akibatnya, otak lebih efisien dalam mengontrol proses kognitif seperti pemahaman, konsentrasi dan ingatan.
  • Membantu perkembangan dan pemahaman bahasa, karena bayi dirangsang menggunakan kedua telinga secara simultan, dan mengembangkan pendengaran kedua telinga.
  • Merangsang kepekaan taktil (sentuhan), kepekaan visual dan kepekaan terhadap jarak jauh-dekat.

Begitu pentingnya merangkak, sampai-sampai sejak sekitar pertengahan 1980-an beberapa penelitian mengaitkan antara berjalan dini dan kesulitan akademis di kemudian hari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan, anak-anak yang dikategorikan ‘berjalan dini’ (yaitu anak-anak yang hanya merangkak dalam waktu singkat sebelum mulai berjalan) mencapai nilai-nilai yang lebih rendah dalam uji kemampuan anak prasekolah.

Harus Merangkak?
Juli 2004, laman The National Science Foundation mempublikasikan hasil riset lapangan menarik soal merangkak yang dilakukan David Tracer — associate professor antropologi, kesehatan dan ilmu-ilmu perilaku University of Colorado. David melakukan riset sejak 1988 di tengah suku Au, Papua Nugini, dan menemukan  bahwa anak-anak suku Au tidak merangkak.

Menurut pengamatan Tracer, alih-alih merangkak, anak-anak Au menjalani fase ‘bergerak sambil duduk tegak’ dalam proses belajar berjalan. Yaitu, mendorong tubuh sambil bertumpu pada dua tangan, lalu bergerak mundur ke belakang. Ini terjadi karena 86% waktu mereka di tahun pertama dilewatkan dalam gendongan ibu atau saudaranya. Jika tidak sedang digendong, mereka diletakkan dalam posisi duduk, bukan tengkurap.

Para orang tua Au tidak mendorong bayi mereka merangkak untuk mengurangi risiko terpapar parasit dan penyakit diare. Ini berlawanan dengan para orang tua di Barat. Menurut Tracer, orang tua di masyarakat Barat (Amerika Serikat dan Eropa) lebih banyak mendorong bayi untuk tengkurap sejak dua abad lalu. Yaitu saat lantai kayu dan karpet mulai menggantikan lantai yang kotor. Mereka merasa aman membiarkan bayi berada di lantai yang bersih, sehingga bayi pun terbiasa merangkak.

Selanjutnya Tracer melakukan pengujian perkembangan kemampuan motorik (duduk, berdiri, dan aneka gerakan yang memerlukan koordinasi otot-otot besar) terhadap anak-anak Au. Ternyata, lebih dari separuh anak gagal dalam pengujian yang dilakukan untuk sikap tubuh horisontal. Akan tetapi, ada separuh lebih juga yang lolos dalam pengujian untuk sikap tubuh vertikal. Hasil ini berlawanan dengan hasil pengujian anak-anak di negara maju (yang dididorong merangkak): mereka unggul dalam uji kemampuan motorik untuk sikap tubuh horisontal, dan mencapai nilai rendah dalam pengujian untuk sikap tubuh vertikal.

Penelitian Tracer patut membuat kita merenung kembali: apakah merangkak  cara bergerak yang ‘superior’ (unggul) dibanding cara bergerak lainnya pada bayi? lPG


Tak Hanya Merangkak
Dalam publikasi yang mengulas filosofi dan praktik metode Montessori berjudul  The First Year—Crawling, Pulling Up, Standing, dikatakan bahwa salah satu pencapaian paling menggetarkan untuk seorang anak adalah belajar menggerakkan tubuhnya untuk meraih objek yang diinginkan. Dan untuk melakukan itu, bayi punya beberapa cara, yaitu merangkak, mundur, tengkurap, menyamping, merayap, berguling, serta mengangkat perut dengan lengan dan kaki. Belajar menggerakkan tubuh inilah yang disebut ‘pekerjaan penting’. Dan merangkak bukan satu-satunya kan? Selamat melatih si kecil!

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: