Pustaka Digital Ibu dan Anak


Polio, Virus yang Tak Pandang Bulu

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Tidak semua anak memiliki kekebalan alami, bahkan pada anak-anak yang tumbuh di lingkungan bersih dan sehat. Itulah megapa diperlukan imunisasi polio. Ayo sukseskan Indonesia bebas polio 2008!

Pekan Imunisasi Nasional (PIN) putaran kedua tahun 2005, sudah selesai tanggal 27 September silam. Meski dinilai sukses—mencapai 95 persen dari proyeksi target peserta–setelah evaluasi pelaksanaan PIN putaran kedua selesai, kemungkinan menggelar PIN polio tahap tiga akan segera direalisasi. “Pemerintah akan membuat rencana rinci mengenai pelaksanaan PIN polio tahap ketiga,” jelas Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun, di Jakarta, Selasa (18/10) silam.

Kemungkinan digelarnya PIN tahap tiga itu, menurut I Nyoman Kaldun, menyusul ditemukannya dua kasus polio baru di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Riau. Karena itulah Departemen Kesehatan akan melakukan PIN polio putaran ketiga pada akhir November atau awal Desember mendatang. Perhatian serius terhadap imunisasi polio ini demi mencapai target Indonesia bebas polio tahun 2008 yang akan datang.

Merangsang Kekebalan Alami

Penetesan vaksin polio secara gratis dan serentak kepada anak-anak usia 1-5 tahun di seluruh Indonesia itu dilakukan agar tubuh anak-anak mendapat kekebalan alami terhadap virus polio. Dengan membangun kekebalan alami, hampir 95 persen anak-anak di negara berkembang terlindung dari kemungkinan serangan polio setelah usia balita.

Polio memang penyakit yang lazim menjangkiti anak-anak di atas usia balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk. Lingkungan seperti ini dikenal sebagai tempat yang tingkat endemisitas (penyebaran) virus polionya tinggi. Sebagai orangtua, Anda mungkin tidak pernah membayangkan anak-anak Anda yang sehat dan menggemaskan itu sampai terjangkit polio. Lingkungan tempat tinggal Anda nyatanya bersih dan sehat, jauh dari sumber polusi udara dan air. Tapi jangan salah, anak-anak ynag tumbuh dari lingkungan bersih pun tak luput dari risiko serangan polio.

Ambil contoh di negara maju, seperti Swedia, ternyata justru masih ditemukan anak-anak yang berisiko terkena polio. Mengapa? Anak-anak ini ternyata tidak mendapatkan kekebalan alami seperti anak-anak pascabalita di negara-negara yang sanitasinya masih buruk. Itulah sebabnya, di negara-negara ‘bersih’ seperti ini vaksinasi polio tetap harus diberikan ulang kepada anak-anak usia 5 tahun ke atas. Bukan tak mungkin, anak-anak di Indonesia yang lahir dan besar di lingkungan bersih dan sehat juga belum mempunyai kekebalan alami yang cukup. 

Serang Sumsum Tulang Belakang dan Otak

Polio adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus poliomyelitis yang bersifat menular dan akut. Penyakit ini biasanya menyerang sumsum tulang belakang dan batang otak. Akibat penyebaran virusnya yang cepat, orang yang terjangkit akan menderita kelumpuhan otot yang berujung kecacatan (kelumpuhan pada otot anggota badan). Yang harus diwaspadai orangtua adalah, virus ini paling sering menyerang anak-anak usia 1-5 tahun.

Virus polio dapat hidup di dalam air selama berbulan-bulan dan dapat menginfeksi manusia melalui air minum. Dalam keadaan beku, virus ini bahkan dapat bertahan sangat lama. Gawatnya, virus tidak dapat dibunuh dengan antibiotika, antibakteri dan tahan terhadap alkohol, eter, atau gliserin. Bayangkan ia baru mati bila dikeringkan atau diberi kalium oksidator kuat seperti peroksida (H2O2) atau kalium permanganat (KMnO4).  Proses virus ini sangat mudah, yakni melalui makanan dan minuman yang tercemar feses atau liur penderita. Setelah melewati mulut, virus akan menginfeksi usus dan tenggorokan. Nah, di tempat yang disebut terakhir itulah virus berkembang biak lalu bermukim di kelenjar getah bening dan susunan retikulo-endotel  seperti limpa dan hati. 

Sayangnya, bila pembentukan antibodi dalam tubuh penderita lebih lambat dibanding perkembangbiakan virus, maka viruslah yang akan memasuki pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Bila sampai terjadi viremia (masuknya virus ke dalam sirkulasi darah), maka virus akan sampai ke otak dan menyerang sel tertentu di sumsum tulang belakang. Kelainan syaraf yang ditimbulkan oleh virus polio  akan menyebabkan kelumpuhan otot yang ditempati oleh syaraf yang terganggu itu.

Demam, Tak Nafsu Makan, Mual 

Virus ini sebenarnya tidak akan menimbulkan gejala apa-apa pada orang yang daya tahan tubuhnya tinggi. Tapi pada mereka yang sudah terkena, keluhan yang dirasakan oleh penderita polio mirip seperti serangan virus pada umumnya, yaitu demam, rasa tidak enak badan, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorok dan nyeri perut selama 1-2 hari. Setelah itu biasanya keluhan akan hilang dengan sendirinya. Setelah beberapa waktu, penderita mengalami demam lagi yang disertai nyeri otot, rasa pegal, nyeri dan kaku pada kuduk. Gejala ini disebabkan terserangnya susunan syaraf pusat, yaitu batang otak dan sumsum tulang belakang. 

Bila gejalanya berat, serangan akan berakhir dengan kelumpuhan mendadak pada kumpulan otot rangka atau otot kepala. Letak kelumpuhan akan berbeda-beda, tergantung pada lokasi bagian otak atau segmen sumsum tulang belakang yang diserang. Kerusakan pada batang otak dapat menimbulkan kelumpuhan otot rangka badan dan otot pernapasan, sehingga menimbulkan gangguan pernapasan. Bila virus menyerang otak, maka penyakit ini akan disertai gangguan fungsi otak seperti penurunan kesadaran, kejang-kejang atau tremor.

Lazimnya penyakit yang disebabkan virus, sampai sekarang tidak ada pengobatan yang efektif melawam polio. Perawatan yang baik dan cermat adalah usaha yang paling efektif untuk menyelamatkan jiwa penderita dan mencegah meluasnya cacat yang mungkin terjadi. Obat-obatan hanya digunakan untuk menyokong keadaan umum, seperti menurunkan panas dan menghilangkan rasa nyeri. 

Bila sampai terjadi kelumpuhan otot penyokong pernapasan, maka penderita perlu ditolong dengan alat bantu pernapasan. Pada tahap ini biasanya kematian terjadi disebabkan oleh gagal pernapasan. Sekitar 5 – 10 persen orang terinfeksi polio mengalami kematian akibat syaraf pernapasan mereka lumpuh. Kelumpuhan akibat virus poliomyelitis ini tidak hanya terjadi di sekitar otot pernafasan, melainkan juga organ lainnya.

Salah satu organ yang bisa diserang adalah saluran kandung kemih. Kelumpuhan kandung kemih (yang biasanya berlangsung sementara) dapat diatasi dengan katerisasi. Dengan perawatan yang baik dan cermat, sebagian besar penderita mengalami perbaikan dari kelumpuhan. Namun beberapa di antara mereka tetap cacat seumur hidup. Nah karenanya ayo ikut PIN tahap ketiga nanti!

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: