Pustaka Digital Ibu dan Anak


Mengatasi Depresi Saat Hamil

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Kehamilan ternyata membuat sebagian wanita depresi. Padahal depresi bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, dan prematur. Lantas bagaimana mensiasatinya?

Memang benar, akan terjadi perubahan hormonal pada diri wanita hamil. Hal ini akan membuat mood-nya mudah berubah-ubah.  Terkadang ia merasa gembira karena tak lama lagi anak yang telah lama dinantinya akan tiba.  Tapi pada saat yang sama, hatinya galau dan cemas

Dalam pikirannya berkecamuk pertanyaan, apakah si bayi tumbuh sempurna dan sehat? Haruskah ia pindah ke rumah atau apartemen yang lebih besar agar si kecil bisa beraktivitas lebih leluasa?  Kemana ia mesti mencari lingkungan perumahan yang ramah dan aman untuk anaknya kelak?  Segala kegundahan tadi adalah wajar.  Namun, jika kekhawatiran, kesedihan, dan rasa tertekan bersifat menetap, itu berarti Anda tengah mengalami depresi.

Tanda-tanda Depresi Prenatal

Nancy K. Grote, Ph.D, MSW, Direktur Promoting Healthy Family Program School of Social Work dari Universitas Pittsburgh, menyebut beberapa tanda depresi prenatal. Misalnya, perasaan sedih, susah tidur, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, mudah marah dan tersinggung, merasa begitu lemah, merasa tidak berharga dan merasa bersalah, sulit berkonsentrasi dan berpikir jernih. 

Lebih parah lagi, depresi ketika hamil juga sering membuat penderitanya berpikir soal kematian dan tidak lagi bergairah untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti bersenda gurau, bekerja, makan, dan melakukan hubungan seks dengan suami.  Tapi masalahnya, seringkali wanita hamil yang merasakan hal-hal di atas tidak menyadari bahwa dirinya sedang depresi.   

Mencetuskan Depresi Postnatal

Menurut Nancy, berbagai hasil penelitian membuktikan kalau depresi prenatal ini mendorong timbulnya depresi paska persalinan (postnatal) yang sering disebut dengan ‘baby blues’. Rangkaian depresi itu berakibat fatal, karena depresi postnatal bisa mengurangi kemampuan si ibu untuk membina kedekatan dengan bayinya.  Alhasil, si bayi pun tidak merasa aman berada di dekat ibunya sendiri. 

Kondisi ini tentu sungguh memprihatinkan.  Di Amerika, tercatat 10%-26% wanita mengalami depresi saat hamil.  Jadi, tak ada tawar menawar lagi bagi wanita hamil yang menderita depresi. Mereka harus  segera mencari bantuan agar ia terbebas dari depresi sebelum bayinya lahir.  Jika tidak,ia tidak hanya mempertaruhkan dirinya, tapi juga masa depan anak-anaknya. Apalagi depresi prenatal bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah dan prematur. 

Bisa Disembuhkan

Beruntung, depresi prenatal ini bisa diobati, baik secara medis maupun dengan terapi psikologis.  Meski begitu, kerjasama yang baik antara penderita depresi prenatal dengan dokter dan paramedis amatlah diperlukan agar perawatan yang diberikan berjalan efektif.  Memang, depresi prenatal sama sekali bukan kesalahan si ibu hamil.  Tapi, banyak hal yang bisa ia lakukan untuk menyetopnya.

Pengobatan secara medis, misalnya, dilakukan dengan memberikan antidepressan yang terbukti efektif mengurangi depresi, namun aman untuk ibu hamil.  Hanya saja, umumnya pengobatan cara ini tidak disukai para wanita hamil. Sebagian dokter juga sering menolak memberikan resep obat antidepressan pada pasiennya yang sedang hamil.  Karena meski terbukti aman, tapi tak ada jaminan 100% kelak bayi yang dikandung pasiennya akan lahir tanpa mengalami kelainan.

Itulah sebab, pengobatan dengan terapi psikologis lebih banyak dipilih oleh ibu hamil yang depresi.  Dan, memang terbukti kalau terapi psikologis ini jauh lebih efektif mengenyahkan depresi tersebut.  Terlebih bila wanita hamil berada di lingkungan yang penuh perhatian, dan kasih sayang.  Berkumpul dengan ibu-ibu yang pernah merasa depresi saat ia hamil juga obat mujarab untuk menghilangkan depresi.

Secara rinci, Nancy mengupas apa saja yang bisa dilakukan saat terapi psikologis.  Pertama, terapi psikologis interpersonal.  Terapi ini bertujuan untuk membantu wanita hamil menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan interpersonalnya, seperti :

  • Belajar mengidentifikasi dan mengurus apa yang dibutuhkan dirinya sendiri.
  • Belajar untuk tidak mengandalkan suami yang tidak mendukungnya.
  • Meningkatkan dukungan sosial dari teman-teman dan keluarga yang bisa diandalkan.
  • Menyelesaikan perselisihan dengan orang-orang terdekat.
  • Mendorong untuk membicarakan perasaan positif dan negatif seputar kehamilan, tanpa merasa dihakimi dan dinilai.
  • Mendorong untuk mengatur rencana yang bagus untuk bayi yang akan lahir.

Kedua, terapi kognitif behavioral yang berguna untuk mengembalikan semangat hidup pasien dengan cara :

  • Melakukan aktivitas yang disukainya.
  • Memberi reward setiap kali pasien berhasil melakukan aktivitas tersebut.
  • Membangun pemikiran yang lebih realistis dan berguna.
  • Membantu pasien menyelesaikan satu demi satu masalah yang berkaitan dengan penyebab depresi.
  • Merencanakan masa depan bayi yang akan lahir. 
  • Belajar mensyukuri atas apa yang telah diberikan Tuhan

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: