Pustaka Digital Ibu dan Anak


Mama, Cutimu Sangat Berarti Bagiku!

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Cuti melahirkan tidak hanya penting untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis ibu untuk kembali bekerja setelah ‘bekerja keras’ mengandung dan bersalin. Tapi juga sangat penting untuk tumbuh kembang bayi!

Cuti melahirkan? Harus, dong! Ya, rasanya tak ada seorang ibu pun yang menyangsikan pentingnya cuti melahirkan, bagi dirinya maupun bayinya. Tak hanya para ibu yang menganggap cuti melahirkan penting. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) sampai merasa perlu membuat pernyataan resmi untuk International Labour Conference tahun 2002, tentang perlunya cuti melahirkan minimal selama 16 minggu setelah persalinan.

Penting untuk Ibu dan Bayi
WHO menyatakan, ‘periode tidak bekerja’ selama 16 minggu setelah melahirkan amat penting bagi ibu dan bayi. Pertama, periode tersebut menghasilkan dua hal: pertumbuhan optimal bagi bayi, serta terjalinnya ikatan antara ibu dan bayi. Kedua, masa cuti memungkinkan ibu memulihkan kesehatannya. Apalagi mengingat masalah-masalah kesehatan yang mungkin timbul setelah persalinan, seperti infeksi, anemia, depresi, sakit punggung, kecemasan dan kelelahan yang parah.

Ketiga, masa cuti memungkinkan ibu menyusui bayi secara on demand (sesuai kemauan bayi) dan eksklusif (tanpa dicampur makanan/minuman lainnya) minimal selama 4 bulan. Ini memperkecil kemungkinan bayi terkena sakit pencernaan (lambung dan usus halus) dan sakit pernafasan (misalnya infeksi telinga dan asma). Menyusui terbukti bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan bayi, mencegah kesakitan dan kematian bayi, dan terutama sangat penting untuk bayi prematur dan bayi berat lahir rendah. Ibu yang tidak bisa menyusui bayinya secara on demand lebih besar risikonya untuk berhenti menyusui sebelum waktunya.    

Sering Tak Optimal
Sayangnya, tak semua ibu mampu memaksimalkan manfaat cuti melahirkan, terutama untuk bayinya. Yang paling sering kita dengar adalah, ibu gagal menyusui bayi secara eksklusif on demand, bahkan ketika cuti masih berlangsung. Tak sedikit pula ibu yang tertekan atau stres selama menjalani kebersamaan dengan bayinya. Mengapa bisa begitu? Teresa Wilson, tutor diskusi pascapersalinan pada National Childbirth Trust (NCT) dan penulis buku The Working Parent’s Companion mengemukakan bahwa salah satu alasan ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan, adalah karena merasa terisolir atau ‘terasing’ selama menjalani cuti melahirkan.

Bagi ibu bekerja yang terbiasa ‘keluar rumah’ dan akrab dengan lingkungan pekerjaannya, cuti melahirkan berbulan-bulan seolah memaksanya tinggal di ‘lingkungan baru’. Ibu harus menghadapi orang-orang di rumah dan sekitarnya yang mungkin tidak ia kenal sebelumnya. Ibu harus merasakan suasana, irama dan denyut kehidupan yang berbeda dengan di tempat kerja. Dan ibu juga harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sama sekali berbeda tugas-tugas kantor. Tak heran jika ibu merasa terisolir. Dan ibu yang merasa terisolir atau terasing tentu sulit diharapkan untuk memanfaatkan masa cuti melahirkannya secara optimal untuk kepentingan bayinya. Yang ada di pikirannya mungkin hanya satu: kapan cuti selesai?

Ibu Happy, Bayi OK
Cuti melahirkan sesungguhnya merupakan ‘kemewahan’ dan hadiah tak ternilai untuk buah hati Anda. Bayangkan betapa ‘oke’-nya tumbuh kembang si kecil jika ia: bisa mendapatkan ASI eksklusif kapan saja ia mau; bisa selalu berdekatan dengan ibunya; bisa sepuasnya menyerap berbagai stimulasi dari ibunya – sapaan, senandung, tawa, senyuman, tatapan, sentuhan, belaian, kecupan, pelukan dan permainan – yang sangat penting bagi perkembangan sel-sel otaknya; serta bisa mendapatkan perawatan terbaik dari ibunya.   

Masalahnya, bagaimana agar cuti melahirkan bisa memberikan semua yang disebutkan di atas kepada bayi? Kuncinya satu: Anda harus happy menjalani cuti melahirkan dan kebersamaan dengan bayi. Berikut ini beberapa kiatnya: 

  • Syukuri kehadiran bayi. Betapa banyak pasangan suami istri yang tak kunjung dikaruniai keturunan. Anda sungguh beruntung dibandingkan mereka. Kalau pun si kecil adalah bayi yang ‘lahir di luar rencana’, ingatlah bahwa kita tidak pernah tahu keadaan kita nanti. Bayi yang ‘tak kita inginkan’ ini boleh jadi akan menjadi anak yang paling berbakti dan mengasihi kita di hari tua kelak.
  • Syukuri ‘masa istirahat’ ini. Jutaan perempuan pekerja di luar sana tak sempat beristirahat dengan cukup setelah melahirkan. Mereka harus bergegas kembali ke tempat kerja karena takut kehilangan penghasilan atau pekerjaannya. Anda amat beruntung bisa menikmati ‘masa istirahat’ secara legal – bahkan tak sedikit yang tetap dibayar!  
  • Buatlah persiapan untuk cuti. Persiapan yang baik mengurangi kekuatiran dan ketegangan. Ellen Sue Stern dalam bukunya Reflection for Expectant Mothers: 40 Weeks of Daily Meditation menyarankan Anda membuat persiapan untuk mengatur minggu-minggu pertama bersama bayi. Mulailah dengan membuat daftar: Sudah bereskah urusan administrasi cuti atau urusan karyawan? Siapa tenaga medis yang akan mengontrol kesehatan bayi? Apa keinginan Anda menyangkut para penjenguk (siapa saja yang Anda inginkan menjenguk, di mana dan kapan mereka boleh menjenguk, dll)? Sumber-sumber bantuan apa saja (berikut nomor telepon) yang bisa dihubungi? Siapa yang akan memberi bantuan praktis semisal masalah transportasi, pekerjaan rumah tangga, memasak dan berbelanja? Siapa yang akan membantu Anda di rumah? Siapa yang bisa dihubungi kalau Anda depresi atau ‘nyaris meledak’? Perlengkapan, bahan-bahan dan persiapan apa lagi yang bayi perlukan?
  •  Bersiaplah menghadapi ‘ujian’ dari bayi. Norma, ibu muda yang mengelola blog berisi career advice, menceritakan bahwa saat pertama kali cuti melahirkan ia merasa bayinya ‘menguji’-nya dengan cara-cara yang tida ia bayangkan sebelumnya. Akhirnya ia sadar, ada lima ‘pelajaran’ penting yang ia dapat selama menghadapi bayi: (1) bersikaplah fleksibel, (2) siap siaga selalu, (3) jangan gampang sakit hati (4) sabar menghadapi kerewelan (5) perbanyak senyum, pujian dan terima kasih untuk diri sendiri tiap mengalami keberhasilan. 

Nah, semoga saja Anda benar-benar happy selama cuti melahirkan ini. Ingatlah, bayi sangat peka. Ia bisa merasakan perasaan ibunya, dan akan tumbuh sehat dan bahagia bersama ibu yang berbahagia merawat dan mengasuhnya. PG
 


Buat Persiapan Sebelum Kembali Bekerja.
Agar lebih tenang dan happy menjalani cuti, Mayo Clinic menyarankan agar Anda melakukan tiga hal sebelum kembali bekerja.
  • Putuskan tanggal masuk kerja. Pilih tanggal-tanggal di akhir minggu, supaya minggu pertama bekerja berlangsung sesingkat mungkin.
  • Putuskan model perawatan dan pengasuhan bayi setelah cuti habis (diasuh di rumah oleh pengasuh, atau dititipkan ke tempat penitipan bayi). Sebelumnya, lakukan survei dan seleksi.
  • Hubungi atasan. Diskusikan tugas-tugas dan jadwal pekerjaan Anda, agar Anda tahu apa yang diharapkan dari Anda saat masuk kerja. Kalau bisa, mintalah jam kerja yang fleksibel.

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: