Pustaka Digital Ibu dan Anak


Ketika Tekanan Darah Ibu Hamil Tinggi

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Memang,
kehamilan bisa mengubah segalanya. Baik psikis maupun fisik wanita
hamil. Tekanan darah yang meningkat, salah satunya. Nah, bagaimana
wanita hamil menyikapinya?

Banyak wanita yang tekanan
darahnya meningkat saat ia hamil.  Ini wajar, dikenal dengan
gestational hypertension.  Segera setelah melahirkan, tekanan darah
akan kembali normal.  Angka tekanan darah yang bisa ditolelir pada
wanita hamil adalah 130/80.  Namun jika tekanan darahnya menunjukkan
angka 135/85 artinya ia memasuki pra hipertensi.  Dalam kondisi seperti
ini wanita hamil harus segera berkonsultasi ke dokter agar ia dan bayi
yang dikandungnya selamat.  Tekanan darah 140/90 sudah berada dalam
batas hipertensi. 

Meski begitu, umumnya wanita hamil yang
tekanan darahnya meningkat -namun masih di bawah 130/80- berhasil
melalui masa hamil dan melahirkannya dengan selamat.  Tak ada masalah
apa pun, baik pada bayi atau dirinya sendiri. 

Tekanan darah
tinggi pada ibu hamil menimbulkan dampak bervariasi.  Mulai dari yang
ringan hingga berat. Misalnya mengganggu organ ginjal ibu hamil,
menyebabkan rendahnya berat badan bayi ketika lahir, dan melahirkan
sebelum waktunya.  Itulah sebab, wanita hamil yang hipertensi harus
mendapat perawatan khusus.  Ia juga harus mengontrol tekanan darahnya
dengan melakukan latihan fisik dan pengaturan menu makan yang tepat. 

Akibat Hipertensi pada Wanita Hamil

Tekanan
darah yang tinggi menyebabkan berkurangnya ‘kiriman’ darah ke
plasenta.  Sudah pasti ini akan mengurangi suplai oksigen dan makanan
bagi bayi.  Akibatnya, perkembangan bayi pun jadi lambat, dan memicu
terjadinya persalinan dini.  Lebih fatal lagi, penyakit hipertensi ini
bisa menyebabkan lepasnya jaringan plasenta secara tiba-tiba dari
uterus sebelum waktunya.  

Pada kasus tekanan darah tinggi
kronis atau gestational hypertension pada ibu hamil yang serius, bisa
berkembang menjadi penyakit pre eklamsi atau keracunan pada kehamilan. 
Nah, penyakit inilah yang sangat mengancam jiwa ibu dan bayi yang
dikandungnya, jika tidak segera ditangani.  Sebab, serangannya bersifat
mendadak dan mematikan.  Ini dikenal dengan eklamsi.

Pre Eklamsi

Pre
eklamsi biasanya ‘menjangkiti’ wanita hamil ketika usia kandungannya
memasuki 20 pekan.  Meski pada wanita hamil yang sehat dan tak
menderita sakit tekanan darah tinggi sekalipun.

Jika dokter
kandungan atau bidan jeli, banyak gejalanya yang bisa dilihat pada ibu
hamil secara kasat mata.  Selain tekanan darah yang tinggi -di atas
140/90–, biasanya diiringi dengan pembengkakan pada pergelangan kaki
dan wajah dan tingginya kadar protein pada urin ibu hamil.  Tingginya
kadar protein pada urin itu sudah jadi pertanda adanya gangguan pada
ginjal, sebagai efek dari pre eklamsi.  Sakit kepala yang berlangsung
lama, naiknya berat badan secara tiba-tiba, penglihatan mendadak tidak
jelas atau jadi sensitif pada cahaya, dan sakit pada bagian perut juga
gejala awal pre eklamsi.

Itulah salah satu manfaat memeriksakan
diri dan bayi ke bidan atau dokter kandungan secara rutin.  Kunjungan
ini akan memudahkan para medis itu memonitor tekanan darah dan kadar
protein pada ibu hamil, sehingga kemungkinan berkembangnya pre eklamsi
bisa dicegah sedini mungkin. 

Pre eklamsi berakibat fatal jika
tidak segera ditindak.  Ia merusak plasenta sehingga menyebabkan bayi
lahir dalam keadaan tidak bernyawa, atau lahir hidup namun berat
badannya rendah, atau lahir prematur.  Penyakit ini juga membahayakan
ginjal, hati, dan otak ibu hamil.  Pada beberapa kasus, bisa
menyebabkan ibu hamil mengalami koma.  Bahkan di Amerika, pre eklamsi
adalah pembunuh ibu hamil nomor 2 dan penyebab timbulnya komplikasi
pada bayi.

Obat Mujarab

Bagi wanita
hamil yang menderita tekanan darah tinggi, akhir-akhir ini banyak
dokter yang tidak menggunakan obat yang mengandung
angiotensin-converting enzyme (ACE) dan angiotensin II selama
kehamilan.  

Lantas adakah obat yang bisa mengusir penyakit
pre eklamsi yang mematikan itu?  Jawabnya, tidak ada.  Hanya saja,
ketika seorang ibu hamil terdeteksi mengalami gejala-gejala pre ekalmsi
maka ia dan bayinya segera dimonitor untuk mengurangi atau bahkan
mencegah munculnya serangan eklamsi yang begitu fatal pada wanita hamil
dan bayinya.

Satu-satunya ‘obat’ yang dianggap mujarab hingga
kini adalah dengan segera melahirkan bayi, walau sebelum mencapai usia
kehamilan 40 pekan.  Ini bisa dilakukan dengan operasi cesar atau
induksi.  Namun, sebelum hari H, dokter akan memberi injeksi steroid
potent pada ibu hamil tersebut agar paru-paru bayi segera ‘matang’. 
Sebab, jika bayi dilahirkan sebelum paru-parunya matang maka bayi akan
menderita gagal paru-paru.  Ini juga membahayakan bayi.

Waspada, Meski Jarang Terjadi

Masalah
tekanan darah tinggi pada ibu hamil terjadi hanya 6%-8% pada ibu-ibu
hamil di Amerika.  70% diantaranya diderita oleh mereka yang baru
pertama kali hamil.  Jumlah wanita yang  mengalami gestational
hypertension pun tidak berubah sejak satu dekade lalu.  Hanya saja,
jumlah kasus pre eklamsi di sana mengalami peningkatan. 

Riset
yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics, menyebut
meningkatnya jumlah penderita pre eklamsi disebabkan oleh makin
banyaknya wanita hamil di usia rawan (30-45 tahun).  Kecenderungan ini
sudah berlangsung 3 dekade.  Selain itu kehamilan kembar juga
menyebabkan munculnya pre eklamsi.  Di negeri Paman Sam, jumlah
kelahiran kembar tiga ke atas melonjak hingga 400% dan 1000% pada
wanita hamil yang berusia 40-an.

Lantas wanita hamil macam apa yang bisa menderita serangan pre eklamsi?  

  1. Wanita yang menderita tekanan darah tinggi kronis sebelum ia hamil.
  2. Wanita yang tekanan darahnya meningkat tajam di awal kehamilannya.
  3. Wanita yang hamil pada umur dibawah 20 tahun dan di atas 40 tahun.
  4. Wanita yang hamil kembar
  5. Wanita yang menderita sakit diabetes, sakit ginjal, rheumatoid arthritis, lupus, atau scleroderma.

Namun, fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh pre eklamsi hendaknya
jangan mengurunkan niat Anda untuk memiliki keturunan.  Bahkan wanita
yang menderita sakit tekanan darah tinggi pun bisa hamil dan melahirkan
dengan selamat.  Asal, ia -dengan rekomendasi dokter-sebelum hamil
memulai program mengontrol tekanan darah hingga selesai melahirkan
kelak.  Wanita hamil yang tekanan darahnya tinggi juga harus rajin
mengikuti kelas prenatal care.

Tips Untuk Wanita yang Menderita Hipertensi sebelum hamil:

  1. Pastikan tekanan darah Anda selalu berada dalam pengawasan dokter/bidan.
  2. Diskusilah dengan dokter kandungan efek yang ditimbulkan oleh hipertensi, baik pada bayi dan ibunya.
  3. Diskusikan dengan dokter, apakah Anda perlu mengubah dosis obat atau menghentikan penggunaan obat hipertensi itu sama sekali. 
  4. Jangan sekali-kali menghentikan atau mengubah dosis obat hipertensi tanpa sepengetahuan dokter Anda.

Tips Untuk Wanita Hamil yang Hipertensi:

  1. Tunaikan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan atau bidan
  2. Mintalah tes urin, tensi, dan berat badan tiap kali kontrol ke dokter.
  3. Hindari minuman alkohol dan tembakau (rokok)
  4. Mintalah
    dokter lebih teliti memantau perkembangan bayi dan detak jantungnya,
    terutama pada akhir trimester, guna mengetahui sedini mungkin adanya
    komplikasi pada bayi
  5. Awasi betul gerakan bayi dalam kandungan, waspadalah bila tak terasa ada gerakan bayi.  Segeralah ke dokter.
  6. Kurangi garam dalam menu harian Anda
  7. Perbanyak istirahat dan berdoa

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: