Pustaka Digital Ibu dan Anak


Bila Bayi Menderita Paru-paru Bocor (Air Leak Syndrome)

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Bernafas
adalah kebutuhan vital setiap mahluk hidup, terlebih manusia. Namun,
adakalanya bayi yang baru lahir mengalami kesulitan bernafas lantaran
paru-parunya bocor. Meski begitu, dengan perawatan yang tepat, dalam
beberapa hari si kecil akan segera pulih sehingga ia bisa bernafas dan
menyusui sendiri.

Air Leak Syndrome (AIS) adalah kelainan
paru-paru pada bayi yang baru lahir.  Pada kondisi ini, paru-paru bayi
yang berisi udara mengalami kebocoran melalui lubang-lubang pada
jaringan parunya.  Ada beberapa jenis penyakit AIS ini, yaitu:

  • Pneumothorax.

Udara keluar dari paru-paru bayi yang bocor dan terperangkap diantara dinding dada dan bagian luar jaringan paru-paru bayi.

  • Pneumomediastinum.

 Udara keluar dari paru-paru bayi lalu mengumpul pada 
 Thoracic cavity, dibelakang sternum dan diantara dua paru-parunya

  • Pneumopericardium.

Udara keluar dari paru-paru bayi dan mengalir ke dalam gelembung di sekeliling hati.

  • Pulmonary interstitial Emphysema (PIE).

Udara yang menyusup keluar dari paru-paru lantas terperangkap diantara alveoli (gelembung udara terkecil pada organ paru)

Masalahnya, penyakit AIS ini bisa terjadi secara mendadak atau
berkembang secara bertahap.  Parah tidaknya penyakit ini tergantung pada lokasi kebocoran dan banyaknya udara yang bocor.

Alveoli Terlalu Menggelembung

Yang
pasti, AIS terjadi manakala alveoli terlalu menggelembung hingga
akhirnya meledak atau pecah.  Penyebabnya adalah tekanan udara yang
dihasilkan oleh alat bantu (mesin) pernafasan dan aspirasi meconium
yang malah menerangkap air dan menyulut alveoli menjadi terlalu
menggelembung dan akhirnya bocorlah paru-paru bayi.  AIS seringkali
terjadi dalam 24 -36 jam pertama bayi lahir.  Bahkan ada pula bayi-bayi
yang terlahir dengan kondisi sehat, kemudian menderita AIS secara
spontan tanpa ada gejala apa pun.

Itulah sebab, kita perlu
mewaspadai AIS pada setiap bayi yang baru lahir, terutama pada : bayi
yang menderita penyakit membran hyaline (Hyaline Membrane Disease),
bayi yang berada dalam alat ventilator. bayi prematur yang umumnya
belum memiliki paru-paru matang, dan bayi dengan aspirasi meconium.  

Secara kasat mata kita dapat mendeteksi apakah bayi bakal menderita
AIS
atau tidak.  Tanda-tandanya yaitu: bernafas dengan cepat dan
menimbulkan suara mendengkur, cuping hidungnya mengembang, dan dokter
kesulitan mendengarkan suara nafasnya meski dengan menggunakan
stetoskop. 

Jika bayi mengalami hal-hal diatas, dokter akan
melakukan beberapa prosedur diagnosa seperti foto rontgen pada dada
untuk menunjukkan gambar jaringan dalam, tulang, dan organ-organ di
dalam dada.  Foto dari sinar X ini juga akan memperlihatkan dengan
jelas udara yang mengumpul di luar jalan udara paru-paru, kegagalan
paru-paru, dan berpindahnya organ-organ lain di dalam dada bayi akibat
bocornya udara dari dalam paru-paru.

Selain itu dokter juga akan
menempatkan sebuah lampu fiberoptik pada dinding dada bayi untuk
menyelidiki kebocoran paru-paru bayi.  Lampu fiberoptik itu akan
menyala terang pada paru-paru yang mengalami kebocoran.

Memang,
berat sekali melihat si kecil yang baru saja lahir harus berjuang keras
untuk bisa bernafas.  Namun, jika ia tidak segera mendapat bantuan,
akibatnya fatal.  Dokter, dengan menimbang beberapa hal akan mengambil
keputusan terapi yang tepat untuk si kecil.  Pertimbangan itu berdasar
pada:

  1. Umur kehamilan, saat bayi lahir.
  2. Kesehatan bayi secara umur dan sejarah medisnya.
  3. Kondisi bayi terkini.
  4. Daya penerimaan bayi terhadap obat-obatan, terapi, dan prosedur tertentu.
  5. Harapan yang hendak dicapai, dilihat dari kondisi bayi.
  6. Pendapat dari Anda, sebagai orang tuanya.

Meski begitu Anda tak perlu terlalu cemas.  Mengapa? Sebab AIS yang
terjadi secara spontan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa secuil
terapi.  Begitu lubang pada paru-paru bayi menutup, udara akan diserap
oleh tubuh.  Bayi pun bisa bernafas dengan normal.  Namun, pada kasus
lain, dokter akan memberikan terapit: pemberian oksigen tambahan.  Dan
penyingkiran udara yang terperangkap dengan menempatkan jarum atau
kateter pada dinding dada bayi.  Dengan begitu, udara akan dikeluarkan
hingga paru-paru bayi yang bocor merapat.

Respiratory Distress Syndrome (RDS)

Masih
ada satu penyakit kelainan pada paru-paru bayi yang baru lahir.  Ia
dikenal dengan Respiratory Distress Syndrome (RDS).  Hanya saja, RDS
biasanya diderita oleh bayi-bayi yang lahir prematur.  Umumnya lahir
lebih awal 6 pekan ke atas.  Dalam kondisi seperti itu, paru-paru bayi
belumlah matang. 

Normalnya pada masa itu, pernafasan bayi
masih ditopang oleh plasenta yang mengantarkan oksigen dari bundanya ke
saluran darah bayi.  Dan, ketika ia lahir -pada umur kehamilan yang
cukup- maka paru-parunya yang dipenuhi oleh udara itu akan mulai
mengantarkan oksigen melalui darah.  Nah, sebelum ia lahir, bayi akan
mempersiapkan paru-parunya agar bisa berfungsi seperti tadi.  Maka,
bayi pun memproduksi surfactant.

Surfactant adalah sebuah
material yang berada pada gelembung udara paru yang membantu paru-paru
untuk membuka saat bernafas.  Umumnya bayi akan mulai memproduksi
surfactant ketika ia berumur 30-36 pekan.  Bahkan dalam kasus-kasus
tertentu, misalnya ketuban pecah spontan akan mendorong bayi lebih awal
memproduksi surfactant.  Kalau tidak, paru-parunya akan gagal berfungsi
begitu ia lahir. 

Pada bayi yang belum sempat memproduksi
surfactant, awalnya ia berusaha untuk menangis dan bernafas, begitu ia
lahir.  Namun sesaat kemudian ia harus bekerja ekstra keras untuk
bernafas lantaran paru-parunya belum siap bekerja dan tak memiliki
surfactant.  Tanda-tanda bayi yang menderita RDS:

  1. Bernafas lebih dari 60 tarikan nafas per menit.
  2. Saat bernafas, terdengar suara mendengkur.
  3. Dadanya tertarik ke atas ketika mengambil nafas.
  4. Cuping hidungnya mengembang.
  5. Mulut bayi kebiru-biruan, pertanda ia kekurangan oksigen.

Meski, kondisi tubuh bayi masih lemah, namun dokter akan
segera
memberinya terapi yang efektif sehingga bayi bisa sembuh dalam pekan
pertama kehidupannya.  Biasanya bayi dirawat selama 3 hari, utamanya
adalah memberinya tambahan oksigen.  Ketika kebutuhan oksigen itu
menurun, itu pertanda paru-parunya mulai membaik. 

Nah, saat
itu, bayi mulai bisa menyusu.  Jika ia cukup kuat maka sebaiknya
disusui ASI.  Namun kalau ia masih terlalu lemah lantaran paru-parunya
masih dalam kondisi pemulihan, maka dokter akan memberinya susu melalui
saluran kecil yang disalurkan dari mulut bayi ke dalam perutnya.  Ini
dikenal dengan gavage feeding.  Dengan begitu, bayi tak perlu
mengeluarkan ekstra tenaga untuk sekedar menghisap susu.

Mencegah RDS

Beratnya
perjuangan bayi yang mengidap RDS patutlah jadi catatan para orang
tua.  Sebab sebenarnya RDS itu bisa dicegah, asal ibu hamil rajin
memeriksakan kehamilannya pada dokter kandungan.  Karena begitu dokter
menemukan indikasi bayi akan terlahir prematur, maka ia akan memberi
obat pada si ibu yang akan membantu bayinya untuk memproduksi
surfactant sebelum ia lahir.  Biasanya obat yang diberikan adalah
betamethasone. 

Dokter juga bisa menentukan ada tidaknya
surfactant pada paru-paru bayi dengan mengetes air ketubannya.  Jika
ternyata hasilnya belum ada surfactant dokter akan memberi si ibu
betamethasone atau bahkan obat-obatan yang bisa menyetop kelahiran dan
menunda persalinan.  Dengan begitu, kasus RDS bisa dicegah. 

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: