Pustaka Digital Ibu dan Anak


Bayi Tabung? Mengapa Tidak!

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Teknologi reproduksi manusia semakin canggih saja. Kini, para ahli bayi tabung semakin optimis menggunakan teknik transfer blastosis, MESA, TESA, dan ICSI.

Tak bisa dipungkiri, anak adalah anugerah dari Tuhan.  Hanya Dia yang menentukan apakah sepasang suami isteri bisa mendapatkan keturunan atau tidak.  Kalaupun bisa, ada yang memerlukan waktu lama tapi banyak pula yang sepulang dari honeymoon langsung positif hamil! 

Bila Anda termasuk pasangan yang belum memperoleh momongan, kini ada banyak jalan untuk mendapatkannya. Mulai dari terapi hormon, inseminasi, terapi chi kung, mengkonsumsi buah dan hewan tertentu yang bisa mendorong terjadinya kehamilan, sampai teknologi reproduksi manusia yang paling revolusioner, yaitu bayi tabung. Tapi tentu, segala usaha itu harus dibarengi dengan doa.

Pembuahan di Dalam Laboratorium 
Istilah bayi tabung sebenarnya merujuk pada in vitro fertilization  atau pembuahan dalam laboratorium. Bayi tabung pertama, Louise Brown, lahir di Inggris pada tahun 1978. Sementara di Indonesia, teknologi bayi tabung dipelopori oleh Prof. Dr. Sudraji Sumapraja, SpOG (K) yang membantu proses kelahiran bayi tabung pertama Indonesia, yaitu Nugroho Karyanto pada 2 Mei 1988. 
Proses ‘bayi tabung’ diawali dengan pengambilan sel-sel telur yang telah matang dari sang ibu.  Kemudian sel-sel telur itu dipertemukan dan dibuahi oleh sel sperma si ayah.

Pada dasarnya, bayi tabung adalah hasil konsepsi yang dilakukan dalam sebuah tabung dalam laboratorium yang telah dipersiapkan sedemikian rupa seperti dalam rahim seorang ibu.  Lantas dalam jangka waktu tertentu, hasil konsepsi itu –entah berupa embrio ataupun blastosis (embrio yang berumur 5-6 hari)—akan dicangkokan pada rahim ibunya.  Nah, bakal janin itu diharapkan terus berkembang dan lahir menjadi manusia yang sehat dan sempurna. 

Faktor X
Agaknya, bayi tabung adalah solusi yang menggiurkan bagi pasangan suami isteri (pasutri) yang telah lama mendambakan seorang anak.  Terlebih jika kedua belah pihak sama-sama subur, hanya saja ada faktor X yang menyebabkan mereka belum juga mempunyai anak. 

Sherif Awadalla, MD dari Cincinnati Institute for Reproductive Health, Ohio meyakini, 20% kasus pasutri yang sulit mendapat keturunan disebabkan oleh disfungsi sistem imun.  Antibodi dari istri rupanya menganggap sel sperma suaminya adalah ‘musuh’ yang harus diperangi.  Itulah sebabnya, setiap kali sel sperma suami masuk ke dalam tubuh istri, mekanisme imunitas si isteri langsung bekerja. 
Bahkan, Awadalla juga mencermati adanya kasus dimana antibodi ibu menyerang hasil konsepsi (calon janin), sehingga menyebabkan terjadinya keguguran pada awal trimester pertama atau bahkan bayi meninggal dalam kandungan.  Banyak ahli di Amerika yakin, kehadiran antibodi seperti inilah yang membuat angka keberhasilan program bayi tabung rendah.

Memicu Produksi Sel Telur
Proses bayi tabung sebenarnya tidak sederhana.  Terutama bagi si ibu.  Bayangkan saja, dua kali sehari, si ibu harus disuntik GnRH analog (GnRHa) selama 14 hari, terhitung sejak hari ke 21 setelah haid.  Lantas 14 hari kemudian, sang ibu diberi suntikan yang sama dengan kombinasi suntikan hormon gonadotropin.  
Ini semua adalah rangkaian proses ‘ovarium hyperstimulation’ yang berguna untuk mengembangkan sejumlah sel telur dalam tubuh si ibu.  Nah, selama itulah ibu dipantau dengan USG, untuk mengetahui apakah folikelnya telah mengeluarkan sel telur, sekaligus mengecek kematangannya. 

Lantaran kemungkinan gagal yang masih tinggi, maka sel-sel telur si ibu memang dipacu untuk berproduksi lebih banyak.  Ada yang berproduksi hingga 20-30 sel telur.  Padahal sebuah sel telur berukuran diameter 20 mm. Bayangkan betapa begahnya rasa perut si ibu.  Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menentukan tingkat kematangan sel telur.  Sebab, ini akan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pembuahan di laboratorium.   

MESA, TESA, dan ICSI yang Revolusioner

Si ayah pun juga harus diskrining maninya.  Hal itu untuk mengetahui apakah ia mampu mengeluarkan sperma yang matang dan bisa membuahi, normalkah jumlahnya, baguskah kualitasnya, dsb.  Kalau pun si ayah ternyata tak bisa mengeluarkan sel sperma karena ada penyumbatan pada saluran yang dilalui oleh sel sperma, maka dokter akan mengoperasi untuk mengambil sel sperma yang sudah bisa membuahi.  Teknik ini dikenal dengan nama MESA (Mircosurgical Sperm Aspiration).

Namun, jika suami terbukti mengalami gangguan fungsi testis, maka dokter akan melakukan teknik operasi TESE (Testical Sperm Extraction).  Dari operasi tersebut diharapkan dapat memperoleh sel sperma, atau sel spermatid/sel sperma muda yang sudah dapat membuahi.  Gebrakan terakhir adalah teknik ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) yang merupakan solusi jitu bagi suami yang jumlah sel spermanya jauh di bawah standar, dan kurang berkualitas.  Jadi, dokter akan mengoperasi untuk mendapatkan sebuah sel sperma terbaik yang akan diinjeksikan pada sel telur isteri.

Kendala Program Bayi Tabung
Pasutri yang berniat mengikuti program bayi tabung dihadapi beberapa kendala. Yang utama adalah dana yang tidak kecil.  Mulai dari Rp 16,5 juta hingga Rp 54 juta untuk sekali program bayi tabung.  Di Amerika pun, tingginya biaya program bayi tabung ($6,000 hingga $7,000), juga dianggap sebagai kendala. 
Apalagi, menurut  Awadalla, mahalnya biaya tersebut belum menjamin keberhasilan program bayi tabung.  Padahal, teknologi yang digunakan sudah begitu ‘powerful’, namun hanya 20% saja kemungkinan program ini akan berhasil. 

Kalaupun berhasil, risiko bayi kembar lebih dari dua terbilang tinggi pada teknik transfer embrio.  Padahal, seorang ibu yang hamil kembar dua saja sudah masuk ke ‘area’ rawan. Oleh karena itu, kini transfer blastosis lebih banyak direkomendasikan dokter lantaran kemungkinan kembar lebih dari dua hampir tak ada. 
Selain itu, menurut Awadalla, ada beberapa dampak negatif program bayi tabung untuk si ibu. Misalnya, kemungkinan si ibu terserang infeksi, rhumatoid arthritis atau lupus, dan alergi.   

Kendati demikian, kenyataan di atas jangan mengendurkan niat Anda untuk mengikuti program bayi tabung.  Kalau Tuhan berkehendak, lewat usaha yang maksimal, kesabaran dan ketabahan, tentulah akan berhasil.  Apalah arti kesulitan dan rasa sakit yang mendera bila dibandingkan dengan hadirnya buah hati dalam sebuah perkawinan.


Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: