Pustaka Digital Ibu dan Anak


13 Cara Efektif Melawan Kuman

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 6, 2007

parent-guide.jpg

Bayi baru lahir belum sempurna sistem kekebalan tubuhnya, sehingga gampang terinfeksi. Anda harus membantunya melawan kuman.

Jika
diibaratkan benteng, tubuh bayi baru lahir adalah benteng yang ‘belum
jadi’ sistem pertahanannya. Masih bolong dan lemah di sana-sini.
Sistem
kekebalan tubuh bayi baru lahir memang belum sepenuhnya berkembang.
Itulah sebabnya, orangtua harus membantu bayi meningkatkan kekebalan
tubuhnya, dan meminimalkan risiko bayi terinfeksi kuman.
Tiga belas cara di bawah ini bisa Anda coba:  

  • Susui bayi secara eksklusif selama 6 bulan. Bayi yang
    menyusu eksklusif sejak awal kehidupan sampai usia 6 bulan, akan
    mendapatkan kolostrum dan ASI dalam jumlah yang cukup. Kolostrum sangat
    kaya sel-sel darah putih, protein antiifeksi dan antibodi. ASI juga
    mengandung ketiga komponen kekebalan tersebut. Bayi yang mendapat ASI
    plus kolostrum akan mendapat ‘kekebalan pertama’ terhadap penyakit. 
  • Mintalah orang tak menyentuh atau mencium bayi sesukanya.
    Pakar mikrobiologi klinis dari New York University Medical Center,
    Philip M. Tierno Jr., Ph.D mengatakan, sentuhan bisa menularkan 80%
    penyakit infeksi. “Ada dua jenis penularan lewat sentuhan, yaitu
    sentuhan langsung orang-ke-orang (sentuhan atau ciuman) dan sentuhan
    tak langsung (lewat permukaan, mainan, pegangan pintu),” terang penulis
    buku The Secret Life of Germs ini. Bayi baru lahir lebih rentan
    tertular kuman lewat sentuhan dan ciuman ketimbang dari benda-benda.
    Untuk itu, mintalah semua orang mencuci tangan 15-20 detik dengan air
    dan sabun, sebelum menyentuh bayi. Dan, cegahlah mereka menciumi bayi
    sesukanya. Bila sungkan, Anda bisa berdalih. “Bayiku masih gampang
    ketularan. Ciumnya nanti saja ya kalau sudah agak besar”, atau “Kalau
    mau pegang cuci tangan dulu ya”.
  • Jauhkan bayi baru lahir dari ruang tertutup yang dipadati
    orang. Sebelum berusia 1,5 -2 bulan, bayi sebaiknya tidak diajak
    berjalan-jalan ke ruang tertutup yang padat orang, seperti mal. Dalam
    ruang semacam ini, bayi mudah sekali tertular kuman penyakit. Karena 
    mesin pendingin udara membuat kuman ‘nakal’ tersebut hanya
    berputar-putar di udara. Sebagai alternatif, Anda bisa membawa si kecil
    berjalan-jalan ke taman yang luas, rindang dan bersih.
  • Simpan ASI perah dalam lemari pendingin atau freezer. ASI
    perah akan rusak oleh bakteri jika dibiarkan lebih dari 6-8 jam di suhu
    kamar. Jadi jika ASI perah baru akan diberikan besok, simpan dulu di
    lemari pendingin. Dan jika baru akan diberikan beberapa minggu atau
    beberapa bulan lagi, bekukan di freezer. 
  • Jangan panaskan atau didihkan ASI perah, agar komponen
    kekebalan di dalamnya (terutama sel-sel darah putih) tidak rusak.
    Cairkan ASI perah beku di lemari pendingin beberapa jam sebelum
    digunakan. Hangatkan ASI perah dingin dengan menuangkannya ke dalam
    cangkir, dan merendam cangkir tersebut di dalam air hangat. 
  • Berikan ASI perah (atau susu formula) dengan cangkir atau
    sendok. Cangkir dan sendok bentuknya sederhana, sehingga lebih mudah
    dibersihkan dan disterilkan ketimbang botol dan dot karet yang
    bentuknya berlekuk-lekuk.      
  • Jangan simpan sisa ASI perah (atau susu formula) untuk
    diberikan lagi pada bayi. Susu sisa kemungkinan besar sudah tercemar
    bakteri dan enzim pencernaan dari air liur bayi, yang menempel pada
    sendok atau bibir cangkir.
  • Jangan biasakan bayi mengulum empeng. Seperti dot, empeng
    sukar dibersihkan karena berlekuk-lekuk. Jika tidak teliti ketika
    membersihkan,  lekukannya bisa menjadi sarang bakteri. Selain itu,
    mengisap empeng disinyalir bisa ‘mendorong’ bakteri rongga mulut naik
    ke rongga telinga tengah, sehingga meningkatkan risiko infeksi telinga
    tengah. 
  • Sterilkan peralatan makan/minum untuk bayi. Semua
    cangkir, gelas dan sendok yang baru pertama kali dipakai sebaiknya
    direbus dulu. Untuk selanjutnya, semua peralatan tersebut cukup dicuci
    dengan air hangat dan sabun, dibilas dengan air mengalir, dikeringkan
    dengan lap bersih, dan disimpan dalam wadah tertutup yang bersih.
  • Ganti popok kotor segera. Jika popok basah tak segera
    diganti, maka permukaan kulit si kecil bisa tergesek-gesek dan
    mengalami iritasi. Sementara itu, kelembaban pada daerah yang tertutup
    popok juga meningkat oleh kebasahan popok. Jika popoknya dilapisi
    celana plastik, temperatur permukaan kulit pun meningkat karena panas
    tubuh bayi ‘terperangkap’. Ketiga faktor ini – iritasi, suasana lembab
    dan hangat – memudahkan kuman berkembang biak.
  • Cuci pakaian bayi dengan benar. Dengan air mengalir,
    singkirkan segera kotoran dari popok dan pakaian bayi, cuci dengan
    sabun lembut, bilas sampai bersih, keringkan. Pisahkan proses pencucian
    tersebut dengan pencucian pakaian anggota keluarga lainnya, agar
    pakaian bayi tak tercemar bakteri dari pakaian orang dewasa – khususnya
    dari pakaian dalam.     
  • Cegahlah hewan peliharaan mengendus atau menjilat bayi.
    Sebersih apapun hewan peliharaan Anda, mulut dan moncongnya tetap penuh
    kuman penyakit. Pastikan mereka tidak mengendus-endus atau menjilati
    bayi Anda.
  • Imunisasi. Pada usia-usia tertentu, imunisasi diperlukan
    untuk melindungi bayi sehat dari penyakit berbahaya. Catat jadwal
    imunisasi standar yang dianjurkan untuk bayi, dan jangan lewatkan.  

Semoga efektif! lPG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: