Pustaka Digital Ibu dan Anak


Ketika”Cinta Baca” Pertama Kali Bersemi

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 5, 2007

parent-guide.jpg

Tahun
pertama adalah masa yang sangat subur untuk berseminya kecintaan
membaca pada diri seorang anak. Jadi, jangan lewatkan begitu saja!

Benarkah
menanamkan kecintaan membaca pada anak adalah ‘soal nanti’ yang tidak
perlu dibicarakan di tahun pertama hidup mereka?  
‘Subur’nya Otak Bayi
Ternyata
tidak. Ketika lahir, bayi-bayi sudah mulai mengembangkan ketrampilan
yang diperlukan untuk membaca dan menulis. Mereka akan memulainya
dengan cara mendengar, bersuara dan mengucapkan kata-kata. Bayi dapat
melakukan ini karena otak mereka amat subur untuk ‘ditanami’ apa saja.
Saat lahir, otak bayi telah memiliki seluruh neuron (sel saraf) yang
penting untuk pembelajaran seumur hidup, termasuk belajar membaca dan
mencintai bacaan.

Walau jumlah sel otak bayi sekitar 100
sampai 200 milyar, namun itu belum cukup untuk membuatnya jadi seorang
pencinta bacaan. Hal ini disadari oleh institusi-institusi penggiat
baca di Amerika Serikat. Perpustakaan raksasa macam Public Library of
Charlotte & Mecklenburg County (PLCMC), misalnya, merasa perlu
mengingatkan publik bahwa perkembangan otak dan kapasitas belajar bayi
sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman di usia dini. “Otak bayi
mampu memproses pengalaman-pengalaman indrawi baru dan menyimpan
informasi tersebut untuk penggunaan di masa depan. Makin banyak
pengalaman, makin besar peluang bayi untuk membentuk pola pembelajaran
yang permanen di otak mereka,” tulis pengelola PLCMC dalam
publikasinya.   

Tak Selalu dengan Buku
Ibarat
tanah gemuk, gembur berhumus tebal, otak bayi pun terlalu berharga
untuk dibiarkan ‘menganggur’ tanpa ditanami benih-benih yang penting
untuk keberlangsungan hidupnya. Cinta baca sangat penting untuk
kehidupan anak, karena kemampuan membaca (dan menulis) bisa
mengantarkan mereka pada kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Namun,
kecintaan membaca tidak diturunkan begitu saja dari langit, melainkan
harus ditanamkan lingkungannya sejak menit-menit pertama kelahirannya
(sebagian orangtua bahkan melakukannya sejak bayi di dalam kandungan).  

Berikut
ini hal-hal penting untuk menyemai cinta baca pada bayi. Dan, tak
seperti yang mungkin kita bayangkan, hal-hal penting tersebut tak
selalu mengharuskan kita membawa-bawa buku bacaan bersama bayi:       

  • Bicara dengan bayi. Ketika kita berbicara dengan bayi,
    sebenarnya kita mengajarkan kata-kata baru kepadanya, sambil
    menunjukkan irama dan pola bahasa. Orang-orang zaman dahulu sudah
    melakukan hal ini begitu bayi mereka lahir. Dalam ajaran agama Islam,
    sejak 14 abad yang lalu misalnya, para ayah diminta mengumandangkan
    secara perlahan adzan (panggilan untuk shalat) di telinga kanan dan
    iqomat (pemberitahuan bahwa shalat akan dimulai) di telinga kiri bayi
    mereka yang baru lahir. Dalam ajaran agama atau budaya lain pun mungkin
    ada tuntunan ‘berkomunikasi sejak lahir’, yang ternyata besar
    manfaatnya untuk bayi.

Selanjutnya, bicaralah pada bayi dengan penuh semangat tentang dunia di
sekeliling bayi: tubuhnya, kegiatannya, orang-orang di sekitarnya,
hewan-hewan di dekatnya, suara-suara di sekitarnya, cuaca, mainannya,
dsb. Sambil bicara, lakukanlah kontak mata dan sentuhlah bayi, karena
bayi akan memberi respon paling baik terhadap cara bicara seperti ini.
Jika bayi ‘bicara’ (mengeluarkan suara-suara) pada kita, tanggapilah
dengan mengeluarkan suara yang sama, atau tanggapi dengan kata-kata
yang relevan untuk saat itu. Misalnya, bayi tergelak “Eh-hee” ketika
digelitik kakinya, tanggapilah antusias dengan mengatakan “Hehe…
(nama bayi) geli, yaa?” Cara ini mendorong bayi bicara lebih banyak.   

  • Bernyanyi bersama bayi. Beruntunglah orangtua yang
    memiliki kepekaan musik serta menguasai cukup banyak lagu-lagu anak
    yang bermutu (melodinya simpel tapi indah, syairnya sederhana tapi
    bagus maknanya). Dengan nyanyian, setiap momen atau kegiatan bisa
    dijadikan ajang untuk mengajarkan kata-kata baru. Misalnya, saat bayi
    bangun pagi ada lagu ‘Bangun Tidur’, saat mandi ada lagu
    ‘Cibang-Cibung’, saat berpakaian ada lagu ‘Topi Saya Bundar’, menjelang
    makan ada lagu ‘Sebelum Kita Makan’, saat kucing lewat ada lagu
    ‘Kucingku Belang’ dan banyak lagi. Bernyanyi dengan benar dan indah
    akan mengajarkan bayi mengenal pola-pola irama, keteraturan ketukan,
    warna suara, intonasi, serta cara mengekspresikan makna syair lagu.
    Bagi orangtua yang kurang suka atau kurang pandai bernyanyi, jangan
    kecil hati. Putarlah lagu-lagu anak yang bermutu dan bertepuk tanganlah
    bersama bayi.
  • Bermain bersama bayi. Permainan ‘Ciluk Baaa’, ‘Mana
    Hidungnya?’, ‘Uncang-uncang angge’ (permainan Sunda: mengayun-ayun bayi
    yang tertelungkup di atas tungkai kita, seperti sedang terbang, sambil
    bersajak “Uncang-uncang angge, mulung muncang kaparangge, digokgok ku
    anjing gede…”), atau permainan jari tangan ‘Tok-tok-tok, Wie is
    Daat?’ warisan orangtua zaman Belanda dulu – semuanya merupakan
    permainan sederhana yang disukai bayi, mengajarkan kata-kata baru, 
    serta melatih bayi praktik bicara.
  • Membaca bersama bayi. Bila kita menemukan tulisan dan
    gambar yang sederhana (bisa dari buku, kartu ucapan, surat kabar,
    kalender, kartu pos, foto, kotak kemasan produk, bahkan spanduk, poster
    dan brosur), maka perlihatkanlah pada bayi dan bacakanlah tulisan
    tersebut. Larik-larik puisi, sajak atau syair lagu anak (yang bermutu)
    pada sampul kaset juga bisa kita bacakan untuk bayi. Selanjutnya,
    mintalah bayi menunjukkan gambar tertentu. Awalnya, bawalah jari bayi
    ke gambar tersebut sambil menyebutkan namanya, bentuk dan warnanya,
    misalnya: “Ini buah apel. Bentuknya bulat. Warnanya merah…” Cara ini
    membantu bayi membuat hubungan antara kata dan objek-objek yang
    dikenal.

Kegiatan ‘membaca bersama bayi’ ini, tentu saja, merupakan kesempatan
berharga untuk mengenalkan buku kepada bayi, dan mengajarkan kepada
mereka bahwa buku memuat informasi menarik dan bahwa membaca buku itu
sangat mengasyikkan.       
Cinta
pada pandangan pertama, konon sukar dilupakan. Jadi, jangan berhenti
menanamkan cinta membaca di tahun pertama si kecil! PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: