Pustaka Digital Ibu dan Anak


Tambah Anak Lagi atau Tidak?

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 4, 2007

parent-guide.jpg

Anak adalah permata keluarga. Tapi bila sudah ada satu, dua, dan tiga anak dan ingin menambah lagi apa saja yang perlu dipertimbangkan?

Adalah lumrah jika dalam sebuah keluarga kembali menginginkan anak setelah kelahiran anak pertama.  Bukankah rumah akan semakin semarak dengan riuh rendah canda tawa anak-anak?  Bukankah si kakak akan senang mendapat ‘teman’ baru, yaitu sang adik?  Tetapi, bertambahnya anak tentu biasanya akan mengubah pula rencana keuangan keluarga. Benarkah hanya aspek finansial saja yang eprludipertimbangkan? Jadi apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menambah anak?  

Cermati Beberapa Syarat

Ada beberapa prasyarat yang mesti dipenuhi oleh ibu—keluarga—sebelum berencana menambah anak kembali. Menurut dr. Andri Renggani, SpOG hal pertama yang perlu dipertimbangkan adalah usia si kakak. Usia paling ideal setidaknya adalah dua tahun, usia dimana ia sudah ‘puas’ mendapatkan ASI.  Selain itu jarak minimal 2 tahun hingga 3 tahun juga memungkinkan si kakak mendapat perhatian penuh dari orangtua pada
masa-masa rentannya.

Kedua, juga mempertimbangkan penghidupan yang sudah mapan dan stabil. Ketiga, umur ibu (isteri) tak lebih dari 35 tahun sehingga bisa menjalani kehamilan dengan lancar dan mudah.  Makin tua usia seorang ibu hamil maka akan semakin payah terasa.  Meski begitu, jika si ibu pandai menjaga diri tak jadi soal jika ia merencanakan hamil lagi di usia 40 tahun.  Soal kekuatiran bakal mendapat anak yang menderita sindroma-down menurut  Andri hal itu tak beralasan.  “Buktinya, ada pasien saya berumur 27 tahun dan melahirkan bayi sindroma-down”.  

Bagi yang mengalami bedah cesar pada kelahiran pertama, Andri meyakinkan bahwa  ‘aman’ untuk hamil kembali. Asalkan, terdapat jarak waktua 2 tahun dengan penyembuhan luka operasi yang bagus.  “Tak ada nanah, perdarahan, atau robek lagi usai dicesar, ibu boleh hamil kembali,” imbuh ahli kandungan yang sehari-harinya berpraktik di RS. Puri Mandiri Kedoya ini.

Hanya saja, bagi pasangan yang kebetulan anak pertamanya menderita kelainan bawaan seperti penyakit gangguan pada pembekuan darah, perlu pertimbangan lebih dalam lagi. Sebab masih mungkin kehamilan kedua akan menyebabkan janin menderita penyakit yang sama.  Sementara bagi keluarga yang anak sulungnya terkena sindroma-down tak perlu cemas untuk menambah anak.  Sebab, “Tak ada dua anak yang terkena down syndrome dalam sebuah keluarga,” tandas dr. Andri Renggani, SpOG.

Pengasuhan yang Adil

Selain hal-hal di atas, orang tua juga harus mampu membagi cinta dan waktunya secara adil pada anak-anaknya kelak.  Jangan sampai terperangkap pada pola asuh ‘anak emas’. Berikut poin-poin yang harus disediakan oleh orangtua yang ingin menambah anaknya tanpa menimbulkan masalah antar anak :

  1. Waktu khusus untuk setiap anak  Ketika si bayi sudah pulas tertidur, segeralah Anda mendekati dan bercengkerama dengan si kakak, seperti yang biasa Anda lakukan sebelum si adik lahir.
  2. Hubungan yang seimbang pada setiap anak  Kesibukan Anda mengurus dan merawat si adik yang baru lahir biasanya akan menguras waktu Anda.  ‘Serahkan’ si kakak pada ayahnya untuk sementara.  Dengan begitu ia akan tetap merasa diperhatikan dan disayangi.
  3. Meski sudah menjadi seorang kakak, ia tetaplah anak kecil.  Maka perlakukan ia selayaknya anak kecil dan dengarkan apa yang ia katakan.
  4. Bangun komunikasi yang lancar dengan semua anak.  Jangan sampai Anda terperangkap dalam jeratan “si anak emas’.  Ini amat tidak adil buat saudara-saudaranya yang lain.
  5. Berlaku adil dalam menangani konflik.  Menganggap salah satu anak ‘lebih lemah’ daripada yang lain, tak akan menguntungkan sipa pun.  Anak yang ‘lebih kuat’ biasanya akan disalahkan sebagai biang kerok timbulnya konflik dan kemudian diberi hukuman yang lebih berat, lambat laun akan merasa dirinya tidak dicintai sedalam Anda mencintai saudaranya yang ‘lemah’.

Banyak cara menyiapkan mental si kakak dalam menyambut kehadiran adiknya kelak.  Misalnya dengan mengajaknya memegang perut ibunya yang sedang hamil muda sambil menjelaskan adanya adik bayi didalamnya.  Saat kunjungan ke dokter kandungan pun sebaiknya si kakak juga dilibatkan.

Lalu perlihatkan calon adiknya yang terlihat di layar monitor USG.  Dengan begitu si kakak tidak akan merasa disingkirkan, meski kelak akan ada ‘warga’ baru dalam keluarganya. Kalau Anda merasa fit, si sulung juga sudah oke, tambah buah hati lagi rasanya tak masalah. n PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: