Pustaka Digital Ibu dan Anak


Aduh, Bayi Ku Mengalami

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 4, 2007

parent-guide.jpg

Secanggih-canggihnya USG 3 dimensi masih ada hal-hal yang tak bisa diungkap. Termaasuk kelainan bawaan yang satu ini.

color: black; display: inline; font-size: inherit;”>pengkor,” kisah Ida mengenang perjumpaan dirinya dengan kasus ‘Clubfoot’ yang dialami Ibob, buah hatinya. Sejak itu Ida, David dan Ibob sering mengunjungi pakar bedah tulang dr. Hamdan, Sp.BO, Fics.

“Clubfoot”

        
Selama ini kita tak begitu mengenal kasus-kasus bayi yang terlahir dengan kondisi pergelangan kaki ‘clubfoot’ atau awam mengenalnya pengkor, berpiuh atau terpelintir. Tapi, orangtua mana yang tak syok melihat bayinya mengalami clubfoot. Memang, kasus seperti ini tak begitu kesohor lantaran hampir semua pasien bisa sembuh total asal mendapatkan penanganan segera dan tepat. Terlebih teknik bedah tulang (ortopedi) saat ini begitu maju. Apa jadinya kalau si bayi dibiarkan berlama-lama tanpa treatmentkarena orangtua sesal, sedih, dan panik?  “Kakinya takkan sembuh maksimal,” tandas dr. Hamdan, SpBO,Fics, RSIA Hermina Depok.   
 
Clubfoo tadalah sekumpulan kelainan struktur pada kaki dan pergelangan kaki.  Kelainan ini terjadi pada pembentukan tulang, sendi, otot, dan pembuluh darah.  Ada 4 buah urat yang memendek di dekat mata kaki dan diatas tumit.  Tulang dan sendi-sendinya pun tertarik sehingga sendi terjebak diantara tulang-tulang pergelangan kaki.  Clubfoot merupakan kelainan bawaan atau kelainan kongenital yang dialami oleh bayi sejak lahir.  Mengapa baru terlihat setelah lair?    Itu karena selama dalam kandungan posisi janin meringkuk dengan kaki terlipat tertutup. Posisi ini takkan berubah hingga janin dilahirkan. Akibatnya, dokter kandungan, meski dengan bantuan USG 3 dimensi akan sulit mendeteksi adanya kelainan pada pergelangan kaki si janin. 

Ada dua jenis clubfoot  Pertama yang bersifat fleksibel, yaitu yang bisa dikoreksi hanya dengan rajin me-massagekaki yang pengkor. Kedua, jenis rigid, yaitu jenis yang membutuhkan penanganan yang lebih rumit, termasuk dengan bantuan gips dan operasi.  Tapi tak semua bayi harus dioperasi, tergantung parah tidaknya kondisi kelainan. Sementara clubfoot bisa terjadi pada salah satu kaki atau kedua-duanya.

Penanganan

Sejauh pengalamannya, dr. Hamdan mengaku dalam sebulan kerap mendapatkan 1-2 bayi yang baru lahir memiliki clubfoot.  “Tapi, jangan kuatir, kaki bayi-bayi itu bisa pulih total asal, sejak lahir langsung mendapat penanganan yang tepat,” tandas Hamdan.  Sejumlah langkah penanganan akan ditempuh dokter. Treatment dimulai dengan memberi gips serial yang diganti setiap minggu. Cara ini dimaksudkan untuk mengoreksi kakinya sedikit demi sedikit. Lalu sejak si bayi berumur sebulan gips-nya akan diganti tiap bulan hingga ia berumur 3 bulan. Selama jangka waktu ini hampir 90% kondisinya mendekati normal.  Jika kondisinya masih ‘jinjit’ dan bengkok, maka selanjutnya jalur operasi akan diambil oleh dokter bedah ortopedi. 

Meski begitu, Hamdan menekankan operasi takkan dilakukan bila berat badan bayi masih kurang dari 2 kg, tak ada flek di paru-paru, dan kerja jantungnya pun normal.  Ini amat diperlukan agar operasi berjalan sukses dan si bayi selamat.  Operasi itu sendiri berlangsung selama 1-2 jam dan bayi dibius total. Saat operasi, dokter bedah ortopedi akan mengurai urat-urat di sekitar mata kaki dan di atas tumit untuk kemudian ‘dipanjangkan’ kembali. Sementara urat-urat yang memanjang akan ‘dipendekkan’.  Selanjutnya langkah ‘membebaskan’ sendi-sendi yang terjebak diantara tulang pergelangan kaki juga diambil agar pergelangan kaki bisa menapak dan kaki tumbuh lurus.
  
Usai operasi, kaki bayi pun akan di-gips kembali yang akan diganti setiap bulan hingga ia berumur 6 bulan.  Begitu si bayi berusia 6 bulan, ia akan memakai sepatu khusus (besi) untuk membuat telapak kakinya menapak. Sepatu ini dikenal dengan sepatu Dannis Browsplane.  Salah seorang ahli pembuat alat bantu ini adalah Hartono yang sehari-hari bekerja pada RSU Fatmawati, Jakarta.  Tahapan-tahapan pengobatan ini memang akan membuat bayi menderita, “tapi nggak apa-apa, cuma sebentar. Bandingkan derita yang sebentar itu dengan kondisi bila bayi kita tak diobati sama sekali,” ujar Ida yang kini lega kaki Ibob pulih seperti bayi lainnya. n PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: