Pustaka Digital Ibu dan Anak


10 Pelajaran Penting Setiap Hari

Posted in Parent Guide by nugraad001 on June 4, 2007

parent-guide.jpg

Diam-diam, bayi mempelajari banyak hal penting dari perlakuan dan perawatan yang ia terima sehari-hari.

Suatu hari, ketika bayi kita sedang benar-benar susah sekali diatur – menangis terus, melemparkan dan meleletkan makanannya ke mana-mana, mencemplungkan ponsel kita yang penuh berisi data penting ke kolam ikan, dan sebagainya – tiba-tiba saja kita meragukan apa yang selama ini sudah kita lakukan terhadap bayi kita.
  
Kita meragukan kontribusi kita dalam pendidikan bayi, karena selama ini ‘hanya bisa’ menggantikan popoknya, memandikan, menyusui, menyuapi makan, mengajak mengobrol dan mencandai, menggendong dan mengajak berjalan-jalan. Kita ragu telah mengajarkan bayi banyak hal, karena tidak menyediakan flash cards yang lengkap, tidak membelikan mainan edukatif, tidak membelikan software pendidikan bayi yang paling mutakhir, dan tidak mendaftarkan ke sekolah atau klub bayi.
 
Sebenarnya, para bayi menyerap banyak pelajaran penting melalui perlakuan dan perawatan yang kita berikan kepada mereka sehari-hari. Inilah hal-hal penting yang bayi pelajari dari kita, guru pertama mereka:   

  1. Harga diri dan percaya pada orang lain. Tiap kali kita datang untuk menanggapi tangis bayi dengan perlakuan yang lemah lembut dan penuh kasih – mendekap, menepuk-nepuk, menyusui, memberinya makan, menggantikan popoknya yang basah atau kotor – bayi belajar bahwa dirinya ‘berharga’ dan ‘tidak dinistakan’. Bayi juga belajar percaya bahwa kita akan selalu hadir dan datang kembali kapan saja ia memerlukan kita.
  2. Percaya diri. Ketika kita, sesekali, bersedia memberi bayi kesempatan untuk memuaskan diri sendiri (misalnya mengulum jari tangannya dan mengoceh di pagi buta) dengan cara tidak bergegas menghampirinya, maka bayi belajar pede – percaya diri: aku juga bisa, lho, memuaskan diriku sendiri! Begitu juga saat kita tidak bergegas membantu bayi dalam ‘perjuangannya’ meningkatkan keterampilan motorik (misalnya berusaha meraih ibu jari kaki atau menggapai mainan), bayi juga belajar bahwa sesekali bisa mengandalkan kemampuannya sendiri.  
  3. Sistem keseimbangan tubuh. Tiap kali kita ‘mentitah’ (menuntun berjalan) bayi, membopongnya tinggi di atas bahu, mengayun-ayunkannya sambil telungkup di atas tungkai kita (bermain ‘uncang-uncang angge’), memberinya kesempatan untuk merangkak, duduk dan bangkit sendiri dari duduk, maka tiap kali itu juga bayi belajar melatih keseimbangan tubuh dan menguatkan otot-ototnya.  
  4. Bergerak dengan leluasa, dan benar. Selama kita bersedia memberi bayi kesempatan untuk bergerak bebas di dalam rumah – misalnya, dengan rela menyingkirkan perabot dan pajangan kesayangan dari pandangan – selama itu pula bayi berkesempatan mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus. Dan tiap kita tersenyum, bertepuk tangan, dan bersorak gembira saat bayi berhasil melakukan sebuah gerakan dengan benar – misalnya menjumput dan memasukkan makanan ke mulut, merangkak menjangkau bola dengan tangan tanpa luput, berdiri dan melangkahkan kaki tak kenal takut – bayi pun belajar mengevaluasi diri: “Oh, gerakanku sudah benar. Lihat, semua orang menyukainya!”
  5. Bahasa. Tiap kali kita memanggil nama bayi, menyebutkan nama kita dan nama orang-orang di dekat bayi, mengajaknya mengobrol – dengan bahasa kita (bukan bahasa bayi) dan tentang topik apa saja (bukan hanya topik-topik yang berhubungan dengan bayi) – sambil merawat bayi atau melakukan tugas-tugas harian apa saja (berbelanja, memasak, beres-beres rumah, mengemudi, dll), bayi belajar tentang bahasa verbal. Saat ini bayi memang belum bisa berbahasa ekspresif seperti kita, tapi mereka mampu menyerap nada dan irama kata-kata kita.
  6. Menunggu giliran. Tiap kita mengajukan pertanyaan kepada bayi, lalu bersedia menunggu sejenak sampai mereka menunjukkan reaksinya (entah itu hanya suara terkekeh atau gumam seperti orang sedang berkumur, atau bahkan hanya gerakan tubuh dan ekspresi wajah), maka bayi belajar tentang ‘giliran bicara’ dalam sebuah komunikasi. Begitu juga saat kita mengajarkan aneka permainan sederhana semisal suap-suapan makanan, cilukba, lempar bola, dsb. – bayi juga belajar menunggu giliran. Dan dari ‘menunggu giliran’ inilah bayi belajar berbagi dan bekerja sama dengan orang lain.   
  7. Sains dan matematika. Tiap kali kita merelakan rumah kita menjadi ‘ lebih berantakan’ atau ‘lebih berisik’ oleh bayi kita yang sedang beraksi – menjatuhkan mangkuk makanannya dari kursi tingginya, melempar sendok ke lantai, menciprat-ciprat air dari bak mandinya, memukul-mukulkan sendok ke cangkirnya, bolak-balik menuangkan air dari botol ke baskom, berulang memunguti batu-batu kecil dari jalur jalan setapak di taman dan melemparkannya ke rumput satu persatu, dsb. – sesungguhnya bayi sedang mendapat kesempatan melakukan percobaan sains atau matematika dan menjawab sendiri berbagai ‘pertanyaan ilmiah’ yang tak terucapkan oleh mulutnya: “Kayak apa ya kalau biskuit ini kulempar ke bawah?”, “Bagaimana ya bunyi sendok jatuh?”
  8. Menghargai perasaan. Tiap kali kita peka membaca tanda-tanda emosi bayi – senang, bosan, takut, marah, capek, dll – dan menanggapinya dengan tepat, maka bayi belajar bahwa perasaannya dikenali dan dihargai. Misalnya, kita senang menciumi perut bayi dan bayi pun tertawa-tawa (tanda senang). Tapi begitu bayi berhenti tertawa atau berusaha menghindar (tanda bosan atau capek), kita pun berhenti. 
  9. Dunia itu luas. Tiap kali kita mengajak bayi berjalan-jalan ke luar rumah, ke pasar becek maupun ke pasar swalayan, bersilaturahmi ke rumah kerabat, ke tempat-tempat rekreasi, atau bahkan ke bank untuk membayar tagihan bulanan, bayi menyaksikan bahwa dunia itu begitu luas untuk dijelajahi. Apalagi ingatan bayi sangat pendek, sehingga berapa kali pun kita mengajaknya ke suatu tempat, segalanya tetap terasa ‘baru’.
  10. Segala sesuatu ada polanya. Tiap kali kita merawat bayi secara teratur – mengganti popoknya yang kotor, menyusuinya, memberinya makan, memandikannya, mengajaknya berjalan-jalan – dan melakukan rutinitas harian kita seperti biasa, bayi belajar bahwa segala sesuatu di sekelilingnya memiliki pola (teratur dan konsisten). Ini membantu bayi belajar memprediksi situasi.

Jika selama ini kita memperlakukan bayi dan merawat mereka sebaik mungkin, apa lagi yang harus diragukan? PG

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: