Pustaka Digital Ibu dan Anak


Congenital Diaphragmatic Hernia

Posted in Parent Guide by nugraad001 on May 29, 2007

parent-guide.jpg

Bila terdeteksi sejak janin, kelainan bawaan ini dapat dikoreksi segera. Bayi pun akan terhindar dari gangguan pernafasan selamanya.

Adakalanya hidup tidak seperti yang diharapkan, seperti bayi yang terlahir dengan cacat bawaan ; Congenital Diaphragmatic Hernia (CDH). Memang, kita tak kuasa menolaknya, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya.  Kemajuan teknologi kedokteran telah memberi kemungkinan bagi si bayi untuk hidup normal dan sehat. Asalkan ia segera dioperasi dan mendapat penanganan ekstra pada pernafasannya.

Di Amerika Serikat, tercatat dari 2.500 kelahiran bayi salah satunya menderita CDH.  Begitu bayi dengan kelainan ini lahir, nilai apgarnya rendah.  Penyebab kasus ini adalah proses penyatuan struktur semasa janin yang tak tepat, akibat kelainan pada kromosom. Normalnya, dalam rongga dada manusia terdapat hati, jantung, dan paru-paru.  Namun pada bayi CDH di dalam dadanya selain tiga organ itu ada pula usus kecil dan atau usus besar, bahkan banyak pula disertai dengan rotasi usus yang salah. 

Kondisi ini amatlah fatal dan bila bayi tidak segera dioperasi meski ia baru lahir, kematian kan menjemputnya. Namun, Dr. David Kays dan para ahli bedah anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Florida berhasil menyelamatkan bayi-bayi CDH dari kematian (92%).  Ini berkat teknik ‘gentle ventilation’ yang berperan untuk membantu pernafasan mereka.   

Lubang di Diafragma

Apa itu Congenital Diaphragmatic Hernia (CDH) atau hernia diafragma? Ini adalah cacat bawaan dimana diafragma bayi tak terbentuk dengan sempurna. Karena tak terbentuk sempurna maka ada sebagian usus yang menonjol keluar lalu masuk ke dalam sebuah lubang pada diafragma. Kondisi ini tentu membuat paru-paru tak bisa berkembang hingga ‘matang’.  Derajad keparahannya berbeda-beda tergantung pada tingkat ‘kekurangmatangan’ paru-paru si bayi. Paru-paru yang bermasalah itu bisa berupa arteri paru-paru yang tak normal, penurunan jumlah pembuluh paru-paru atau predisposisi ketegangan paru-paru secara terus menerus.

Diafragma yang berlubang bisa terdapat pada bagian kanan atau kiri diafragma.  Faktor penyebabnya adalah kegagalan lubang pleuroperitoneal (membran serosa yang membungkus paru-paru dan melapisi rongga dada) untuk menyatu pada saat janin berumur 7-8 pekan. Ini bisa terjadi karena kelainan komponen otot pada rongga dada.  Sebagai konsekuensinya, timbullah tekanan (hypoplasia) pada paru-paru disertai pemindahan organ/jaringan yang memisahkan kedua paru ke rongga di depan-belakang serta atas-bawah, ke sisi yang berlawanan di diafragma (contralateral diafragma). 

‘Gagal Nafas’, Membiru

Makanya, pada bayi dengan CDH yang parah, begitu ia lahir akan mengalami kegagalan pernafasan, dengan tubuh membiru (cyanosis) yang terus-menerus.  Sementara bagi yang menderita CDH yang tak begitu parah, biasanya muncul kesulitan bernafas saat ia berada dalam ruang perawatan atau ketika sedang pemeriksaan kerja jantung (dextrocardio) dan kerja perut.  Ini disebabkan paru-parunya tidak mampu memompa sekuat paru-paru normal.

Yang sering terjadi, CDH terdapat di lubang pada bagian kiri diafragma.  Ini karena penutupan membran pemisah paru dengan rongga di sekitarnya (membran posterolateral pleuroperitoneal) yang ada sebelah kiri terjadi belakangan.  Kasus bayi dengan CDH seringkali menjadi faktor penyebab kematian yang tersembunyi. 
Padahal, bila saja ibu hamil dan dokter kandungan cermat mengamati perkembangan janin lewat USG, kemungkinan CDH bisa dilihat lebih dini.

Jika janin menderita CDH maka akan terlihat sayatan melintang pada dada janin, termasuk terlihat sebagian isi perut di dada. Pemeriksaan ini dapat dilakukan bila janin berusia  berumur 17-19 pekan. Bila kecurigaan itu menguat, dokter akan konfirmasi dengan memfoto rongga dada janin dengan sinar X. Tahapan ini akan menegaskan posisi isi perut dilihat dari rongga dada. 

Operasi Koreksi

Jika setelah melewati pemeriksaan tadi terbukti bayi akan lahir dengan kondisi CDH, orangtua sebaiknya banyak berdoa agar si bayi diberi kekuatan dan kesabaran melewati masa perjuangan yang masih panjang usai persalinannya nanti.  Untuk menyelamatkan si bayi, sebelum janin lahir dokter kandungan akan segera mengontak dokter bedah anak yang akan segera mengoperasi bayi. Dikatakan ‘masih panjang’ karena sebelum operasi dokter bedah akan memasang alat bantu pernafasan yang cukup rumit untuk ukuran bayi baru.

Pemasangan alat ini berguna untuk mencegah pecahnya paru-paru bayi bagian kontralateral.  Setelah pemasangan alat ini, dokter bedah anak akan segera mengoperasinya, untuk mengoreksi cacat pada diafragma bayi. Dokter bedah akan melakukan tahapan, menurunkan bagian isi perut yang menonjol keluar pada lubang diafragma lalu mengembalikannya pada lokasi yang normal, menutup dan menjahit lubang pada diafragma lalu mengoreksi kesalahan rotasi isi perut

Meski bayi sudah dioperasi, ‘badai’ belumlah berlalu.  Masih ada lagi yang mesti diwaspadai, yaitu komplikasi tekanan paru-paru (pulmonary hypertention).  Makanya, prioritas paska operasi adalah pada pernafasan bayi.  Biasanya kondisi ini berkembang setelah 24-48 jam.  Untuk mengurangi risiko komplikasi ini, dokter akan memberi bayi hyperventilation dan infus Sodium bikarbonat. Cepat tidaknya penyembuhan usai operasi tergantung pada parah tidaknya tekanan paru-paru si bayi. 

Tercatat, bayi yang mengalami kesulitan bernafas pada enam jam pertama setelah kelahiran, tingkat kematiannya tinggi (70%).  Namun bayi yang setelah 6-24 jam baru mengalami kesulitan pernafasan, tingkat kematiannya rendah (10-15%).  Meski begitu, hanya Tuhan-lah yang mampu memberikan mukjizat sehingga bayi yang masih merah bisa terus bertahan dan berjuang untuk hidup. n PG


Siapkan Sejak Dini
  1. Saat umur janin 7-8 pekan, lihat dengan cermat rongga dada bayi.  Carilah rumah sakit yang memiliki teknologi USG tercanggih, kalau perlu.
  2. Mintalah dokter menganalisa gambar, untuk memastikan adanya kemungkinan bayi terkena CDH.
  3. Banyaklah berdoa agar janin berkembang sempurna dan lahir dengan selamat.
  4. Namun, bila janin terdeteksi CDH, segera cari RS dan dokter yang ahli menangani bayi CDH.
  5. Banyaklah mencari informasi seputar penanganan dan perawatan bayi CDH
  6. Besarkan hati, banyaklah berdoa agar si kecil lahir selamat dan segera mendapat penanganan yang tepat, sehingga nyawanya tertolong dan kelainannya segera dikoreksi.             

Powered by ScribeFire.

2 Responses to 'Congenital Diaphragmatic Hernia'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Congenital Diaphragmatic Hernia'.

  1. ina said,

    Saya mau tanya, apakah di indonesia sudah ada dokter dan rumah sakit yang menangani kasus CDH ini?

  2. ipory said,

    Sekarng adik saya lagi menjalani opersai CDH di rumah sakit umum. Jam 9 tadi mulainya. Saya harap operasinya berjalan lancar dan adik saya selamat. Aaamin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: