Tips Merangkai Nama
Tips Merangkai Nama
Sumber: http://www.namabayi.com/Panduan.htm (situs ini sekarang off)
Pernah diposting pada 28 Agustus 2003
Beberapa tips di bawah ini dapat Anda manfaatkan agar hasil cipataan dan rangkaian Anda lebih sempurna:
Catatan: Beberapa kalangan memiliki tradisi yang kuat dalam hal pemberian nama, baik yang berhubungan dengan silsilah, adat atau tradisi. Seyogyanya, kebiasaan ini tetap diteruskan.
LANGKAH Pertama: Tentukan Makna Nama yang Anda idamkan. Untuk menentukan makna, terlebih dahulu Anda memutuskan
salah satu atau gabungan dari orientasi di bawah ini:
Orientasi A.: Harapan Anda terhadap sang bayi pada saat pertumbuhannya atau setelah ia menjadi dewasa. Dari
sisi karakter: periang, penyabar, tekun beragama, hormat kepada orang tua dan orang lain, suka menolong, lincah, kreatif dan lain sebagainya. Dari sisi profesi: menjadi tempat berlindung orang kesusahan, dokter bedah syaraf seperti pamannya yang baik, insinyur, presiden,dosen, ahli internet, pendeta, ulama, menteri pendidikan
dll. Dari Sisi fisik: kuat, jangkung, atletis, langsing, tampan, cantik,dll. Dari sisi inteligensia: pintar,
kritis, kreatif, taktis, cermat, argumentatif dll.
Orientasi B.: Kenangan (Monumental) yang ingin direfleksikan pada nama.
Dari sisi 1). Kenangan Manis,
contohnya: Si bayi lahir persis pada hari raya, hari Ibu, Natal, menjelang kelahiran sang bayi, Ayah
dipromosikan jabatannya, Si Ibu memenangkan sayembara melukis tingkat nasional, Keluarga menempati rumah baru,
Kakek sembuh dari penyakit yang sudah lama di deritanya dan lain-lain.
2) Kenangan Pahit: Sehari setelah sang
bayi lahir, harga beras melonjak drastis, menjelang kelahiran bayi, gunung
Merapi meletus dahsyat, Ayah tabrakan pada saat menjemput bayi dari rumah sakit (jangan sampai terjadi) dan lainnya, usaha keluarga bangkrut (jangan sampai terjadi).
3) Tradisi: hal ini sangat erat hubungannya dengan kebiasaan keluarga yang secara terus menerus menurunkan nama tertentu kepada keturunan mereka. Yang paling umum adalah nama ayah, nama keluarga, marga atau fam.
4) Profesi. Beberapa kalangan menganggap profesi yang digeluti merupakan sumber inspirasi untuk memilih nama bernuansa monumental. Namun biasanya diambil dari beberapa istilah yang berhubungan dengan profesi tersebut. Misal: Intan, Berlian, Permata, Mutiara,merupakan sebagian dari nama yang diberikan oleh pebisnis logam mulia. Kokoh, Kekar, diberikan oleh kontraktor untuk putra mereka.
Powered by ScribeFire.
Bayi pun Sudah “Gaul”
Pada saat pertama kali Nayla (23 tahun) mendengar tangisan Reiza (10 hari), ibu muda yang juga masih berstatus mahasiswa fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi swasta itu merasa bahagia. ‘’Setelah sembilan bulan dalam kandungan, akhirnya aku bisa mendengar suara bayiku,’’katanya dalam hati kala itu. Tiga hari kemudian, tiba saatnya Nayla membawa Reiza pulang ke rumah. Dan, seminggu kemudian, ibu maupun mertuanya yang sama-sama tinggal di luar kota pun pamit meninggalkan keluarga baru itu. Tinggalah Nayla, Tommy (25 tahun), suaminya, dan si kecil Reiza.
Pada malam harinya, pasangan muda itu mulai disibukkan dengan tangisan-tangisan Reiza. ‘’Aku tidak tahu kenapa dia menangis. Kadang-kadang, popoknya kering, sudah diberi ASI, dan suhu badannya normal, tapi menangis juga, terutama kalau aku pergi ke ruangan lain dan meninggalkannya di kamar, ’’kata Nayla kebingungan.
Kebingungan Nayla sebenarnya bukan hal yang terlalu aneh. Selain masih muda, ini juga pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu, apalagi ia harus merawat si kecil, Reiza sendiri, tanpa bantuan ibu/mertua atau bahkan pengasuh. Tentu saja, dibutuhkan kesabaran, untuk beradaptasi. Apalagi, menghadapi bayi mungil yang belum bisa bicara. Lantas, bagaimana caranya untuk saling berkomunikasi ya? Nah, menurut Barbara P. Homeier, MD sejak kelahirannya, bayi sebenarnya sudah mulai berkomunikasi. Caranya, melalui tangisan-tangisannya.
‘’Pada awal kelahiran, tangisan bayi seperti ‘bahasa asing’ bagi Anda. Tetapi, seiring waktu, Anda akan pandai menemukan ‘jawaban’ terhadap makna dibalik ‘bahasanya’, dan membuat Anda mampu memenuhi kebutuhannya,’’ katanya dalam kidshealth.org.
Demikian pula Anda, sebagai seorang ibu, sebenarnya sudah mulai berkomunikasi dengan si kecil dengan berbagai cara. ‘’Sesaat setelah lahir, Anda akan ‘memperkenalkan’ bayi cara Anda berkomunikasi dengannya. Misalnya, dengan menyentuh, memeluk,dll. Bayi akan mempelajari bahasa Anda, sebagaimana Anda mempelajari bahasanya,’’kata dokter dari Alfred I. duPont Hospital for Children
Wilmington itu.
Dia Tahu Siapa Ibunya
Menurut dr. H.M. Nana Karnaen, SpA, dokter spesialis anak, Brawijaya Women and Children Hospital, sebenarnya sejak bayi, anak sudah tahu siapa ibunya. Apalagi, jika Anda memberikan kepadanya ASI Eksklusif. Secara naluriah, si kecil dapat ‘membaui’ tubuh ibunya, dan bisa menyadari kehadiran ibunya. Termasuk, jika sang ibu tidak ada. Itulah kenapa, kadang-kadang bayi menangis, meski popoknya dalam keadaan kering dan perutnya dalam kedaan kenyang.
Terkadang, ia hanya memastikan bahwa ibunya ada di dekatnya. Pasalnya, meski belum bisa berbicara, ia dapat mendengar suara orang-orang disekitarnya, termasuk suara ibunya. Nah, jika ia merasa tidak mencium aroma tubuh Anda, dan tidak mendengar suara Anda, itulah yang mungkin membuatnya merasa tidak aman, lalu menangis ‘mencari’ Anda.
Ajak Ia ‘Bergaul’
Meski belum bisa bicara, bukan berarti Anda tidak perlu membiasakan diri berkomunikasi dengan buah hati Anda. Pasalnya, bayi, sejak lahir sebenarnya sudah mampu ‘bergaul’ dengan orang-orang terdekatnya, terutama ibunya. Artinya, dengan segala keterbatasannya, si kecil sudah dapat diajak berinteraksi.
Alasannya, menurut dr. Caroline Mulawi, SpA, dokter spesialis anak, RS Omni Medical Center, Pulomas, ikatan emosional Anda dan si kecil sudah terjalin sejak ia masih dalam kandungan. Nah, ikatan emosional inilah yang memungkinkan Anda dan si kecil memiliki ‘akses’ untuk saling berinteraksi, saling mengerti, dan memahami satu sama lain, meski dengan dengan 2 ‘bahasa’ yang berbeda.
Untuk itu, sangat penting bagi Anda untuk sesering mungkin mengajak si kecil berinteraksi. Ajak dia bicara disetiap ada kesempatan. Misalnya, saat mengganti popok, saat memandikannya, saat menyusuinya, dll. ‘’Kegiatan seperti itu dapat menimbulkan interaksi sosial ibu-anak, dan interaksi tesebut dapat menimbulkan rasa aman dalam diri anak,’’papar dr. Caroline, dalam materi presentasinya yang bertajuk Mother Infant Bonding. Interaksi sosial tersebut, bisa membuat anak enak makan (menyusu), nyenyak tidur, mudah buang air besar,dll. Tentu saja, si kecil juga jadi cenderung tidak rewel/sering menangis.
Mengenal Orang-orang Terdekatnya
Menurut dr. Nana, saat bayi berusia 5-6 bulan ia sudah lebih pandai mengenali orang-orang terdekatnya. Tidak hanya mengenal ibu dan ayahnya, si kecil pun sudah tahu siapa saja orang-orang yang tinggal bersamanya. Itulah mengapa, jika ada orang lain yang asing baginya tiba-tiba ada di rumah, apalagi langsung menggendongnya, umumnya, ia akan bereaksi dengan cara menangis. Untuk itu, jika ada kerabat yang datang mengunjungi rumah Anda, pastikan untuk tidak meninggalkan si kecil dengannya. Dampingi buah hati Anda, agar rasa amannya tidak terusik.
Belajar Mengenal Dunia Luar
Selain belajar mengenal orang tua, dan orang-orang terdekatnya, si kecil boleh saja diajak untuk mengenal ‘dunia luar’. Asalkan secara bertahap. ‘’Misalnya, pada usia 2 minggu di ajak ke teras rumah. Lalu, saat usianya bertambah diajak jalan-jalan di lingkungan komplek perumahan tempat tinggal, lama-lama (usia 2 bulan ke atas) mulai boleh di ajak bepergian ke tempat lain, misalnya ke mal,’’kata dr. Nana. Disamping dapat membuatnya belajar bahwa terdapat ‘dunia lain’ selain ‘dunia di dalam rumahnya’, juga dapat mengasah kemampuannya sosialnya (social skill). Ini berguna terutama pada masa yang akan datang. PG
Saat Tepat Membuat Si Kecil ‘Gaul’
Sebelum mengajak si kecil bepergian dan berinteraksi dengan ‘dunia luar’, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa hal, seperti :
- Usia bayi. Jangan paksakan keinginan Anda untuk membawanya bepergian, jika secara usia kondisi fisiknya belum memungkinkan.
- Bayi sehat. Pastikan ketika akan mengajaknya berinteraksi, dengan lingkungan luar ia dalam keadaan sehat.
- Jangan terlalu lama. Perhatikan waktu yang Anda gunakan untuk membawa si kecil ‘ke luar’ rumah. Jangan sampai terlalu lama. Selain bisa membuat anak bosan dan menjadi rewel, dikhawatirkan bisa membuatnya sakit. Pasalnya, di tempat umum, seperti mal, terdapat berbagai macam orang asing, bisa saja satu atau beberapa diantaranya sedang sakit. Bila terlalu lama, di tempat seperti ini bisa saja secara tidak sengaja membuat bayi tertular.
- Perhatikan cuaca. Jika, memang sedang hujan, mendung, berangin, panas terik, atau sudah larut malam, sebaiknya jangan paksakan membawa si kecil bepergian.
Powered by ScribeFire.
“Kembar Air” Bukan Karena Minum Es
‘’Yuk, silahkan diminum orange juice-nya?,’’kata Sisca (32 tahun), mempersilahkan adik iparnya, Shinta (26 tahun) yang sedang bertamu di rumahnya, agar meminum jus jeruk yang disuguhkannya. ‘’Mmh…makasih Mbak, tapi aku gak berani minum air es,’’ungkap customer service di sebuah bank swasta itu. Mendengar jawaban Shinta, ibu dua putra itu segera mengernyitkan dahinya, kebingungan. ‘’Memangnya, kenapa?,’’tanya Sisca, heran. ‘’Kata ibuku, kalau sedang hamil minum air es, apalagi kalau kebanyakan, bisa bikin kembar air,’’terang Shinta. ‘’Kembar air?,’’tanya Sisca, tambah bingung. ‘’Iya, perutnya jadi besar, seperti hamil anak kembar, padahal isinya air,’’kata Shinta lugu.
Ya, selama ini bermacam-macam mitos seputar kehamilan ‘beredar’ di masyarakat, ‘diwariskan’ dari generasi ke generasi, dan diyakini kebenarannya. Termasuk, mitos bahwa minum air es apalagi secara berlebih selama kehamilan bisa membuat perut si ibu membesar, seolah sedang mengandung anak kembar. Bisa jadi, mitos itu didasari atas fakta pada sejumlah kasus, kehamilan dengan ukuran perut ibu sangat besar, ternyata di dalam rahim ibu terdapat cairan dalam jumlah banyak. Tetapi, benarkah itu diakibatkan oleh konsumsi air es selama kehamilan?
Bukan Karena Air Es
Menurut dr. Nurwansyah, SpOG, dokters spesialis obstetri dan ginekologi, Brawijaya Women and Children Hospital, pendapat tersebut tidak benar. ‘’Kembar air itu istilah yang berasal dari masyarakat untuk bayi yang seolah ‘kembar’ dengan air.
Padahal, itu terjadi karena ukuran kandungan besar -karena air ketuban berlebih-sehingga seolah-olah kembar dengan air,’’paparnya. Kondisi seperti itu, lanjutnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan minum air es selama kehamilan. ‘’Minum berapa banyak pun air es, tidak akan berpengaruh pada kehamilan dan janin. Karena, sebenarnya di dalam rahim –saat hamil, ada plasenta dan bayi yang keduanya memiliki regulator. Jadi, jika minum banyak sekalipun, yang diserap hanya sesuai kebutuhan saja,’’paparnya.
Secara sederhana, bila diilustrasikan, saat Anda minum, air akan diserap usus, lalu masuk ke dalam jantung, sehingga membuat darah encer dan dapat beredar ke seluruh tubuh. Nah, sebagian lagi yang ‘tidak terpakai’ akan dibuang melalui urin.
Polihidramnion
Sebenarnya, kondisi ‘kembar air’ bukan disebabkan oleh minum air es, melainkan adanya kondisi polihidramnion. ‘’Polihidramnion adalah terkumpulnya cairan di dalam ketuban di atas 2 liter. Banyaknya air ketuban itu secara garis besar bisa disebabkan oleh faktor yang diketahui sebabnya, dan faktor yang tidak diketahui sebabnya,’’terang dr. Nurwansyah.
Faktor yang diketahui sebabnya, terjadi karena :
- Terdapat gangguan/sumbatan pada saluran pencernaan janin. Misalnya, bagian kerongkongan yang tidak berlubang, atau usus 12 jari yang tersumbat. Sehingga, memberikan dampak cairan ketuban lebih banyak dari seharusnya. Dalam keadaan normal, lanjutnya, bayi dalam kandungan selain akan minum, juga akan buang air kecil, dan buang air besar. Nah, yang diminum itu adalah air ketuban. Setelah minum, air akan masuk ke dalam perutnya, kemudian diserap oleh tubuh. Air terminum yang tidak terpakai, akan dibuang dalam urin dan feses janin. ‘’Jika ada sumbatan pada saluran pencernaan, yang terjadi adalah air ketuban menjadi banyak,’’tuturnya.
- Adanya infeksi. Infeksi bisa menyebabkan produksi air ketuban lebih sedikit, ataupun lebih banyak.
- Bayi kembar. Terjadi apabila pada kehamilan bayi kembar, terdapat kondisi Twin to twin Transfusion Sydrome (TTTS). Artinya, bayi yang satu menjadi donor, sedangkan yang lain menjadi resipien (penerima darahnya). Pada kasus seperti ini, biasanya salah satu bayi akan memiliki kelebihan cairan, sedangkan satunya justru hanya mempunyai sedikit cairan. Ini dapat terjadi karena adanya pembuluh darah yang terkoneksi antara tali pusat bayi yang satu ke bayi lainnya. Bila demikian, ini harus diputus agar tidak terjadi polihidramnion.
Sedangkan faktor yang tidak diketahui penyebabnya, berarti memang tidak diketahui kenapa bisa terjadi polihidramnion. ‘’Tetapi, pada kondisi ini umumnya dianggap ada gangguan pada selaput ketuban, sehingga ketuban menghasilkan cairan yang berlebihan,’’tuturnya. Penyebabnya, banyak yang mengaitkan dengan adanya kelainan kromoson, gen,dll.
Sementara itu, menurut Roland L. Boyd, DO, FAAP, FACOP, seorang neonatologi dari American Academy of Pediatrics, air ketuban dalam jumlah proposional tetap dibutuhkan bayi selama dalam kandungan. ‘’Sebenarnya, air ketuban dibutuhan bayi di dalam janin agar dapat bertumbuh kembang sesuai dengan seharusnya, tetapi, jika berlebihan tentu akan menimbulkan masalah lain,’’katanya dalam emedicine.com.
Bayi Prematur
Polihidramnion, kata, dr. Nurwansyah, tidak akan berdampak pada bayi, melainkan pada kehamilan. ‘’Jadi, umumnya, kehamilan tidak bisa berlangsung 9 bulan 10 hari, tetapi harus dilahirkan lebih cepat (prematur),’’ungkapnya. Pasalnya, bila dibiarkan kondisi ini akan membuat sang ibu merasa sesak sehingga tidak nyaman.
Menurut dr. Nurwansyah, polihidramnion dapat terjadi pada ibu manapun, dan hingga saat ini belum ada faktor pencegahnya, oleh karenanya lakukan pemeriksaan secara rutin sesuai anjuran dokter kandungan. Sehingga, kondisi kehamilan Anda dapat senantiasa terpantau.
Dengan demikian, jelaslah bahwa minum air es tidak akan menyebabkan kehamilan menjadi besar atau ‘kembar air’. Jadi, mulai sekarang, Anda tak perlu khawatir lagi untuk meminum air es ya. Apalagi, jika itu adalah es jus buah. Justru, akan membuat Anda merasa segar bukan? Nah, selamat minum ya! PG
Bisa Terdeteksi Setiap Saat
Menurut dr. Nurwansyah, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Brawijaya Women and Children Hospital sebenarnya kondisi polihidramnion dapat terdeteksi setiap saat, sepanjang Anda rutin memeriksakan kehamilan.
- Pemeriksaan tanpa USG. Jika terdapat kondisi ukuran rahim lebih besar dari usia kehamilan berdasarkan haid terakhir, misalnya usia kehamilan 16 minggu, tapi besarnya kehamilan seperti usia 20 minggu. Maka, dapat dicurigai adanya polihidramnion.
- Pemeriksaan USG (ultrasonografi). Untuk memastikan kecurigaan, dapat melalui pemeriksaan USG.
Powered by ScribeFire.
Aku Mau Minum Sendiri
Adnan (1,5 tahun) terlihat semangat minum sendiri dari gelas plastik berwarna biru. Sementara kedua tangannya memegangi gagang cangkir yang terdapat di kedua sisi gelas itu. ’’Wah, cucu oma sudah pintar minum sendiri ya?’’kata Sundari (55 tahun) saat bertandang ke rumah Alia (26 tahun), putri pertamanya, untuk menengok cucunya yang masih batita itu. ’’Iya, sekarang kalau mau minum, Adnan selalu mau melakukannya sendiri, bu,’’timpal Alia, bangga.
Kemampuan Adnan, kemungkinan juga dimiliki oleh anak-anak lain seusianya. Seperti diketahui, kemampuan anak melakukan sesuatu akan bertambah seiring dengan perkembangan usianya. Hal ini, seperti yang dituturkan oleh Jeremy Lichtman, MD, seorang dokter anak dari Pediatric Medical Associates di Pennsylvania. ’’Setelah usia 12 bulan, anak mulai mampu untuk berdiri sendiri, berjalan sambil memegangi satu furnitur ke furnitur lainnya, dan minum dari gelas,’’katanya di pennhealth.com.
Kemampuan minum dari gelas sendiri, merupakan dampak dari perkembangan organ-organ mulut si kecil. Kemampuan minum berkembang sesuai kematangan organ-organ mulut. Awalnya, di usia 0 bulan, refleks menelan yang berkembang. Sehingga masih sulit bagi bayi untuk melakukan ‘pengolahan’ makanan dan minuman dengan lidah atau gigi (gusi). Itulah sebabnya bayi sampai usia 6 bulan tidak disarankan untuk ‘makan’ atau ‘mengunyah’.
‘’Seiring dengan pertumbuhan si kecil, maka kemampuan organ makan pun akan berkembang. Rahang makin kuat, gigi geligi mulai tumbuh, dan lidah pun bisa mulai dikendalikan. Demikian pula dengan kemampuan minumnya,’’ kata Alzena Masykouri, M. Psi, seorang psikolog yang saat ini menjadi dosen luar biasa di Universitas Paramadina, Jakarta.
Bayi 6 bulan ke atas mulai dapat mengendalikan kecepatan minumnya, bahkan ia bisa menahan air (ngemut) sebelum ditelan. ’’Setelah usia 1 tahun, biasanya anak sudah mampu untuk mengendalikan laju/kecepatan air, misalnya anak minum dalam jumlah banyak, tapi yang ditelan sedikit-sedikit-tidak sekaligus sehingga tidak tersedak,’’kata psikolog lulusan Magister Psikologi Universitas Indonesia, Depok itu.
Si Kecil Ingin Mandiri
Kemampuannya minum sendiri, sebenarnya sejalan dengan perkembangan usianya. Pada usia ini, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, dan ingin melakukan banyak hal secara mandiri. Termasuk, minum sendiri. ‘’Setelah 10 bulan, biasanya anak menunjukkan keinginan untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Apalagi setelah 12 bulan. Inilah masa yang tepat untuk mengembangkan kemandirian atau autonomy yang sangat berguna untuk keterampilan hidupnya (life skill) kelak,’’ kata psikolog yang berpraktek di Klinik Kancil itu.
Meski demikian, Anda haruslah bersikap sabar dalam menghadapi keingintahuan yang sangat besar dari si kecil. Ingatlah, bahwa ini merupakan proses belajar baginya.’’Belajar adalah suatu proses, jadi butuh kesabaran dan ketelatenan untuk mendapatkan hasil yang optimal,’’Alzena mengingatkan. Terpenting bagi orang tua adalah membiasakan anak untuk memegang alat minumnya sendiri, dan mengajari sikap minum yang tepat.
Amati Kebiasaan Minum Anak
Memang di pasaran saat ini terdapat bermacam-macam jenis gelas plastik untuk anak, dengan rancangan ’gaya minum’ yang bermacam-macam. Sebut saja, gelas plastik bertutup yang dipinggirnya ada ‘moncong’ tempat keluar air, atau gelas dengan sedotan, gelas tanpa tutup,dll. Lantas, gelas seperti apa yang tepat digunakan si kecil? Menurut Alzena, Setiap gelas diciptakan dengan manfaat dan kelebihannya masing-masing.
‘’Kalau gelas bertutup, lebih untuk higienitasnya, bukan fungsinya. Sedangkan gelas yang ada ‘corong’ dan sedotan berguna untuk membantu anak dalam mengatur aliran dan jumlah cairan yang masuk ke dalam mulut,’’tuturnya.
Mengenai gelas mana yang lebih tepat, kata Alzena, tergantung pada kebutuhan anak. ‘’Bagi anak-anak yang tidak terbiasa menggunakan dot, mungkin gelas dengan sedotan atau bahkan gelas biasa menjadi pilihan. Tetapi bila terbiasa menggunakan dot, biasanya gelas dengan corong menjadi peralihan sebelum akhirnya menggunakan gelas biasa,’’paparnya. Untuk menentukan pilihan, dapat dengan cara mencoba setiap jenisnya atau dengan mengamati kebiasaan minum anak. Nah, selamat mengajari si kecil minum ya! PG
Kok Si Kecil Malas Belajar !
Seperti kata Jeremy Lichtman, MD, seorang dokter anak dari Pediatric Medical Associates di Pennsylvania., pada usia ini umumnya anak sudah bisa minum sendiri menggunakan gelas. Selain sesuai dengan fase perkembangan organ mulutnya, secara psikologis, ini pun menjadi momen bagi untuk si kecil belajar mandiri. Tetapi, sebenarnya tidak sedikit pula anak yang terkesan ‘malas’untuk melakukannya lho.
Inilah yang seringkali membuat para ibu frustrasi. ‘’Anak seringkali menolak perubahan, apalagi bila perubahan itu mengurangi rasa nyamannya. Bila ia terbiasa minum susu/air dengan menggunakan dot kemudian diminta untuk beralih menggunakan gelas yang notabene tidak lagi nyaman karena tidak bisa sambil tiduran, tentu ada reaksi penolakan,’’kata Alzena Masykouri, M. Psi . Nah, bila dihadapkan pada kondisi seperti ini, sebaiknya Anda :
- Konsisten. Kunci penting bagi orang tua adalah konsisten. Banyak orang tua yang gagal dalam masa peralihan ini karena merasa putus asa, kasihan melihat anak tidak ‘nyaman’, atau bosan berdebat/bertengkar dengan anak.
- Sabar. Bersabarlah untuk tetap konsisten mencoba membujuk dan mengajarinya. Pasalnya, bila Anda tidak konsisten dan sabar, tidak sedikit anak yang masih minum susu dari botol sampai usia SD. Bukan saja kemandirian yang tidak berkembang, tapi susunan gigi juga pasti terpengaruh.
- Libatkan anak dalam perubahan. Dalam setiap perubahan (misalnya, perubahan dari botol ke gelas, tidur di kamar sendiri, tidak lagi ditunggui di sekolah, punya adik baru, dsb), buatlah anak sebagai subyek, bukan objek yang harus menurut atau menerima perubahan apa adanya. Caranya, buat ia terlibat dalam perubahan itu dan merasa penting akan hasil yang dicapai. ‘’Alasannya, momen bahwa sang anak sudah besar biasanya sangat berpengaruh dalam pengembangan konsep diri,’’ucap penggagas dan pengelola Taman Bestari itu.
Powered by ScribeFire.
Dukungan: “Kado Ajaib” buat Ibu Menyusui
Irianti Soebroto (36 tahun), anjlok semangatnya manakala bayinya, Salsabila Fadhilah Putri (kini 3 tahun), belum juga bisa mengisap payudara pada 1-2 minggu pertama. Terlebih ketika ia tahu suaminya membawakan susu kaleng ke rumah, dan ibunya memberi dot kepada bayinya. Branch Manager sebuah bank swasta itu bukan tak berusaha memberi ASI. Sadar putingnya datar, ia mencoba memerah dengan pompa biasa dan memberikannya kepada Salsabila dengan sendok. Tapi hasil perahan amat sedikit, hanya 5 cc, dan lebih banyak yang tumpah ketimbang terminum.
“Minggu ketiga saya dapat nomor telepon Ibu Wiwik dari teman,” cerita Yanti, panggilan akrab Irianti. Sejak itu, ia intens berkomunikasi lewat telepon dengan Ibu Wiwik – yang ternyata seorang konselor laktasi – tentang cara memposisikan bayi di payudara, pentingnya menyingkirkan dot, serta tetap memerah dan memberi ASI dengan sendok. “Ibu Wiwik bahkan tiap hari meng-sms saya, ‘Gimana menyusuinya, ada kemajuan?’ Saya jadi semangat lagi.”
Yanti mulai mencoba memerah dengan pompa elektrik dan hasil perahannya meningkat sampai 150 cc. Bayinya pun mulai lancar minum lewat sendok. Tiga hari setelah Salsabila terampil minum ASI dengan sendok, kakak perempuan Yanti, Ani Soebroto, kebetulan bertandang dan menyaksikan keponakannya minum ASI pakai sendok. “Ngapain repot-repot? Langsung aja minum dari payudara!” ujar sang kakak. Celetukan itu semakin ‘mengompori’ semangat Yanti untuk mulai menyusu. Hasilnya? Ia berhasil menyusui Salsabila sampai usia 15 bulan, padahal sebelumnya semua orang memandang kasusnya sulit. Dan yang tak kalah penting, Yanti kini antusias menyemangati ibu-ibu lain agar tetap menyusui.
Kebutuhan Ibu Menyusui
Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Rahmah Housniati menyatakan, salah satu faktor ibu tidak memberi ASI adalah faktor ketidaktahuan. Tapi, banyak ibu yang cukup berpengetahuan tentang ASI tidak melakukannya, karena kendala lain. Misalnya, karena harus bekerja. “Yang dibutuhkan banyak ibu adalah support,” kata ibu berusia 29 tahun yang lebih dikenal sebagai Nia Umar ini.
Nia sukses memberi ASI eksklusif 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun kepada putrinya, Najya Hani Assegaf. Keberhasilannya membuat beberapa teman mulai menjadikannya tempat bertanya. Pengalaman Nia membuktikan, ibu yang mendapat dukungan dan berhasil menyusui biasanya antusias menularkan semangat dan mendukung ibu-ibu lain untuk menyusui. Mantan bos Nia, yang semula hanya berniat menyusui sampai 3 bulan, ia semangati untuk terus memberi ASI. Ternyata sang bos berhasil menyusui sampai 1 tahun. “Sekarang bos saya rajin menyemangati anak buahnya yang sedang menyusui,” kata Nia. Sampai-sampai, sang bos mempersilakan ruang kerjanya digunakan untuk memerah ASI!
Dukungan – tak hanya dari sesama ibu — adalah kado yang dibutuhkan seorang ibu menyusui. Keajaiban dukungan terletak pada kekuatannya untuk menyemangati seorang ibu, dan kemampuannya untuk menyebar ke segala penjuru. Sudahkah Anda menjadi pendukung ibu menyusui? PG
Tips Menjadi Pendukung Ibu Menyusui
- Luruskan niat: untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan mengharapkan balasan dari Sang Pencipta manusia.
- Bekali diri dengan pengetahuan memadai tentang ASI, teknik menyusui dan manajemen laktasi. Perbarui terus pengetahuan dari berbagai sumber: bacaan, tayangan, seminar, diskusi, pengalaman, dll.
- Bekali diri dengan pengetahuan tentang teknik konseling. Bila perlu, ikuti pelatihan konselor laktasi.
- Mulai dari yang terdekat dan termudah. Amati keluarga, sahabat, tetangga terdekat, atau rekan kerja. Adakah yang memerlukan dukungan untuk menyusui?
- Jangan pernah memaksa. Tugas pendukung ibu menyusui, sejatinya, adalah membantu ibu membuat keputusan yang terbaik bagi dirinya dan bayinya. Bukan membuatkan keputusan. Apalagi memaksakan sebuah keputusan. PG
Powered by ScribeFire.
Pentingnya Menyendawakan Bayi
Merawat bayi memang tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Apalagi, bagi para orang tua baru. Banyak informasi dan pengetahuan yang harus digali. Seperti halnya Vera yang melewatkan untuk menyendawakan bayi. Tentu saja itu bukan karena faktor kelalaian, melainkan karena faktor ketidaktahuan.
Padahal menyendawakan bayi setelah diberikan susu, merupakan langkah yang tak kalah penting untuk dilakukan. ‘’Menyusui bayi untuk pertama kalinya, bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi para ibu baru. Tetapi kemudian ini juga bisa saja menimbulkan masalah jika tidak mengetahui apa yang mungkin akan terjadi kemudian,’’kata Larissa Hirsch, MD, dokter anak dari Alfred I. duPont Hospital for Children, di Wilmington.
Pada dasarnya, bersendawa dapat membantu bayi untuk melepaskan udara/angin yang mungkin tidak sengaja ‘tertelan’ oleh bayi pada saat menyusu. Nah, jika bayi tidak disendawakan sementara ia telah ‘menelan’ angin cukup banyak kemungkinan si kecil dapat menderita kembung, cegukan, gumoh, muntah, dll. Selain mengurangi ketidaknyaman bayi, juga bisa membuatnya rewel dan menangis terus menerus.
ASI Meminimalkan Kembung
Menurut Dr. Andreas Liando, SpA, spesialis anak Omni International Hospital, Alam Sutera, menyendawakan bayi setelah menyusui memang perlu dilakukan, terutama pada bayi yang disusui dengan botol. ‘’Bayi yang diberikan susu botol akan cenderung lebih rentan ‘minum udara’ daripada yang minum ASI, ’’katanya. Pasalnya, pada saat si kecil meminum susu botol, ia dapat sekaligus menghisap udara melalui karet ‘puting’ botol tersebut. Semakin banyak ia menghisap udara, semakin besar pula kebutuhannya untuk disendawakan.
Oleh karenanya, bayi yang diberi ASI jarang mengalami kembung akibat ‘menelan angin’. ‘’Meski demikian, pada prinsipnya menyendawakan bayi setelah menyusui tetap baik,’’kata Dr. Andreas.
Menyendawakan Bayi
Banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk menyendawakan bayi. Diantaranya adalah
- Duduk tegak sambil memeluk bayi (over your shoulder). Pada posisi ini, dagu si kecil sebaiknya berada di bahu Anda. Pegangi kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap-usap punggungnya. Tak ada salahnya Anda menaruh handuk kecil/saputangan di bahu Anda. Untuk berjaga-jaga si kecil gumoh/olab.
- Pegangi si kecil dalam posisi duduk dipangkuan Anda, di tengah-tengah paha (sitting on your lap). Taruh satu tangan Anda di punggungnya, dan satu lagi diantara perut dan dadanya. Pastikan saja bahwa si kecil dalam posisi yang aman, dan nyaman. Setelah itu, usaplah dengan perlahan punggungnya sampai ia bersendawa. Oya, agar ia nyaman cobalah untuk menghamparkan handuk di seluruh paha Anda sebagai alas bayi.
- Posisi menelungkup di atas paha (lying face down on your lap). Hamparkan handuk agak tebal di paha Anda. Dengan hati-hati tempatkan si kecil pada posisi telungkup di atas paha. Usap perlahan punggungnya dengan tangan Anda.
- Jika dikehendaki, konsultasikan dengan dokter anak mengenai posisi dan tata cara menyendawakan bayi yang paling tepat untuk si kecil sesuai dengan tahapan usianya.
Perlu digarisbawahi adalah, pada dasarnya menyendawakan bayi tidak harus dilakukan oleh Anda, sebagai ibunya. Suami pun bisa saja berperan serta dalam menyendawakan si kecil.
Kapan Bayi Perlu Disendawakan?
Berikut ini adalah saat-saat yang tepat untuk menyendawakan si kecil :
- Setiap saat setelah selesai menyusui. Setelah si kecil merasa cukup kenyang menyusu, perlahan sendawakanlah ia. Ini penting bagi kenyamanan dan kesehatannya.
- Jika si kecil mulai terlihat tidak nyaman atau rewel saat disusui, berhentilah untuk sejenak (sekitar 10-20 menit). Lalu, cobalah untuk menyendawakannya terlebih dulu. ‘’Setelah ia bersendawa, bayi dapat mulai disusui lagi,’’terang Dr. Andreas.
- Jika Anda memberikan susu botol, sebaiknya bayi disendawakan setiap 60-90 mililiter (sekitar 30-60cc). ‘’Tetapi, jika si kecil disusui dengan ASI sebaiknya ia disendawakan setiap kali akan berganti posisi/peralihan dari satu payudara ke payudara lainnya,’’ungkap Hirsch dalam situs kidshealth.org.
- Adakalanya bayi terbangun dalam tidurnya karena kembung. Sendawakanlah si kecil agar ia dapat kembali melanjutkan tidurnya dengan nyaman.
- Jika bayi minum tergesa-gesa, berarti ia butuh disendawakan lebih sering. Tunggulah sampai ia mulai slowdown, lalu perlahan sendawakan si kecil. Setelah itu, Anda dapat mulai menyusuinya lagi.
Nah, setelah mengetahui betapa pentingnya menyendawakan si kecil mulai saat ini jangan pernah lupa melakukannya ya. Meski dibutuhkan kesabaran dan kehati-hatian dalam melakukannya, dengan cinta nan besar yang Anda miliki untuk si kecil semuanya tentu dapat dilaksanakan dengan mudah. Jadi, selamat menyendawakan si mungil ya! PG
Powered by ScribeFire.
Kenali Resiko Keguguran
Berdasarkan penelitian, wanita dengan kelainan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) ternyata memiliki resiko lebih besar mengalami keguguran hingga tiga kali, terutama pada bulan-bulan awal kehamilan (trimester pertama)
Mathilda (28 tahun) amat berbahagia ketika mengetahui bahwa ia sedang hamil. Sudah lama dirinya dan Joe (32 tahun) menginginkan keturunan, tepatnya sejak mereka merasa ‘kesepian’ karena merindukan hadirnya bayi mungil. Apalagi, ini bukan kali pertama Mathilda mengalami keguguran. Kejadian serupa pernah ia alami 6 bulan lalu. ‘‘Aku tak menyangka, keguguran akan menimpaku lagi,’’ucapnya lirih.
Ya, mungkin tak ada pasangan suami istri di dunia ini yang berharap akan kehilangan jabang bayinya. Terlebih, jika ini adalah kehamilan yang telah lama didambakan, seperti halnya Mathilda dan Joe. Memang, terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Jika keguguran Anda alami, sebaiknya tetap tegar dan jangan berputus asa. Galilah informasi yang lengkap tentang kemungkinan penyebab keguguran pada kehamilan Anda, agar dapat meminimalkan kemungkinan kejadian serupa di masa yang akan datang.
Keguguran
Keguguran merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan kondisi ‘kehilangan’ janin saat kehamilan sebelum usia kandungan 20 minggu. Situs nichd.nih.gov menyebutkan bahwa para peneliti memperkirakan keguguran terjadi pada 15% wanita yang menyadari bahwa dirinya tengah hamil. Sedangkan pada sejumlah kasus lainnya, peristiwa ini terjadi bahkan disaat sang ibu belum mengetahui bahwa dirinya tengah hamil.
Ada sejumlah faktor penyebab keguguran. Sebagian penyebab itu dapat diketahui, tetapi ada juga penyebab yang tidak diketahui. Pada sebagian besar kasus, keguguran terjadi tanpa bisa dicegah.
Menurut dr. Boy Abidin, SpoG, spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, keguguran bisa disebabkan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah :
- Faktor Usia. ‘’Makin bertambah usia wanita, makin tinggi pula resiko terjadi keguguran,’’kata dr. Boy. Terkait dengan faktor usia, D.K James dkk, dalam buku High Risk Pregnancy Management Options menuliskan presentasi resiko keguguran akibat usia, sebagai berikut :
|
Persentase |
Usia Wanita |
|
13,3% |
12-19 tahun |
|
11,1% |
20-24 tahun |
|
11,9% |
25-29 tahun |
|
15% |
30-34 tahun |
|
24,6% |
35-39 tahun |
|
51% |
40-44 tahun |
|
93,4% |
45 tahun ke atas |
Powered by ScribeFire.
10 CARA EFEKTIF BICARA Dengan SI BATITA
Kenali karakteristik serta kematangan berpikirnya.
Kalau Anda sudah tahu sifat-sifat si kecil dan bisa mengira-ngira kecepatannya menangkap informasi, Anda akan lebih mudah melakukan pendekatan yang pas untuknya. Ya, tiap anak pasti butuh pendekatan yang berbeda tergantung pada pembawaannya. Namun demikian, ada patokan dasar tentang resep berkomunikasi efektif dengan si kecil. Nah, mari kita simak patokan-patokan tersebut seperti disampaikan Linawaty Mustopoh Psi., dari Experd Consulting, berikut ini:
* Singkat dan sederhana
Akui saja, kita terkadang bingung bila mendengar pembicaraan yang panjang lebar atau ngalor-ngidul, bukan? Nah, apalagi anak-anak. Lantaran itu, gunakan bahasa yang sederhana dan singkat. Saat kita memberikan suatu intruksi, katakan “Yuk, cuci tangan sebelum makan!” Lebih baik lagi bila orangtua mencontohkan bagaimana cara melakukan hal tersebut.
Kemudian, saat berkomunikasi dengan si kecil perhatikan intonasi dan nada suara. Jangan terburu-buru atau dengan nada menghardik. Intonasi tak jelas atau nada terburu-buru, membuat si batita kurang tanggap akan apa yang dibicarakan.
* Jelas
Kemampuan berbahasa, si batita, kan, masih terbatas. Hindari kata-kata yang membingungkan. Misalnya, “Awas, jangan ke sana, nanti jatuh!” Anak, kan, jadi bingung, kenapa dilarang? Terus, maksud kata “ke sana” itu apakah ke ruang tamu, kamar, dapur, teras atau lainnya. Berbeda bila Anda mengatakan, “Sayang, kamarmu baru dipel. Masih licin. Duduk di kursi dulu ya!” Jadi, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya. Jangan sampai menimbulkan banyak pemahaman. Maka berbicaralah sesuai bahasa yang dipahami batita.
* Suara lembut
Namanya juga menghadapi anak, jadi harus disikapi dengan nada atau suara lembut dan menenangkan. Dengan begitu, si kecil seolah-olah tidak sedang dimarahi. Ucapan yang terdengar keras, suara tinggi atau penuh kemarahan, membuat anak me-rasa tak aman, nyaman bahkan takut. Apalagi kalau mengucapkannya dibarengi bahasa tubuh yang tidak menyenangkan, seperti bertolak pinggang. Jadi tunjukkan pula raut wajah yang cerah, kata-kata dan suara yang menyenangkan. Tak lupa pula untuk melakukan kontak fisik, misalnya sambil memeluk atau mengelus-ngelusnya.
* Konkret
Anak usia batita masih dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya, dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret. Dia belum dapat berpikir secara abstrak. Jadi, gunakan bahasa sekonkret mungkin. Misalnya, “Kamu jangan pelit dong sama teman.” Lebih enak kalau dibilang, “Yuk, mainnya sama-sama, tak perlu rebutan mainan.”
* Empati
Tempatkanlah diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak. Salah satunya adalah mau mendengar dan memahami si kecil. Entah itu keinginan atau keluhannya. Tentunya mendengar dalam arti luas, tidak hanya melibatkan indra pendengaran tapi juga perasaan atau mata hati. Jadi sebaiknya jangan menuntut anak untuk mengerti keinginan kita, tapi berusahalah memahami anak terlebih dahulu. Kelak, bersikap empati ini dapat menumbuhkan keterbukaan dan rasa percaya antara orangtua dan anak.
* Perhatikan Situasi dan Kondisi
Pilihlah waktu yang enak dan tepat saat mengajak si kecil berbicara. Jangan ketika anak sedang asyik bermain atau beraktivitas, tiba-tiba kita ingin mengajaknya ngobrol. Beri jeda waktu pada dia untuk me-nyelesaikan kegiatannya itu. Alih-alih mau berbincang, dia malah bisa merasa terganggu.
* Kembangkan dialog
Sebaiknya hindari kata-kata yang bernada satu arah atau bahkan cenderung memaksa, contoh,”Adek harus tidur siang, ya. Jangan membantah!” Sikap “otoriter” seperti itu hendaknya ditinggalkan. Jadi, kembangkan upaya dialogis. Biarkan anak mengutarakan pendapatnya. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi atau menyatakan apa yang ingin disampaikannya. Bisa kita pancing misalnya dengan cara, “Menurut Adek, tidur siang itu baik enggak?”
Dengan mengupayakan cara dialogis, komunikasi yang dijalin diharapkan lebih efektif. Contoh, ketika kita meminta tolong si kecil, daripada memberi perintah, “Nak, buang bungkus permen di tong sampah dong!”, lebih baik ajukan pertanyaan yang membuat anak sampai pada keputusan yang harus dilakukan. “Ayo, ke mana bungkus permen ini mesti dibuang?” Nada bertanya lebih efektif karena anak belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Lontaran pertanyaan seperti ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir si kecil.
* Konsisten
Saat berbicara dengan anak, tunjukkan kesungguhan atau konsistensi. Umpamanya, ketika memutuskan untuk mengatakan “tidak”, terhadap sesuatu hal, maka kita harus konsisten. Misalnya, tak boleh makan cokelat menjelang tidur. Dengan bersikap konsisten, maka tak memungkinkan anak untuk melakukan “tawar-menawar”. Sebaiknya sikap konsisten ini juga ditunjukkan semua orang di rumah termasuk saudara, kerabat atau kakek-neneknya. Anak akan paham aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan begitu, komunikasi yang dijalin bisa efektif.
* Tegas
Dalam berkomunikasi kita sebaiknya tegas. Tapi bukan berarti dengan marah. Sikap tegas diperlukan bila si kecil “membandel” atau melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah kita peringatkan. Misalnya, saat nonton teve, posisi duduknya selalu terlalu dekat. Padahal, kita sudah minta agar duduknya mundur atau menjauh. Bila dia tak juga mau menurut, maka boleh saja kita menarik tubuhnya agar menjauh dari teve. Beri alasan kenapa nonton teve tak boleh dekat-dekat karena bisa merusak mata.
* Beri pujian
Dalam berkomunikasi, unsur pujian mengandung makna positif buat si kecil. Dia akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya. Tiap si kecil berhasil melakukan sesuatu, kita sebagai orangtua jangan lupa untuk mengucapkan, “Terima kasih.” Berikan juga ciuman atau peluk sayang sebagai tanda kita merasa senang. Dengan merasa dihargai, anak pun belajar menghargai orang lain.
Hilman Hilmansyah. Ilustrator Pugoeh
Powered by ScribeFire.
8 “Rambu Makan” Si Kecil
Di usia ini, makanan yang ia asup makin bervariasi. Adakah ‘rambu-rambu makan’ yang harus ditaati?
Tak terasa, si kecil sudah menginjakkan kakinya di tahun kedua. Makanan yang ia konsumsi pun makin bervariasi. Mungkin tak jarang Anda memberikannya apapun yang Anda atau pasangan makan. Namun demikian, adakah rambu-rambu yang tetap harus diperhatikan?
Menurut dr. Sri Kurniati, SpGK —dokter spesialis gizi klinik dari Klinik Pela 9, Jakarta Selatan — pada umumnya anak berusia 1 tahun ke atas memang sudah bisa makan bermacam jenis penganan. Namun, ada juga beberapa anak yang belum siap. “Misalnya, yang memiliki kelainan seperti belum tumbuh gigi, sering muntah, atau keterlambatan perkembangan. Alhasil, makanan yang diasup oleh mereka pun harus diperhatikan,” ungkapnya. Jangankan mereka, anak yang tumbuh kembangnya normal pun, menurut dr. Sri, tetap harus menaati ‘rambu-rambu makan’. Apa saja?
Karakter Batita Anda
Sebelum membiasakan si kecil dengan makanan yang bervariasi, Anda perlu mengenal karakternya dulu. Memang, setiap batita itu unik. Namun, pada umumnya:
- Pertumbuhan mereka tidak sepesat 1 tahun pertama hidupnya. Alhasil, mereka tidak butuh banyak makan seperti yang Anda pikir. Jadi, jangan paksakan mereka untuk makan terus-menerus. Ia tahu kapan ia merasa lapar. Dan ingat, perutnya masih sebesar kepalan tangannya!
- Tidak mudah untuk memperkenalkan makanan baru pada mereka. Kuncinya, taruhlah makanan baru di sebelah menu favoritnya. Beri secara bertahap sedikit demi sedikit. Sehingga, ia menjadi terbiasa dengan makanan tersebut.
- Cepat bosan dan hanya menyukai makanan tertentu saja. Jangan heran ya, bila Anda kemarin memberikan daging cincang dan hari ini ia menolak memakannya!
- Sangat mudah teralihkan perhatiannya saat makan. Siaran televisi, mainan baru, anak tetangga yang datang ke rumah. Ya, apapun bisa mengalihkan perhatian si kecil dari makanannya.
Rambu-rambu Makan
Nah, setelah mengenal karakter si kecil, bukan berarti Anda bisa memberikannya semua jenis makanan. Tetap ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Berikut beberapa di antaranya :
- Jadwalkan waktu makan si kecil, dan perhatikan kandungan gizi dan kalori yang masuk ke tubuhnya. “Sebenarnya jadwal ini harus diterapkan minimal sejak ia berusia 7 bulan. Pasalnya, itu adalah masa kritis mereka. Bila pada usia itu, mereka tidak terbiasa dengan pola makan sehat. Misal, orang tua tidak membiasakan memberikan makanan padat dan hanya menuruti keinginan anak untuk minum susu saja. Bisa-bisa sampai umur 1 tahun ia sulit mengonsumsi makanan padat,” tutur dr. Sri, yang mengambil spesialisasi gizi klinik di Universitas Indonesia ini.
- Jangan berikan si kecil makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG) dan garam serta gula yang berlebihan. Intinya, berikan mereka makanan sehat nan segar. “Selain itu, bila ingin memberikan bakmi, pastikan memberikan bakmi putih yang bebas zat pewarna. Misalnya, kwetiaw atau bihun,” tutur dr. Sri.
- Bila anak sulit makan, tak perlu memaksakannya. Yang perlu Anda lakukan adalah, tetap sabar dan telaten. “Contohnya, bila hari ini ia hanya mau makan 5 sendok, besok coba berikan 6 sendok. Tapi jangan memaksa. Ia tahu kapan ia merasa kenyang,” ujar dr Sri lagi. Bila dipaksa untuk ‘membersihkan piring’ mereka bisa menganggap waktu makan sebagai hal yang tidak menyenangkan. Kalau sudah begitu, Anda makin sulit memberikannya makanan.
- Biarkan ia memilih mana makanan yang dimakan lebih dulu. Bila ia memilih kue-kue kecil — yang harusnya menjadi pencuci mulut – untuk dimakan lebih dulu, bukan masalah. “Kuncinya, jadikan waktu makan sebagai saat yang menyenangkan baginya,” cetus dr. Sri.
- Agar ia disiplin sejak kecil, pastikan ia dalam keadaan duduk saat makan. Lebih bagus lagi bila si kecil makan bersama Anda, pasangan, dan saudara kandungnya. Namun bila tidak memungkinkan, pastikan ada yang mendampingi ketika ia sedang makan atau minum. Hal ini penting, terutama untuk menghindarkannya dari bahaya tersedak.
- Jangan sekali-kali memberikannya makanan yang keras atau berisiko membuatnya tersedak. Jadi, potong kecil-kecillah makanan yang akan ia konsumsi, bersihkan ikan dari duri sebelum diberikan kepadanya, dan ingat, dampingi selama ia makan atau minum. “Kacang atau permen yang menurut orang tua kecil saja bisa membuat batita tersedak. Jadi sebaiknya hindari memberikan mereka makanan seperti itu. Kemudian, bila ingin memberikan biskuit, pastikan memberikannya biskuit bayi yang langsung hancur ketika terkena air liur. Biskuit dewasa tidak langsung hancur. Alhasil, walau diberikan hanya sedikit, si kecil bisa tersedak,” ungkap dr. Sri panjang lebar.
- Jangan terlalu kaku. Bila suatu hari Anda sekeluarga sedang makan di restoran fast food dan si kecil tergiur untuk mencobanya, berikan saja sedikit kepadanya. Biarkan ia mengeksplorasi segala jenis makanan — dalam porsi yang tidak berlebihan tentu saja.
- Jangan lupa membersihkan gigi, gusi dan lidahnya setiap kali ia selesai makan. Merawat kesehatan mulut, memang harus dimulai sejak kecil!
Terakhir namun tak kalah penting, berilah contoh pola makan yang sehat kepadanya. Ingat, si kecil belajar dari mencontoh kebiasaan Anda. Jangan harap ia akan suka sayuran bila Anda pun tidak pernah mau ‘menyentuh’ sayuran!PG
Hindari Dehidrasi!
Tidak semua batita bisa mengungkapkan rasa haus mereka. Padahal, mereka cenderung lebih mudah dehidrasi dibanding orang dewasa. Oleh karena itu, pastikan :
- Berikan ASI secara teratur sampai si kecil berumur 2 tahun.
- Batita yang sudah tidak diberikan ASI, harus minum minimal 500 ml susu setiap harinya.
- Tawarkan selalu air putih padanya di antara waktu makan utama maupun makan snack.
- Berikan buah-buahan yang banyak mengandung air.
- Bila ingin memberikan jus, batasi hannya 125-200 ml per hari. Pastikan itu adalah jus segar yang Anda buat sendiri.
Powered by ScribeFire.