Pustaka Digital Ibu dan Anak


www.naya.web.id online kembali

Posted in Uncategorized by nugraad001 on March 11, 2009

alhamdulillah,

naya.web.id dapat di bangkitkan lagi, setalah koma dan mati suri beberapa bulan terakhir.

hal ini karena kerusakan data base yang dikarenakan MIGRASI server yang dilakukan oleh Hosting Qword ….

Beberapa artikel hilang musnah entah kemana…
terutama nama bayi ….. sedihnya…

padahal nama bayi lagi dibutuhkan untuk adik-nya naya yang sedang dalam kandungan…..

terpaksa harus browsing lagi deh……..

terimakasih

aditia

Enterobacter sakazakii Si Cantik yang Patogenik

Posted in Uncategorized by nugraad001 on March 8, 2008


Namanya terdengar begitu
cantik. Diambil dari nama seorang ahli bakteriologi asal Jepang, Riichi
Sakazaki, Enterobacter sakazakii kini namanya sedang berkibar.
Sayangnya, di balik kecantikan namanya, tersimpan bahaya yang mematikan
akibat racun yang dihasilkannya. Beberapa pekan terakhir ini nama
Enterobacter sakazakii menjadi perbincangan hangat karena keberadaannya
disinyalir mengontaminasi produk susu formula dan makanan khusus bayi
di Indonesia. Hasil penelitian yang menghebohkan ini membuat masyarakat
bertanya-tanya mikroorganisme apakah Enterobacter sakazakii?

Sifat “Enterobacter sakazakii”

Enterobacter sakazakii atau yellow
pigmented Enterobacter cloacae ditemukan pertama kali oleh Farmer pada
tahun 1980. Di dunia kedokteran bakteri ini berkerabat dekat dengan
Salmonella, dalam keluarga Enterobacteriaceae. Bakteri ini dapat
menginfeksi dan bersifat patogen karena menghasilkan enterotoksin
(racun).

Habitat alami Enterobacter sakazakii
tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, bakteri ini dapat dideteksi
dalam usus manusia sehat sebagai “intermittent guest”, usus hewan, dan
lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar yang dimaksud meliputi
lingkungan industri makanan (pabrik susu, cokelat, kentang, sereal, dan
pasta), lingkungan berair, lingkungan rumah sakit, dan sedimen tanah
yang lembap. Patogen ini pernah pula ditemukan pada beberapa jenis
serangga, tikus, dan cairan dari makhluk hidup.

Seperti halnya mikroba lain, bakteri
ini memiliki beberapa sifat atau ciri yaitu tidak berspora, motile
(bergerak aktif), merupakan bakteri gram negatif bersifat oksidatif
negatif, anaerob fakultatif, berbentuk batang, menghasilkan
enterotoksin melalui uji sitolisis dan dapat memfermentasi glukosa.

Untuk mendukung pertumbuhan hidupnya,
Enterobacter sakazakii membutuhkan faktor-faktor pendukung seperti
nutrisi (karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, vitamin, dan trace element),
air (melalui udara yang lembap), oksigen, waktu untuk berkembang biak
dan suhu yang sesuai.

Kontaminan susu formula bayi

Sungguh sangat mengejutkan jika
tiba-tiba bayi terinfeksi Enterobacter sakazakii setelah mengonsumsi
susu formula atau makanan khusus bayi, terutama ketika diketahui susu
formula bayi usia 0 hingga 6 bulan merupakan media yang potensial bagi
infeksi bakteri ini. Toksin bakteri ini berbahaya untuk bayi karena
menyebabkan diare berat, meningitis (radang selaput otak), necrotizing
enteroclitis (radang usus), sepsis, bacterimia (peningkatan jumlah
bakteri dalam darah), kista otak, bahkan sampai kematian.

Bayi yang terinfeksi Enterobacter
sakazakii sebanyak 60 persen, khususnya terjadi pada bayi di bawah usia
1 tahun, tepatnya 66 persen pada bayi berusia kurang dari 1 bulan,
terutama bayi yang lahir prematur, bayi berat badan lahir rendah (berat
badan kurang dari 2.5 kg), bayi dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh,
dan bayi yang ibunya teridentifikasi HIV-AIDS. Adapun risiko bayi di
atas satu tahun dan berbadan sehat sangat kecil kemungkinannya.

Hasil penelitian Fakultas Kedokteran
Hewan IPB mengungkapkan, 22,73 persen dari 22 sampel susu formula bayi
dan 40 persen dari 15 sampel makanan khusus bayi yang dipasarkan antara
April-Juni 2006 terkontaminasi Enterobacter sakazakii. Publikasi ini
mengejutkan banyak pihak walaupun sebenarnya keberadaan Enterobacter
sakazakii dalam susu formula bukanlah hal baru di kalangan peneliti
pangan. Keterkaitannya sebagai penyebab meningitis pada bayi karena
Enterobacter sakazakii dalam susu formula telah diidentifikasi sejak
1983.

Pada dasarnya terdapat tiga jalan
bagaimana Enterobacter sakazakii dapat mengontaminasi susu formula bayi
dan makanan khusus bayi.

Pertama, kontaminasi terjadi pada
bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi produk. Kedua,
kontaminasi terjadi pada produk yang dihasilkan atau pada bahan kering
lainnya setelah pasteurisasi. Ketiga, kontaminasi terjadi pada saat
produk disiapkan sebagai makanan yang akan dikonsumsi bayi. Termasuk
dalam hal ini kebersihan peralatan yang digunakan (botol dan sendok
pengaduk) dan personal hygiene yang menyiapkannya.

Dilihat dari segi epidemologi, dari
tahun 1983-2004 terdapat kasus Enterobacter sakazakii pada bayi terkait
susu formula. Kasus meningitis pertama yang disebabkan bakteri ini
dilaporkan di Inggris, kemudian diketahui juga terjadi di Denmark,
Belanda, Eslandia, Canada, dan AS. Berdasarkan survei The US FoodNet
tahun 2002, laju invasi Enterobacter sakazakii menginfeksi sejumlah
bayi di bawah usia 1 tahun adalah 1 banding 100.000 bayi.

Tak perlu panik

Pemaparan tentang bahaya yang
diakibatkan infeksi bakteri ini terhadap bayi tidak menjadi alasan
dihentikannya pemberian susu formula atau makanan khusus bayi, terutama
untuk para bayi dengan kondisi khusus dan tidak mendapat ASI. Mudah
saja, karena bakteri ini akan mati dengan pemanasan.

Susu formula atau makanan khusus bayi
bukanlah produk yang steril. Oleh karena itu, perlu diperhatikan tata
cara penyajian, penggunaan, dan penyimpanannya untuk menghindari
infeksi Enterobacter sakazakii. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan terkait dengan penyajian susu formula yang akan dikonsumsi
bayi di antaranya.

Pertama, air yang digunakan untuk
menyeduh susu bersuhu minimal 70 derajat Celsius. Kedua, kebersihan
kebersihan botol dan sendok penyeduh (sterilisasi). Ketiga, good
personal hygiene dari penyaji. Keempat, harus dikonsumsi segera, tidak
boleh disimpan lebih dari 4 jam setelah dicairkan. Kelima, jika tidak
dikonsumsi, disimpan pada suhu dingin 10 derajat Celsius dengan jarak
antara pembuatan dan konsumsi susu harus seminimal mungkin.

Tidak hanya dipandang dari sudut
penyajian konsumen, perlu diperhatikan pula kerja sama yang baik dari
produsen sebagai pihak yang memproduksi susu formula dan makanan khusus
bayi. Kerja sama yang baik ini sangat penting adanya guna
meminimalisasi terjadinya kontaminasi Enterobacter sakazakii pada
produk.

Pemerintah mendorong produsen untuk
meningkatkan kisaran steril pada produknya, menekan konsentrasi dan
prevalensi Enterobacter sakazakii di lingkungan pabrik, menerapkan
sistem pengawasan lingkungan yang ketat dan efektif, serta menggunakan
pemeriksaan Enterobacteriaceae sebagai salah satu indikator
pengontrolan higienitas dalam alur produksi di pabrik. Selain itu,
untuk memudahkan konsumen, pelabelan pada produk hendaknya
diperhatikan. Pada setiap produk susu formula dan makanan khusus bayi
dilengkapi dengan informasi jelas mengenai tata cara penyiapan,
penggunaan, dan penyimpanannya.

Sejatinya, bila kita mengetahui
persis bagaimana menyiapkan, menggunakan, dan menyimpan susu formula
secara baik dan benar, kasus-kasus kepanikan yang melanda kita ini
dapat direduksi sedemikian rupa. Tentunya, sambil menunggu informasi
terkini terkait masalah susu formula bayi ini, ada baiknya kita tetap
bijak dalam memilih dan menggunakan susu formula bayi tersebut.***

Virna Berliani Putri
Alumnus Jurusan Teknologi Pangan IPB, aktif di Seafast Center
(Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center).

Dadan Rohdiana
Peneliti di Laboratorium Pengetahuan Bahan Pangan, Jurusan Teknologi Pangan Unpas.

Menghadapi Myom Saat Kehamilan

Posted in Uncategorized by nugraad001 on January 2, 2008

parent-guide.jpg

Layaknya kista, myom pun dapat menimpa wanita hamil.Bedanya, bila kista menyerang indung telur, myom lebih pada rahim ibu. Bila dibiarkan, ia dapat menyebabkan pertumbuhan janin terganggu.

Elena (25 tahun)  merasa sangat gusar. Betapa tidak, pada kehamilan pertamanya yang saat ini menginjak usia 4 minggu, dokter menemukan myom pada rahimnya. ‘’Mendengar kabar kehamilan ini, aku sangat bahagia, tapi setelah didiagnosis adanya myom pada rahim, tentu saja aku bingung dan takut,’’katanya kepada Betty (45 tahun) mertua Elena melalui telepon genggamnya. ‘’Ma, bagaimana seharusnya aku menghadapi ini?’’tanyanya lirih.

Sebenarnya, istilah myom mungkin bukan sesuatu asing ditelinga Anda. Meski demikian, tentu tak pernah terbentik dalam benak, apabila Anda akhirnya benar-benar memilikinya dalam rahim. Terlebih, bila saat ini Anda tengah hamil muda. Padahal, ia justru berbahaya pada usia kehamilan muda. ‘’Pada usia kehamilan kurang dari 3 bulan, myom bisa saja menyebabkan janin abortus/keguguran,’’kata dr. Budi Wiweko, SpOG, spesialis obstetri dan ginekologi, Rumah Sakit Bunda Margonda, Depok.

Berbeda dengan kista, lanjutnya, myom menyerang rahim atau uterus. ‘’Bila kista kita definisikan sebagai tumor yang terdapat pada indung telur, maka sebaliknya myom kita sebut sebagai tumor jinak yang umumnya terdapat pada rahim atau uterus,’’paparnya. Dalam situs uterine-fibroids.org, myom atau populer juga dengan sebutan myoma memiliki ukuran yang berbeda-beda, dan pada banyak kasus pertumbuhannya lambat, serta tidak dibarengi dengan gejala yang berarti. Sehingga, ada kalanya seseorang yang memiliki myom pun tidak menyadarinya. Tetapi, apabila myom ternyata terdeteksi saat mengandung, tentu saja ini harus mendapat perhatian lebih,  dari pada bila diketahui sebelum hamil.

Mempengaruhi Janin
Dalam situs uterine-fibroids.org pun disebutkan bahwa penyebab pasti myom belum diketahui, akan tetapi myom memiliki kecenderungan berkembang sangat cepat pada tubuh wanita hamil.

Apabila myom menyerang  rahim wanita  hamil, maka ia bisa mempengaruhi kondisi kehamilan. Sebaliknya, kehamilan pun dapat memberi pengaruh kepada myom itu sendiri. Dr. Budi menerangkan pengaruh myom terhadap kehamilan, antara lain :

  • Pada usia kehamilan muda (kurang dari 3 bulan), myom dapat menyebabkan ibu hamil mengalami keguguran atau abortus pada janin.
  • Apabila kehamilan bertambah besar, myom bisa berdampak pada pertumbuhan janin. ‘’Ia dapat saja menyebabkan pertumbuhan bayi terganggu, karena nutrisi yang seharusnya untuk janin, justru diserap oleh myom-nya,’’terangnya.
  • Semakin tua usia kehamilan, myom pun dapat menyebabkan kelainan letak janin. Sehingga, bisa saja janin mengalami sungsang atau letaknya melintang.
  • Pada saat menjelang  persalinan, myom dapat mengganggu kontraksi, dan saat melahirkan, ia pun dapat mengganggu proses persalinan, atau bahkan menyebabkan pendarahan.

Sedangkan pengaruh kehamilan terhadap myom, diantaranya :

  1. Myom bisa bertambah besar karena pada kehamilan ada hormon-hormon yang dominan, seperti progesteron dan estrogen. Keduanya dapat menyebabkan ukuran myom membesar.
  2. Saat hamil, myom dapat semakin kurang mendapat pasokan oksigen atau kurang mendapat aliran darah, myom pun dapat berubah dari padat menjadi cair. Sehingga, ia bisa berdegenerasi. Alhasil, ibu hamil dapat merasa kesakitan.

Banyak Cara untuk Sembuh
Perasaan cemas menghadapi kehamilan dengan keberadaan myom pada rahim, memang merupakan sesutau hal yang wajar. Meski demikian, sebenarnya terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengobati/menghilangkan myom dari rahim Anda.  Dari mulai pengobatan melalui terapi medis hingga operasi, tergantung dari seberapa besar ukuran myom dan kadar gangguan kenyamanan ibu hamil. Oleh karenanya, konsultasi yang rutin dengan dokter spesialis sangat penting untuk dilakukan.

Dalam mayoclinic.com disebutkan bahwa ada beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan dalam menentukan cara pengobatan dari myom, diantaranya :

  • Tipe gejala yang dimiliki. Seberapa besar pengaruhnya terhadap kenyamanan/aktivitas sehari-hari.
  • Keinginan Anda untuk mempertahankan kehamilan dan rencana untuk hamil lagi di kemudian hari.
  • Perasaan/psikologis Anda menghadapi operasi, apakah Anda cukup siap melakukan operasi (bila memilih untuk dioperasi).
  • Seberapa dekat usia Anda dengan kemungkinan menopause.

Pada banyak kasus, myom tidak membahayakan. Bahkan, banyak pula wanita hamil yang tetap dapat melahirkan bayinya sesuai rencana, meski pun saat mengandung terdiagnosis memiliki myom. Meski demikian, untuk memantaunya, Anda membutuhkan bantuan dokter spesialis. PG


Jangan Panik
Menurut dr. Budi Wiwedo, SpOG, spesialis obstetri dan ginekolog Rumah Sakit Bunda Margonda, Depok, meski tetap harus dihadapi, myom termasuk ke dalam jenis tumor jinak. Oleh karenanya :
  • Jangan panik. Apalagi kepanikan/tegang bisa menyebabkan stress, padahal Anda sedang hamil. Sebaiknya, tenangkan pikiran dan jalani kehamilan dengan rileks.
  • Konsultasi dengan dokter kandungan secara rutin dan intensif. Sehingga, dokter kandungan dapat senantiasa melakukan observasi dan memonitor kondisi janin dan pertambahan ukuran myom. Dengan demikian, dokter pun dapat mengambil tindakan medis yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan ibu, janin, dan ukuran myom-nya sendiri.
  • Doa. Jangan lupa untuk tetap berdoa dan berserah  pada Tuhan YME agar diberikan kesembuhan.

Powered by ScribeFire.

“Perisai” si Kecil di Tahun Kedua

Posted in Uncategorized by nugraad001 on January 2, 2008

parent-guide.jpg

Begitu bisa berjalan, anak mengeksplorasi lingkungan yang lebih luas. Risiko terinfeksi bakteri dan virus pun meningkat, padahal kekebalan tubuh anak belum sempurna. Pemberian ASI di tahun kedua meningkatkan kekebalan tubuh anak batita.

Ditya, Riza dan Dani, tiga anak lelaki yang bersaudara sepupu. Ditya langganan pilek dan mengidap asma sejak batita. Riza, di usianya yang belum genap dua tahun, sudah dua kali menjalani rawat-inap di rumah sakit karena diare. Ia juga sering batuk dan panas karena radang tenggorokan. Sedangkan Dani, meski mengalami juga pilek, batuk dan radang tenggorokan, tidak mengidap asma dan tidak pernah diare — apalagi sampai dirawat di rumah sakit.

Ditya disusui ibunya sampai usia tiga bulan, tapi di rumah sakit sudah dikenalkan susu formula. Sejak usia 3 bulan Ditya sepenuhnya diberi susu formula. Riza disusui sampai lima bulan, tapi sudah dikenalkan susu formula sejak awal. Sejak usia 3 bulan Riza diberi susu formula di siang hari. Di usia 5 bulan Riza sepenuhnya diberi susu formula. Dani disusui eksklusif sejak lahir. Mulai usia 3 bulan ia diberi ASI perah eksklusif di siang hari, sementara pagi dan malamnya tetap disusui. Mulai usia 6 bulan Dani diberi ASI perah bersama makanan pendamping, pagi dan malam tetap disusui. Di tahun keduanya, Dani tidak mendapat ASI perah lagi (sudah makan nasi), tapi tetap disusui pagi dan malam.

Nurita, ibu Dani, bersyukur putranya tidak mengalami sakit yang ‘berat-berat’ seperti saudara-saudara sepupunya. Ia mengatakan, bisa saja salah satu penyebabnya adalah karena Dani mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, dan masih disusui sampai sekarang. “Target saya memang menyusui Dani sampai umurnya dua tahun. Saya senang kalau ternyata ASI bikin Dani lebih sehat. Soalnya anak seumur Dani biasanya sering sakit. Habis segalanya dicoba”
 
Risiko Menjelajah
Di tahun kedua, anak batita biasanya sudah bisa berjalan, punya rasa ingin tahu yang besar, sudah mulai minum dan makan segala-macam. Walhasil, area jelajah anak meluas, baik di dalam maupun luar rumah. Objek pengamatan mereka bertambah, baik orang, hewan atau benda. Minuman dan makanan yang masuk ke mulut mereka pun beragam. Semua itu baik untuk perkembangan anak batita, tapi di sisi lain memperbesar kemungkinan mereka bertemu bakteri serta virus penyakit yang lebih banyak dan beragam.

Dalam Fatcs for Life di situs online UNICEF disebutkan, “Bayi-bayi sering jatuh sakit begitu mulai merangkak, berjalan, bermain, serta minum dan makan makanan selalin ASI.” Untuk menghadapi macam-macam bakteri dan virus, sistem kekebalan tubuh anak batita belum sepenuhnya berkembang. Itulah sebabnya mereka kurang tahan melawan berbagai penyakit. Dan jika anak batita sakit, gejala yang mereka alami bisa lebih parah dibandingkan gejala yang dialami anak yang lebih besar – meski bakteri atau virus penyebabnya sama. 
   
Pentingnya Pemberian ASI
Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu melindungi tubuh anak dari berbagai penyakit selama tahun kedua ini? Selain pemberian makanan padat yang bergizi seimbang serta imunisasi dasar, berbagai sumber menyebutkan pentingnya pemberian ASI. UNICEF, misalnya, memberi panduan agar anak usia 12-24 bulan disusui sesering mungkin, dan diberi makanan keluarga lima kali sehari. Apa manfaat memberi ASI kepada anak di tahun kedua hidup mereka? Inilah beberapa di antaranya:          

  1. ASI di tahun kedua meningkat kandungan faktor kekebalannya. Penelitian menyebutkan, zat antibodi tersedia dalam jumlah besar di dalam ASI selama masa menyusui. Tapi Goldman dan Goldblum menemukan, sebagian faktor kekebalan dalam ASI meningkat konsentrasinya selama tahun kedua dan selama proses penyapihan.
  2.  ASI memperkecil risiko sakit pada anak usia 16-30 bulan. American Academy of Family Physicians melihat, anak-anak yang disapih sebelum usia 2 tahun meningkat risiko sakitnya (AAFP 2001). Penelitian lain menyebutkan: anak usia 16-30 bulan yang disusui lebih jarang sakit, dan sakitnya lebih singkat dibanding anak sebaya yang tidak disusui.
  3.  Pemberian ASI jauh di atas usia 6 bulan cegah alergi dan asma. Salah satu cara terbaik mencegah alergi dan asma, menurut berbagai penelitian, adalah menyusui eksklusif selama 6 bulan dan meneruskan menyusui sampai jauh sesudah itu. Memperlama pemberian ASI, berarti ‘menunda’ persinggungan bayi dengan alergen, dan memperkecil kemungkinan terjadinya reaksi alergi. ASI sendiri membantu mempercepat pematangan lapisan pelindung dalam usus bayi, melapisi usus bayi dan menghalangi masuknya molekul penyebab alergi ke dalam darah bayi, serta memberi perlindungan antiradang, sehingga mengurangi risiko infeksi-pemicu-alergi.
  4. ASI diperlukan anak yang sedang sakit. UNICEF merekomendasikan anak (batita) yang sakit diberi ASI banyak-banyak, karena ASI adalah makanan bergizi yang paling mudah dicerna jika anak sedang kehilangan nafsu makan. Bahkan WHO menyatakan, kenaikan angka menyusui bisa mencegah sampai 10 persen kematian seluruh anak balita.  

Ada rencana menyapih si kecil setelah ulang tahun pertamanya? Tundalah. ASI akan menjadi salah satu ‘perisai’ penting yang membantu melindungi kesehatan si kecil di tahun keduanya. PG


 ASI di Tahun Kedua Kaya Nutrisi!

  • ASI di tahun kedua lebih ‘kaya’ lemak dan energi. Penelitian Dr. Dror Mandel, dkk menyebutkan, ASI dari para ibu yang sudah menyusui lebih dari 1 tahun meningkat kandungan lemak dan energinya, dibanding ASI dari para ibu yang menyusui lebih singkat. Penelitian ini dimuat di jurnal Pediatrics, 2005. 
  • ASI di tahun kedua adalah sumber lemak dan vitamin A yang tak tergantikan. Penelitian Adelheid W. Onyango dkk menyimpulkan, ASI adalah sumber lemak dan vitamin A yang tak tergantikan oleh makanan sapihan apapun. Saat makanan sapihan tak memadai sebagai sumber gizi utama karena asupan minim (misalnya, saat anak ‘susah makan’) ASI menjadi sumber gizi yang semakin penting di tahun kedua, tapi tidak menjamin kecukupan asupan gizi secara keseluruhan. Penelitian ini dimuat di buletin WHO tahun 2002.
  • ASI di tahun kedua tetap menyediakan sejumlah zat gizi penting. Merujuk Profesor Kathryn Dewey, ahli nutrisi dari College of Agricultural and Environmental Sciences, AS (2001), ASI selepas tahun pertama tetap menyediakan sejumlah zat gizi penting — terutama protein, lemak dan sebagian besar vitamin — dengan (jumlah dan kualitas) baik. ASI di tahun kedua (usia 12-23 bulan) mampu mencukupi:
  • 29% kebutuhan energi anak usia 12-23 bulan
  • 43% kebutuhan protein
  • 36% kebutuhan kalsium
  • 75% kebutuhan vitamin A
  •  76% kebutuhan asam folat
  • 94% kebutuhan vitamin B12
  • 60% kebutuhan vitamin C. PG

Mmm… Nyaman Dipeluk Mama!
Mengapa anak usia 1 tahun senang minta dipeluk? Sebut saja namanya Sibitu, asal Jepang. Dari tingkah laku dan gerak-geriknya, usianya diperkirakan 1-3 tahun. Suatu hari, tanggal 8 Juni 2007, Sibitu duduk sendirian saja di ruang Laboratorium Osaka University, Jepang. Ketika Shuhei Ikemoto, salah seorang mahasiswa Osaka University menunduk dan menggenggam tangannya dengan hangat, Sibitu balas menatap Shuhei.

Sibitu, si kecil yang diduga berusia 1-3 tahun itu, tampaknya senang jika ada yang menyentuhnya. Tingkahnya benar-benar seperti anak batita pada umumnya. Tapi Sibitu, yang namanya biasa ditulis CB2 itu, bukan anak batita. Seperti diberitakan Associated Press, CB2 adalah Child-Robot with Biomimetic Body –  robot anak ciptaan sekelompok ilmuwan peneliti Jepang.

Meski ukurannya terlalu besar untuk ukuran tubuh anak batita (tinggi sekitar 122 cm, berat sekitar 35 kg), robot-anak ini dirancang untuk bergerak dan bertingkah mirip anak usia 1-3 tahun sungguhan: ekspresi wajahnya bisa berubah-ubah, tubuhnya bisa mengayun ke depan dan ke belakang, bisa bicara dengan pita suara buatan, bisa ‘menatap’ karena matanya dilengkapi kamera kecil, dan bisa mendengar dengan sensor bunyi. Yang istimewa, CB2 punya 197 sensor untuk sentuhan!

Pelukan: Sentuhan Besar 
Kehadiran CB2, seperti halnya kehadiran Tinky Winky, Dipsy, Lala dan Po –empat tokoh film Teletubbies — yang sering mengulang-ulang kalimat “Berpelukan!” sambil memeluk satu sama lain, mengingatkan kita kembali betapa pentingnya arti sentuhan, terutama bagi anak kecil.

Sentuhan adalah ‘kebutuhan vital’ manusia. Deborah Spaide — penulis Teaching Your Kids to Care, pendiri Kids Care Clubs and Family Cares, AS – dalam tulisannya Stress and Fear in Children menyebutkan bahwa kulit kita dipenuhi syaraf-syaraf yang bertindak sebagai penerima-sentuhan. Dan ini, menurut Spaide, membuktikan bahwa tubuh kita dirancang untuk merespon sentuhan.

Sentuhan juga menyehatkan tubuh. “Sebuah sentuhan kecil saja bisa menurunkan tekanan darah, meredakan depresi, memperkaya fungsi kekebalan, menurunkan kadar hormon-hormon stres, meningkatkan penyerapan makanan, merangsang hormon-hormon pertumbuhan, bahkan mengatur suhu tubuh,” tulis Spaide, dalam situs online-nya, soulrise.com. Ia menambahkan, sentuhan memudahkan transfer energi, cinta, penerimaan, kehangatan dan kasih sayang dari seseorang kepada orang lain.

Jika sebuah sentuhan kecil saja begitu besar manfaatnya, bagaimana dengan sebuah pelukan? Pelukan bisa dibilang ‘sentuhan besar’. Ia melibatkan permukaan kulit yang amat luas. Pelukan orang tua terhadap anak kecil yang usianya belum dua tahun bahkan menyentuh hampir seluruh permukaan kulit anak, dari kepala sampai kaki. Bisa dipastikan, manfaatnya terhadap anak akan luar biasa.   

Lima Manfaat Pelukan   
Apa saja manfaat ‘sentuhan besar’ bernama pelukan, untuk anak batita? Inilah segelintir di antaranya:

  1. Membuat otak tumbuh. Memeluk anak dengan tulus berarti memberinya sentuhan dan kasih sayang. Sedangkan kasih sayang dan sentuhan, menurut ilmuwan ahli syaraf University of California, Berkeley Marian Diamond, Ph.D., benar-benar menyebabkan otak anak tumbuh. Dr. Marian adalah penulis buku Magic Trees of the Mind: How to Nurture Your Child’s Intelligence, Creativity, and Healthy Emotions from Birth Through Adolescence.
  2. Menentramkan hati. Menurut Robert P. Lindeman, MD, Ph.D dari Natick Pediatrics, Massachusetts, AS, anak batita sangat sering memeluk (dan mencium) ibu atau ayahnya. Ini adalah cara anak untuk terus menerus menentramkan kembali hatinya, bahwa dirinya tetap disayang.
  3. Memberi anak rasa-kedekatan. Merujuk buku Building Healthy Minds: The Six Experiences That Create Intelligence And Emotional Growth In Babies And Young Children dari Dr. Stanley I. Greenspan, anak usia 12 bulan belum paham soal jarak dalam ruang fisik, misalnya jauh-dekat. Itulah sebabnya mereka selalu ingin membaui dan menyentuh orang tuanya.

    Menempel secara fisik pada orang tua (atau pengasuh) adalah cara anak seusia ini merasakan sense of closeness dengan orang tua atau pengasuh (“Mama ada di dekatku. Aku bisa menyentuh dan menciumnya”). Pola ini membuat anak merasa aman. Rasa aman adalah modal awal anak untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan rasa diri (sense of self).

  4. Meredakan tantrum. Saat anak tantrum, pelukan erat bisa membantu mengendalikan emosinya. Jika ternyata reaksi anak justru sebaliknya (semakin marah atau rewel), berarti anak sedang tidak ingin dipeluk dan kita perlu mencari cara lain untuk meredakan tantrumnya.
  5. Membuat anak merasa dihargai. Menurut Alice Sterling Honig — profesor emeritus bidang perkembangan anak di College of Human Services and Health Professions, Syracuse University, AS – memeluk anak adalah salah satu cara mengingatkan anak bahwa ia bagian yang berharga dari keluarganya.

Tahun ini si kecil memang tidak harus digendong sebanyak tahun lalu. Tapi ia tetap memerlukan banyak sekali pelukan dan sentuhan. Ingatlah, di sekujur tubuh si kecil ada miliaran syaraf penerima-sentuhan yang ‘haus disentuh’ – jauh lebih banyak dari 197 sensor sentuhan yang dimiliki Sibitu alias CB2, si robot batita dari Jepang. PG 


Sebuah Pelukan Bernama Menyusui
Salah satu alasan mengapa ibu disarankan menyusui sampai anak berusia dua tahun, adalah karena sambil menyusu anak bisa mendapatkan pelukan ibunya. Dari segi sentuhan fisik, berikut ini manfaat menyusu untuk anak batita, menurut berbagai sumber:

  • Menenangkan anak yang sedang gelisah.
  • Menenangkan anak dari stres sehari-hari
  • Menenangkan anak yang sedang frustrasi, terguncang atau terluka perasaannya
  • Menggembirakan dan menyemangati anak
  • Membantu anak membuat transisi-bertahap memasuki masa kanak-kanak
  • Membantu anak mencapai kemandirian dengan kecepatannya sendiri. PG

Powered by ScribeFire.

30 Hari Pertama Menjadi Ibu

Posted in Uncategorized by nugraad001 on January 2, 2008

parent-guide.jpg

Setelah melahirkan, selama masih di rumah sakit, Anda dibantu oleh para perawat dan juga dokter dalam menangani si kecil. Tetapi bagaimana dengan hari_hari selanjutnya?

Saat yang dinantikan itu akhirnya tiba. Ya, setelah sembilan bulan mengandung, kemudian detik-detik persalinan yang mendebarkan pun terlewati dengan lancar, kini saatnya menikmati peranan Anda menjadi seorang ibu. Tetapi, apakah Anda benar-benar tahu bagaimana seharusnya merawat seorang bayi? Ya, ada kalanya proses menjadi ibu “baru” dirasakan tidak mudah. Apalagi, kala harus meninggalkan rumah sakit dan membawa si kecil ke rumah.

Berikut ini adalah  tips yang dapat dimanfaatkan oleh Anda, para ibu “baru”.

  • ASI Eksklusif ASI sebagai nutrisi terbaik bagi bayi memang tidak terbantahkan. Nah, bagi Anda yang bertekad memberikan ASI Eksklusif , dr. Jeanne Roos Tikoalu, SpA, dokter spesialis anak, RSIA Yadika Jakarta, menyarankan :
  1. Biasakan bayi menyusu pada payudara -bukan puting. Keberhasilan pemberian ASI, selain dengan melakukan inisiasi dini, ditentukan pula  dengan tata cara pemberian ASI. Usahakan dan biasakan bayi menyusu pada payudara, bukan puting. “Puting adalah saluran keluar ASI. Disekitar lingkar puting terdapat kulit berwarna kecoklatan disebut dengan aerola. Aerola berfungsi sebagai “gudang ASI”. Menyusu pada payudara berarti menghisap ASI dari aerola, lalu air susu akan keluar dari puting,”terang dr. Jeanne.

  2. Jangan takut kekurangan ASI. Pasalnya, memang sampai usia bayi menginjak hari ke-7,  ASI ibu kuantitasnya sedikit. Tetapi jangan lantas menyerah. Pada dasarnya kuantitas ASI secara alamiah akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.  Pada hari pertama, kebutuhan ASI adalah 60ml per kg berat badan, sedangkan hari ke-2 naik menjadi 80ml, sementara hari ketiga menjadi 100ml dan seterusnya. Selain itu pada prinsipnya,  semakin sering bayi disusui,  produksi ASI akan semakin banyak.
  3. BAB sering. Saat pulang ke rumah dan tetap memberikan ASI Eksklusif apabila menemukan bayi Anda mencret/diare atau frekuensi buang air besar (BAB)-nya relatif sering, jangan panik. Tetaplah memberikan ASI yang cukup. “Sebenarnya ASI, apalagi ASI awal (kolostrum) memiliki fungsi yang sangat banyak. Selain sebagai antibodi, juga bersifat membersihkan usus bayi,”kata dr. Jeanne. Jadi memang, bagi bayi ASI Eksklusif, 1-2 bulan pertama BAB-nya memang sering. ASI membersihkan usus bayi dengan tujuan untuk mempersiapkan usus si kecil pada pola makan berikutnya.

    Tetapi perlu diingat,  bila BAB cair terjadi pada bayi Anda dikarenakan ASI maka si kecil tetap aktif, lincah, ceria, buang air kecil (BAK) lebih dari 6 kali sehari, dan sama sekali tidak kehilangan nafsu makan. Sebaliknya, apabila terjadi karena penyebab lainnya, bayi akan terlihat lesu, rewel, dan BAK kurang dari 6 kali sehari, disertai adanya tanda-tanda bayi kekurangan cairan maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak.

  4. Perhatikan pola makan Anda. Diare pada bayi seringkali berkaitan pula dengan pola makan ibu. Oleh karenanya setelah pulang ke rumah, pastikan Anda tetap mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, terutama 2-3 bulan pertama. Hindarilah sambal, santan, kopi, dan soda karena jenis makanan dan minuman tersebut dapat mempercepat pergerakan usus bayi sehingga BAB nya akan nenjadi semakin sering lagi.
  • Memandikan bayi
  1. Pastikan lingkungan tempat bayi akan dimandikan dalam keadaan hangat. Tutuplah jendela, matikan AC dan kipas angin. Ini dilakukan untuk menghindarkan bayi dari kemungkinan kedinginan/hipotermia.

  2. Sebelum menyiapkan air, siapkan dulu perlengkapannya. Misalnya, sabun, shampo, handuk, perelak (alas tidur yang umumnya terbuat dari plastik/karet), popok, pakaian,dll. Tata dengan baik agar memudahkan proses saat mandi dan pasca mandi.
  3. Setelah air disiapkan, sabuni bayi di atas perelak menggunakan  waslap yang terlebih dulu dibasahi air hangat. Lakukan dengan hati-hati ke seluruh tubuhnya.
  4. Angkat dan masukan secara perlahan si kecil ke dalam bak air hangat, lalu basuh badannya hingga bersih.
  5. Saat membersihkan kulit kepala, bila dikehendaki Anda bisa menutupi telinga si kecil dengan kapas agar bayi terhindar dari kemungkinan kemasukan air.
  6. Angkat dan keringkan bayi dengan handuk bersih hingga kering.
  • Sementara itu, Alan Greene MD, dalam situs drgreene.com menambahkan sejumlah hal, seperti :
  1. Hati-hati dengan suhu air mandi.”Bayi, merasakan panas maupun dingin lebih sensitif dari orang dewasa. Bila perlu Anda dapat membeli bath thermometer yang bisa mengindikasikan temperatur suhu air dalam bak mandi,”katanya.

  2. Sebagian bayi merasakan rasa takut terhadap air. Untuk membuatnya nyaman, Anda bisa menyanyi atau mengajaknya berbicara ketika memandikan si kecil.
  • Bedak dan minyak telon. Setelah bayi dikeringkan dengan handuk, jauhkan bayi dari handuk bekas pakai. Untuk memastikan air bekas mandi benar-benar kering, Anda bisa menggunakan bedak/talk bayi (baby powder). Namun, menurut dr Jeanne, yang ada sejumlah hal yang harus diperhatikan, antara lain :
  1. Hindari penggunaan puff (alat yang biasa digunakan untuk mengambil dan meratakan bedak di tubuh bayi). Puff dikhawatirkan akan menghantarkan butiran bedak ke lubang hidung sehingga dimungkinkan mengganggu saluran pernafasan bayi. Terutama terhadap bayi yang memiliki bakat alergi kuat. Taburi saja bedak secukupnya ke telapak tangan Anda, lalu ratakan dengan telapak tangan lainnya -sebisa mungkin jauh dari hidung bayi kemudian usapkan kedua telapak tangan Anda tersebut pada dada, perut dan punggung bayi.

  2. Jangan berlebihan. Bedak memiliki sifat menyerap air. Dengan demikian, salah satu fungsinya sebagai penyerap air bekas mandi yang mungkin tidak terserap oleh handuk. Dengan terserap sempurnanya air bekas mandi dapat menghindari bayi dari kemungkinan sakit akibat kedinginan. Tapi gunakan seperlunya.
  3. Bedak dulu baru minyak telon. Bukan sebaliknya. Setelah daerah dada, perut, dan punggung bayi kering secara sempurna -dengan bantuan bedak kini saatnya “menghangatkan” bayi dengan minyak telon di area yang sama dan apabila diinginkan bisa juga mengolesi telapak kaki dan telapak tangannya. Dengan demikian, efek hangat akan dirasakan si kecil secara optimal.
  4. Hindari penggunaan bedak di daerah anus dan kemaluan bayi. Setelah bayi BAB dab BAK hati-hati dalam membersihkan bagian anus dan kemaluan. Gunakan kapas steril yang telah dibasahi air bersih pada kondisi normal (bukan air panas/hangat) untuk membersihkannya. Atau, bisa memanfaatkan tissue basah khusus bayi -sejauh tidak menyebabkan bayi alergi. Setelah selesai, tidak perlu menggunakan bedak.

    “Butiran-butiran bedak apabila masuk ke bagian vital tersebut, menurut penelitian bisa memicu terjadinya infeksi saluran kemih dan-meski masih kontroversi dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya kanker usus besar setelah dewasa kelak,”kata dr. Jeanne. Meski pun masih kontroversi, tetapi bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati.

  • Menggendong bayi

Dengan kondisinya yang mungil dan belum bisa berjalan, secara alamiah bayi perlu digendong. Tetapi, dalam menggendong bayi pun sebaiknya Anda hati-hati, karena kondisi tulang bayi, terutama pada bagian leher masih sangat lunak. Kepala bayi harus selalu ditahan agar tidak bergeser secara keras/berlebih, baik  ke kiri-ke kanan maupun  ke depan-kebelakang. Pada waktu mengangkat bayi, gunakan ke dua belah tangan sehingga Anda dapat menopang bayi dengan baik, terutama bila dia digendong dalam posisi tegak.

Nah, semoga tips-tips di atas dapat sedikit membantu Anda da

lam menyambut,  dan membawa si buah hati ke rumah untuk Anda rawat. Selamat menikmati peran sebagai seorang ibu ya, jangan lupa untuk mengajak suami ikut berperan. PG

Powered by ScribeFire.

Selamat Ulang Tahun Anaku Sayang :)

Posted in Uncategorized by nugraad001 on October 29, 2007
Tags:

naya-ultah.JPG

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428H

Posted in Uncategorized by nugraad001 on October 11, 2007
Tags:
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Taqaballahu minna wa minkum shiyamana wa siyamakum

From our deepest hearth,

Dari lubuk hati yang paling dalam

We begging you to apologized of all of our behavior, action and talk regret or unregretful

Kami memohon untuk dibukakan pintu maaf atas segala kesalahan tingkah laku, perbuatan & ucapan baik yang

disengaja maupun tidak disengaja  

Hope our Ramadan fasting is accepted by the Almighty of GOD

Semoga puasa Ramadhan yang telah kita laksanakan diterima Allah SWT

And hopefully our hearth, soul and mind back to holy

Dan semoga hati, jiwa dan fikiran kita kembali fitri (suci)  

Amien

AMIN

Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Powered by ScribeFire.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.