Pustaka Digital Ibu dan Anak


ASYIK BERMAIN BERSAMA AYAH

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 18, 2007

nakita.gif

Banyak permainan yang bisa dilakukan si kecil bersama ayahnya. Disamping mempererat kelekatan emosi, bayi juga belajar jadi sosok mandiri.


Tanggung jawab ayah dan ibu adalah sama dalam menstimulasi perkembangan anak. Dalam praktiknya, tentu saja ayah harus banyak terlibat dalam pengasuhan anak. Apalagi ternyata ayah dan ibu dapat saling melengkapi dengan mengisi peran yang berbeda-beda. Ini dibuktikan dalam studi yang dilakukan Lamb & Roopnarine et. al. pada tahun 90 di berbagai budaya di dunia yang menunjukkan bahwa ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam berinteraksi dengan anak. Jika ibu lebih banyak memperhatikan aspek fisik dan menunjukkan perhatian dan perasaan, maka ayah mengambil peran sebagai teman bermain bagi anak (mother as a caregiver, father as a playmate).

Studi yang dilakukan Lamb & Oppenheim tahun 1989 menelusuri apa yang akan terjadi kalau peran tersebut dibalik (ibu seba-gai teman bermain dan ayah sebagai caregiver), ternyata ayah tetap mempertahankan perannya sebagai teman main bagi anak. Pendapat ini didukung oleh banyak peneliti yang mengatakan bahwa para ayah memengaruhi anak-anak mereka melalui permainan.

Para ayah biasanya meng-habiskan lebih banyak persentase waktu mereka bersama anak-anak dalam kegiatan bermain. Selain itu, para ayah juga memiliki kecenderungan berbeda dengan gaya ibu dalam bermain. Ayah cenderung memilih permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan lebih “menantang”, semisal mengangkat, mengayun, bergulat, atau permainan yang bersifat “maskulin” lainnya.

Boleh jadi karena sebagai pria, ayah memiliki kekuatan dan keseimbangan motorik yang lebih baik serta lebih berani mengambil tindakan yang berisiko seperti mengayun bayinya. Sementara ibu condong memilih permainan konvensional yang sebelumnya sudah teruji “tingkat kese-lamatannya”. Antara lain permainan cilukba, keplok ame-ame, bermain pasel atau membaca buku.

Survei menunjukkan, dalam berinteraksi ayah sering berinisiatif mengeluarkan bunyi-bunyian dan tepukan berirama untuk mendapat perhatian bayinya. Perpaduan fisik dan gaya “heboh” ini merupakan cara penting bagi bayi untuk mengeksplorasi kehidupan emosinya. Bayangkan permainan dimana seorang ayah berperan sebagai seekor “beruang besar yang menakutkan” yang sedang berusaha “menggigit” bayi kecil yang justru tertawa-tawa karena digelitiki. Permainan seperti ini memungkinkan anak mengalami sensasi berupa sedikit rasa takut sekaligus senang dan bergairah. Pengalaman emosi inilah yang kelak akan membantunya mengolah emosi sewaktu berhadapan dengan dunia sesungguhnya yang lebih luas.

Bagi si ayah, permainan “ingar bingar” menjadi tumpuan harapan bahwa anaknya kelak juga akan memiliki keberanian dalam menghadapi bahaya, tidak mudah terkejut, serta memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Bayi yang mendapat perhatian dan kesempatan sama besar antara bermain dengan ayah dan dengan ibu mampu menunjukkan perkembangan yang cenderung lebih baik, secara kognitif, sosial, maupun emosionalnya. Berdasarkan pemikiran ini, bisa dimengerti bila anak yangmemiliki banyak waktu bermain bersama ayah umumnya memiliki kematangan yang lebih baik.

Sebaliknya, bila ayah jarang melakukan aktivitas fisik bersama bayinya, bisa dipastikan ia sulit membangun interaksi dengan si kecil. Ayah akan menjadi sosok yang asing. Sementara, perkembangan emosi bayi pun tidak optimal.

Nah, agar dapat mencapai manfaat optimal, ayah yang ingin bermain dengan buah hatinya perlu memahami tahapan perkembangan bayi. Lalu, cermati apa saja yang sudah bisa dilakukan si kecil dan mana yang belum. Hindari aktivitas yang bersifat terlalu “maju” karena tidak akan menghasilkan stimulasi yang optimal. Selamat bermain, Ayah!

Permainan untuk Bayi Usia 0-3 Bulan
TIRULAH AKU

Bayi senang memandangi wajah, terutama wajah orang-orang yang dekat/dikenal akrab. Sekaranglah kesempatan bagi ayah untuk memperlihatkan aneka ekspresi wajah dan suaranya yang berbeda-beda untuk mengembangkan penglihatan dan pendengaran bayinya. Beberapa mimik wajah yang dapat ditunjukkan antara lain memonyongkan mulut, menggerak-gerakkan hidung, menjulurkan lidah, menguap atau batuk-batuk, mengernyitkan dahi, membuka mulut lebar-lebar dan memamerkan gigi. Sambil bermain, bayi dapat digendong atau dibaringkan di ranjangnya.

MENGAYUH SEPEDA

Baringkan bayi dan gerakkan kakinya seperti sedang mengayuh sepeda. Lakukan secara perlahan sampai si kecil mengikuti gerakan tangan ayah ketika menggerakkan kakinya. Sambil menggerakkan kaki, ayah dapat menyanyikan lagu-lagu yang nadanya riang. Permainan ini bisa mengasah kemampuan motoriknya sekaligus mengembangkan kemampuan berpikirnya.

BERGULING

Baringkan bayi pada permukaan yang halus/lembut. Pegang kaki dan pahanya pada sisi yang sama, kemudian gulingkan ke arah yang berlawanan hingga membentuk gerakan menyilang. Jangan khawatir bayi akan terkilir sebab panggul dan tubuhnya akan ikut terangkat. Namun jangan paksakan bila bayi menolak. Lakukan bergantian dengan bagian tubuh yang satu lagi sambil terus bernyanyi. Permainan ini bisa mengasah kemampuan motoriknya.

Permainan untuk Bayi Usia 3-6 Bulan

BABY LIFTING

Ayah harus berbaring kemudian letakkan bayi di atas perut ayah. Sambil pegang erat dadanya, angkat ke atas dengan tetap menghadapkan wajahnya ke arah ayah. Turunkan lagi ke perut dan kemudian angkat lagi. Lakukan berulang sambil memperlihatkan mimik wajah berbeda atau bernyanyi-nyanyi. Permainan ini selain menguatkan punggung dan leher juga bisa mengasah keterampilan emosi anak dengan mengamati aneka mimik wajah ayah.

AYO TENDANG

Ayah dapat mengikatkan benda-benda berwarna ke kaki bayi, semisal kaus kaki dan amati ketika ia menendang-nendangkan kakinya dengan riang. Variasi lainnya, ketika si kecil menendang, tangkaplah kakinya lalu tahan sebentar. Gelitiki telapak kakinya sambil tertawa-tawa. Permainan menendang-nendang ini mengembangkan keterampilan motoriknya.

BABY BOUNCING

Ayah dapat melambungkan bayi dengan berbagai cara, seperti mendudukkannya di pangkuan, meletakkan perutnya di lutut, atau membaringkannya di tungkai lalu menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Permainan berayun ini menyenangkan bagi bayi selain membantunya mempelajari keseimbangan yang menjadi syarat untuk berjalan.

Permainan untuk Bayi Usia 6-9 Bulan

BERMAIN BUNYI-BUNYIAN

Ayah dapat memperdengarkan aneka bebunyian dari mulut. Caranya, masukkan jemari bayi ke dalam mulut ayah, kemudian ayah dapat mengeluarkan bunyi seperti menggumam bak seekor lebah, mencicit seperti burung, menggelembungkan pipi, membuat suara seperti sirene dan lain-lain. Pengalaman ini memperluas wawasan si kecil mengenai suara. Kontak mata yang dilakukan selama bermain juga menyebabkan bayi menjadi riang dan percaya diri.

BERMAIN BOLA

Bila si kecil sudah dapat duduk tegak, ayah dapat mengajaknya bermain bola dengan menggulirkan bola ke arahnya. Gunakan bola kain yang lembut. Duduklah berhadapan-hadapan dengan si kecil. Gulirkan bola perlahan dan tunjukkan cara menangkapnya. Bayi menyukai permainan ini dan menjadi girang bila bola menggelinding ke arahnya. Permainan ini bisa mengembangkan kemampuan motoriknya.

MENCARI/”PETAK UMPET”

Ayah dapat mengajak si bayi untuk belajar menyadari lingkungannya. Dengan permainan ini, keterampilan visual si kecil juga akan berkembang. Caranya, lakukan permainan sembunyi-sembunyi dengannya. Ayah menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik kursi atau di balik pintu. Setelah itu, panggil namanya beberapa kali agar si kecil mau menoleh mencari suara ayah. Kegembiraannya akan muncul ketika wajahnya bertemu pandang dengan wajah ayah.

Permainan untuk Bayi Usia 9-12 Bulan

MELAMBUNG KE UDARA

Peganglah si kecil dengan kedua lengan. Lambungkan si kecil ke udara, kemudian turunkan dan beri kecupan di pipinya. Aktivitas bermain ini bisa dilakukan sambil menyanyikan, misalnya lagu Balonku. Saat kata “dor”, ayah bisa melambungkan si kecil. Gerakan dan musik yang dilakukan secara bersamaan ini merangsang kedua sisi otak yang baik bagi perkembangan kognitifnya.

MAIN DI BAK MANDI

Ketika bayi sudah mampu duduk, ia senang sekali bermain air sembari duduk di bak mandinya. Ayah dapat memandikannya sambil bermain air. Misalnya menyabuni dengan waslap, lalu dengan perlahan gerakkan lengan bayi. Gelitik ketiaknya dengan sabun. Cara lain, lakukan permainan ciprat air, dengan mengangkat mainan mandi ke atas, lalu cemplungkan ke air hingga menimbulkan cipratan. Bila dilakukan sambil “mengobrol”, kemampuan berbahasanya akan berkembang. Anak juga belajar sensasi-sensasi lainnya, antara lain gosokan sabun dan cipratan air.

MENGGENDONG DI BAHU

Jika si kecil senang didukung di atas pundak, maka permainan ini akan memberi banyak keasyikan. Angkat si kecil agar duduk di bahu ayah dengan kaki terjulur ke depan. Peganglah tangannya ketika bergerak. Cobalah gerakan yang berbeda ketika mendukungnya semisal melompat kecil, berbaris, berjalan pelan, berjalan cepat, mengitari ruangan, dan lain-lainnya. Permainan ini akan membantunya meningkatkan keterampilan motorik, keseimbangan dan kewaspadaannya sehingga ia menjadi percaya diri kelak.

Sumber: Brain Games For Babies (Jackie Silberg) dan Slow And Steady Get Me Ready (June R. Oberlander)

Santi Hartono. Foto: Iman/nakita

Narasumber:

Mohammad Rizal Psi.,

dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI)

ASYIK BERMAIN BERSAMA AYAH

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 18, 2007

nakita.gif

Banyak permainan yang bisa dilakukan si kecil bersama ayahnya. Disamping mempererat kelekatan emosi, bayi juga belajar jadi sosok mandiri.


Tanggung jawab ayah dan ibu adalah sama dalam menstimulasi perkembangan anak. Dalam praktiknya, tentu saja ayah harus banyak terlibat dalam pengasuhan anak. Apalagi ternyata ayah dan ibu dapat saling melengkapi dengan mengisi peran yang berbeda-beda. Ini dibuktikan dalam studi yang dilakukan Lamb & Roopnarine et. al. pada tahun 90 di berbagai budaya di dunia yang menunjukkan bahwa ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam berinteraksi dengan anak. Jika ibu lebih banyak memperhatikan aspek fisik dan menunjukkan perhatian dan perasaan, maka ayah mengambil peran sebagai teman bermain bagi anak (mother as a caregiver, father as a playmate).

Studi yang dilakukan Lamb & Oppenheim tahun 1989 menelusuri apa yang akan terjadi kalau peran tersebut dibalik (ibu seba-gai teman bermain dan ayah sebagai caregiver), ternyata ayah tetap mempertahankan perannya sebagai teman main bagi anak. Pendapat ini didukung oleh banyak peneliti yang mengatakan bahwa para ayah memengaruhi anak-anak mereka melalui permainan.

Para ayah biasanya meng-habiskan lebih banyak persentase waktu mereka bersama anak-anak dalam kegiatan bermain. Selain itu, para ayah juga memiliki kecenderungan berbeda dengan gaya ibu dalam bermain. Ayah cenderung memilih permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan lebih “menantang”, semisal mengangkat, mengayun, bergulat, atau permainan yang bersifat “maskulin” lainnya.

Boleh jadi karena sebagai pria, ayah memiliki kekuatan dan keseimbangan motorik yang lebih baik serta lebih berani mengambil tindakan yang berisiko seperti mengayun bayinya. Sementara ibu condong memilih permainan konvensional yang sebelumnya sudah teruji “tingkat kese-lamatannya”. Antara lain permainan cilukba, keplok ame-ame, bermain pasel atau membaca buku.

Survei menunjukkan, dalam berinteraksi ayah sering berinisiatif mengeluarkan bunyi-bunyian dan tepukan berirama untuk mendapat perhatian bayinya. Perpaduan fisik dan gaya “heboh” ini merupakan cara penting bagi bayi untuk mengeksplorasi kehidupan emosinya. Bayangkan permainan dimana seorang ayah berperan sebagai seekor “beruang besar yang menakutkan” yang sedang berusaha “menggigit” bayi kecil yang justru tertawa-tawa karena digelitiki. Permainan seperti ini memungkinkan anak mengalami sensasi berupa sedikit rasa takut sekaligus senang dan bergairah. Pengalaman emosi inilah yang kelak akan membantunya mengolah emosi sewaktu berhadapan dengan dunia sesungguhnya yang lebih luas.

Bagi si ayah, permainan “ingar bingar” menjadi tumpuan harapan bahwa anaknya kelak juga akan memiliki keberanian dalam menghadapi bahaya, tidak mudah terkejut, serta memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Bayi yang mendapat perhatian dan kesempatan sama besar antara bermain dengan ayah dan dengan ibu mampu menunjukkan perkembangan yang cenderung lebih baik, secara kognitif, sosial, maupun emosionalnya. Berdasarkan pemikiran ini, bisa dimengerti bila anak yangmemiliki banyak waktu bermain bersama ayah umumnya memiliki kematangan yang lebih baik.

Sebaliknya, bila ayah jarang melakukan aktivitas fisik bersama bayinya, bisa dipastikan ia sulit membangun interaksi dengan si kecil. Ayah akan menjadi sosok yang asing. Sementara, perkembangan emosi bayi pun tidak optimal.

Nah, agar dapat mencapai manfaat optimal, ayah yang ingin bermain dengan buah hatinya perlu memahami tahapan perkembangan bayi. Lalu, cermati apa saja yang sudah bisa dilakukan si kecil dan mana yang belum. Hindari aktivitas yang bersifat terlalu “maju” karena tidak akan menghasilkan stimulasi yang optimal. Selamat bermain, Ayah!

Permainan untuk Bayi Usia 0-3 Bulan
TIRULAH AKU

Bayi senang memandangi wajah, terutama wajah orang-orang yang dekat/dikenal akrab. Sekaranglah kesempatan bagi ayah untuk memperlihatkan aneka ekspresi wajah dan suaranya yang berbeda-beda untuk mengembangkan penglihatan dan pendengaran bayinya. Beberapa mimik wajah yang dapat ditunjukkan antara lain memonyongkan mulut, menggerak-gerakkan hidung, menjulurkan lidah, menguap atau batuk-batuk, mengernyitkan dahi, membuka mulut lebar-lebar dan memamerkan gigi. Sambil bermain, bayi dapat digendong atau dibaringkan di ranjangnya.

MENGAYUH SEPEDA

Baringkan bayi dan gerakkan kakinya seperti sedang mengayuh sepeda. Lakukan secara perlahan sampai si kecil mengikuti gerakan tangan ayah ketika menggerakkan kakinya. Sambil menggerakkan kaki, ayah dapat menyanyikan lagu-lagu yang nadanya riang. Permainan ini bisa mengasah kemampuan motoriknya sekaligus mengembangkan kemampuan berpikirnya.

BERGULING

Baringkan bayi pada permukaan yang halus/lembut. Pegang kaki dan pahanya pada sisi yang sama, kemudian gulingkan ke arah yang berlawanan hingga membentuk gerakan menyilang. Jangan khawatir bayi akan terkilir sebab panggul dan tubuhnya akan ikut terangkat. Namun jangan paksakan bila bayi menolak. Lakukan bergantian dengan bagian tubuh yang satu lagi sambil terus bernyanyi. Permainan ini bisa mengasah kemampuan motoriknya.

Permainan untuk Bayi Usia 3-6 Bulan

BABY LIFTING

Ayah harus berbaring kemudian letakkan bayi di atas perut ayah. Sambil pegang erat dadanya, angkat ke atas dengan tetap menghadapkan wajahnya ke arah ayah. Turunkan lagi ke perut dan kemudian angkat lagi. Lakukan berulang sambil memperlihatkan mimik wajah berbeda atau bernyanyi-nyanyi. Permainan ini selain menguatkan punggung dan leher juga bisa mengasah keterampilan emosi anak dengan mengamati aneka mimik wajah ayah.

AYO TENDANG

Ayah dapat mengikatkan benda-benda berwarna ke kaki bayi, semisal kaus kaki dan amati ketika ia menendang-nendangkan kakinya dengan riang. Variasi lainnya, ketika si kecil menendang, tangkaplah kakinya lalu tahan sebentar. Gelitiki telapak kakinya sambil tertawa-tawa. Permainan menendang-nendang ini mengembangkan keterampilan motoriknya.

BABY BOUNCING

Ayah dapat melambungkan bayi dengan berbagai cara, seperti mendudukkannya di pangkuan, meletakkan perutnya di lutut, atau membaringkannya di tungkai lalu menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Permainan berayun ini menyenangkan bagi bayi selain membantunya mempelajari keseimbangan yang menjadi syarat untuk berjalan.

Permainan untuk Bayi Usia 6-9 Bulan

BERMAIN BUNYI-BUNYIAN

Ayah dapat memperdengarkan aneka bebunyian dari mulut. Caranya, masukkan jemari bayi ke dalam mulut ayah, kemudian ayah dapat mengeluarkan bunyi seperti menggumam bak seekor lebah, mencicit seperti burung, menggelembungkan pipi, membuat suara seperti sirene dan lain-lain. Pengalaman ini memperluas wawasan si kecil mengenai suara. Kontak mata yang dilakukan selama bermain juga menyebabkan bayi menjadi riang dan percaya diri.

BERMAIN BOLA

Bila si kecil sudah dapat duduk tegak, ayah dapat mengajaknya bermain bola dengan menggulirkan bola ke arahnya. Gunakan bola kain yang lembut. Duduklah berhadapan-hadapan dengan si kecil. Gulirkan bola perlahan dan tunjukkan cara menangkapnya. Bayi menyukai permainan ini dan menjadi girang bila bola menggelinding ke arahnya. Permainan ini bisa mengembangkan kemampuan motoriknya.

MENCARI/”PETAK UMPET”

Ayah dapat mengajak si bayi untuk belajar menyadari lingkungannya. Dengan permainan ini, keterampilan visual si kecil juga akan berkembang. Caranya, lakukan permainan sembunyi-sembunyi dengannya. Ayah menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik kursi atau di balik pintu. Setelah itu, panggil namanya beberapa kali agar si kecil mau menoleh mencari suara ayah. Kegembiraannya akan muncul ketika wajahnya bertemu pandang dengan wajah ayah.

Permainan untuk Bayi Usia 9-12 Bulan

MELAMBUNG KE UDARA

Peganglah si kecil dengan kedua lengan. Lambungkan si kecil ke udara, kemudian turunkan dan beri kecupan di pipinya. Aktivitas bermain ini bisa dilakukan sambil menyanyikan, misalnya lagu Balonku. Saat kata “dor”, ayah bisa melambungkan si kecil. Gerakan dan musik yang dilakukan secara bersamaan ini merangsang kedua sisi otak yang baik bagi perkembangan kognitifnya.

MAIN DI BAK MANDI

Ketika bayi sudah mampu duduk, ia senang sekali bermain air sembari duduk di bak mandinya. Ayah dapat memandikannya sambil bermain air. Misalnya menyabuni dengan waslap, lalu dengan perlahan gerakkan lengan bayi. Gelitik ketiaknya dengan sabun. Cara lain, lakukan permainan ciprat air, dengan mengangkat mainan mandi ke atas, lalu cemplungkan ke air hingga menimbulkan cipratan. Bila dilakukan sambil “mengobrol”, kemampuan berbahasanya akan berkembang. Anak juga belajar sensasi-sensasi lainnya, antara lain gosokan sabun dan cipratan air.

MENGGENDONG DI BAHU

Jika si kecil senang didukung di atas pundak, maka permainan ini akan memberi banyak keasyikan. Angkat si kecil agar duduk di bahu ayah dengan kaki terjulur ke depan. Peganglah tangannya ketika bergerak. Cobalah gerakan yang berbeda ketika mendukungnya semisal melompat kecil, berbaris, berjalan pelan, berjalan cepat, mengitari ruangan, dan lain-lainnya. Permainan ini akan membantunya meningkatkan keterampilan motorik, keseimbangan dan kewaspadaannya sehingga ia menjadi percaya diri kelak.

Sumber: Brain Games For Babies (Jackie Silberg) dan Slow And Steady Get Me Ready (June R. Oberlander)

Santi Hartono. Foto: Iman/nakita

Narasumber:

Mohammad Rizal Psi.,

dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI)

5 YANG PENTING KALA BAYI BELAJAR JALAN

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Latihan berjalan implikasinya sangat luas bagi perkembangan psikologis anak. Antara lain dalam sense of autonomy berikut kemandiriannya. Secara bertahap anak memahami, segala sesuatu yang diinginkannya haruslah diusahakan. Nah, agar latihannya berjalan baik dibutuhkan stimulus dan dukungan dari orangtua. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan kala anak sedang belajar jalan seperti dijelaskan dr. Rini Sekartini, Sp.A., dari bagian Tumbuh Kembang Anak, Departemen Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


1. CIPTAKAN LINGKUNGAN AMAN

Kala bayi mulai tertatih-tatih belajar jalan biasanya selain merasa senang para orangtua pun mulai “senam jantung”. Bagaimana tidak? Kini si bayi mulai ingin mengenali dunianya yang lebih luas dengan “menjelajah” hingga ke setiap sudut rumah. Mungkin bila dijumlahkan setiap hari entah sudah berapa belas meter jarak yang ditempuhnya.

Keterampilan barunya ini membuat bayi bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Meski sebatas di dalam rumah, “penjelajahan” ini mengundang situasi yang rawan kecelakaan. Contohnya, bagaimana bila tiba-tiba dengan langkahnya yang masih limbung si kecil nyelonong masuk ke kamar mandi yang lantainya licin, atau tiba-tiba menabrak guci besar di pojok ruang yang dapat mencederai dirinya.

Bila terjadi kecelakaan akibat eksplorasinya tentu saja bayi tidak bisa disalahkan. Ia belum tahu benda apa saja dan mana tempat yang berbahaya ataupun tidak.

Menjadi tugas orangtua untuk meminimalkan segala risiko dengan tidak menempatkan barang-barang yang mengundang bahaya di jalur yang akan dilalui bayi. Selain itu, pastikan pula keamanan daerah “steril” bagi bayi, terutama dapur dan kamar mandi karena di kedua tempat ini terdapat banyak hal yang dapat menyebabkan kecelakaan pada bayi.

Selanjutnya, area menuju lantai atas, dapur, dan ke kamar mandi, sebaiknya dilengkapi dengan pintu pengaman berupa pagar pembatas. Kabel listrik yang tak tertata rapi juga sering menjadi biang keladi tersandungnya si kecil yang sedang “asyik” berjalan. Belum lagi kemungkinan sengatan listrik bila kabelnya sudah terkelupas. Oleh sebab itu, aturlah jalinan kabel dengan baik sehingga tak centang perenang.

Biasanya bayi yang sudah mampu berdiri dan berjalan tertarik pada apa saja yang ada di atas meja. Tak heran kalau dalam sekejap kemudian ia akan menarik benda apa saja yang menarik perhatiannya tadi. Guna meminimalkan risiko bahaya, untuk sementara singkirkan taplak meja. Kalaupun ingin menggunakan taplak meja, pilihlah yang ukurannya lebih kecil dari daun meja sehingga tak sampai menjumbai di sisi meja.

Perabot, terutama meja yang bersudut tajam, sebaiknya juga disingkirkan untuk sementara waktu atau akali dengan memasang pengaman sudut. Soalnya, bayi yang sedang belajar berjalan sangat berisiko terbentur sudut meja yang tajam.

Patut diingat, menciptakan lingkungan yang aman bukanlah dengan membatasi ruang eksplorasi bayi. Yang diperlukan bayi adalah pengawasan orangtua sekaligus area yang dapat membuatnya leluasa berjalan-jalan ke sana dan kemari.

2. PILIH SEPATU YANG TEPAT

Sepatu berfungsi melindungi kaki bayi dari partikel dan benda yang bisa mencederainya. Di luar lingkungan rumah, sebaiknya pakaikan sepatu yang dapat menunjang kemampuan bayi berjalan.

Pilih sepatu bersol datar dan lembut untuk memudahkan anak berjalan sekaligus tetap mendapat cukup rangsangan dari bawah. Hindari sepatu dengan pengganjal di bagian lekukan kaki karena akan mengganggu pertumbuhan tulang belulangnya. Hindari juga ujung sepatu yang runcing/menyempit yang membuat ruang gerak jari-jemarinya terhambat.
Pastikan sepatu bayi berukuran pas, tidak sempit dan tidak terlalu longgar. Patokannya, lebihkan sedikit (kira-kira satu ruas ibu jari orang dewasa) pada bagian ujung sepatu. Pilih model dengan tali/kancing/perekat yang dapat mengatur kekencangan sepatu secara tepat. Kaus kaki yang akan digunakan juga tidak dianjurkan terlalu ketat karena dapat mengganggu peredaran darah. Pilih bahan katun agar mudah menyerap keringat sekaligus membantu menjaga sirkulasi udara dalam sepatu.

Saat berjalan-jalan di rumah, bayi tak perlu diberi alas kaki. Tanpa sepatu, kaki bayi akan menerima rangsangan-rangsangan dari luar. Kakinya juga akan mendapat tekanan dari bawah sebagai latihan bagi otot-ototnya. Ini dapat mengasah kemampuan koordinasinya menjadi lebih bagus. Berkat tekanan-tekanan pada permukaan telapak kaki, pertumbuhan tulang kaki menjadi lebih baik. Selanjutnya, akan terbentuk kaki yang baik dengan otot-otot yang lebih kuat. Latihan bertelanjang kaki seperti ini sangat diperlukan di rumah mengingat pertumbuhan tulang akan terus berlanjut sampai anak berusia 17-18 tahun.

Untuk menjamin kesehatan dan kenyamanan kakinya, periksa ukuran sepatu secara berkala mengingat pertumbuhan kaki bayi amat cepat, terutama bila ditunjang gizi yang baik. Sepatu yang kekecilan pasti akan membuatnya tak nyaman. Sepatu kekecilan akan meninggalkan warna kemerahan di pinggir jari atau kaki bayi akibat tekanannya dan dapat menyebabkan iritasi.

3. TUMBUHKAN KEPERCAYAAN DIRI

Pada prinsipnya, selama sudah dipastikan tidak ada gangguan saraf atau kelainan otot, anak pasti bisa berjalan. Memang, sih, usia berjalan pada setiap anak bisa berbeda-beda, namun umumnya rentang waktu yang normal adalah usia 11-18 bulan.

Kecemasan umumnya muncul jika setelah berusia 1 tahun, si kecil belum juga bisa berjalan. Atau biasanya sudah bisa berjalan sebentar, tapi setelah itu mogok. Untuk memastikan ada tidaknya gangguan, tentu harus diperiksakan ke dokter. Bila tak ada gangguan, boleh jadi ia butuh rangsangan agar dapat berjalan tepat pada waktunya.

Anak yang mogok belajar jalan mungkin terlena oleh kemanjaan dari orangtua atau pengasuhnya. Contohnya, kelewat sering digendong sehingga anak tak mendapat stimulasi untuk aktif bergerak. Kemanjaan seperti ini memang bisa menghambat perkembangan kemampuan berjalannya.

Sayangnya, sering kali orangtua tidak menyadari kemanjaan yang mereka limpahkan. Contohnya, lantaran kelewat sayang, orangtua khawatir melihat anaknya limbung. Belum sempat anak melangkah, orangtua sudah langsung mengulurkan bantuan. Kalau semua kebutuhan dan kemudahan sudah ada di depan mata, jangan salahkan kalau si kecil jadi enggan belajar berjalan.
Keengganan latihan berjalan bisa juga lantaran kurangnya rasa percaya diri. Boleh jadi saat pertama kali belajar jalan, ia terjatuh cukup keras. Baik anak maupun orangtua biasanya jadi jera mencoba dan mencoba lagi. Padahal ketakutan berlebih seperti ini harus dikikis. Secara perlahan orangtua mesti meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tunjukkan dengan bukti konkret, semisal dengan terus mendampinginya berlatih dan menyediakan lingkungan yang aman.

Agar anak mau berjalan lagi, dibutuhkan stimulus yang dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya. Pancing semangat anak dengan sikap gembira tanpa harus memaksa. Gunakan mainan yang menarik agar anak mau mendatanginya. Letakkan agak ke atas sehingga ia perlu berdiri untuk menjangkaunya. Dengan begitu, sedikit demi sedikit, anak tergerak untuk berani mencoba berjalan sendiri, tanpa ditatih atau berpegangan. Kalaupun sampai terjatuh, jangan tunjukkan sikap panik di hadapannya. Perhatikan apakah ia perlu ditolong saat itu juga atau bisa dibiarkan bangkit sendiri. Sikap panik orangtua/pengasuh hanya akan membuat rasa percaya dirinya luntur.

4. PIJAT PERKUAT OTOT KAKI

Selama belajar berjalan, anak mengandalkan otot-otot kakinya untuk menjaga keseimbangan. Dengan rekomendasi dokter anak, orangtua dapat melakukan pijat bayi yang bertujuan menguatkan otot-otot kakinya. Misalnya, dengan cara menelentangkan bayi kemudian minta ia memegang telapak kakinya sambil sedikit didorong. Secara refleks anak akan melakukan gerakan seperti menendang. Latihan yang intens dan tepat terbukti mampu menguatkan otot kakinya.

Tanyakan pada dokter, teknik-teknik pijatan apa yang dapat menguatkan otot kaki. Membawa anak ke tukang pijat tradisional boleh saja asalkan dilakukan dengan hati-hati. Akan lebih baik jika Anda berbekal rekomendasi dokter lalu membawa si bayi ke fisioterapis. Pelajari tekniknya dengan benar. Yang pasti, pijatan yang dilakukan fisioterapis biasanya berlandaskan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan.

5. PERHATIKAN BERAT TUBUH

Sering juga terjadi anak malas belajar jalan akibat kegemukan. Bagi bayi dengan berat badan berlebih, menjaga keseimbangan tubuh jelas lebih sulit. Upayakan agar asupan makanannya seimbang, tidak berlebih dan tidak kurang. Selain itu, fisioterapis dapat membantu bayi dengan program yang tepat. Misalnya dengan teknik mendorong bola besar yang biasa digunakan untuk latihan motorik.

ALAT BANTU BELAJAR JALAN

Beberapa alat diciptakan untuk membantu anak belajar jalan. Prinsip yang tidak boleh absen dari alat ini adalah si bayi tetap perlu ditatih dan menatih. Dengan begitu, setiap kali bayi menjejak ke tanah, maka otot-otot kakinya akan semakin aktif dan kemampuan berjalannya kian terasah.

Nenek moyang kita dulu menggunakan kain yang dililitkan ke dada hingga ketiak bayi. Sisa kain yang menjuntai ke belakang digunakan orangtua untuk membantu mengendalikan keseimbangan tubuh bayi sambil menatihnya. Cara ini tetap aman ditiru hingga sekarang.

Ada juga alat berputar yang bertumpu pada satu poros. Dengan berpegangan pada bilah melintang, secara tidak langsung anak diharuskan untuk berjalan saat mendorong alat tersebut. Atau bisa juga dengan menyediakan hangbar seperti yang ada di pusat-pusat terapi. Intinya, ada satu benda kokoh yang digunakan untuk berpegangan saat keseimbangannya masih labil.

Alat bantu jalan juga dapat difungsikan sebagai mainan, di antaranya kereta dorong. Pastikan dudukan mainan ini cukup mantap sehingga bila anak bertumpu padanya, alat ini tidak mudah terguling. Prinsipnya pun seperti menatih karena bayi “dipaksa” melangkah agar kereta dorong tersebut bisa bergerak.

Yang tidak dianjurkan adalah babywalker karena penggunaan alat ini malah bisa memperlambat kemampuan berjalan si kecil. Posisi duduk dalam babywalker membuat bayi nyaris selalu tersangga sehingga ia tidak cukup terlatih untuk menopang dirinya sendiri. Selain itu, penggunaan babywalker yang berlebihan juga dapat mengakibatkan anak jalan berjingkat/jinjit akibat terbiasa bergerak maju dengan cara mengayuh.

TAHAPAN BAYI BERJALAN

Proses berjalan bayi umumnya dimulai pada usia 9 bulan dengan tahapan berikut:

* Bulan ke-9

Berdiri tegak bila kedua tangan dipegang. Kalau kita biarkan si bayi berdiri (kita hanya pegang kedua tangannya) ia akan berdiri tegak selama beberapa detik di atas kakinya. Ia menahan keseimbangan tubuh yang seluruhnya terletak pada kedua telapak kaki. Berdiri dengan cara demikian hanya sebentar saja dapat dilakukannya karena ia memang belum menguasai keseimbangan badan pada sikap badan tegak lurus.

* Bulan ke-10

Bayi bergayut pada perabot rumah dan mengangkat badan sampai berdiri. Seperti halnya pada perkembangan merangkak, bayi 10 bulan sudah dapat mengangkat badannya sampai sikap “empat kaki”. Dari sikap ini ia kemudian bergayut pada perabot dan menarik badannya ke atas sampai berdiri. Dari sikap berlutut atau setengah berlutut, ia melangkahkan sebelah kakinya ke depan, menjejak dengan telapak kakinya dan menarik badannya hingga berdiri.

Berdiri sambil berpegang pada sesuatu. Bila bayi dapat berpegang pada perabot rumah atau benda kokoh lainnya, ia dapat berdiri selama 1/2 menit. Pada sikap ini telapak kaki bukan hanya ujung-ujung jari kaki saja, tapi seluruh alas telapak kaki menyentuh permukaan lantai.

* Bulan ke-11

Berjalan ke samping sambil merambat pada perabot dalam rumah. Percaya dirinya tumbuh dengan ditandainya melalui sikap berdiri yang memungkinkan anak memindah-mindahkan berat badannya. Mulai pada kaki kiri lalu pindah ke kaki kanan. Dengan kemampuan inilah anak “berjalan di tempat” atau melangkah ke samping.

Berjalan bila kedua tangan dipegang/ditatih. Bila bayi kita pegang kedua tangannya, ia pun mulai mencoba berjalan. Setelah kakinya melangkah maju, pinggul digerakkan ke depan dan berat badan ditopang oleh telapak kaki. Langkahnya memang masih agak tertahan-tahan, belum mantap dengan kaki terbentang lebar.

* Bulan ke-12

Berjalan jika sebelah tangannya dipegang. Langkah-langkahnya memang belum mantap dan kedua kaki masih terbentang lebar. Anak masih gampang kehilangan keseimbangan hingga orang dewasa masih harus memegangnya dan selalu siap menangkapnya bila ia terjatuh.

* Bulan ke-13 dan seterusnya.

Mulai menjadi “ahli”. Kemantapan anak berjalan mulai menunjukkan hasil. Kita akan takjub bila suatu saat dia sudah mampu berjalan dengan cepat. Meski perkembangan setiap anak berbeda-beda, umumnya di usia 18 bulan hingga 2 tahun anak sudah dapat berjalan tegak dengan keseimbangan yang lebih mantap tanpa perlu lagi dipegangi.

Sumber 365 Hari Pertama Perkembangan Bayi Sehat; Theodor Hellbrugge dan J.H. von Wimpffen, ed.; Pustaka Sinar Harapan; 2002

BANYAK BERKERINGAT PETANDA APA?

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Mengapa bayi banyak berkeringat? Dr. Debby Latuperissa, SpA., dari RS Fatmawati, Jakarta menjelaskan seluk-beluk penyebabnya berikut ini.


BAGIAN DARI METABOLISME TUBUH

Banyak orangtua mencemaskan bayinya yang mengeluarkan keringat begitu banyak, terutama di saat tidur. Ya, memang begitulah yang terjadi pada bayi. Terlebih di kepala, tangan, dan kakinya. Penyebabnya tak lain karena di daerah-daerah tersebut memang terdapat banyak kelenjar keringat.
Sebenarnya banyak berkeringat merupakan pertanda baik karena berarti kelenjar keringat berfungsi sempurna. Pengeluaran keringat merupakan proses sekresi atau pembuangan sisa-sisa garam dan juga racun dari dalam tubuh. Selain itu, keringat juga berfungsi menurunkan panas di dalam tubuh sehingga suhu di permukaan kulit dapat senantiasa terjaga pada tingkatan normal.

Cuaca panas di negara tropis seperti Indonesia memang membuat anak mudah berkeringat. Meski bayi lebih banyak berada dalam rumah, kelembapan udara yang cukup tinggi dan udara yang panas tetap membuatnya berkeringat. Mekanismenya, tubuh yang menyimpan panas membutuhkan penguapan yang berujung pada keluarnya keringat tadi.

Yang belum banyak diketahui awam, keringat juga keluar ketika tubuh bayi memproses susu yang dikonsumsinya menjadi protein yang akan digunakan sebagai pasokan energi untuk tubuhnya. Nah, karena proses mengubah makanan menjadi protein membutuhkan kalori, maka terjadi peningkatan panas dalam tubuh yang kemudian akan dibuang dalam bentuk keringat.

Adanya proses metabolisme ini membuat bayi yang sedang diam atau tidur pun tetap saja berkeringat. Sekali lagi, keringat banyak adalah pertanda baik. Kecuali bila suhu udara sangat dingin, tubuh bayi akan menahan pengeluaran sebagian keringat untuk menjaga agar suhu badannya tetap hangat. Sisa-sisa metabolisme (sekresi) akan dikeluarkan lewat air seni. Tak heran kalau di tempat yang berudara dingin, si kecil lebih sering pipis.

AKIBAT DEMAM TINGGI

Demam yang tinggi karena adanya proses infeksi juga akan menyebabkan bayi berkeringat lebih banyak. Logikanya, saat demam terjadi peningkatan suhu tubuh yang berujung pada keluarnya peluh yang bercucuran. Obat pereda demam yang diberikan umumnya memainkan fungsi sebagai pencegah pengeluaran panas yang berlebihan dari dalam tubuh. Makanya, begitu si kecil demam, anjuran yang paling tepat adalah banyak beristirahat dengan tetap mengupayakan pemberian banyak cairan guna mencegah dehidrasi akibat penguapan yang berlebihan dari dalam akibat suhu tubuh yang tinggi.

PENYAKIT-PENYAKIT YANG MEMICU KERINGAT

Yang sering menjadi pertanyaan, seberapa banyak sih keringat bayi yang bisa ditoleransi? Maklum, membanjirnya keringat sering dikait-kaitkan dengan adanya penyakit tertentu, seperti penyakit jantung. Padahal anggapan ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Jadi jangan khawatir.

Seberapa banyak pun keringat bayi yang keluar sebenarnya normal saja sepanjang bayi tidak terganggu oleh keringatnya. Masih dikatakan wajar bila bayi tidak rewel, selera makannya tetap oke, porsi tidurnya cukup, dan pertumbuhannya tidak terganggu. Kalau baju si kecil sampai “basah kuyup” oleh keringat dan harus diganti berkali-kali juga tidak mengapa. Kurangi lapisan bajunya. Pilih bahan yang menyerap keringat.

Keringat perlu diwaspadai sebagai pertanda gangguan kesehatan jika dibarengi dengan keluhan lain semisal mendadak rewel, tak mau makan/minum/menyusu, susah tidur, lemah, dan sebagainya. Barangkali, bayi menderita gangguan berikut:

· Alergi

Bayi dengan riwayat alergi umumnya berkeringat lebih banyak karena mereka juga hipersensitif terhadap cuaca panas. Cuaca panas akan memacu kelenjar keringatnya bekerja lebih aktif dan mengeluarkan keringat lebih banyak. Kulitnya pun akan mudah bereaksi yang akhirnya berkembang menjadi biang keringat. Pencegahannya tentu saja dengan menghindari pencetusnya, yaitu cuaca panas di luar rumah. Pakaian yang sesuai baginya terbuat dari bahan-bahan yang mudah menyerap keringat.

· Kistik Fibrosis

Sering juga disebut fibrosis sistik yang merupakan kelainan gen yang dapat menimbulkan infeksi paru-paru berulang dan progresif. Kelainan yang antara lain ditandai dengan keringat berlebih ini sering dikait-kaitkan dengan adanya metabolisme yang terhambat. Berita baiknya, penyakit ini jarang diderita orang-orang Asia, termasuk bayi-bayi di Indonesia.

· Gizi kurang

Anak-anak dengan gizi kurang umumnya juga mengeluarkan keringat secara berlebihan. Mengapa? Tak lain karena asupan makanan yang kurang membuat proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung secara ekstrakeras. Energi yang seharusnya tercukupi dari asupan lemak, kini harus menguras energi yang tersimpan dalam otot. Ibarat mesin, guna memenuhi kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh, mesin terpaksa terus dipacu membakar energi. Akibatnya, panas tubuh meningkat dan muncullah banyak keringat sebagai konsekuensinya.

· Hiperhidrosis

Hiperhidrosis menunjukkan adanya satu bagian tubuh yang terus mengeluarkan keringat dalam keadaan apa pun. Contohnya, telapak tangan yang selalu basah oleh keringat. Hiperhidrosis antara lain disebabkan oleh penyakit-penyakit pada sistem endokrin seperti gondok, diabetes melitus, keganasan pada kelenjar getah bening, kanker pada berbagai organ tubuh, keracunan alkohol, ataupun kelainan-kelainan pada sistem saraf yang menyebabkan saraf simpatik terganggu. Bisa juga karena adanya peningkatan suhu tubuh akibat demam, ketakutan maupun kegelisahan. Namun, hiperhidrosis ini umumnya belum muncul mengingat mengucurnya keringat pada bayi lebih disebabkan oleh cuaca dan proses metabolisme.

KERINGAT BAYI BELUM BERBAU

Keringat bayi umumnya belum berbau mengingat asupan makanannya belumlah selengkap orang dewasa. Begitu juga penggunaan bumbu-bumbu beraroma tajam yang turut membentuk sekresi yang berbau. Akan tetapi jika bayi jarang dimandikan, mungkin saja keringatnya bau. Terutama keringat di daerah-daerah lipatan tubuh yang jarang tersentuh. Gesekan-gesekan pada daerah lipatan yang dipenuhi kotoran dan keringat akhirnya memperbesar terjadinya infeksi pada kulit.

Oleh sebab itu amat disarankan untuk rajin memandikan bayi. Setidaknya 2x sehari atau 3x sehari di saat cuaca sangat panas. Jangan lupa bersihkan daerah-daerah lipatan kulit, yaitu leher, ketiak, belakang lutut, dan selangkangan.

BISA TIMBUL KERINGAT BUNTET

Kulit bayi yang semestinya halus, lembut dan segar dapat terganggu oleh munculnya bintil-bintil kecil berwarna kemerahan disertai rasa gatal yang menyengat kulit. Tak heran

, bayi yang mengalaminya akan rewel dan terganggu tidurnya.

Bintil kemerahan ini disebut keringat buntet atau biang keringat (miliaria). Keringat buntet merupakan gangguan pada kulit bayi yang diakibatkan adanya produksi keringat yang berlebihan namun terjadi retensi kelenjar keringat yang keluar. Kelainan ini biasanya terjadi pada daerah kulit yang banyak berkeringat, misalnya dahi, leher, punggung, dan dada.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan keringat keluar berlebihan dan terjadi retensi atau tersumbatnya saluran keringat. Antara lain udara panas dan lembap disertai ventilasi ruangan yang kurang baik, pakaian yang dikenakan terlalu tebal dan ketat, aktivitas yang berlebihan, atau bayi jarang dibersihkan atau dimandikan.

Tersumbatnya saluran keringat juga bisa terjadi pada bayi baru lahir karena pergantian sel-sel kulitnya masih lambat sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan sel-sel kulit. Pada akhirnya ini akan mengakibatkan sumbatan pada saluran kelenjar keringat. Meski bukan gangguan yang berbahaya, biang keringat harus cepat ditangani mengingat kondisi ini biasanya akan membuat bayi tidak nyaman dan rewel. Mau tidak mau orangtua harus membawanya berobat guna menghilangkan penyebabnya.

Untungnya, sebagian besar biang keringat tidak memerlukan pengobatan. Hanya butuh ketelatenan untuk memandikan bayi dua kali sehari dan sering-sering membasuh keringatnya. Setelah itu, segera keringkan tubuh bayi dengan handuk lembut lalu taburi dengan bedak tabur atau bedak kocok. Ratakan bedak tersebut di kulit untuk menghindari penggumpalan yang malah berpeluang menutupi pori-pori kulit. Selain itu, hindari pula memakaikan bedak tanpa membersihkan dan mengeringkan kulit bayi terlebih dahulu karena hanya akan memperbesar sumbatan. Mengenai pilihan bedaknya, semua jenis bedak untuk tubuh dapat digunakan. Namun bila terasa sangat gatal pilihlah bedak yang mengandung salisil atau sedikit mentol.

Atur ventilasi di kamar tidur bayi agar suhunya tidak terlalu panas/pengap atau sebaliknya kelewat lembap. Jika memungkinkan, pasang kipas angin atau pengatur suhu udara (AC). Hindari baju dan selimut yang tebal dan terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat seperti nilon atau wol. Bila tak ada AC atau kipas angin, kenakan saja kaus singlet dan popok agar penguapan panas tubuh lewat keringat dapat berlangsung dengan baik.

7 LANGKAH AGAR BAYI SEHAT DAN KUAT

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Satu tahun pertama usia bayi merupakan masa-masa rawan gangguan kesehatan karena daya tahan tubuhnya sangatlah rentan. Inilah cara-cara meningkatkannya.


1. BERI ASI EKSKLUSIF

ASI mengandung berbagai zat antibodi yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi. Sel-sel darah putih yang terkandung dalam ASI juga dapat menghambat kemunculan dan perkembangbiakan bakteri serta virus yang bisa menyebabkan timbulnya alergi, diare, pneumonia, meningitis maupun infeksi telinga dan infeksi kandung kemih.

Di hari-hari pertama, ASI mengandung kolostrum yang sering disebut ASI premium. Cairan yang bewarna kekuningan inilah yang kandungan vitaminnya paling lengkap dan sempurna sehingga mampu memberi perlindungan yang sangat ampuh bagi tubuh bayi. ASI juga mengandung protein khusus yang disebut taurin. Protein akan mengoptimalkan pertumbuhan sel otak sekaligus meningkatkan kecerdasan bayi.

Anjuran minimal yang disepakati para ahli kesehatan dunia yakni agar para ibu setidaknya memberikan ASI selama 6 bulan (eksklusif) tanpa disertai asupan makanan lain. Untuk selanjutnya pemberian ASI tetap dapat diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun.

Menyusui secara eksklusif juga memberi kesempatan pada ibu untuk mengembangkan bonding/kedekatan ibu-anak. Kedekatan ini terjalin karena setiap kali menyusui terjadi kontak langsung saat ibu mendekap bayinya dan membiarkan puting buah dadanya diisap si kecil. Dekapan hangat ibu akan membuat bayi merasa nyaman yang pada akhirnya menumbuhkan basic trust. Nah, basic trust inilah yang menjadi modal awal yang kelak akan membuat bayi tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan mandiri.

2. PATUHI JADWAL IMUNISASI

Pemerintah mewajibkan 5 jenis imunisasi dasar yang sudah harus terpenuhi sebelum anak berusia setahun. Kelima imunisasi itu adalah BCG (Bacille, Calmette, Guerin), hepatitis B, DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), polio, dan campak. Pertimbangannya, penyakit-penyakit tersebut memiliki angka kesakitan dan kematian yang tinggi, selain bisa menimbulkan kecacatan.

Imunisasi dasar diberikan agar anak mendapat kekebalan awal secara aktif. Mematuhi jadwal imunisasi sangat dianjurkan agar hasilnya optimal. Contohnya, mengikuti jadwal imunisasi DPT pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Pengulangan dilakukan untuk memperkuat antibodi yang sudah terbentuk.

Seperti diketahui, imunisasi akan memunculkan antibodi pada yang diberikan. Setelah mendapat imunisasi, antibodi bayi akan naik. Tapi suatu saat, antibodi itu bisa turun. Nah, saat itulah imunisasi harus diberikan lagi agar antibodinya yang turun bisa kembali naik. Jika tak dilakukan pengulangan imunisasi, maka saat daya tahan tubuh turun, kemungkinan terkena penyakit yang akan ditangkal bisa saja terjadi. Itulah sebabnya, mematuhi jadwal imunisasi menjadi sangat penting.

3. BIASAKAN CUCI TANGAN

Bayi sangat rentan terhadap virus dan bakteri. Oleh karena itu sebelum memegangnya, jangan lupa cuci tangan dahulu. Terutama sehabis bepergian atau menyentuh sesuatu yang tidak terjamin kebersihannya. Orang lain yang hendak memegang dan menggendong si kecil pun sebaiknya diminta mencuci tangan dahulu. Gunakan sabun setiap kali mencuci tangan.

Sampai berusia 6 bulan, kekebalan tubuh bayi belum terbangun sempurna. Ia masih bergantung pada kekebalan tubuh ibunya yang dibawa sejak lahir dan dari ASI. Oleh sebab itu, penting menjaga jangan sampai bayi terkena virus dan bakteri, di antaranya yang dipaparkan dengan tangan apabila tidak terjaga kebersihannya.

Bahkan kebanyakan penyakit infeksi yang diderita bayi, seperti pilek, demam, batuk, atau diare, didapat dari tangannya sendiri selain tangan orang dewasa yang memegangnya.

4. JANGAN MEROKOK

Anjuran ini hendaknya benar-benar dipatuhi sebab kita semua sudah tahu betapa berbahayanya asap rokok. Penelitian yang dilakukan National Health Institute di Amerika tahun 1997 mengatakan, dalam setiap kepulan asap rokok setidaknya terdapat 4.000 jenis racun yang dapat mengganggu kesehatan, bahkan membunuh pertumbuhan sel-sel baru. Jadi, merokok di depan bayi sama artinya dengan menjadi silent killer alias si pembunuh diam-diam.

Bayi yang sering terpapar asap rokok pun makin berisiko mengalami SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) atau sindrom kematian tiba-tiba, bronkitis, asma, dan infeksi telinga. Bahkan, asap rokok berdampak buruk pada intelegensi dan perkembangan saraf bayi. Yang mengejutkan, ibu menyusui yang menghirup asap rokok, baik dari rokoknya sendiri atau orang lain, di dalam ASI-nya terkan-dung nikotin yang sudah tentu akan berdampak buruk bagi bayi.

5. JAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN

Diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meru-pakan penyakit langganan yang paling sering diderita bayi. Kedua penyakit ini sering dihubungkan dengan lingkungan di sekitar bayi yang kurang higienis. Itulah mengapa, prioritaskan kebersihan lingkungan bila ada bayi. Contohnya, membersihkan rumah secara rutin, selain rajin membersihkan diri dan meminta seluruh anggota keluarga menjaga kebersihan pribadinya, serta menjaga kebersihan makanan yang akan disajikan kepada bayi bila sudah membutuhkan makanan pendamping ASI. Bayi pun sudah mulai diajarkan tentang kebersihan dengan cara teratur memandikannya dan mengganti bajunya setiap kali basah atau kotor.

6. CUKUPKAN WAKTU TIDUR BAYI

Penelitian yang dilakukan di Boston, USA (2002) mengung-kapkan bahwa tidur yang nyenyak pada bayi dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Pasalnya, selama tidur, bayi membangun sel-sel baru dalam tubuhnya yang dapat menangkal berbagai serangan mikroba dan virus. Singkatnya, tidur yang cukup (16-18 jam sehari) berhubungan erat dengan meningkatnya imunitas.

Jadi, selalu upayakan agar bayi tak rewel dan bisa nyenyak tidurnya dengan segera menyusuinya bila lapar, mengganti popoknya yang basah bila mengompol, dan
menghindari suasana bising di kamar. Jika si kecil tak mengalami hambatan tidur tapi tiba-tiba jadi sulit tidur, perlu dicurigai adanya indikasi suatu penyakit. Orangtualah yang mesti pandai-pandai “membaca” isyarat dari buah hatinya.

7. PENUHI KEBUTUHAN NUTRISINYA

Setelah masa ASI eksklusif 6 bulan berlalu, pengenalan makanan semipadat dapat dilakukan sedikit demi sedikit sampai bayi bisa beradaptasi. Saat pemberian makanan tambahan, perhatikan benar kandungan gizi masing-masing jenis bahan agar kebutuhan gizi si kecil bisa tercukupi.

Kecukupan gizi membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Protein, contohnya, yang didapat dari susu berguna sebagai “pembangkit” daya tahan tubuh. Imunisasi yang sebagian besar terdiri atas zat protein akan optimal hasilnya bila di dalam tubuh bayi ditemukan protein. Itu sebabnya, bayi dengan gizi buruk umumnya ketika mendapat imunisasi, hasilnya tidak optimal.

Selain itu, sertakan buah-buahan dan sayuran yang banyak mengandung vitamin C dan betakaroten seperti jeruk dan wortel. Vitamin C dan betakaroten dipercaya mampu menangkal virus dan membantu perkembangan sel-sel baru.

Tingkat kepadatan makanan pendamping ASI tentu saja harus diperhatikan agar pencernaan bayi tidak “kaget”. Mulailah dari yang agar encer, semi padat, dan agak padat semisal bubur susu encer, bubur kental, dan kemudian nasi tim.

BINA HUBUNGAN BAIK DENGAN DOKTER

Kebanyakan ibu sering mengeluhkan padatnya kunjungan ke dokter di tahun pertama kehidupan bayi. Hal ini memang tak bisa dihindari mengingat di rentang waktu tersebut ada beberapa imunisasi yang harus dilakukan. Yang terpenting, optimalkan kunjungan ke dokter ini dengan melakukan hal-hal positif lainnya, seperti berdiskusi dengan dokter sambil mengamati pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual maupun emosional bayi.

Jangan lupa, pertumbuhan otak tercepat terjadi pada dua tahun pertama kehidupan anak. Jadi, binalah kerja sama dengan dokter untuk mengoptimalkan potensi anak. Dengan rajin berdiskusi, setiap keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan dapat diketahui secara cepat untuk sesegera mungkin ditangani.

Relasi yang terjalin baik tentunya membuat ibu lebih leluasa ngobrol dengan dokter tentang apa saja seputar kehidupan bayi. Baik itu cara-cara tepat meningkatkan kekebalan bayi, menangkal gangguan kesehatan, pemilihan asupan tambahan yang tepat, perlu tidaknya pemberian antibiotik dan sebagainya.


Narasumber:

dr. Lindana Sastra, Sp.A.,

dari RSB Asih, Jakarta

 

7 LANGKAH AGAR BAYI SEHAT DAN KUAT

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Satu tahun pertama usia bayi merupakan masa-masa rawan gangguan kesehatan karena daya tahan tubuhnya sangatlah rentan. Inilah cara-cara meningkatkannya.


1. BERI ASI EKSKLUSIF

ASI mengandung berbagai zat antibodi yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi. Sel-sel darah putih yang terkandung dalam ASI juga dapat menghambat kemunculan dan perkembangbiakan bakteri serta virus yang bisa menyebabkan timbulnya alergi, diare, pneumonia, meningitis maupun infeksi telinga dan infeksi kandung kemih.

Di hari-hari pertama, ASI mengandung kolostrum yang sering disebut ASI premium. Cairan yang bewarna kekuningan inilah yang kandungan vitaminnya paling lengkap dan sempurna sehingga mampu memberi perlindungan yang sangat ampuh bagi tubuh bayi. ASI juga mengandung protein khusus yang disebut taurin. Protein akan mengoptimalkan pertumbuhan sel otak sekaligus meningkatkan kecerdasan bayi.

Anjuran minimal yang disepakati para ahli kesehatan dunia yakni agar para ibu setidaknya memberikan ASI selama 6 bulan (eksklusif) tanpa disertai asupan makanan lain. Untuk selanjutnya pemberian ASI tetap dapat diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun.

Menyusui secara eksklusif juga memberi kesempatan pada ibu untuk mengembangkan bonding/kedekatan ibu-anak. Kedekatan ini terjalin karena setiap kali menyusui terjadi kontak langsung saat ibu mendekap bayinya dan membiarkan puting buah dadanya diisap si kecil. Dekapan hangat ibu akan membuat bayi merasa nyaman yang pada akhirnya menumbuhkan basic trust. Nah, basic trust inilah yang menjadi modal awal yang kelak akan membuat bayi tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan mandiri.

2. PATUHI JADWAL IMUNISASI

Pemerintah mewajibkan 5 jenis imunisasi dasar yang sudah harus terpenuhi sebelum anak berusia setahun. Kelima imunisasi itu adalah BCG (Bacille, Calmette, Guerin), hepatitis B, DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), polio, dan campak. Pertimbangannya, penyakit-penyakit tersebut memiliki angka kesakitan dan kematian yang tinggi, selain bisa menimbulkan kecacatan.

Imunisasi dasar diberikan agar anak mendapat kekebalan awal secara aktif. Mematuhi jadwal imunisasi sangat dianjurkan agar hasilnya optimal. Contohnya, mengikuti jadwal imunisasi DPT pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Pengulangan dilakukan untuk memperkuat antibodi yang sudah terbentuk.

Seperti diketahui, imunisasi akan memunculkan antibodi pada yang diberikan. Setelah mendapat imunisasi, antibodi bayi akan naik. Tapi suatu saat, antibodi itu bisa turun. Nah, saat itulah imunisasi harus diberikan lagi agar antibodinya yang turun bisa kembali naik. Jika tak dilakukan pengulangan imunisasi, maka saat daya tahan tubuh turun, kemungkinan terkena penyakit yang akan ditangkal bisa saja terjadi. Itulah sebabnya, mematuhi jadwal imunisasi menjadi sangat penting.

3. BIASAKAN CUCI TANGAN

Bayi sangat rentan terhadap virus dan bakteri. Oleh karena itu sebelum memegangnya, jangan lupa cuci tangan dahulu. Terutama sehabis bepergian atau menyentuh sesuatu yang tidak terjamin kebersihannya. Orang lain yang hendak memegang dan menggendong si kecil pun sebaiknya diminta mencuci tangan dahulu. Gunakan sabun setiap kali mencuci tangan.

Sampai berusia 6 bulan, kekebalan tubuh bayi belum terbangun sempurna. Ia masih bergantung pada kekebalan tubuh ibunya yang dibawa sejak lahir dan dari ASI. Oleh sebab itu, penting menjaga jangan sampai bayi terkena virus dan bakteri, di antaranya yang dipaparkan dengan tangan apabila tidak terjaga kebersihannya.

Bahkan kebanyakan penyakit infeksi yang diderita bayi, seperti pilek, demam, batuk, atau diare, didapat dari tangannya sendiri selain tangan orang dewasa yang memegangnya.

4. JANGAN MEROKOK

Anjuran ini hendaknya benar-benar dipatuhi sebab kita semua sudah tahu betapa berbahayanya asap rokok. Penelitian yang dilakukan National Health Institute di Amerika tahun 1997 mengatakan, dalam setiap kepulan asap rokok setidaknya terdapat 4.000 jenis racun yang dapat mengganggu kesehatan, bahkan membunuh pertumbuhan sel-sel baru. Jadi, merokok di depan bayi sama artinya dengan menjadi silent killer alias si pembunuh diam-diam.

Bayi yang sering terpapar asap rokok pun makin berisiko mengalami SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) atau sindrom kematian tiba-tiba, bronkitis, asma, dan infeksi telinga. Bahkan, asap rokok berdampak buruk pada intelegensi dan perkembangan saraf bayi. Yang mengejutkan, ibu menyusui yang menghirup asap rokok, baik dari rokoknya sendiri atau orang lain, di dalam ASI-nya terkan-dung nikotin yang sudah tentu akan berdampak buruk bagi bayi.

5. JAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN

Diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meru-pakan penyakit langganan yang paling sering diderita bayi. Kedua penyakit ini sering dihubungkan dengan lingkungan di sekitar bayi yang kurang higienis. Itulah mengapa, prioritaskan kebersihan lingkungan bila ada bayi. Contohnya, membersihkan rumah secara rutin, selain rajin membersihkan diri dan meminta seluruh anggota keluarga menjaga kebersihan pribadinya, serta menjaga kebersihan makanan yang akan disajikan kepada bayi bila sudah membutuhkan makanan pendamping ASI. Bayi pun sudah mulai diajarkan tentang kebersihan dengan cara teratur memandikannya dan mengganti bajunya setiap kali basah atau kotor.

6. CUKUPKAN WAKTU TIDUR BAYI

Penelitian yang dilakukan di Boston, USA (2002) mengung-kapkan bahwa tidur yang nyenyak pada bayi dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Pasalnya, selama tidur, bayi membangun sel-sel baru dalam tubuhnya yang dapat menangkal berbagai serangan mikroba dan virus. Singkatnya, tidur yang cukup (16-18 jam sehari) berhubungan erat dengan meningkatnya imunitas.

Jadi, selalu upayakan agar bayi tak rewel dan bisa nyenyak tidurnya dengan segera menyusuinya bila lapar, mengganti popoknya yang basah bila mengompol, dan
menghindari suasana bising di kamar. Jika si kecil tak mengalami hambatan tidur tapi tiba-tiba jadi sulit tidur, perlu dicurigai adanya indikasi suatu penyakit. Orangtualah yang mesti pandai-pandai “membaca” isyarat dari buah hatinya.

7. PENUHI KEBUTUHAN NUTRISINYA

Setelah masa ASI eksklusif 6 bulan berlalu, pengenalan makanan semipadat dapat dilakukan sedikit demi sedikit sampai bayi bisa beradaptasi. Saat pemberian makanan tambahan, perhatikan benar kandungan gizi masing-masing jenis bahan agar kebutuhan gizi si kecil bisa tercukupi.

Kecukupan gizi membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Protein, contohnya, yang didapat dari susu berguna sebagai “pembangkit” daya tahan tubuh. Imunisasi yang sebagian besar terdiri atas zat protein akan optimal hasilnya bila di dalam tubuh bayi ditemukan protein. Itu sebabnya, bayi dengan gizi buruk umumnya ketika mendapat imunisasi, hasilnya tidak optimal.

Selain itu, sertakan buah-buahan dan sayuran yang banyak mengandung vitamin C dan betakaroten seperti jeruk dan wortel. Vitamin C dan betakaroten dipercaya mampu menangkal virus dan membantu perkembangan sel-sel baru.

Tingkat kepadatan makanan pendamping ASI tentu saja harus diperhatikan agar pencernaan bayi tidak “kaget”. Mulailah dari yang agar encer, semi padat, dan agak padat semisal bubur susu encer, bubur kental, dan kemudian nasi tim.

BINA HUBUNGAN BAIK DENGAN DOKTER

Kebanyakan ibu sering mengeluhkan padatnya kunjungan ke dokter di tahun pertama kehidupan bayi. Hal ini memang tak bisa dihindari mengingat di rentang waktu tersebut ada beberapa imunisasi yang harus dilakukan. Yang terpenting, optimalkan kunjungan ke dokter ini dengan melakukan hal-hal positif lainnya, seperti berdiskusi dengan dokter sambil mengamati pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual maupun emosional bayi.

Jangan lupa, pertumbuhan otak tercepat terjadi pada dua tahun pertama kehidupan anak. Jadi, binalah kerja sama dengan dokter untuk mengoptimalkan potensi anak. Dengan rajin berdiskusi, setiap keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan dapat diketahui secara cepat untuk sesegera mungkin ditangani.

Relasi yang terjalin baik tentunya membuat ibu lebih leluasa ngobrol dengan dokter tentang apa saja seputar kehidupan bayi. Baik itu cara-cara tepat meningkatkan kekebalan bayi, menangkal gangguan kesehatan, pemilihan asupan tambahan yang tepat, perlu tidaknya pemberian antibiotik dan sebagainya.


Narasumber:

dr. Lindana Sastra, Sp.A.,

dari RSB Asih, Jakarta

 

19 TANYA JAWAB SEPUTAR KOLIK

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Kolik adalah gangguan kesehatan yang sering muncul di usia bayi. Umumnya tidak berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya. Dr. Suarman Abidin Sp.A. dari RSAL Mintoharjo, Jakarta menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kolik.


1. Apa yang dimaksud kolik?

Kolik adalah nyeri perut akibat gangguan pada usus. Bila terserang kolik, gejalanya khas yaitu bayi menangis keras dan terus-menerus. Muka kemerahan atau bisa pucat, perut kembung dan keras. Kedua tungkai mula-mula lurus kemudian ditekuk ke arah perut serta kedua tangan mengepal. Tangis bayi yang lama ini biasanya menyebabkan orang tua panik. Serangan kolik baru akan berhenti kalau ia kecapaian, buang angin atau buang air besar.

2. Gangguan ini terjadi di usia berapa?

Umumnya kolik menimpa bayi berusia kurang dari 3 bulan. Di atas usia itu jarang yang terserang kolik. Bahkan biasanya benar-benar berhenti setelah berusia 6 bulan karena sistem pencernaannya sudah mulai berfungsi sempurna.

3. Penyebabnya apa ya?

Penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Namun sebagian besar ahli kesehatan anak menduga kolik muncul karena adanya rasa sakit di bagian perut akibat gangguan pencernaan. Pendapat ini didasari pengamatan pada bayi kolik yang selalu mengangkat kakinya atau mengeluarkan gas (buang angin) saat menangis.

Timbulnya gangguan pencernaan ini bisa karena kejang otot dinding usus, terdapat udara dalam usus akibat salah posisi saat menyusu, terutama susu botol. Atau bisa juga akibat kelaparan yang tak segera terpuaskan dan membuat bayi menangis berkepanjangan sehingga memungkinkan udara masuk. Tidak tertutup kemungkinan akibat salah dalam pemberian makanan, semisal terburu-buru diberi makanan lain selain ASI atau susu formula. Oleh karena itu, selain menangis berlebihan, gejala kolik tampak pada perut yang kembung dan berbunyi kelutukan (suara gerakan usus yang berlebihan).

4. Benarkah semua bayi bisa terkena kolik?

Tidak selalu demikian. Umumnya yang berpotensi mengalami kolik adalah bayi yang mengonsumsi susu formula.

5. Mengapa?

Tak lain karena susu formula mengandung kadar lemak dan karbohidrat yang jauh lebih tinggi dibanding ASI. Nah, tingginya kadar lemak dan karbohidrat membuat penyerapannya jadi lebih lama. Kalau ASI hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membuat perut kosong lagi. Sedangkan susu formula membutuhkan waktu 2 jam. Karena karbohidrat yang tinggi, fermentasi di usus juga berlebih. Ini menyebabkan perut jadi kembung yang akhirnya berujung pada kolik.

Oleh sebab itu, bila harus memberi susu formula, berikan dalam porsi sedikit tapi sering agar sistem pencernaan anak mampu menyesuaikan diri. Pastikan lubang dot botol susu sesuai dengan kemampuan bayi menelan. Juga leher botol dot harus terisi susu ketika diminumkan. Ini untuk mencegah bayi menelan terlalu banyak udara sewaktu minum. Selain itu, kolik ternyata terkait langsung dengan adanya risiko alergi susu sapi. Para bayi yang minum susu formula memang berpeluang mengalami kolik lebih besar dibanding bayi yang mendapat ASI eksklusif.

6. Apakah bayi yang minum ASI juga bisa kolik?

Bisa saja, tapi bukan karena ASI-nya, melainkan karena salah posisi saat ibu memberikan ASI. Oleh sebab itu penting untuk senantiasa memerhatikan posisi yang benar kala menyusui untuk mencegah udara masuk.

7. Mengapa kolik biasanya terjadi pada senja hari?

Sebenarnya kolik bisa terjadi kapan saja, tetapi umumnya pada sore hari menjelang malam. Mengapa demikian, sampai sekarang belum diketahui pasti penyebabnya. Kemungkinan akibat fermentasi susu yang dikonsumsi sejak pagi hingga siang hari namun imbasnya baru terasa sore hari. Yang pasti kolik bersifat spasmodik alias serangannya sekonyong-konyong datang-hilang. Sangat mungkin waktunya di luar perkiraan.

8. Bagaimana membedakan tangisan kolik dengan tangisan biasa?

Tangis bayi yang sedang mengalami kolik umumnya menunjukkan ekspresi gelisah dengan muka memerah. Tangisnya amat keras sampai-sampai tangannya mengepal, sementara tubuh dan lututnya terangkat ke atas. Namun yang penting, sehubungan dengan tangis si kecil, penting bagi setiap ibu untuk mengetahui frekuensi dan penyebab tangis bayinya.

9. Mengapa sedemikian perlu mengetahui frekuensi dan penyebab tangis bayi?

Dengan mengetahui frekuensi dan penyebab tangis bayi, ibu akan dengan mudah meredakan kolik buah hatinya. Contohnya, ibu harus tahu kalau di usia 2 minggu bayi mulai sering menangis. Kecengengan ini mengalami puncaknya saat usia 2-3 bulan dan setelah itu akan berkurang lagi. Di minggu-minggu pertama total bayi menangis rata-rata 2 jam per hari. Sedangkan pada minggu ke-6 totalnya mencapai 3 jam. Angka ini menurun lagi setelah melewati usia 3 bulan dengan total menangis hanya 1 jam per hari. Nah, dari sini bisa diketahui apakah tangisnya wajar atau sudah mengarah ke gangguan/penyakit.

Sedangkan mengenai penye-babnya, secara garis besar ada dua. Pertama, bayi menangis bukan karena sakit, tetapi karena lapar, haus, perasaan tak enak atau tak nyaman akibat kepanasan, kedinginan, popok basah, suara berisik, atau lelah. Kedua, bayi menangis karena memang ada suatu penyakit seperti infeksi; radang tenggorokan, radang telinga; hernia, sumbatan usus dan sebagainya. Penyebab kedua ini umumnya disertai “keluhan” lain semisal sulit buang air, rewel terus-menerus, tak mau menyusu dan seba-gainya. Sementara tangisan kolik jarang yang disebabkan penyakit, melainkan lebih karena gangguan pencernaan dan rasa tak nyaman.

10. Apa iya ada bayi kolik yang tidak menangis?

Sepertinya tidak mungkin karena perut kembung disertai gerakan usus berlebihan akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Ini akan membuat mereka menangis keras.

11. Bagaimana cara men

olong bayi kolik?

Usahakan bayi bisa kentut atau bahkan BAB (buang air besar) sehingga perutnya jadi kosong, terasa enteng dan tidak melilit. Cara yang lazim dianjurkan membantu bayi kentut adalah memiringkan bayi pada posisi tiduran dengan lengan kanan di bawah. Bisa pula berikan guling di antara ke dua kakinya. Dalam beberapa menit biasanya bayi akan kentut karena posisi perut seakan “tergantung”.

12. Kapan sebaiknya si kecil dibawa ke dokter?

Hubungi dokter bila tangis bayi sangat intens dan tak kunjung henti. Perhatikan pula jika bayi sering terjaga dan terlihat kesakitan. Jika intuisi ibu mengatakan ada sesuatu yang tidak beres pada si bayi, cepatlah hubungi dokter. Begitu pula bila dengan cara-cara ditenangkan dan diberi ASI, kolik tak juga hilang, bawalah segera ke dokter. Dokterlah yang akan memastikan apakah tangisnya itu disebabkan kolik atau ada penyakit lainnya.

13. Pada kasus kolik, apakah dokter akan mem-beri obat?

Dokter biasanya menghindari pemberian obat karena dikha-watirkan bisa berdampak negatif pada bayi yang masih rawan sistem pencernaannya. Makanya akan diprioritaskan cara-cara alami yang dapat membantu mengeluarkan gas dari perutnya.

14. Apakah penggunaan minyak penghangat dapat mengurangi kolik?

Lebih baik baringkan bayi dalam posisi miring. Penggunaan minyak gosok malah bisa menimbulkan dampak yang tidak diharapkan. Misal, baunya yang amat merangsang dapat terhirup oleh bayi. Jika si bayi memiliki bakat alergi, rangsangan baunya dapat menimbulkan batuk. Sementara jika alerginya pada kulit, kulit di sekitar perutnya bisa tampak merah dan terbakar.

15. Seberapa efektif sendawa dapat mencegah kolik?

Terlalu banyak menelan udara memang bisa menyebabkan kembung di perut yang berujung pada kolik. Itulah sebabnya, penting untuk mengusahakan bayi bersendawa setiap kali habis menyusu guna mencegah berkumpulnya udara di perut.

16. Benarkah kolik bisa berarti ada gangguan pada perilaku bayi?

Belum ada penelitian yang membuktikan. Namun hal ini bisa terlihat pada bayi yang tumbuh sehat, gizinya baik, tapi menangis terus dengan total lebih dari 3 jam sehari dan lebih dari 3 hari dalam seminggu. Gangguan perilaku bisa timbul akibat adanya rasa tidak aman. Perasaan ini mungkin muncul bila bayi merasa kurang mendapat kasih sayang dan perhatian. Bukankah bayi sangat peka perasaannya? Oleh sebab itu ibu atau ayah amat disarankan untuk menenangkan bayinya dengan cara memeluknya.

17. Benarkah kini kasus kolik semakin jarang?

Inilah berita baiknya. Boleh jadi karena pengetahuan para ibu tentang pemberian makanan bayi kini semakin tinggi. Mereka tak tergesa-gesa memberikan makanan padat kepada bayinya. Disam-ping gencarnya kampanye pemberian ASI eksklusif yang juga meningkatkan motivasi dan kesadaran para ibu untuk memberikan hanya ASI sampai bayinya berusia 6 bulan. Ibu-ibu tampaknya juga semakin terampil merawat bayi dan peka terhadap kebutuhan bayinya sehingga bayi terhindar dari rasa tak nyaman. Faktor-faktor itulah yang menye-babkan kolik semakin jarang terjadi pada bayi.

18. Adakah kolik yang tak bisa disembuhkan?

Belum pernah terjadi kasus kolik yang tak bisa disembuhkan karena rata-rata memang hilang sendiri bila ibu tahu cara mengatasinya. Antara lain dengan menyendawakan atau mengu-sahakan keluarnya gas lewat buang angin, menciptakan lingkungan yang nyaman untuk bayi, dan pemberian makanan yang tepat seperti ASI eksklusif. Ingat, ASI memang merupakan makanan alami yang dipersiapkan untuk sistem pencernaan bayi.

19. Adakah cara lain mencegah terjadinya kolik?

Yang jelas hindari buru-buru memberikan makanan padat. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan efektif untuk mencegah kolik. Bayi juga tak boleh dibiarkan sampai terlalu lapar atau harus menunggu lama sebelum minum susu. Pemberian susu formula jangan sampai berlebihan karena proses penyerapan yang lebih lama akan menimbulkan fermentasi berlebih pada usus. Sedangkan pada ASI, karena sifat penyerapannya yang mudah, dapat diberikan kapan saja (on demand).

Jika koliknya disebabkan oleh perilaku bayi akibat merasa kurang aman dan nyaman, orangtua bisa menciptakan lingkungan yang tenang, termasuk memeriksa suhu kamar supaya bayi tidak kepanasan atau kedinginan. Bayi yang bisa tidur atau beristirahat dengan baik umumnya jarang kena kolik.

Selain itu, orangtua sebaiknya menjaga dan merawat bayi secara bergantian agar cukup istirahatnya. Jangan sampai ibu merasa lelah sendirian lalu cenderung marah-marah pada ayah yang dinilainya tak mau membantu. Ingat, bayi cukup sensitif terhadap ketegangan yang terjadi pada orangtuanya. Sebagai reaksinya, biasanya si bayi akan menangis berlebihan tanpa sebab yang jelas.

KALAU SI BAYI “BICARA”

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Lewat tangis dan ocehannya, sebenarnya bayi sedang “bicara” pada kita.


Dari interaksi sehari-hari, Anda pasti tahu deh kalau bayi punya bermacam cara untuk mengekspresikan diri. Salah satunya, “bicara” lewat tangisan atau suara-suara yang bikin gemas. Coba tebak, apakah ia sedang minta perhatian? Minta diajak main? Ingin Anda melihat apa yang dia lihat? Ingin tambah sesuatu atau justru minta berhenti?

Nah, untuk bisa “ngobrol” dengan bayi, Anda harus ingat prinsip 2R (recognize dan responds). Kira-kira begini praktiknya:

· Recognize atau kenali isyarat si bayi. Tanya pada diri sendiri, “Kira-kira bayiku mau ngomong apa ya lewat matanya, mimiknya, gerak tubuhnya, atau suaranya?”

· Responds atau tanggapi selalu isyarat komunikasi bayi. Jadi jangan pernah lupa, “Si kecil ingin ngomong sesuatu, tuh.” (dikutip dari: “Building Conversation”, http://www.babyhearing.org)

Supaya Anda bisa memberikan respons yang tepat, paling tidak ketahui dulu tahapan-tahapan kemampuan “bicara” bayi. Dengan begitu, Anda makin peka menangkap pesan-pesannya. Inilah tahapan-tahapannya:

BARU LAHIR: MENANGIS

Menangis adalah “percakapan sosial” pertama sang bayi. Tangisan di bulan pertama terdengar monoton, baik ketika ia lapar, sakit, ataupun merasa tak nyaman. Melalui tangisan, bayi berinteraksi dengan lingkungan. Ia tengah berkomunikasi untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang lain. Sebaliknya, dengan menangis si kecil belajar, setiap tangisan ternyata punya makna tersendiri. Penggunaannya berbeda-beda dan bisa ditangkap maksudnya oleh orang lain.

1-4 BULAN: BAHASA TUBUH DAN SUARA VOKAL

Sampai usia 4 bulan, bayi masih banyak berkomunikasi dengan cara menangis. Namun di usia 1,5 bulan si kecil mulai memunculkan tangis yang berbeda-beda. Tangisannya tidak lagi monoton seperti ketika baru lahir. Contoh:

* Bila merasa tak nyaman akibat kepanasan atau cari perhatian umumnya bayi mengeluarkan rengekan yang terputus-putus.

* Bila sakit diungkapkan dengan tangisan melengking keras diselingi rengekan dan rintihan.

* Tangisan lapar terdengar keras dan panjang diselingi gerakan mengisap pada mulut mungilnya.

Di usia ini, selain menangis bayi berkomunikasi dengan menggumam bunyi vokal meski belum begitu jelas. Umumnya terdengar seperti bunyi “aaah” atau “oooh”. Ada juga yang bergumam “uuuh” dan “eeeh”. Gumaman ini biasanya keluar saat bayi “mengutarakan” perasaan, seperti senang atau tak suka. Ketika gembira diajak bermain, gumaman yang keluar mungkin bernada panjang “aaah”. Gumaman ini sebetulnya merupakan hasil tekanan pada otot-otot bicaranya.

Di usia 4 bulan, bayi mulai tertawa nyaring dan mampu mengeluarkan suara dari tenggorokan. Jadi, tak lagi hanya sebatas gumaman. Ia juga mulai mengekspresikan keterampilannya menunjukkan bahasa tubuh. Kendati bentuknya masih amat sederhana, seperti tersenyum saat memandang wajah orang yang dikenalnya, mengerutkan dahi ketika merasa tak nyaman, dan mulai memalingkan wajah ke arah sumber bunyi ketika dipanggil.

5-7 BULAN: KELUAR OCEHAN

Di usia ini bayi mulai mengeluarkan suara ocehan pendek berupa suku kata (gabungan huruf mati dan huruf hidup), seperti “ba”, “da”. Ocehannya masih terbatas pada bunyi-bunyi eksplosif awal yang muncul karena adanya perubahan mekanisme suara.

Bayi amat senang dengan bentuk komunikasi berupa ocehan ini. Jika gembira bermain, bayi akan mengeluarkan ocehan yang lebih lama dan panjang. Ocehan ini kelak akan berkembang menjadi celoteh (memadu-kan berbagai suku kata) dan selanjutnya berubah menjadi kata demi kata.

Di usia ini, bayi juga mulai belajar mengomunikasikan perasaannya tidak melulu lewat tangisan. Kalau ia tak suka, misalnya, ia akan mengeluarkan suara seperti melenguh. Sebaliknya, jika sedang merasa senang, ocehannya bertambah keras. Bahkan akan menjerit kesenangan meski belum dengan nada tinggi.

7-8 BULAN: OCEHAN MENINGKAT

Ocehan bayi makin panjang, semisal “bababa” atau “dadada”. Kuantitasnya juga meningkat dengan cepat di antara bulan ke-6 sampai ke-8. Di tenggang waktu ini, orangtua diharapkan memberi stimulasi yang tepat dengan lebih sering mengajak bayi bercakap-cakap dalam intonasi naik turun dan ekspresif agar mudah ditangkap.

8-12 BULAN: KELUAR CELOTEHAN PANJANG

Ocehan konsonan-vokal seperti “dadada”, “uh-uh-uh” dan “mamama” akan meningkat jadi celoteh yang maknanya dalam. Pertama, berceloteh adalah dasar bagi perkembangan berbicara. Kedua, celoteh adalah bagian dari komunikasi bayi dengan orang lain. Ini terlihat ketika ia mendapat respons terhadap celotehnya, bayi akan lebih giat berceloteh dibandingkan bila ia berceloteh sendirian. Ketiga, dengan berceloteh bayi merasa menjadi bagian dari kelompok sosial karena celotehnya ditanggapi. Ini akan membuat bayi mengembangkan rasa percaya dirinya yang kelak akan sangat menentukan kemandiriannya.

11-14 BULAN: KATA-KATA PERTAMANYA NYARIS LENGKAP

Secara spesifik, bayi mampu mengucapkan satu patah kata yang berarti meskipun belum sempurna/lengkap, misalnya “ma” untuk mama, “pa” untuk papa, “num” untuk minum, dan “nen” untuk menetek. Di usia ini bayi juga sudah mampu melakukan tugas yang diminta seperti “lempar bolanya!” atau “ayo minum” sambil orangtua menunjuk benda yang dimaksud.

MEMBANTU BAYI BELAJAR BICARA

Kemampuan berbahasa yang baik akan muncul jika bayi rajin diajak bicara atau dilibatkan dalam aktivitas bersama.

Di usia 1 tahun, anak diharapkan sudah mampu mengucapkan 1-3 kata yang bermakna. Orangtua harus mulai waspada bila sampai usia 12 bulan, si kecil baru bisa mengoceh (babbling) atau malah baru mengeluarkan suara vokal “aaa” dan “u

uu” yang sama sekali tidak jelas artikulasinya.

Jika hal ini terjadi, sangat dianjurkan meminta saran dokter atau psikolog. Biasanya mereka akan menunjuk seorang speech therapist (terapis wicara) untuk membantu orangtua memberikan stimulasi yang tepat.

Membantu bayi belajar bicara bisa dilakukan dengan cara seperti yang dijelaskan Lise Eliot, Ph.D. Beliau adalah penulis buku What’s Going on in There? How the Brain and Mind Develop in the First Five Years of Life (Bantam, 1999).

· Sering mengajak bayi bicara

Jangan dulu membayangkan padatnya jadwal mendongeng, mengulang-ulang alfabet, atau membalik-balik “flash card” di hadapan si bayi, sebab ayah dan ibu hanya perlu mengajaknya ngobrol. Kapan ngobrol-nya? Sejak bayi lahir, sampaikan apa yang sedang Anda lihat, dengar, atau lakukan dengan kata-kata. Begitu pula, tanggapi selalu ajakan berkomunikasinya entah itu berupa tangisan, gumaman, ocehan, atau celotehan. Tujuan keduanya agar ia merasa dilibatkan.

Lewat percakapan yang “bodoh” sekalipun, kepekaan awal bayi untuk mendengarkan kata-kata akan meningkat. Misalnya, “Halo Sayang, tunggu sebentar ya, Ibu siapkan ASI untukmu.” Atau, ‘Lihat nih, Ayah baru pulang dari kantor. Wah, tas Ayah berat sekali. Kamu mau bantu mengangkatnya, Sayangku?” Mendengar percakapan akan membantu meningkatkan sensitivitas awal bayi pada kemampuan berbicara. Ia juga mulai belajar mengenali suara ayah-ibu berikut intonasi yang beragam.

· Bermain bersama

Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan. Bermain sekaligus juga mengajari bayi pentingnya membina hubungan sosial. Bukankah bermain mengajarinya mengenal aturan dan kebersamaan? Setiap kali Anda bermain dengannya, kenalkan aturan permainan dan jangan ragu untuk menyampaikannya. Ketika bermain cilukba, misalnya, terangkan, “Ibu akan menutup matamu ya. Kalau Ibu bilang ‘cilukba’, buka matamu ya.” Dengan mengulang-ulang secara rutin, bayi akan memahami aturan permainan. Pada akhirnya dia juga akan mengerti bahwa aturan bersama (social agreement) sering kali dijabarkan lewat kata-kata.

· Tunjukkan rasa cinta

Dalam situasi penuh cinta, bayi akan mampu belajar banyak. Kenapa? Karena ekspresi cinta mendorong orangtua untuk bicara dan bertindak dengan cara yang menyenangkan juga membangkitkan antusiasme si kecil.

Penelitian yang dilakukan Eliot mengungkapkan, anak-anak yang cerdas bertutur dan memiliki banyak perbendaharaan kata umumnya punya orangtua yang sering mengajak mereka berdiskusi, bahkan sejak bayi.

TAHAPAN BICARA BAYI

UMUR (DALAM BULAN) BICARA
BARU LAHIR <crying> Menangis, mampu mengenali suara ibu
1-4 <smil ling, cooing> Tersenyum, mengerutkan dahi, tertawa, menggumam (suara vokal seperti “aaa” dan “ooo”). Mulai memalingkan wajahnya jika dipanggil.
5-7 <babbling> Mengeluarkan satu silabel, seperti “ba” dan “da”. Mengerti siapa yang dimaksud “mama” dan “papa”.
7-8 <babbling> Mengoceh cukup panjang seperti “bababa” atau “dadada”.
8-12 <lalling> Mengeluarkan suara gerutuan berupa suku kata (huruf mati dan huruf hidup) secara berkepanjangan tanpa arti. Tangannya mulai menunjuk suatu objek bila menginginkan sesuatu atau mengangkat tangannya ketika ingin dipeluk atau digendong.
11-14 <speaking> Mulai berkata-kata sekaligus tahu artinya meskipun belum mengungkap secara lengkap, misalnya “num” ketika minta minum atau “pis” saat celananya basah oleh pipis. Mampu mengucapkan panggilan orang-orang terdekatnya, seperti “bu”, “ma” dan “pa” atau “yah”.

Narasumber:

Ergin Indra Laksana, MPsi.,

Direktur Program KidsGrow di Jakarta

MENYAMBUT “TAMU MUNGIL” DI RUMAH

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif Menang, haru, dan cemas campur aduk menjadi satu. Bagaimana agar ibu tak letih?

Di balik rasa gembira yang meluap mensyukuri kedatangan si kecil, biasanya terselip rasa cemas tentang kesibukan baru yang menunggu. Ya, “tamu” yang satu ini memang kecil tetapi dibutuhkan energi yang besar untuk merawat dan melayaninya. Dari mana datangnya energi itu? Tentu saja dari rasa bahagia kedua orangtuanya. Tapi asal tahu saja, rasa bahagia bisa luntur oleh tidak mulusnya penyesuaian situasi baru di rumah. Nah, agar prosesnya berjalan mulus, Anda perlu tahu caranya. Pasti bisa, deh.

SUSUI BAYI TIAP KALI MINTA

“Aduh, si kecil dikasih susu apa ya sama suster? Berarti aku harus punya stok, dong.” Please deh, ibu kan punya pabrik ASI, jadi kenapa harus pusing memikirkan stok susu segala? Malah, selama dirawat di rumah bersalin, bayi amat dianjurkan tidak diberi susu selain susu ibunya. Jadi, berikan ASI tanpa asupan lain (eksklusif). Ibu tak perlu repot menyediakan botol steril, atau mengatur jadwal menyusui. Susui kapan pun bayi menginginkannya (on demand) di tempat tidur atau di kursi yang lebar dan empuk dengan bantal-bantal. Nikmati proses menyusui si kecil sebagai hak eksklusif seorang ibu. Adakalanya Anda sampai menangis haru melihat kegigihannya mengisap puting.

Umumnya bayi baru lahir minta menyusu ASI setiap 1,5-2 jam. Ini karena ASI lebih mudah diserap sehingga lambung jadi cepat kosong. Apa kodenya? Bayi menangis karena lapar. Kalau salah satu sudut bibirnya kita sentuh, ia akan menoleh ke arah situ sebagai refleks mencari puting. Kode lainnya, bayi mungkin seperti memainkan lidah atau tangannya disentuhkan ke mulut. Nah, saat itu segeralah susui si kecil. Bagilah kebahagiaan kala menyusui dengan suami agar ia merasa terlibat. Alhasil, ibu juga akan merasa lebih tenang dan bahagia. Kondisi nyaman seperti ini akan meningkatkan refleks produksi oksitosin sehingga pengeluaran ASI makin lancar.

PAHAMI TANGISANNYA

Biasanya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama, baik siang maupun malam. Jangan khawatir, tak lain karena ia masih berada dalam fase penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar. Lagi pula, menangis adalah satu-satunya cara “berkomunikasi” yang ampuh untuk menarik perhatian orangtuanya.

Umumnya para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar, padahal menangis tak selalu identik dengan lapar. Jadi, mulai sekarang belajarlah untuk mengenali nada tangisnya dengan cermat. Gerakan tubuh yang menyertai tangis dapat membantu Anda lebih memahami apa maksudnya. Makin keras suaranya dan makin lama tangisnya berarti makin kuat kebutuhannya. Jika tangisnya melengking kesakitan, mungkin si bayi mengalami kolik. Baringkan miring dengan lengan kanan di bawah sampai ia kentut. Kalau perlu selipkan guling kecil di antara kedua kakinya.

KENALKAN SITUASI RUMAH

“Hai sayang, ini Ibu, ini Ayah,” kenalkan bayi pada lingkungan barunya dengan bahasa ibu dan bahasa tubuh. Pola “pembicaraan” awal akan memengaruhi keterampilannya dalam berkomunikasi, terutama kemampuan menjalin hubungan dengan ibu. “Pembicaraan” antara si kecil dan sang ibu umumnya dimulai saat keduanya pertama kali melakukan sentuhan kulit beberapa saat setelah dilahirkan. Pada masa awal ini, hal utama yang dibutuhkan adalah berdekatan dengan sang ibu untuk mendapatkan rasa aman.

Selanjutnya, biasakan “ngobrol” dengan si kecil setiap kali orangtua beraktivitas bersamanya. Inti percakapan ini bertujuan mengenalkan lingkungan barunya. Begitu tiba di rumah, katakan, “Ini rumahmu Sayang,”; “Kita tidur di kamar ini, ya,”; “Ini bak mandimu. Ibu akan memandikanmu dengan sabun wangi,”; “Enak ya, Dek, mandi. Segar deh,” dan seterusnya. Atau ketika nenek ikut membantu merawatnya di rumah, ucapkan, “Ini nenek yang akan bantu Ibu mengurus kamu untuk sementara waktu.” Begitulah seterusnya agar bayi segera mengenali lingkungannya dan lebih mudah beradaptasi.

RAWAT BAYI DENGAN MANTAP

* Mandikan

Kita butuh mandi dua kali sehari, begitu pula bayi. Namun, memandikan bayi sering “menakutkan” bagi ayah dan ibu baru. Padahal tak perlu kelewat khawatir seperti itu. Lakukan saja seperti yang diajarkan bidan di tempat bersalin. Jangan lupa, siapkan dulu segala sesuatunya sebelum melepas baju bayi agar ia tak kedinginan. Mandikan bayi pagi dan sore hari pada jam yang teratur untuk menanamkan kebiasaan baik.

* Ganti Popoknya

Mengganti popok (apakah popok sekali pakai atau popok kain yang dapat dicuci) harus Anda lakukan dari waktu ke waktu demi kebersihan si bayi. Sama sekali tidak sulit jika dilakukan dengan mantap. Sebelum memakai popok baru, bersihkan kelamin bayi dengan kapas basah. Gunakan popok berbahan lembut dan berukuran pas.

 * Rawat Tali Pusatnya

Merawat tali pusat merupakan bagian yang paling mengerikan dari serangkaian ritual membersihkan bayi. Padahal sebelum lepas (puput) tali pusat ini harus selalu bersih agar tidak terinfeksi. Cukup gunakan kapas dan air hangat untuk membersihkan lipatan di bagian dasarnya. Keringkan. Turunkan sedikit bagian atas popok agar tidak bersentuhan dengan tali pusat. Biarkan terkena udara segar sesering mungkin. Jangan pernah sengaja menarik-nariknya atau mencopotnya karena pasti akan copot sendiri setelah 5-10 hari. Bersihkan setiap kali mandi.

* Potong Kuku Jarinya

Kadang bayi lahir dengan kuku jari yang lumayan panjang. Menjadi masalah bila mereka menggaruk tubuhnya, terutama wajahnya. Gunakan gunting khusus saat memotong kuku bayi agar terhindar dari perlukaan sekecil apa pun. Lakukan saat bayi tidur.

SISAKAN TENAGA

Menyusui dan merawat bayi baru pasti menyisakan rasa lelah yang luar biasa. Kurang tidur dan rasa letih setelah bersalin saling bertumpuk dan mungkin membuat ibu merasa tak berdaya. Keinginan untuk merawat bayi tidak diimbangi dengan kebugaran. Akibatnya, bisa terjadi ketegangan antara ibu dan bayi. Tangisan si kecil langsung membuat ibu merasa b

erat dan uring-uringan.

Agar tidak sampai seperti itu, ibu harus menghemat tenaga. Caranya, bagilah tugas mengasuh dan merawat bayi dengan ayah. Kecuali menyusui, urusan mengganti popok, memandikan, dan mengajak bermain bisa dilakukan oleh ayah, bukan? Begitu pula urusan merawat kakak si bayi kalau ada.

AKUI KALAU SEDANG BABY BLUES

Di sela-sela kebahagiaan menerima si tamu mungil, kadang muncul perasaan asing terhadap peran sebagai ibu yang harus menyusui, bangun tengah malam, dan tetek bengek lainnya. Baik sebagai ibu bagi anak pertama, kedua, dan seterusnya. Kewajiban mengurus bayi dan keluarga dirasa bagai beban yang menjauhkan ibu dari kehidupan normal. Jika bayi rewel, emosi mudah terpicu dan ibu makin stres. Sementara, kondisi fisik pun belum pulih. Perasaan asing dan berat sering kali membuat ibu sedih, murung, dan gampang menangis oleh sebab yang tidak jelas. Inilah depresi pascalahir yang sering disebut baby blues.

Jika benar mengalaminya, Ibu tak perlu malu mengaku. Mintalah bantuan suami untuk membantu mengatasinya. Mungkin ia punya ide membawakan CD baru band kesukaan ibu, memesan makanan favorit, makan es krim berdua, berdansa di kamar bayi dengan lagu nina bobok, atau mengajak ibu jalan-jalan sore sebentar selama si bayi tidur. Curilah waktu untuk bersenang-senang di sela-sela kewajiban mengurus bayi. Yakinlah, hidup harus tambah bahagia dengan kehadiran si kecil, bukan malah sebaliknya.

ATUR LAGI POLA BERINTIM-INTIM

Kehadiran bayi akan mengubah ritme keintiman suami-istri. Selama masa nifas (sampai 40 hari setelah melahirkan) bahkan suami-istri amat dianjurkan untuk tidak berhubungan intim. Selain karena fungsi hormonal tubuh ibu belum aktif bekerja, sanggama tak lama sesudah persalinan bisa menyebabkan infeksi pada jalan lahir. Jangan khawatir, ekspresi kasih sayang pasti dapat dilakukan dengan cara lain.

(sumber: Now The Baby Is Home; William Sears, M.D & Martha Sears, R.N; Thomas Nelson Publishers; Connecticut, USA; 2001)

“BIARKAN AKU SENDIRI!”

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 17, 2007

nakita.gif

Sesekali, main sendirian banyak manfaatnya, lo.


Coba, deh, amati yang dilakukan bayi ketika kita tidak menemaninya. Biasanya, ia akan sibuk bermain dengan kakinya yang menendang-nendang di udara. Atau dengan tangannya ia seolah-olah ingin menggapai mainan yang tergantung di atas tempat tidurnya. Kalau mainannya bergerak ke kiri dan kanan, biasanya ia lantas tersenyum sendiri.

Menyaksikan semua itu, sebagai orangtua kita pasti bahagia sekaligus gemas lalu segera menghampirinya. “Iya, Sayang. Itu kakimu! Ayo tendang-tendang lagi. Aduh pintarnya anak Mama. Kalau besar mau seperti David Beckham ya? Ini jari-jari kakimu yang mungil. Coba kita hitung sama-sama yuk, satu, dua, tiga, empat, lima.”

Jika si kecil kelihatan cuek, orangtua berinisiatif memegang kaki bayinya lalu “membantu” menendang-nendangkannya. Tapi jangan heran kalau ajakan bermain ini justru memunculkan tangisan bayi yang melengking karena merasa kesendiriannya terusik. Ini menunjukkan, sesekali bayi juga ingin sendirian saja.

RAMBAH “DUNIA”

Saat bermain sendiri, sebenarnya bayi sedang mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Bagi bayi yang masih berbaring, mainannya adalah anggota tubuhnya sendiri dan benda-benda yang teraba serta terlihat olehnya. Rasa ingin tahunya membuat si kecil begitu asyik dengan permainannya. Makanya ia terlihat bersemangat melakukannya berkali-kali untuk melihat bagaimana hasilnya. Kalau rasa ingin tahunya terpuaskan, ia akan tersenyum senang atau mungkin tertawa terkekeh.

Tempat tidur merupakan area yang amat menyenangkan untuk bermain. Meski terbatas, tapi sudah cukup memuaskan. Oleh karenanya, kalau ia tak menangis saat bangun tidur, Anda tak perlu buru-buru mengangkatnya. Biarkan ia sendirian sejenak dan saksikan betapa cepat dan mudahnya si bayi menemukan keasyikan sendiri. Mengamati tirai jendela yang bergerak-gerak karena angin boleh jadi buat Anda merupakan hal yang biasa-biasa saja. Tapi di mata bayi, gerakan itu amat menakjubkan.

Rentang waktu perhatian bayi pada “mainan” umumnya sangat singkat. Paling lama 5 menit, itu pun bila ia tidak lapar, lelah, kepanasan ataupun popoknya basah. Seiring dengan bertambahnya usia, rentang perhatiannya juga akan semakin lama. Berangkat dari pengalaman sehari-hari, orangtua bisa belajar, kapan saatnya si kecil butuh bermain bersama ayah dan ibu, dan kapan pula waktunya dia ingin sendiri.

ANTIBOSAN

Dengan memberi kesempatan bermain sendirian berarti Anda telah mengajari si kecil satu hal penting, yaitu bagaimana menciptakan kesenangan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Dengan begitu, ia terlatih untuk mampu mengusir rasa bosan yang sering muncul di masa batita dan prasekolah. Di saat sendiri pun, bayi belajar merasakan sensasi yang bisa mengasah keterampilan merasakan dan mengukur kekuatan tubuhnya.

Sebagai catatan, rasa bosan merupakan reaksi normal manusia yang muncul saat melakukan kegiatan itu-itu saja. Memang tak semua anak mudah merasa bosan, sebab ada juga yang memiliki ambang batas kejenuhan cukup tinggi. Terlepas dari ambang batas ini, setiap anak harus terampil memotivasi diri, bermain dan belajar sendiri jika tidak ada yang menemani, serta bekerja secara mandiri jika tidak ada yang membantu.

Oleh karena itu, meski si kecil butuh digendong, distimulasi, dan ditemani, ia juga perlu belajar berani sendirian. Jangan sampai, karena selalu ditemani dan diajak bermain, ia menganggap kesepian, kesendirian, dan rasa bosan sebagai sesuatu yang menakutkan. Lantas ia akan selalu “berteriak” minta ditemani.

Jelas, kemampuan menciptakan keasyikan seorang diri tak dapat tergantikan oleh mainan yang menyenangkan sekalipun. Keterampilan ini menjadi semacam alat antibosan yang ampuh membantu anak-anak ketika dihinggapi rasa jenuh. Dengan begitu, masa kanak-kanak maupun masa dewasa akan dilewatinya sebagai masa penuh kebahagiaan.

MAIN SENDIRI

* Di tempat tidurnya, bayi bisa bermain dengan tangannya (mulai usia 2 bulan bayi dapat mengepal dan membuka telapak tangannya), menendang-nendangkan kaki, atau mengamati mainan gantungnya.

* Berikan “cermin” antipecah dari bahan plastik atau mainan bunyi-bunyian yang dapat digenggam. Biarkan bayi mengenali sosok bayangan di cermin dan menggoyang-goyangkannya.

* Jika bayi sudah dapat berguling dan merangkak, taruhlah beberapa mainan di sekelilingnya. Bila bosan dengan mainan yang satu, ia akan beringsut mengambil lainnya.

* Kalau bayi sudah mulai mengoceh (babbling) biasanya di saat sendirian dia pun akan mengoceh. Biarkan ia “ngobrol‘” dengan dirinya sendiri sejenak. Buat kita, bukankah bernyanyi-nyanyi kecil sendirian juga cukup mengasyikkan?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Centre For Gerontology di Baltimore, USA, para manula yang tetap aktif dan mandiri akan terlihat awet muda. Biasanya karena mereka mampu menemukan hal-hal menyenangkan untuk dilakukan dan dinikmati sendiri. Hal ini tentu akan mudah dilakukan bila sedari kecil orangtua terbiasa memberi kesempatan pada anaknya untuk memiliki waktu sendirian. Momen ini memungkinkan anak melakukan kegiatan seorang diri yang menyenangkan.

RAMBU-RAMBU

* Meski sendirian itu perlu, jangan lantas membiarkan bayi sendirian terus-menerus.

* Berilah respons begitu bayi kelihatan bosan, gelisah, atau menangis.

* Pastikan bayi berada di tempat yang aman meski sendirian.

* Bila si kecil sudah mampu berguling atau merangkak, bermainlah hanya di kamarnya atau di kamar Anda. Lapangkan kamar dengan cara menyingk

irkan barang-barang yang tak perlu.

* Kalau bayi sudah bisa duduk, dudukkan pada kursinya. Kenakan sabuk pengaman. Berikan mainan atau buku favoritnya agar ia bisa asyik sendiri.

* Anda boleh berada di ruangan yang sama sambil membaca, bekerja di komputer, atau menyiapkan makanannya. Apalagi di usia 6-9 bulan biasanya bayi sudah menyadari keberadaan orang-orang di sekitarnya. Jadi, meski kelihatan asyik bermain sendiri, bisa saja ia langsung menangis ketika Anda beranjak meninggalkannya.

* Jangan lalaikan pengawasan. Pastikan si bayi tidak kekurangan suatu apa pun.

(sumber: Baby 411: Clear Answers & Smart Advice for Baby’s First Year; Ari Brown.M.D.; Bantam Books, USA, 2004)

Konsultan ahli:

Ergin Indera Laksana M.Psi.,

psikolog dan direktur program Kids Grow di Jakarta

« Previous PageNext Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.