Pustaka Digital Ibu dan Anak


10 CARA EFEKTIF BICARA Dengan SI BATITA

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on November 20, 2007

nakita.gif

Kenali karakteristik serta kematangan berpikirnya.

Kalau Anda sudah tahu sifat-sifat si kecil dan bisa mengira-ngira kecepatannya menangkap informasi, Anda akan lebih mudah melakukan pendekatan yang pas untuknya. Ya, tiap anak pasti butuh pendekatan yang berbeda tergantung pada pembawaannya. Namun demikian, ada patokan dasar tentang resep berkomunikasi efektif dengan si kecil. Nah, mari kita simak patokan-patokan tersebut seperti disampaikan Linawaty Mustopoh Psi., dari Experd Consulting, berikut ini:

* Singkat dan sederhana

Akui saja, kita terkadang bingung bila mendengar pembicaraan yang panjang lebar atau ngalor-ngidul, bukan? Nah, apalagi anak-anak. Lantaran itu, gunakan bahasa yang sederhana dan singkat. Saat kita memberikan suatu intruksi, katakan “Yuk, cuci tangan sebelum makan!” Lebih baik lagi bila orangtua mencontohkan bagaimana cara melakukan hal tersebut.

Kemudian, saat berkomunikasi dengan si kecil perhatikan intonasi dan nada suara. Jangan terburu-buru atau dengan nada menghardik. Intonasi tak jelas atau nada terburu-buru, membuat si batita kurang tanggap akan apa yang dibicarakan.

* Jelas

Kemampuan berbahasa, si batita, kan, masih terbatas. Hindari kata-kata yang membingungkan. Misalnya, “Awas, jangan ke sana, nanti jatuh!” Anak, kan, jadi bingung, kenapa dilarang? Terus, maksud kata “ke sana” itu apakah ke ruang tamu, kamar, dapur, teras atau lainnya. Berbeda bila Anda mengatakan, “Sayang, kamarmu baru dipel. Masih licin. Duduk di kursi dulu ya!” Jadi, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya. Jangan sampai menimbulkan banyak pemahaman. Maka berbicaralah sesuai bahasa yang dipahami batita.

* Suara lembut

Namanya juga menghadapi anak, jadi harus disikapi dengan nada atau suara lembut dan menenangkan. Dengan begitu, si kecil seolah-olah tidak sedang dimarahi. Ucapan yang terdengar keras, suara tinggi atau penuh kemarahan, membuat anak me-rasa tak aman, nyaman bahkan takut. Apalagi kalau mengucapkannya dibarengi bahasa tubuh yang tidak menyenangkan, seperti bertolak pinggang. Jadi tunjukkan pula raut wajah yang cerah, kata-kata dan suara yang menyenangkan. Tak lupa pula untuk melakukan kontak fisik, misalnya sambil memeluk atau mengelus-ngelusnya.

* Konkret

Anak usia batita masih dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya, dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret. Dia belum dapat berpikir secara abstrak. Jadi, gunakan bahasa sekonkret mungkin. Misalnya, “Kamu jangan pelit dong sama teman.” Lebih enak kalau dibilang, “Yuk, mainnya sama-sama, tak perlu rebutan mainan.”

* Empati

Tempatkanlah diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak. Salah satunya adalah mau mendengar dan memahami si kecil. Entah itu keinginan atau keluhannya. Tentunya mendengar dalam arti luas, tidak hanya melibatkan indra pendengaran tapi juga perasaan atau mata hati. Jadi sebaiknya jangan menuntut anak untuk mengerti keinginan kita, tapi berusahalah memahami anak terlebih dahulu. Kelak, bersikap empati ini dapat menumbuhkan keterbukaan dan rasa percaya antara orangtua dan anak.

* Perhatikan Situasi dan Kondisi

Pilihlah waktu yang enak dan tepat saat mengajak si kecil berbicara. Jangan ketika anak sedang asyik bermain atau beraktivitas, tiba-tiba kita ingin mengajaknya ngobrol. Beri jeda waktu pada dia untuk me-nyelesaikan kegiatannya itu. Alih-alih mau berbincang, dia malah bisa merasa terganggu.

* Kembangkan dialog

Sebaiknya hindari kata-kata yang bernada satu arah atau bahkan cenderung memaksa, contoh,”Adek harus tidur siang, ya. Jangan membantah!” Sikap “otoriter” seperti itu hendaknya ditinggalkan. Jadi, kembangkan upaya dialogis. Biarkan anak mengutarakan pendapatnya. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi atau menyatakan apa yang ingin disampaikannya. Bisa kita pancing misalnya dengan cara, “Menurut Adek, tidur siang itu baik enggak?”

Dengan mengupayakan cara dialogis, komunikasi yang dijalin diharapkan lebih efektif. Contoh, ketika kita meminta tolong si kecil, daripada memberi perintah, “Nak, buang bungkus permen di tong sampah dong!”, lebih baik ajukan pertanyaan yang membuat anak sampai pada keputusan yang harus dilakukan. “Ayo, ke mana bungkus permen ini mesti dibuang?” Nada bertanya lebih efektif karena anak belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Lontaran pertanyaan seperti ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir si kecil.

* Konsisten

Saat berbicara dengan anak, tunjukkan kesungguhan atau konsistensi. Umpamanya, ketika memutuskan untuk mengatakan “tidak”, terhadap sesuatu hal, maka kita harus konsisten. Misalnya, tak boleh makan cokelat menjelang tidur. Dengan bersikap konsisten, maka tak memungkinkan anak untuk melakukan “tawar-menawar”. Sebaiknya sikap konsisten ini juga ditunjukkan semua orang di rumah termasuk saudara, kerabat atau kakek-neneknya. Anak akan paham aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan begitu, komunikasi yang dijalin bisa efektif.

* Tegas

Dalam berkomunikasi kita sebaiknya tegas. Tapi bukan berarti dengan marah. Sikap tegas diperlukan bila si kecil “membandel” atau melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah kita peringatkan. Misalnya, saat nonton teve, posisi duduknya selalu terlalu dekat. Padahal, kita sudah minta agar duduknya mundur atau menjauh. Bila dia tak juga mau menurut, maka boleh saja kita menarik tubuhnya agar menjauh dari teve. Beri alasan kenapa nonton teve tak boleh dekat-dekat karena bisa merusak mata.

* Beri pujian

Dalam berkomunikasi, unsur pujian mengandung makna positif buat si kecil. Dia akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya. Tiap si kecil berhasil melakukan sesuatu, kita sebagai orangtua jangan lupa untuk mengucapkan, “Terima kasih.” Berikan juga ciuman atau peluk sayang sebagai tanda kita merasa senang. Dengan merasa dihargai, anak pun belajar menghargai orang lain.

Hilman Hilmansyah. Ilustrator Pugoeh

Powered by ScribeFire.

Kapan Bayi Mulai Menyantap Makanan Padat?

Posted in Info Bunda,Tabloid Nakita by nugraad001 on August 29, 2007

infobunda.jpg

Kehadiran seorang bayi tentu membawa kehangatan dan kebahagiaan di rumah Anda. Seiring dengan itu, tanggung jawab dan kerepotan setiap pasangan, terutama bunda, semakin bertambah. Dari mulai menyusui, memandikan, menidurkan, memberi prasarana dan sarana bagi kenyamanan dan keamanan bayi, sampai juga mempersiapkan masa depannya.

Beberapa waktu lalu, bayi mulai diberi makanan padat ketika berusia 4 bulan. Namun, merujuk kepada standar WHO (World Health Organization), disarankan agar bayi baru mulai diberi makanan padat setelah usianya menginjak 6 bulan. Mengapa?

Ada beberapa alasan mengapa pemberian makanan padat ditunda. Menurut Dr. William Sears dalam bukunya The Baby Book, di bulan-bulan awal, bayi memiliki refleks ‘penolakan lidah’ yang menyebabkan lidah secara otomatis menjulur ke luar saat ada sesuatu ditaruh di atasnya. Hal ini merupakan refleks proteksi terhadap kemungkinan tersedak makanan padat yang diberikan terlalu awal. Antara usia 4-6 bulan, refleks ini menurun. Juga, sebelum bayi berusia 6 bulan, sebagian bayi belum memiliki koordinasi gerakan lidah dan menelan yang baik untuk makanan padat.

Bukan saja bagian atas pencernaan bayi tidak dirancang untuk makanan padat yang diberikan terlalu awal, tapi begitu pula halnya dengan usus bayi. Ususnya belum matang, tidak dilengkapi kemampuan untuk menangani berbagai macam makanan sampai ia mencapai usia 6 bulan, saat enzim pencernaan mulai bekerja. Teristimewa bila bayi menderita alergi. Riset membuktikan bahwa pemberian makanan padat yang dimulai sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko alergi. Usus yang telah matang akan mengeluarkan immunoglobulin protein IgA, yang melapisi usus dan mencegah lewatnya protein allergen yang berbahaya (susu sapi, gandum, dan kacang kedelai adalah contoh umum dari makanan yang menyebabkan alergi bila diberikan terlalu dini).

Bayi dikatakan siap makan bila ia mulai meraih makanan di dekat piring Anda atau siapa pun yang berada di dekatnya. Mungkin saja ia akan berusaha merebut sendok makan, memandang bundanya dengan mimik lapar, dan membuka mulutnya lebar-lebar saat orang lain sedang menyuap.

Untuk makanan padat yang pertama, sangat disarankan agar Anda menyeleksi dengan ketat makanan yang akan diberikan. Mulailah dengan makanan padat yang paling tidak menimbulkan alergi, dan yang cita rasanya mirip dengan ASI. Contoh-contoh makanan padat pertama yang paling disukai adalah pisang matang yang dilumatkan, atau seral yang dicampur dengan ASI atau susu formula.

Makanan  yang paling mungkin menimbulkan alergi adalah:

1. kelapa 9. tomat
2. selai kacang 10. kacang-kacangan
3. buncis 11. kulit ikan
4. gandum 12. daging babi
5. produk-olahan-berbahan-susu 13. kedelai
6. gula 14. jagung
7. cokelat 15. putih telur
8. buah-buahan asam  

Sedangkan makanan yang paling tidak mungkin menimbulkan alergi adalah:

1. apel 11. pepaya
2. mangga 12. kismis
3. avokad 13. daging ayam
4. brokoli 14. ikan salmon
5. kurma 15. madu
6. labu 16. kentang manis
7. daging kambing 17. gandum
8. daging lembu muda 18. beras
9. selada 19 wortel
10. asparagus 20. anggur

Powered by ScribeFire.

9 Kendala Bicara Si Batita

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on August 16, 2007

nakita.gif

Di awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan kata yang memiliki makna. Meski kebanyakan kata tersebut masih sulit dipahami karena artikulasi (pengucapannya) masih belum baik. Perlu diketahui, kemampuan batita dalam berbicara dipengaruhi kematangan oral motor (organ-organ mulut). Sementara, kemampuan yang menunjang perkembangan bahasa di antaranya kemampuan mendengar, artikulasi, fisik (perkembangan otak dan alat bicara), dan lingkungan.

Maka jangan heran kalau di usia batita anak belum lancar berbicara. Apa sajakah kendalanya? Berikut penjelasannya.

* Babbling

Sebagian anak di awal usia batita, melakukan babbling, yaitu mengeluarkan suara berupa satu suku kata, seperti “ma…” atau “ba..” Namun, itu masih belum bermakna. Jadi sekadar mengoceh atau bereksperimen. Sering-seringlah mengajaknya berkomunikasi, misal, “Adek mau main boneka ini?” Ucapkan hal itu dengan jelas sehingga lambat-laun anak dapat melakukan imitasi untuk dapat mengucapkan kata-kata yang jelas dan bisa dimaknai pula.

* Bahasa “planet”

Contoh, saat meminta sesuatu dia hanya menunjuk sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang dewasa. Atau, Ia kemudian menggunakan bahasa tubuh, misalnya ketika masih ingin digendong, ia menarik ibunya sambil mengeluarkan suara tertentu yang maksudnya masih ingin digendong atau bermain dengan ibunya. Bahasa tubuh dijadikan bentuk komunikasi, misalnya ketika ia merasa haus, ia menunjuk atau mengambil gelas plastiknya sambil berkata, “Ma” atau kata lainnya. Untuk menghadapi hal ini, sebaiknya segera ketahui sesuatu yang dimaksud si kecil dengan cara menuju objek yang diinginkan.

 * Sepotong-sepotong

Kemampuannya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang ingin diucapkan masih dalam tahap belajar. Wajar kalau pengucapan masih sering tersendat-sendat/ sepotong-sepotong, hanya pada bagian akhir kata. Misalnya, “minta” jadi “ta”, minum jadi “num”, dan lain-lain. Kita perlu meluruskan dengan mengucapkan berulang-ulang. Misal “Oh, Adek minta minum ya!”

* Sulit mengucapkan huruf/suku kata

Misalnya, kata mobil disebut “mobing”. Atau toko jadi “toto” atau stasiun jadi “tatun”. Pengucapan semacam ini, kan, jadi sulit ditangkap artinya. Biasanya kendala ini akan hilang dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

* Terbalik-balik

Contoh, maksud si kecil ingin mengatakan “Mau ikut ke pasar”, tapi yang dia ucapkan, “pacang icut mau”, dan sebagainya. Ini tentu saja membingungkan dan kadang sulit dipahami pihak yang diajak bicara. Tak perlu menyalahkan susunan kalimat si kecil karena bisa mengundangnya untuk terus mengulang yang salah. Jangan lupa, di usia ini, si kecil masih dalam masa negativistik sehingga senang membangkang. Sebaiknya coba luruskan dengan cara mengucapkan kalimat dengan susunan yang benar. “Oh, Adek mau ikut ke pasar, ya!” Lalu, berikan jawaban, “Adek boleh kok, ikut ke pasar.”

* Cadel

Cadel bisa karena kelainan fisiologis, misalnya lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Untuk menanganinya tentu harus dikonsultasikan dengan dokter. Nah, yang sering terjadi adalah karena kurang/belum matangnya koordinasi bibir dan lidah. Biasanya “r” dibunyikan “l”. Meski begitu, kecadelan tiap anak tidak sama persis.

Coba untuk meluruskan dengan cara memberi contoh mengucapkan yang benar. Tak perlu memaksakan anak harus langsung bisa karena belum saatnya ia bisa berucap dengan benar. Alih-alih berhasil, cara memaksa justru membuat si kecil stres. Ujung-ujungnya, malah tak mau berusaha meningkatkan kemampuan bicaranya. Tambah repot, kan? Akan tetapi, bila dibiarkan juga, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya. Malah akhirnya akan makin sulit diluruskan.

* Salah makna kata/kalimat

Nah, meskipun si kecil sudah bisa mengucapkan kata-kata menjadi kalimat, namun masih sering terjadi salah makna. Tak jarang, rangkaian kalimat itu justru maknanya bisa beragam. Misal, “Ma, mau mamam cucu.”

Hal seperti ini umumnya terjadi karena masih terbatasnya kemampuan si kecil untuk menggunakan kosakata yang ada dibenaknya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkan. Untuk menghadapi hal ini, orangtua perlu meluruskan maksudnya, misalnya, “Oh, Adek mau makan?” Bila ternyata bukan itu maksudnya, coba bilang “Oh, Adek mau minum susu, ya!”

* Gagap

Gagap (stuttering) pada masa batita dianggap normal karena masih belajar mengembangkan keterampilan dan kemampuan bicara. Paling banyak kegagapan ini terjadi di usia 18 bulan sampai kurang lebih 4 tahun. Misal, kata yang hendak diucapkan diulang-ulang, “Aku aku aku mau pipis.” Atau anak sulit mengucapkan kata tertentu di awal atau di tengah, misalnya, “mmmmmama”, “makkkkan.”

Gagap pada masa batita akan menghilang sendiri seiring dengan makin berkembangnya kemampuan berbicara. Akan tetapi, membiarkan anak dengan kegagapannya tidak juga dianjurkan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya jangan “menginterupsi” saat ia terlihat gagap, hindari memaksa dia untuk mengulang kata-kata yang tak lancar diucapkan, jadilah role model bicara yang baik.

* Bicara kasar atau jorok

Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kata kasar. Biasanya ditiru dari lingkungan bermain. Perlu perhatian orangtua agar si batita mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Yang jelas, ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti. Bilang bahwa maknanya tak baik jadi tak boleh diungkapkan pada orang lain.

Kemampuan berbahasa dipengaruhi kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa). Juga stimulasi lingkungan, terutama orangtua. Makin banyak rangsangan, efeknya berbanding lurus, anak pun makin kaya kosakata. Diharapkan bila sering mengajak berkomunikasi perkembangan bicara dan bahasa si kecil makin maju. (Nakita) 

Powered by ScribeFire.

9 Kendala Bicara Si Batita

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on August 16, 2007

nakita.gif

Di awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan kata yang memiliki makna. Meski kebanyakan kata tersebut masih sulit dipahami karena artikulasi (pengucapannya) masih belum baik. Perlu diketahui, kemampuan batita dalam berbicara dipengaruhi kematangan oral motor (organ-organ mulut). Sementara, kemampuan yang menunjang perkembangan bahasa di antaranya kemampuan mendengar, artikulasi, fisik (perkembangan otak dan alat bicara), dan lingkungan.

Maka jangan heran kalau di usia batita anak belum lancar berbicara. Apa sajakah kendalanya? Berikut penjelasannya.

* Babbling

Sebagian anak di awal usia batita, melakukan babbling, yaitu mengeluarkan suara berupa satu suku kata, seperti “ma…” atau “ba..” Namun, itu masih belum bermakna. Jadi sekadar mengoceh atau bereksperimen. Sering-seringlah mengajaknya berkomunikasi, misal, “Adek mau main boneka ini?” Ucapkan hal itu dengan jelas sehingga lambat-laun anak dapat melakukan imitasi untuk dapat mengucapkan kata-kata yang jelas dan bisa dimaknai pula.

* Bahasa “planet”

Contoh, saat meminta sesuatu dia hanya menunjuk sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang dewasa. Atau, Ia kemudian menggunakan bahasa tubuh, misalnya ketika masih ingin digendong, ia menarik ibunya sambil mengeluarkan suara tertentu yang maksudnya masih ingin digendong atau bermain dengan ibunya. Bahasa tubuh dijadikan bentuk komunikasi, misalnya ketika ia merasa haus, ia menunjuk atau mengambil gelas plastiknya sambil berkata, “Ma” atau kata lainnya. Untuk menghadapi hal ini, sebaiknya segera ketahui sesuatu yang dimaksud si kecil dengan cara menuju objek yang diinginkan.

 * Sepotong-sepotong

Kemampuannya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang ingin diucapkan masih dalam tahap belajar. Wajar kalau pengucapan masih sering tersendat-sendat/ sepotong-sepotong, hanya pada bagian akhir kata. Misalnya, “minta” jadi “ta”, minum jadi “num”, dan lain-lain. Kita perlu meluruskan dengan mengucapkan berulang-ulang. Misal “Oh, Adek minta minum ya!”

* Sulit mengucapkan huruf/suku kata

Misalnya, kata mobil disebut “mobing”. Atau toko jadi “toto” atau stasiun jadi “tatun”. Pengucapan semacam ini, kan, jadi sulit ditangkap artinya. Biasanya kendala ini akan hilang dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

* Terbalik-balik

Contoh, maksud si kecil ingin mengatakan “Mau ikut ke pasar”, tapi yang dia ucapkan, “pacang icut mau”, dan sebagainya. Ini tentu saja membingungkan dan kadang sulit dipahami pihak yang diajak bicara. Tak perlu menyalahkan susunan kalimat si kecil karena bisa mengundangnya untuk terus mengulang yang salah. Jangan lupa, di usia ini, si kecil masih dalam masa negativistik sehingga senang membangkang. Sebaiknya coba luruskan dengan cara mengucapkan kalimat dengan susunan yang benar. “Oh, Adek mau ikut ke pasar, ya!” Lalu, berikan jawaban, “Adek boleh kok, ikut ke pasar.”

* Cadel

Cadel bisa karena kelainan fisiologis, misalnya lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Untuk menanganinya tentu harus dikonsultasikan dengan dokter. Nah, yang sering terjadi adalah karena kurang/belum matangnya koordinasi bibir dan lidah. Biasanya “r” dibunyikan “l”. Meski begitu, kecadelan tiap anak tidak sama persis.

Coba untuk meluruskan dengan cara memberi contoh mengucapkan yang benar. Tak perlu memaksakan anak harus langsung bisa karena belum saatnya ia bisa berucap dengan benar. Alih-alih berhasil, cara memaksa justru membuat si kecil stres. Ujung-ujungnya, malah tak mau berusaha meningkatkan kemampuan bicaranya. Tambah repot, kan? Akan tetapi, bila dibiarkan juga, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya. Malah akhirnya akan makin sulit diluruskan.

* Salah makna kata/kalimat

Nah, meskipun si kecil sudah bisa mengucapkan kata-kata menjadi kalimat, namun masih sering terjadi salah makna. Tak jarang, rangkaian kalimat itu justru maknanya bisa beragam. Misal, “Ma, mau mamam cucu.”

Hal seperti ini umumnya terjadi karena masih terbatasnya kemampuan si kecil untuk menggunakan kosakata yang ada dibenaknya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkan. Untuk menghadapi hal ini, orangtua perlu meluruskan maksudnya, misalnya, “Oh, Adek mau makan?” Bila ternyata bukan itu maksudnya, coba bilang “Oh, Adek mau minum susu, ya!”

* Gagap

Gagap (stuttering) pada masa batita dianggap normal karena masih belajar mengembangkan keterampilan dan kemampuan bicara. Paling banyak kegagapan ini terjadi di usia 18 bulan sampai kurang lebih 4 tahun. Misal, kata yang hendak diucapkan diulang-ulang, “Aku aku aku mau pipis.” Atau anak sulit mengucapkan kata tertentu di awal atau di tengah, misalnya, “mmmmmama”, “makkkkan.”

Gagap pada masa batita akan menghilang sendiri seiring dengan makin berkembangnya kemampuan berbicara. Akan tetapi, membiarkan anak dengan kegagapannya tidak juga dianjurkan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya jangan “menginterupsi” saat ia terlihat gagap, hindari memaksa dia untuk mengulang kata-kata yang tak lancar diucapkan, jadilah role model bicara yang baik.

* Bicara kasar atau jorok

Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kata kasar. Biasanya ditiru dari lingkungan bermain. Perlu perhatian orangtua agar si batita mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Yang jelas, ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti. Bilang bahwa maknanya tak baik jadi tak boleh diungkapkan pada orang lain.

Kemampuan berbahasa dipengaruhi kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa). Juga stimulasi lingkungan, terutama orangtua. Makin banyak rangsangan, efeknya berbanding lurus, anak pun makin kaya kosakata. Diharapkan bila sering mengajak berkomunikasi perkembangan bicara dan bahasa si kecil makin maju. (Nakita) 

Powered by ScribeFire.

MEMAHAMI TANGISAN BAYI

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on June 5, 2007

nakita.gif
MEMAHAMI TANGISAN BAYI

Tak usah panik jika bayi menangis. Anda dapat mengatasinya dengan mudah jika tahu sebabnya. Jangan pula berpikir, ia anak yang rewel. Menangis adalah cara si kecil berkomunikasi dengan Anda.

Setiap bayi pasti menangis dan beberapa di antara mereka lebih sering menangis dibanding yang lain. Anak cengeng? Bukan! Yang jelas, menangis adalah cara ia berkomunikasi dengan Anda. Khususnya selama 12 bulan pertama kehidupannya. Lewat tangis, ia memberitahukan kebutuhan-kebutuhannya kepada Anda seperti rasa lapar, lelah, pedih, dan keadaan tubuh yang tak menyenangkan lainnya, serta untuk memenuhi keinginan diperhatikan.

Pada umumnya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama kehidupan, baik siang maupun malam. Ini karena bayi yang baru lahir masih berada dalam fase penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar. Jadi, jika ia sering menangis, “Tak usah cemas! Sering atau jarangnya bayi yang baru lahir menangis, salah satu faktornya adalah keturunan. Mungkin waktu kecil, ibu atau ayahnya juga begitu, rewel,” kata Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed., dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak FKUI-RSCM ini.

Banyak-sedikitnya tangisan, menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang dialih-bahasakan, Perkembangan Anak II, berbeda-beda menurut cepat dan memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka. Jika dipenuhi dengan segera, bayi kemudian hanya akan menangis karena merasa sakit dan tertekan. Setelah umur dua minggu, ada sebagian bayi yang menangis berlebihan. Dalam kebanyakan kasus dilaporkan, orangtua bayi tersebut tak cepat memperhatikan tangis bayinya dan tak konsisten menanggapinya.

Jumlah tangisan juga bervariasi menurut “saat harinya”, bertepatan dengan saat jadwal bayi. Misalnya, bayi paling sering menangis sebelum saatnya diberi makan dan sebelum waktunya tidur malam. Ketika bayi dapat menyesuaikan diri dengan jadwal waktu makan dan tidur, tangisan pada saat-saat tersebut berkurang.

Jangan hentikan tangisnya dengan cara mengangkatnya setiap kali ia rewel atau menangis. Carilah apa yang salah dan jika tak terlalu serius, segera alihkan perhatiannya. Menurut Dr. Najib, secara garis besar bayi menangis dibagi dua kelompok. Pertama, bayi menangis tanpa penyakit, seperti lapar, haus, perasaan tidak enak atau tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, popok basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh gigi, saat buang air kecil, kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis karena ada sesuatu penyakit seperti infeksi, radang tenggorokan, radang telinga, hernia, sumbatan usus, autisma, dan sebagainya.

Jika bayi menangis karena penyakit, periksakan ia ke dokter. Tapi jika tidak, Anda dapat membantu menenangkannya. Berikut jenis-jenis penyebab serta penanganan tangis bayi sesuai usianya.

ARTI TANGISAN BAYI 0-3 BULAN

Pada umumnya, para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar. Ingatlah, menangis tak selalu berarti lapar. Arti tangis berbeda-beda, masing-masing merupakan tanda komunikasi yang jelas sebagai ungkapan pesan kepada Anda tentang apa yang ia butuhkan. Gerakan tubuh yang menyertai tangis dapat membantu Anda lebih memahaminya. Makin keras dan makin lama tangis, makin kuat kebutuhannya.

* “Saya lapar.”

Tangis lapar biasanya berpola. Ia menangis, lalu stop untuk bernafas, menangis lagi, lalu stop untuk bernafas. Biasanya diselingi gerakan mengisap. Jika sangat lapar, tangisnya lebih keras dan terus-menerus.

Jika ia masih menangis saat disusui ASI, coba lihat hidungnya. Ada kemungkinan bibir atasnya menutupi hidung dan ia sulit bernafas, sehingga menangis.

* “Saya bosan.”

Tangis bosan biasanya pendek, diikuti keheningan, lalu tangis pendek lagi. Tangisnya akan berlanjut jika Anda tak segera mendekatinya dan mengajaknya bermain.

* “Saya lelah.”

Tangis lelah berupa rengekan. Ia mungkin akan menggosok-gosok wajahnya dan memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Sebuah usapan atau gerakan berirama cukup menenangkan ia dan bisa membuatnya tidur.

* “Saya kesepian.”

Beberapa bayi butuh perhatian lebih dibanding bayi lainnya dan mulai merasa kesepian ketika ia ditinggalkan sendiri untuk waktu lama. Tangis kesepian berupa rengekan setiap menit dan kadang diikuti air mata. Emongan yang lama membuatnya senang.

* “Saya tak nyaman.”

Biasanya suara tangis melengking dan jelas, nafas agak tersendat, tapi lalu nafasnya menjadi cepat diikuti tangis lain. Mungkin lengannya terjepit, pantatnya kotor, tertusuk peniti, atau mungkin ia kedinginan/kepanasan.

* “Saya kolik.”

Bayi sering menangis karena kolik atau kejang/kram usus. Hingga kini belum diketahui penyebab kolik. Ada dugaan, sistem pencernaan bayi belum sempurna sehingga timbul gangguan pencernaan. Kolik dialami pada 3 bulan pertama kehidupan dan biasanya terjadi sore hari menjelang malam.

Tangis kolik sangat keras disertai jeritan dan episodik: suatu saat timbul, suatu saat hilang, tapi hanya satu atau dua menit, lalu menangis lagi. Biasanya diikuti gerakan tangan ke arah perut, badan mengencang, dan kadang disertai buang angin. Menggosok perutnya dengan minyak telon dapat membantu menenangkannya.

* “Saya sakit.”

Rasa sakit diungkapkan dengan tangis melengking, keras, diselingi rintihan serta rengekan. Tangis bayi yang perutnya mulas, lebih melengking dan lebih ribut. Hubungi dokter anak Anda jika ia menunjukkan gejala-gejala sakit tertentu.

ARTI TANGISAN BAYI 4-12 BULAN

Mulai usia 3-4 bulan, Anda akan melihat perubahan nyata pada si kecil. Tangisnya mulai berkurang karena ia sekarang mulai tahu apa yang ada di sekelilingnya. Ia mau mendengarkan dan tertarik terhadap segala sesuatu di sekelilingnya.

* “Saya lapar.”

Rasa lapar masih nyata menyebabkan ia menangis. Ia mulai mengkonsumsi makanan padat. Ia pun lebih aktif dibanding sebelumnya dan karenanya cepat lelah. Bayi yang aktif, kebutuhan makannya lebih banyak. Makanan kecil dan minuman dapat memulihkan energinya.

* “Saya tumbuh gigi.

Biasanya bayi mulai tumbuh gigi usia 6 bulan ke atas. Biasanya tangisnya muncul di sore hari, kuat seperti tangis sakit karena ada rasa nyeri.

* “Saya cemas.”

Mulai usia 7 atau 8 bulan, kebanyakan bayi menangis karena cemas, terutama saat ia “kehilangan” Anda. Baginya, Anda adalah dasar dari rasa amannya. Ia akan tenang “menjelajahi dunia” selama Anda berada dalam pandangannya. Jika Anda meninggalkannya atau ia tak melihat Anda, meski Anda ada di dekatnya, ia akan menangis.

* “Saya ingin diperhatikan.”

Lewat usia 6 bulan, ia mulai mempelajari, menangis ialah suatu alat untuk memperoleh perhatian. Bayi usia 7 atau 8 bulan cukup menyadari, dengan menangis, Anda akan segera berlari mendekatinya. Lebih baik Anda tak buru-buru menggendongnya, tapi hiburlah atau ajak main.

* “Saya sakit.”

Rasa sakit yang ia alami lebih karena benturan-benturan pada fisiknya saat ia bergerak aktif. Meski tidak luka, tetap memungkinkan ia menangis. Mungkin lebih karena rasa kaget. Mengalihkan perhatiannya dapat menolong ia melupakan sakitnya dengan cepat.

*”Saya sangat lelah.”

Lelah berlebihan ditunjukkan oleh rengekan, lekas marah, dan akhirnya menangis. Menjelang akhir tahun pertamanya, ia mempunyai kehidupan yang penuh dengan pengalaman baru, yang membuatnya kehabisan energi sebelum ia kehilangan semangat. Ia butuh pertolongan Anda untuk membuatnya cukup rileks seperti tidur.

*”Saya marah.”

Mulai usia 9 bulan, dalam dirinya mulai berkembang konsep, “Saya ingin.” dan kemarahan merupakan caranya untuk menunjukkan rasa frustrasinya ketika sesuatu tak diperoleh sesuai keinginannya. Seolah ia dibuat jengkel oleh batasan-batasan, beberapa di antaranya merupakan rintangan fisik seperti kursi tinggi dan kursi

dorong, yang terasa menghalanginya saat ia ingin berkembang lebih leluasa.

Ia juga terhalang oleh kemampuan komunikasinya yang masih baru. Karena tak bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata, ia akan menggenggam erat kepalan tangannya dan pipinya memerah, untuk menunjukkan pada Anda bahwa ia tak puas dengan situasi yang ada.

Julie Erikania.Foto:Dok.Nakita

Menghentikan Tangis

Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk menentramkan bayi Anda. Pilihlah sesuai kebutuhannya.
*Gendong.
Gendong ia dalam posisi tegak lurus dengan perut menempel di dada Anda, tepuk-tepuk punggungnya dengan lembut. Bawa ia berjalan-jalan mengelilingi ruangan atau ke ruangan lain. Bisa juga dengan cara meletakkannya di kereta bayi dan dorong perlahan-lahan dengan hati-hati. Jika kondisi Anda tak memungkinkan untuk menggendongnya sambil berjalan, letakkan ia di lengan, sementara Anda duduk di kursi goyang. Goyangan yang lembut akan menenangkannya.
* Usap atau tepuk-tepuk lembut.
Beberapa bayi dapat ditenangkan hanya oleh sentuhan Anda, tanpa harus menggendongnya. Ia bisa tenang hanya karena ditepuk-tepuk pantatnya atau diusap-usap punggungnya, sambil Anda bersenandung lembut.
* Beri sesuatu untuk diisap.
Hampir setiap bayi menjadi tenang dengan mengisap. Beri ia mainan khusus untuk digigit atau bimbing ia menemukan jari-jemarinya untuk dimasukkan ke mulutnya. Bisa juga Anda menggunakan jari kelingking Anda yang sudah dibersihkan untuk ia isap.
* Alihkan perhatiannya.
Anda dapat mengalihkan perhatiannya dengan memperlihatkan sesuatu yang menarik sehingga ia lupa pada tangisnya. Gambar-gambar warna-warni atau mainan aneka bentuk dan warna akan mempesonanya. Cermin juga bisa digunakan. Ia akan senang melihat wajahnya sendiri.
* Tunggu amarahnya mereda.
Anda tak selalu dapat menenangkan bayi yang frustrasi. Bahkan jika ia tak senang duduk di kursinya, Anda tak dapat memecahkan masalah dengan memindahkan dan mengangkatnya. Ketika tak ada hasilnya, cobalah untuk rileks. Jangan terpaku untuk menghentikan tangisnya jika Anda menemukan tak ada hal serius atau sesuatu yang salah. Tunggu saja sampai kemarahannya reda. Setelah amarahnya reda, beri kata-kata yang menyejukkan dan buat ia asyik dengan mainan penuh warna. Rangkulan dan gendongan juga bisa menentramkannya. Kasih sayang Anda bukan hanya mengerem kemarahannya, tapi juga akan membantu si kecil mengembangkan rasa aman dan perasaan baik. Ketika ia besar, ia akan belajar berdasarkan ini untuk menenangkan diri begitu ia marah, dan ia akan belajar untuk dapat mengendalikan diri atau menjaga tetap tenang tanpa kemarahan meledak-ledak.

Julie

Jika Tangisnya Tak Kunjung Berhenti

Jika ia tak berhenti menangis, boleh jadi karena Anda sangat cemas dan gugup. Ingatlah, ketegangan Anda akan menular padanya. Ia dapat merasakannya dari otot-otot lengan Anda yang mengeras saat Anda menggendongnya, maupun dari raut wajah Anda yang menunjukkan kecemasan.

Nah, ketika ia melihat sinyal-sinyal tersebut, ia tahu ada yang salah dan ini akan membuatnya merasa lebih buruk. Tangisnya menjadi lebih keras sebagai hasil dari kecemasan Anda. Di pihak lain, Anda pun semakin bertambah cemas. Jadi, bersikap rileks dan lakukan cara-cara berikut:
1. Katakan pada diri Anda untuk percaya diri. Suatu tangisan bayi bukan refleksi dari ketidakmampuan Anda sebagai orangtua. Cobalah untuk tak melemahkan rasa percaya diri Anda.
2. Bersikap realistis. Bayi Anda akan banyak menangis pada banyak kesempatan, tak apa-apa. Anda perlu merancang standar yang realistis untuk diri sendiri.
3. Jika Anda tak tahu lagi harus bagaimana menenangkannya, tinggalkan si kecil di boksnya. Minta suami Anda untuk mengambil alih.
4. Bicarakan dengan suami. Berurusan dengan tangis bayi memang bisa menyulitkan. Katakan padanya, bagaimana cemasnya Anda. Berbagi perasaan dengan suami akan membantu membuat diri Anda lebih tenang.
5. Terima pertolongan ketika ditawarkan. Sebuah pelepasan dari “tanggungjawab” akan mengurangi kecemasan Anda. Anda akan merasa lebih enak setelah satu atau dua jam kemudian.
6. Ingatlah, segalanya pasti akan menjadi mudah. Penelitian membuktikan, tangisan bayi akan berkurang tingkatannya mulai usia 4 bulan. Nanti ia akan lebih mudah dikendalikan.
7. Jika Anda mencurigai tangisan si kecil disebabkan penyakit tertentu, segera periksakan ke dokter anak.

Julie

AGAR TIDURNYA NYENYAK, NYAMAN, DAN AMAN

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on June 5, 2007

nakita.gif

Tak seperti orang dewasa, bayi menghabiskan belasan jam per hari untuk tidur. Bagaimana agar ia terbiasa tak terbangun di malam hari?

Bayi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Bahkan bayi yang baru lahir, bisa menghabiskan waktu sekitar 16-18 jam per hari untuk tidur. Dengan bertambahnya umur, waktu tidurnya pun berkurang. Bayi usia setahun menghabiskan waktu antara 14-16 jam. “Di atas usia setahun, bisa menghabiskan waktu antara 10-12 jam,” jelas dr. Asril Aminullah, Sp.AK. dari bagian Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Tentu saja si kecil tak tidur terus sepanjang belasan jam. Dalam sehari, ia bisa 5-6 kali bangun (dan tidur lagi). Umumnya ia terbangun karena merasa lapar. Maklum, lambungnya masih kecil sehingga tiap 3-4 jam sekali harus diisi. Repotnya, si kecil belum tahu bedanya siang dan malam. Jadi, saat kita tengah tidur nyenyak di malam hari, ia tetap saja bangun dan menangis karena perutnya terasa lapar. Minimal, ia bisa terbangun 1-2 kali di waktu malam. Mau tak mau, kita harus menyesuaikan diri dengan pola tidurnya yang belum terpola.

GELITIK KAKINYA

Dibilang repot, kata Asril Aminullah, sebetulnya tidak juga. “Asal orangtua pandai mengatur pola tidurnya, tak jadi masalah. Misal, kebutuhan tidur bayi 16 jam. Nah, sepanjang pagi dan siang, jangan biarkan si kecil tidur lebih dari 8 jam. Bangunkan dan ajak ia bermain. Kita harus ganggu terus si bayi agar bangun. Gelitik tapak kakinya hingga ia terjaga. Bila perlu, bawa ia keluar dan terkena sinar matahari.”

Mulanya, lanjut Asril Aminullah, mungkin sulit. Tapi lama kelamaan, pola akan terbentuk. Dengan tak bisa lelapnya si kecil tidur di pagi dan siang hari, “Ia akan ‘membayar’ kekurangan tidurnya itu di malam hari. Alhasil, waktu tidur malamnya jadi panjang.”

Mengganggu agar bayi terjaga, tak perlu dilakukan tiap jam sekali. Jika ia sudah tidur 3-4 jam, baru diganggu. Juga jangan karena merasa kasihan atau tak tega membangunkan si kecil yang sedang terlelap tidur. “Kalau tak tega, bisa-bisa di malam hari orangtua yang dibangunkan anaknya,” seloroh Asril.

HINDARI BOTOL

Yang perlu diperhatikan, lanjut Asril Aminullah, tak perlu setiap bayi terbangun, ibu memberi ASI. Sebab, belum tentu si kecil bangun karena lapar. “Bisa saja karena popoknya basah, digigit nyamuk, atau karena memang sudah waktunya bangun.”

Pada malam hari di atas pukul 21.00, ibu juga tak perlu memberi ASI lagi. “Asal sebelum tidur sudah diberi cukup ASI. Toh, siang hari bayi juga sudah banyak melek hingga ia perlu tidur panjang di malam hari. Biasanya, ia akan terbangun jam 03.00 dini hari. Dengan demikian, ibu punya cukup banyak waktu untuk tidur sebelum diganggu kembali oleh si kecil,” tutur Asril.

Kalau toh harus memberi ASI, secara bertahap kurangi jumlahnya. Hanya sekadar untuk membuat ia kembali tertidur saja. Atau, biarkan bapak menggantikan peran ibu untuk menyuapi ASI pada si kecil. Misalnya ibu sebelum tidur sudah menyiapkan ASI di kulkas dan si kecil disuapi pakai sendok. “Jangan pakai botol karena bisa merusak selera anak. Anak akan jadi lebih menyukai botol daripada puting ibunya. Akibatnya, produksi ASI ibunya pun akan berkurang karena jarang dirangsang oleh bayi,” jelas Asril.

TIDUR BERSAMA

Haruskah si kecil tidur bersama orangtuanya? Pada dasarnya, kata Asril Aminullah, bayi bisa tidur di mana saja. Memang, orangtua biasanya memilih tidur sekamar dengan bayinya karena alasan rasa aman dan praktis. “Jadi, bila tengah malam si kecil terbangun, orangtua bisa langsung menanganinya.” Selain itu, orangtua juga merasa lebih dekat secara batin jika sekamar dengan bayinya.

Bagaimana dengan pendapat tidur terpisah justru baik untuk melatih kemandirian anak? “Ah, itu, kan, karena orangtuanya tak mau terganggu privasinya. Bayi, kan, merem terus, belum bisa dilatih mandiri,” ujar Asril. Apa pun, lanjutnya, pilihan tetap di tangan orangtua. “Bisa juga, kan, diambil jalan tengah. Saat tidur di siang atau sore hari, ia bisa ditidurkan di kamar orangtua dan malam hari di kamarnya sendiri,” katanya.

TARIK SEPREI

Yang justru perlu diperhatikan orangtua adalah keamanan tempat tidur bayi. Antara lain:
* Sebaiknya tempat tidur mempunyai dinding tertutup dan tak diletakkan di tempat yang mudah terkena tiupan angin.
* Pilih tempat tidur yang agak keras dan rata. Jangan terlalu lembut yang bisa menenggelamkan kepala bayi sehingga bila bayi berbalik, hidungnya tertutup kasur. Selain itu, kasur yang rata dan agak kencang bagus untuk pembentukan otot-otot dan tulang belakangnya.
* Seprei harus ditarik kencang di bawah kasur, sehingga tak mudah kusut kala bayi bergerak-gerak. Dikhawatirkan lipatan seprei bisa menutupi hidungnya kala ia tidur miring atau tengkurap.
* Jika menggunakan bantal, perhatikan letaknya, jangan sampai menutupi hidungnya.
* Selimut jangan terlalu tebal. Hawa yang terlalu panas malah membuat bayi sulit bernapas.
* Jagalah temperatur kamar agar tetap hangat. Jangan terlalu panas dan terlalu dingin. Jika udara dingin, selimuti bayi.

Mengajar Membedakan Siang Dan Malam

Namanya juga baru lahir, tentu saja bayi belum bisa membedakan antara siang dan malam. Jadilah ia bangun kapan saja ia mau dan merasa perlu. Jika ingin si kecil tak banyak terbangun di waktu malam, berikut adalah cara-cara yang bisa Anda terapkan pada si buah hati:
* Bedakan tidur siang dengan malam. Di siang hari tidurkan ia di mana saja. Tapi di malam hari, baringkan ia hanya di kamarnya atau kamar Anda.
* Jangan biarkan ia tidur lebih dari 4 jam di siang hari.
* Beri rangsangan lebih banyak ketika ia bangun di siang hari. Entah itu dengan bernyanyi, bercakap-cakap atau memijatnya. Tapi jika ia terbangun di malam hari, suasana harus cukup tenang. Usahakan agar lampu kamar tak terlalu terang dan susui si kecil tanpa mengajaknya bercakap-cakap.

Indah

Powered by ScribeFire.

Kenalan YUK SAYANG!

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on May 16, 2007

nakita.gif

Buatlah suasana seaman dan senyaman mungkin.

“Wah, anteng banget ya, kok mau digendong siapa aja,” kata Hesti mengomentari anak tetangganya. Bayi yang berusia 6 bulan itu malah tertawa ketika diayun-ayun Hesti. “Kalau keponakan saya, jangankan digendong, baru lihat orangnya saja sudah ngeri kayak lihat hantu!” sambungnya heran. Ya, kalau mau dibanding-bandingkan, saat bertemu orang asing, ada bayi yang sumringah tapi ada juga yang kelihatan cemas. Bagaimana dengan bayi Anda?

Kalau dilihat dari sisi perkembangan, memang pada bulan-bulan pertama si kecil belum dapat membedakan dan menge-nali orang lain dengan baik sehingga siapa pun yang mendekati, menggendong bahkan mengajaknya bermain tidak menjadi persoalan. Justru permasalahan muncul seiring pertambahan usianya, ketika ia mulai bisa membedakan antara orang yang dikenal dan asing. Di sinilah proses kesadarannya terhadap lingkungan makin meningkat.

Bayi yang terbiasa diajak bersosialisasi dan berkomunikasi secara intensif, mungkin ketika bertemu orang baru akan tenang-tenang saja. Dia malah senang, gembira, tertawa dan bahkan tertarik pada orang baru. Nah sebaliknya, lantaran jarang diajak bertemu dengan banyak orang sehingga pengalaman ber-sosialisasinya tergolong minim wajar saja jika si bayi menarik diri atau takut. Apalagi kalau orang yang ditemuinya memang benar-benar asing. Jangankan hendak digendong, didekati saja dia langsung “menjaga jarak”. Bisa saja secara spontan dia menyembunyikan wajah lalu menangis.

Selain takut dengan orang baru, ada juga bayi yang takut terhadap keramaian. Sama halnya dengan takut orang asing, keta-kutan ini kemungkinan disebabkan ia tidak biasa menghadapi situasi baru atau jarang diajak bersosialisasi mengenal lingkungan yang lebih luas.

Rasa cemas yang dialami si kecil sebenarnya masih dalam kategori wajar-wajar saja, kok. Toh, itu sebenarnya termasuk salah satu aspek perkembangan emosional bayi. Rasa takut, cemas dan “menjaga bahkan menarik diri” sebenarnya dapat ditanggulangi kalau saja orangtua berupaya mengasah kemampuan bersosialisasi si mungil sedini mungkin.

PUPUK RASA PERCAYA

Di usia-usia awal, bayi mengenal lingkungan melalui kepekaan indranya. Bahkan sebuah penelitian menunjukkan, bayi sebenarnya lebih menyukai mendengar suara manusia, dibanding suara-suara yang lain. Terutama orang-orang yang dikenalnya, apalagi suara ibunya yang sudah dia kenal sejak dalam kandungan. Lantaran itu, agar kepekaan indranya makin terasah, dianjurkan orangtua untuk sering-sering mengajak bayi berkomunikasi meskipun dia tak mengerti maksud atau isi pembicaraan. Saat berkomunikasi, tampilkan raut wajah yang menyenangkan, dengan senyum, tawa dan interaksi yang intensif entah itu pelukan, dekapan, ciuman dan sebagainya.

Selain faktor kepekaan indra, rasa percaya sang bayi pada lingkungan sekitar menjadi salah satu kunci agar dirinya tak cemas berhadapan dengan lingkungan atau orang asing. Bekal ini penting dibangun sejak dini agar si kecil tak mengalami kesulitan berinteraksi dan bersosialisasi di usia yang lebih besar.

Hal lain yang tak kalah penting adalah mengajak si kecil untuk bersosialisasi dengan sebayanya. Tak apa-apa kalau pada awalnya si kecil terkesan acuh tak acuh menanggapi orang asing yang menyapa atau mengajaknya bicara. Sebenarnya bawah sadar bayi merekam semua pem-bicaraan orang tersebut. Inti dari kegiatan mengenal lingkungan baru adalah melakukan interaksi dan komunikasi dengan orang lain.

PENGARUH TEMPERAMEN

Agar bayi siap berinteraksi dengan lingkungan barunya, hal lain yang patut diperhatikan orangtua adalah faktor temperamen. Misalnya, bayi yang mudah, umumnya dapat berinteraksi dan beradaptasi lebih cepat. Sebaliknya, bayi yang tergolong pemalu atau lambat beradaptasi tentu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa beradaptasi.

Kalaupun bayi Anda termasuk yang relatif pemalu atau pendiam, tak perlu khawatir. Memang, untuk menghadapi lingkungan baru lazimnya dia enggan langsung berhadapan dengan orang asing secara tiba-tiba. Boleh saja kita melakukan “negosiasi” dengan orang itu, dengan memberi tahu bahwa si kecil tak perlu langsung digendong. Sebaiknya lakukan proses pendekatan secara bertahap. Ajak si kecil menyapa “si orang asing”. Jangan lupa untuk selalu melemparkan senyum, wajah gembira dan perilaku yang lembut. Biarkan orang itu berinteraksi lebih lanjut dengan si kecil dan seterusnya. Yang jelas, beri kesempatan pada si kecil untuk mengamati lingkungan baru dan orang asing yang baru dikenalnya.

Tahapan REAKSI SOSIAL

* 2 Bulan: Senyum Pertama

Ini sebagai respons terhadap senyum yang ditujukan padanya. Begitu juga ketika tertawa, suaranya memekik saking gembiranya. Ia pun akan menunjukkan reaksi tertentu terhadap berbagai suara, misalnya terkejut bahkan menangis. Upayakan untuk selalu mengajaknya berinteraksi dan berkomunikasi.

* 2-3 Bulan: Senang Bersama

Saat bayi diajak bicara, tatapannya secara intensif akan tertuju pada sosok yang mengajaknya berkomunikasi. Si kecil senang diperhatikan orang lain dan menunjukkan rasa gembiranya dengan cara tersenyum, lambaian tangan bahkan hentakan kaki secara spontan. Tunjukkan perhatian Anda lewat belaian, dekapan dan tatapan mata penuh kasih sayang.

* 4-5 Bulan: Minta Gendong

Bila mendengar suara yang menarik perhatiannya, dia segera mencari sumber suara itu. Ia tertawa keras dan menjerit gembira. Ia pun cenderung ingin digendong oleh siapa pun yang mendekatinya.

* 6-7 Bulan: Tersenyum pada bayi lain

Bayi akan tersenyum kepada bayi lain. Dia juga bereaksi begitu bayi lain itu menangis, misalnya.

* 8-9 Bulan: Berteman

Si kecil mencoba mengenal bayi lain yang ditemuinya. Ia mencoba menarik perhatian bayi atau anak lain dengan cara melambungkan badan ke atas atau ke bawah, menendang, tertawa dan sebagainya. Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan baginya. Tampak respons bertepuk tangan atau lambaian tangan sebagai tanda gembira. Libatkan secara bertahap dalam lingkungan yang lebih luas agar kemampuan sosialnya berkembang.

* 10-12 Bulan: Ekspresikan Perasaan

Si kecil melambaikan tangan sebagai reaksi dari ucapan selamat tinggal dari ibu/bapaknya yang berangkat kerja.

Konsultan ahli:

Rahmitha P. Soendjojo, Psi., dari Taman Bermain Inklusi Buah Hati, Bogor

National Early Childhood Specialist Team

Powered by ScribeFire.

TIDUR SEKAMAR Atau TERPISAH Ya?

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on May 16, 2007

nakita.gif

Masing-masing ada plus-minusnya.


Indra Birowo (34), artis Extravaganza yang kocak itu memilih tidur terpisah dengan si kecil Arkananta (1;5). Ini dilakukannya sejak Arka lahir. “Saya pikir lebih baik sejak masih bayi dibiasain tidur sendiri. Ja-ngan menunggu dia sudah besar, lalu disuruh-suruh untuk tidur sendiri,” katanya.

Salah satu alasannya adalah agar Arka tak terlalu lengket. “Itu bukan berarti kita tak sayang atau bayi enggak perlu keberadaan kita. Pada intinya, saya ingin ia belajar mandiri. Toh, meski tidur terpisah kami tetap mengasuh dia dengan baik. Hanya dengan begitu, kami juga bisa mengurus kepentingan sendiri dan orang lain,” papar Indra serius.

Bagaimana dengan Anda? Apa pun pilihan Andamemilih tidur sekamar dengan bayi atau terpisahadalah sah-sah saja. Ini bukan soal salah benar. Yang perlu diketahui, baik tidur sekamar maupun terpisah tentu ada plus-minusnya.

TIDUR SEKAMAR

Bayi memang masih sangat memerlukan kelekatan (attachment) dengan orangtuanya. Nah, dengan tidur satu kamar atau satu ranjang, otomatis orangtua bisa mengeloni bayi. Dengan begitu, bayi merasa nyaman. Dari sini pun diharapkan basic trust (kepercayaan mendasar pada orang-orang terdekat) dapat terjalin dengan baik sehingga perkembangan kepercayaan diri (self esteem) anak juga baik. Self esteem berperan membentuk individu yang lebih baik atau utuh. Tidur sekamar atau seranjang pun membuat Anda bisa cepat memberi respons bila bayi menangis di tengah malam.

Masalahnya, bila perilaku tidur Anda atau pasangan cen-derung lasak (terutama para ayah nih), bisa saja tanpa sengaja lengan atau punggung menindih si kecil. Dengan orangtua model begini, bayi sebaiknya ditidurkan dalam boks. Agar tetap dekat, dekatkan atau sejajarkan boksnya dengan kasur Anda. Meski beda ranjang, si kecil masih bisa terpantau dan kebutuhan rasa nyamannya tetap terpenuhi.

Problem berikutnya, terkadang anak yang tidur sekamar dengan orangtuanya setelah besar akan sulit diminta tidur sendiri. Namun, kalau orangtua pandai menyiasati dengan bijak, anak tetap bisa diarahkan untuk bisa tidur sendiri. Bahkan, tanpa diminta atau “dipaksa” pun sebenarnya seiring pertambahan usia, ia akan memilih tidur di kamarnya sendiri. Yang perlu dipikirkan adalah privasi orangtua bila sekamar dengan anak.

PISAH KAMAR

Lantas, bagaimana dengan bayi yang tidurnya terpisah dari orangtua? Ternyata, bukan tidak mungkin si kecil tetap merasa aman dan nyaman. Toh, sebelum tidur, ayah dan ibu bisa menyempatkan diri berinteraksi dan berkomunikasi dengan bayi; menyusui, menemani sampai si kecil tertidur sambil dininabobokan, dielus-elus, dicium dan dipeluk terlebih dahulu. Dengan begitu, si kecil pun merasa nyaman.

Untuk memantau kondisi bayi di kamar sebelah, manfaatkan radio monitor yang akan memancarkan suaranya, terutama saat menangis. Usahakan kamar bayi dan kamar Anda saling berhubungan sehingga jika bayi terbangun dapat cepat ditangani.

Bila memutuskan tidur terpisah, sebaiknya siapkan segala sesuatu yang memungkinkan Anda tetap awas terhadap kondisi bayi di kamar sebelah. Semakin besar, bayi akan merasa cemas bila berpisah dari orangtuanya. Apalagi kalau dia terbangun di tengah malam tanpa segera didampingi orangtua yang bisa menenangkannya. Nah, Andalah yang menentukan, mau tidur seranjang dengan bayi atau pisah kamar.

Agar AMAN Tidur SEKAMAR

* Gunakan kasur yang kokoh atau tak terlalu lunak sehingga tak menyebabkan si kecil mendelep.

* Jangan menggunakan ranjang air karena kelewat lentur dan bisa menyebabkan bayi “terperangkap”.

* Bila bayi sudah lebih besar, sebaiknya turunkan kasur dari ranjang dan semuanya tidur di bawah untuk menghindari risiko terjatuh.

* Bila tidak sekasur/seranjang, tempatkan boks bayi sejajar dengan ranjang. Lalu, buka pagar boks serta ikat pada ranjang untuk menghindari si kecil tergelincir jatuh.

* Gunakan selimut seperlunya untuk mengurangi risiko menutupi wajah bayi. Pastikan pula bahan selimutnya lembut dan tak panas.

* Sebaiknya kontrol dulu keadaan atau posisi tidur bayi bila Anda meninggalkan tempat tidur, misalnya untuk ke toilet.

PLUS MINUS TIDUR SEKAMAR
  PLUS MINUS
BAYI
- Lebih merasa aman dan nyaman karena selalu dikeloni.

- Membangun kelekatan (attachment) dan basic trust.

- Berdasarkan penelitian, risiko mengalami SIDS (Suddent Infant Death Syndrome) lebih rendah.

- Bila perilaku tidur orangtua lasak maka bisa mencederai bayi.

- Terkadang baru mau pisah kamar setelah bertahun-tahun kemudian.

- Privasi orangtua sering terusik.

ORANGTUA
- Bisa cepat memberi respons ketika bayi menangis.

- Momen untuk lebih dekat dengan si kecil.

- Bila hendak bercinta harus cari kamar/ tempat lain.

- Harus selalu memerhatikan posisi tidur agar tak menindih si kecil.

- Privasi sering terusik.

 

PLUS MINUS TIDUR TERPISAH
 
PLUS
MINUS
BAYI
- Belajar “mandiri” sejak dini karena terbiasa tidur sendiri.
- Kadang tak cepat mendapat respons bila menangis.
ORANGTUA
- Tak perlu khawatir bila pola tidurnya grasah-grusuh.

- Tak perlu mencari kamar lain bila hendak berintim-intim.

- Tidak mengeloni setiap saat.

Konsultan ahli:

dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM.,

dosen Fakultas Psikologi Ukrida, psikolog di Personal Growth dan LPT UI.

Powered by ScribeFire.

SERBA-SERBI POLA TIDUR BAYI

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 18, 2007

nakita.gif

Bagi seorang bayi, tidur tak hanya berarti istirahat, tapi juga saat istimewa untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Itulah sebabnya, banyak tidur akan membuat kondisi fisik dan emosinya lebih baik. Yuk, kenali serba-serbi tidur bayi seperti dijelaskan dr. Jo. Edy Siswanto, Sp.A., dari RSAB Harapan Kita, Jakarta.


MANFAAT TIDUR

Bagi bayi, tidur memiliki manfaat yang sangat besar untuk tumbuh kembangnya. Pertama untuk memberi kesempatan mengistirahatkan tubuh. Kedua, untuk memberi kesempatan meningkatkan proses metabolisme, yakni proses pengolahan pangan menjadi energi yang dibutuhkan. Saat tidur pertumbuhan fisik bayi akan terpacu. Dengan begitu, lama tidaknya tidur bayi berkait erat dengan pertambahan berat badan, tinggi badan, dan kesehatan fisiknya secara umum. Bayi yang tidurnya kurang biasanya pertumbuhan fisiknya tak sebagus bayi yang tidurnya cukup.
Manfaat lain dari tidur juga bisa disimak dari sebuah penelitian yang dilansir di London tahun 1998. Penelitian tersebut mengungkap bahwa bayi yang banyak tidur, perkembangan otaknya akan optimal. Mengapa demikian? Aktivitas tidur merupakan salah satu stimulus bagi proses tumbuh kembang otak. Hal ini bisa dimengerti karena 75% hormon pertumbuhan dikeluarkan saat anak tidur. Khususnya pada stage ketiga dan keempat tahapan tidur (lihat boks tahapan tidur, Red.).

Hormon pertumbuhan inilah yang bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan. Selain itu hormon pertumbuhan juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbarui seluruh sel yang ada di tubuh, dari sel kulit, sel darah sampai sel saraf otak. Nah, proses pembaruan sel ini akan berlangsung lebih cepat kalau si bayi sering terlelap.

TAHAPAN TIDUR BAYI

Proses dari mengantuknya bayi sampai tertidur lelap dibedakan menjadi 2 fase. Fase pertama adalah tidur tenang atau non-REM (Rapid Eye Movement). Kedua adalah fase tidur aktif atau REM.

* Tidur REM

Disebut tahap REM atau juga tahap mimpi. Umumnya, pola pernapasan dan denyut jantung si kecil tidak teratur, serta tidak terjadi pembentukan keringat. Kadang kala, ia tertidur sambil tersenyum, tertawa, atau bahkan mengigau. Kaki dan tangannya juga bisa bergerak-gerak. Meski begitu aktif, bayi akan tetap tidur lelap dan sulit dibangunkan. Tahapan REM ini diduga berperan penting dalam memulihkan pikiran, daya ingat, serta mempertahankan fungsi sel-sel otak.

Bayi mengalami tidur REM sejak berusia 6-7 bulan dalam kandungan. Bayi prematur menggunakan 80% waktu tidurnya dalam keadaan REM, sedangkan bayi yang lahir normal hanya sekitar 50%. Meski belum diketahui mengapa bayi banyak menghabiskan waktu tidurnya dalam keadaan REM, ada pendapat yang menyatakan bahwa tidur REM sangat penting bagi perkembangan bayi.

* Tidur Non-REM

Tidur non-REM adalah tidur nyenyak(deep sleep). Pada fase ini bayi berada dalam keadaan relaks, berbaring tenang dengan detak jantung dan tarikan napas yang teratur. Pada tahapan ini, hormon-hormon pertumbuhan diproduksi untuk memulihkan tubuh, memperbaiki sel, serta membangun otot dan jaringan pendukung. Sering kali bayi berkeringat, makanya begitu bangun ia merasa segar dan bugar.

TERLALU LAMA ATAU SEBENTAR?

Lazimnya bayi tidak mengalami masalah tidur. Ia bisa dengan cepat tertidur pulas dan tidak mudah terbangun. Namun kadang ada juga yang sulit tidur dan mudah terbangun. Mengenai lamanya tidur yang ideal memang tidak bisa disamaratakan. Pada bulan-bulan pertama porsi tidur bayi bisa mencapai 16 jam per hari dan jumlah ini berangsur-angsur akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia (lihat tabel, Red.).

Berapa lama si bayi tidur tentu harus diperhatikan sebab seperti telah dijelaskan lamanya tidur berpengaruh pada perkembangan fisik dan otaknya. Sayangnya, bayi sering kurang tidur justru akibat kesalahan orangtua yang mungkin tidak disengaja. Contohnya, karena ingin mendisiplinkan si kecil dalam hal makan/minum, orangtua membangunkannya untuk disusui. Padahal kalau bayi memang merasa lapar, meski sedang tidur ia pasti akan terbangun dengan sendirinya dan menangis. Begitupun kalau ia ingin buang air kecil atau air besar.

Yang juga perlu diketahui para orangtua, bayi tak mengenal istilah sulit tidur atau kurang tidur seperti orang dewasa karena umumnya mereka memiliki pola tidur sendiri yang berbeda dari orang dewasa. Sebaliknya, tak ada pula bayi yang kebanyakan tidur karena mereka akan langsung terbangun begitu merasa lapar, haus, dan sebagainya. Yang penting, usahakan waktu dan kualitas tidurnya cukup. Caranya? Perhatikan kenyamanan ruang tidurnya. Pastikan ventilasinya baik, pencahayaannya pas tidak kelewat terang ataupun gelap, tidak berisik, dan suhunya tidak terlalu dingin ataupun panas.

Untuk menjaga kualitas dan waktu tidur bayi, orangtua dapat membiasakan waktu tidur secara teratur. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengajarinya bahwa malam hari adalah waktu tidur. Caranya, biasakan menyusui dan mengganti popok dengan penerangan redup di malam hari. Selain itu, jangan mengajaknya bermain usai mengganti popoknya yang basah. Setelah selesai, baringkan saja dan ajak ia kembali tidur.

Bayi yang selalu kurang tidur tentu akan mengalami dampak merugikan pada pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan hormon dan sel-sel tubuhnya juga terganggu sehingga akan menurunkan daya tahan tubuhnya. Kadar sel darah putih dalam tubuh akan menurun padahal sel darah putih menentukan efektivitas sistem daya tahan tubuh. Akibatnya, si kecil jadi gampang sakit. Secara emosional, bayi yang kurang tidur biasanya juga rewel. Tentu ini akan merepotkan orangtuanya bukan?

PERKIRAAN WAKTU TIDUR BAYI PER HARI

Usia Tidur Siang (jam) Tidur Malam (jam) Total Wakyu (jam)
0-1 bulan ± 7,5 ± 8,5 16
3 bulan ± 5 ± 10 15
6 bulan ± 4,5 ± 10 14,5
9 bulan ± 3 ± 11 14
12 bulan ± 2,5 ± 11 13,5

JANGAN SERING MEMBANGUNKAN BAYI

Bembangunkan” bayi di malam hari boleh jadi merupakan aktivitas rutin yang dilakukan para ibu hingga bayinya kurang lebih berusia 12 minggu. Alasannya, memberikan ASI kepada bayi setiap dua jam sekali. Memang sebuah dilema karena di satu pihak bayi membutuhkan asupan makanan sesering mungkin, tapi di lain pihak bayi juga butuh istirahat.

Bayi yang berkali-kali bangun di malam hari memang tidak akan sakit, tapi kebiasaan ini membuatnya agak lama menemukan pola tidur yang tepat. Sementara bagi orangtua pun, seringnya bayi bangun di malam hari dapat menimbulkan stres.
Para peneliti dari University of London, seperti dilansir BBC News baru-baru ini, mempelajari 600 bayi dengan rentang usia 1-12 minggu untuk melihat faktor yang menyebabkan mereka bisa atau tidak bisa tidur sepanjang malam. Ditemukan, bayi yang disusui lebih dari 11 kali dalam tenggang waktu 24 jam selama seminggu pertama akan mengurangi waktu tidurnya hingga ia berusia 12 minggu. Artinya, sampai berusia 12 minggu, si bayi tidak menikmati tidurnya yang nyenyak sepanjang malam. Seandainya aktivitas menyusu digeser ke waktu sebelum tengah malam, bayi tentu akan tidur lebih nyenyak.

Para peneliti di bawah pimpinan Dr. Ian St James-Roberts, juga menemukan bahwa saat disusui bayi akan belajar melakukan pembedaan antara siang dan malam. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Diseases in Childhood ini mengungkap, pemberian susu secara sering pada minggu pertama usia bayi merupakan faktor signifikan yang menentukan pola tidur selanjutnya. Itulah mengapa para peneliti berharap studi yang disebut behavioural programme ini bisa menjadi rujukan bagi kalangan medis untuk mengatasi masalah tidur bayi.

BAYI KUNING LEBIH LAMA TIDUR?

Bayi kuning umumnya selalu mengantuk dan gampang tidur. Itu karena kadar bilirubin pada darahnya memengaruhi kerja organ tubuh, termasuk saraf otaknya. Bilirubin yang bersifat toksik ini jika tidak ditanggulangi segera bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak.

Cara sederhana mengetahui apakah bayi menderita kuning atau tidak sebetulnya tak terlampau sulit. Amati bagian putih matanya saat ia menyusu. Bila benar sakit kuning biasanya akan terlihat jelas di matanya.

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Itulah sebabnya kulit bayi terlihat kuning. Selagi masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah dalam jumlah sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Sel darah merah inilah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta.

Namun begitu lahir, paru-parunya sudah berfungsi sehingga sel darah merah yang berfungsi sebagai sarana transportasi ini tidak dibutuhkan lagi. Sel-sel ini kemudian dihancurkan dan salah satu hasil pemecahannya adalah bilirubin. Pada bayi lahir cukup bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 12,5 mg/dl. Sedangkan bayi prematur, batas amannya adalah 10 mg/dl. Jika tergolong ringan, bayi tidak memerlukan pengobatan khusus. Cukup dengan terapi sinar biru (blue light) selama di rumah sakit atau menjemurnya di bawah sinar matahari pagi bila sudah di rumah.

Yang mengkhawatirkan dan dikatakan parah bila kadar bilirubinnya lebih dari 20 mg/dl. Atau timbul tanda-tanda keracunan bilirubin, antara lain kejang. Kalau sudah seperti ini mau tidak mau harus dilakukan transfusi tukar. Tindakan ini diperlukan untuk membuang bilirubin indirek yang bersifat toksik dalam tubuh bayi. Terutama bila sudah mencapai saraf otak karena sel-sel otak yang rusak tidak dapat diperbarui atau digantikan oleh apa pun.

SERBA-SERBI POLA TIDUR BAYI

Posted in Tabloid Nakita by nugraad001 on April 18, 2007

nakita.gif

Bagi seorang bayi, tidur tak hanya berarti istirahat, tapi juga saat istimewa untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Itulah sebabnya, banyak tidur akan membuat kondisi fisik dan emosinya lebih baik. Yuk, kenali serba-serbi tidur bayi seperti dijelaskan dr. Jo. Edy Siswanto, Sp.A., dari RSAB Harapan Kita, Jakarta.


MANFAAT TIDUR

Bagi bayi, tidur memiliki manfaat yang sangat besar untuk tumbuh kembangnya. Pertama untuk memberi kesempatan mengistirahatkan tubuh. Kedua, untuk memberi kesempatan meningkatkan proses metabolisme, yakni proses pengolahan pangan menjadi energi yang dibutuhkan. Saat tidur pertumbuhan fisik bayi akan terpacu. Dengan begitu, lama tidaknya tidur bayi berkait erat dengan pertambahan berat badan, tinggi badan, dan kesehatan fisiknya secara umum. Bayi yang tidurnya kurang biasanya pertumbuhan fisiknya tak sebagus bayi yang tidurnya cukup.
Manfaat lain dari tidur juga bisa disimak dari sebuah penelitian yang dilansir di London tahun 1998. Penelitian tersebut mengungkap bahwa bayi yang banyak tidur, perkembangan otaknya akan optimal. Mengapa demikian? Aktivitas tidur merupakan salah satu stimulus bagi proses tumbuh kembang otak. Hal ini bisa dimengerti karena 75% hormon pertumbuhan dikeluarkan saat anak tidur. Khususnya pada stage ketiga dan keempat tahapan tidur (lihat boks tahapan tidur, Red.).

Hormon pertumbuhan inilah yang bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan. Selain itu hormon pertumbuhan juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbarui seluruh sel yang ada di tubuh, dari sel kulit, sel darah sampai sel saraf otak. Nah, proses pembaruan sel ini akan berlangsung lebih cepat kalau si bayi sering terlelap.

TAHAPAN TIDUR BAYI

Proses dari mengantuknya bayi sampai tertidur lelap dibedakan menjadi 2 fase. Fase pertama adalah tidur tenang atau non-REM (Rapid Eye Movement). Kedua adalah fase tidur aktif atau REM.

* Tidur REM

Disebut tahap REM atau juga tahap mimpi. Umumnya, pola pernapasan dan denyut jantung si kecil tidak teratur, serta tidak terjadi pembentukan keringat. Kadang kala, ia tertidur sambil tersenyum, tertawa, atau bahkan mengigau. Kaki dan tangannya juga bisa bergerak-gerak. Meski begitu aktif, bayi akan tetap tidur lelap dan sulit dibangunkan. Tahapan REM ini diduga berperan penting dalam memulihkan pikiran, daya ingat, serta mempertahankan fungsi sel-sel otak.

Bayi mengalami tidur REM sejak berusia 6-7 bulan dalam kandungan. Bayi prematur menggunakan 80% waktu tidurnya dalam keadaan REM, sedangkan bayi yang lahir normal hanya sekitar 50%. Meski belum diketahui mengapa bayi banyak menghabiskan waktu tidurnya dalam keadaan REM, ada pendapat yang menyatakan bahwa tidur REM sangat penting bagi perkembangan bayi.

* Tidur Non-REM

Tidur non-REM adalah tidur nyenyak(deep sleep). Pada fase ini bayi berada dalam keadaan relaks, berbaring tenang dengan detak jantung dan tarikan napas yang teratur. Pada tahapan ini, hormon-hormon pertumbuhan diproduksi untuk memulihkan tubuh, memperbaiki sel, serta membangun otot dan jaringan pendukung. Sering kali bayi berkeringat, makanya begitu bangun ia merasa segar dan bugar.

TERLALU LAMA ATAU SEBENTAR?

Lazimnya bayi tidak mengalami masalah tidur. Ia bisa dengan cepat tertidur pulas dan tidak mudah terbangun. Namun kadang ada juga yang sulit tidur dan mudah terbangun. Mengenai lamanya tidur yang ideal memang tidak bisa disamaratakan. Pada bulan-bulan pertama porsi tidur bayi bisa mencapai 16 jam per hari dan jumlah ini berangsur-angsur akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia (lihat tabel, Red.).

Berapa lama si bayi tidur tentu harus diperhatikan sebab seperti telah dijelaskan lamanya tidur berpengaruh pada perkembangan fisik dan otaknya. Sayangnya, bayi sering kurang tidur justru akibat kesalahan orangtua yang mungkin tidak disengaja. Contohnya, karena ingin mendisiplinkan si kecil dalam hal makan/minum, orangtua membangunkannya untuk disusui. Padahal kalau bayi memang merasa lapar, meski sedang tidur ia pasti akan terbangun dengan sendirinya dan menangis. Begitupun kalau ia ingin buang air kecil atau air besar.

Yang juga perlu diketahui para orangtua, bayi tak mengenal istilah sulit tidur atau kurang tidur seperti orang dewasa karena umumnya mereka memiliki pola tidur sendiri yang berbeda dari orang dewasa. Sebaliknya, tak ada pula bayi yang kebanyakan tidur karena mereka akan langsung terbangun begitu merasa lapar, haus, dan sebagainya. Yang penting, usahakan waktu dan kualitas tidurnya cukup. Caranya? Perhatikan kenyamanan ruang tidurnya. Pastikan ventilasinya baik, pencahayaannya pas tidak kelewat terang ataupun gelap, tidak berisik, dan suhunya tidak terlalu dingin ataupun panas.

Untuk menjaga kualitas dan waktu tidur bayi, orangtua dapat membiasakan waktu tidur secara teratur. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengajarinya bahwa malam hari adalah waktu tidur. Caranya, biasakan menyusui dan mengganti popok dengan penerangan redup di malam hari. Selain itu, jangan mengajaknya bermain usai mengganti popoknya yang basah. Setelah selesai, baringkan saja dan ajak ia kembali tidur.

Bayi yang selalu kurang tidur tentu akan mengalami dampak merugikan pada pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan hormon dan sel-sel tubuhnya juga terganggu sehingga akan menurunkan daya tahan tubuhnya. Kadar sel darah putih dalam tubuh akan menurun padahal sel darah putih menentukan efektivitas sistem daya tahan tubuh. Akibatnya, si kecil jadi gampang sakit. Secara emosional, bayi yang kurang tidur biasanya juga rewel. Tentu ini akan merepotkan orangtuanya bukan?

PERKIRAAN WAKTU TIDUR BAYI PER HARI

Usia Tidur Siang (jam) Tidur Malam (jam) Total Wakyu (jam)
0-1 bulan ± 7,5 ± 8,5 16
3 bulan ± 5 ± 10 15
6 bulan ± 4,5 ± 10 14,5
9 bulan ± 3 ± 11 14
12 bulan ± 2,5 ± 11 13,5

JANGAN SERING MEMBANGUNKAN BAYI

Bembangunkan” bayi di malam hari boleh jadi merupakan aktivitas rutin yang dilakukan para ibu hingga bayinya kurang lebih berusia 12 minggu. Alasannya, memberikan ASI kepada bayi setiap dua jam sekali. Memang sebuah dilema karena di satu pihak bayi membutuhkan asupan makanan sesering mungkin, tapi di lain pihak bayi juga butuh istirahat.

Bayi yang berkali-kali bangun di malam hari memang tidak akan sakit, tapi kebiasaan ini membuatnya agak lama menemukan pola tidur yang tepat. Sementara bagi orangtua pun, seringnya bayi bangun di malam hari dapat menimbulkan stres.
Para peneliti dari University of London, seperti dilansir BBC News baru-baru ini, mempelajari 600 bayi dengan rentang usia 1-12 minggu untuk melihat faktor yang menyebabkan mereka bisa atau tidak bisa tidur sepanjang malam. Ditemukan, bayi yang disusui lebih dari 11 kali dalam tenggang waktu 24 jam selama seminggu pertama akan mengurangi waktu tidurnya hingga ia berusia 12 minggu. Artinya, sampai berusia 12 minggu, si bayi tidak menikmati tidurnya yang nyenyak sepanjang malam. Seandainya aktivitas menyusu digeser ke waktu sebelum tengah malam, bayi tentu akan tidur lebih nyenyak.

Para peneliti di bawah pimpinan Dr. Ian St James-Roberts, juga menemukan bahwa saat disusui bayi akan belajar melakukan pembedaan antara siang dan malam. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Diseases in Childhood ini mengungkap, pemberian susu secara sering pada minggu pertama usia bayi merupakan faktor signifikan yang menentukan pola tidur selanjutnya. Itulah mengapa para peneliti berharap studi yang disebut behavioural programme ini bisa menjadi rujukan bagi kalangan medis untuk mengatasi masalah tidur bayi.

BAYI KUNING LEBIH LAMA TIDUR?

Bayi kuning umumnya selalu mengantuk dan gampang tidur. Itu karena kadar bilirubin pada darahnya memengaruhi kerja organ tubuh, termasuk saraf otaknya. Bilirubin yang bersifat toksik ini jika tidak ditanggulangi segera bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak.

Cara sederhana mengetahui apakah bayi menderita kuning atau tidak sebetulnya tak terlampau sulit. Amati bagian putih matanya saat ia menyusu. Bila benar sakit kuning biasanya akan terlihat jelas di matanya.

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Itulah sebabnya kulit bayi terlihat kuning. Selagi masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah dalam jumlah sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Sel darah merah inilah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta.

Namun begitu lahir, paru-parunya sudah berfungsi sehingga sel darah merah yang berfungsi sebagai sarana transportasi ini tidak dibutuhkan lagi. Sel-sel ini kemudian dihancurkan dan salah satu hasil pemecahannya adalah bilirubin. Pada bayi lahir cukup bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 12,5 mg/dl. Sedangkan bayi prematur, batas amannya adalah 10 mg/dl. Jika tergolong ringan, bayi tidak memerlukan pengobatan khusus. Cukup dengan terapi sinar biru (blue light) selama di rumah sakit atau menjemurnya di bawah sinar matahari pagi bila sudah di rumah.

Yang mengkhawatirkan dan dikatakan parah bila kadar bilirubinnya lebih dari 20 mg/dl. Atau timbul tanda-tanda keracunan bilirubin, antara lain kejang. Kalau sudah seperti ini mau tidak mau harus dilakukan transfusi tukar. Tindakan ini diperlukan untuk membuang bilirubin indirek yang bersifat toksik dalam tubuh bayi. Terutama bila sudah mencapai saraf otak karena sel-sel otak yang rusak tidak dapat diperbarui atau digantikan oleh apa pun.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.