Pustaka Digital Ibu dan Anak


Jangan Panik Bila Demam Menyerang

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

SUHU tubuh normal manusia berdasarkan pengamatan Wunderlich lebih dari 120 tahun yang lalu, adalah sekitar 37 derajat celcius. Namun sebetulnya terdapat rentang suhu normal yang bervariasi pada setiap individu. Misalnya pada wanita, suhu tubuhnya akan berubah-ubah seiring siklus haidnya.

Hampir semua orang pernah merasakan demam. Ada yang demam tinggi sekali, ada pula yang hanya sedikit lebih tinggi dari biasanya. Kadang-kadang, saat demam memang terasa panas, tetapi bisa juga justru tubuh sangat kedinginan. Demam dapat datang dengan penyebab yang kita yakini sebagai pemicu, seperti kelelahan, namun bisa juga datang sekonyong-konyong pada saat kita merasa sehat-sehat saja. Dapat datang di pagi hari, siang, atau tengah malam.

Ketika demam menyerang, tentunya setiap orang dewasa harus dapat melakukan tindakan awal yang tepat. Baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain yang ada di lingkungan. Tidak mungkin untuk selalu memperoleh pertolongan tenaga medis ketika demam datang. Untuk itu perlu dimiliki pengetahuan yang tepat tentang demam.

Suhu tubuh normal manusia berdasarkan pengamatan Wunderlich lebih dari 120 tahun yang lalu, adalah sekitar 37 derajat celcius. Namun sebetulnya terdapat rentang suhu normal yang bervariasi pada setiap individu. Misalnya pada wanita, suhu tubuhnya akan berubah-ubah seiring siklus haidnya. Untuk usia 18-40 tahun rentangnya 36,8 lebih atau kurang 0,40C. Suhu tertinggi biasanya terjadi pada pukul 6 pagi dan suhu terendah terjadi pada sekitar pukul 4 sampai 6 sore. Dengan demikian, kriteria demam dapat dikatakan sebagai suhu tubuh di atas 37,2 derajat C pada pagi hari dan suhu tubuh di atas 37,7 derajat C pada sore hari. Akan tetapi, secara umum orang-orang menyadari bilamana suhu tubuhnya “tidak normal” karena sudah hapal dengan siklus suhu tubuhnya masing-masing.

Suhu tubuh diatur oleh sebuah pusat pengaturan suhu tubuh yang berada di bagian otak manusia yang disebut hipotalamus. Hipotalamus ini akan berespons terhadap keadaan lingkungan dengan mengatur pelepasan panas tubuh sehingga terjadi keseimbangan. Misalnya ketika suhu lingkungan sangat dingin, hipotalamus akan merangsang pembuluh darah agar mengecil (vasokonstriksi), sehingga panas tidak mudah lepas dari tubuh. Sebaliknya, bila suhu lingkungan terlalu panas, pembuluh darah akan dirangsang sehingga melebar dan panas tubuh dapat dilepaskan. Pengaturan ini juga meliputi pengaturan tingkah laku, seperti kecenderungan untuk mencari selimut ketika udara lingkungan terasa dingin. Bayangkanlah hipotalamus seperti mesin pengatur yang mematok suhu tubuh pada derajat tertentu, misalnya 37 derajat C, yang akan mengatur tubuh secara keseluruhan untuk berupaya mempertahankan suhu tersebut pada keadaan suhu lingkungan apapun.

Suhu tubuh di atas normal tersebut sebetulnya dibagi menjadi dua kriteria, fever (demam) dan hyperthermia (hipertermi). Hipertermi adalah suatu kenaikan suhu tubuh lebih dari normal di atas setting hipotalamus karena ketidakmampuan melepas panas. Pada hipertermia, setting (pengaturan) suhu hipotalamus tidak berubah alias normal. Namun mekanisme tubuh gagal meraihnya karena ketidakmampuan melepas panas. Misalnya pada saat olah raga berat atau pada saat berada di dalam bus kota tanpa AC di tengah hari yang sangat panas. Pada keadaan itu, suhu tubuh kita naik tapi bukan demam. Hipertermia bisa berat sampai pada keadaan heat stroke (sengatan panas) yang sering terjadi pada saat upacara bendera, menyebabkan penderita pingsan.

Untuk mengatasi hipertermi, tidak ada gunanya meminum obat penurun panas karena setting hipotalamus sebetulnya normal. Yang paling baik adalah melakukan pendinginan fisik sesegera mungkin, seperti kompres air dingin, kipas, memindahkan ke tempat yang sejuk. Bila penderita sadar, beri air minum dingin yang banyak. Bila penderita tidak segera sadar, ia harus dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Kebalikan dari hipertermi, pada demam (fever) setting suhu di hipotalamus memang naik, sehingga mekanisme yang terjadi dalam tubuh pun mengacu pada derajat suhu yang lebih tinggi tersebut. Hal ini sebetulnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang luar biasa. Ketika ikan disuntik dengan kuman berbahaya, ikan akan meningkatkan suhu tubuhnya dengan berenang ke daerah yang suhu airnya lebih tinggi. Sementara kadal akan berjemur di bawah sinar matahari untuk mencapai keadaan “demam”. Pertumbuhan dan keganasan beberapa jenis kuman akan terganggu pada suhu tinggi, dan sebaliknya beberapa sel pertahanan tubuh akan meningkat aktivitasnya. Sehingga secara umum demam meningkatkan kemampuan bertahan terhadap serangan infeksi. Barangkali itulah sebabnya Allah mengatur setting suhu di hipotalamus untuk naik ketika terjadi infeksi. Walaupun begitu, tampaknya demam menuntut harga yang lumayan berat. Pertama, orang akan merasa tidak nyaman dengan keadaan demam. Kemudian tiap kenaikan suhu tubuh 10 derajat C akan terjadi peningkatan pemakaian oksigen sekitar 13 persen dan kebutuhan akan kalori dan cairan. Hal ini menyebabkan banyak sekali gangguan “pendamping” demam yang muncul seperti nyeri pinggang, pegal-pegal, nyeri tulang, tidak nafsu makan. Bahkan, demam juga dapat memengaruhi keadaan mental yang menyebabkan mengigau sampai koma. Pada anak, demam bisa menyebabkan kejang.

Untuk mengatasi demam, tentunya paling baik adalah mengatasi penyebabnya. Akan tetapi, sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh, demam menjadi gejala awal semua penyakit infeksi dan bermacam-macam penyakit noninfeksi. Demam akibat virus demam berdarah dengue akan sama saja dengan demam oleh virus influenza pada hari pertama. Oleh sebab itu, sangat jarang –kalau tidak mustahil– dokter ahli sekalipun, dapat mengetahui penyebab pasti suatu demam pada hari pertama. Dokter yang baik akan menerangkan hal ini dan menyarankan penderita untuk diperiksa kembali pada hari berikutnya.

Sebelum dapat mengatasi penyebab demam, tindakan yang dilakukan adalah mengatasi demam itu sendiri. Bila demam mencapai lebih dari atau sama dengan 41 derajat C (hiperpireksia), penanganan sebaiknya dilakukan di rumah sakit. Selain untuk mengatasi suhu tingginya, hiperpireksia biasanya kemudian terbukti akibat penyebab yang cukup berbahaya. Bila demam di bawah 41 derajat C dan tidak ada gejala-gejala berat lain yang menyertai, Anda dapat melakukan tindakan awal sebelum pergi ke dokter. Pendinginan fisik seperti halnya pada hipertermia dapat dilakukan, namun sebaiknya tidak terlalu drastis. Misalnya pada anak kecil, kompreslah dengan air hangat, jangan air dingin. Walaupun penderita mengeluh kedinginan, jangan beri selimut yang tebal sekali karena justru dapat menyebabkan heat stroke. Karena pada penderita demam kebutuhan cairan dan kalori bertambah, berilah minum yang banyak dan makan secukupnya. Bila penderita secara umum kesehatan sebelumnya baik atau tidak mengindap penyakit tertentu seperti kerusakan fungsi hati, obat-obatan penurun panas yang ada di pasaran dapat digunakan sesuai dosis yang tercantum di petunjuk pemakaian. Sebagian besar obat-obatan ini bekerja dengan menurunkan setting suhu yang ada di hipotalamus, sehingga dapat mengatasi gejala demam. Untuk anak-anak yang rentan kejang, bisa dipersiapkan obat pencegahan tertentu dari dokter sebagai persiapan.

Sediakan selalu termometer pengukur suhu tubuh di rumah. Bila terserang demam, tidak perlu panik. Lakukan langkah-langkah mudah tersebut di atas.***

(dr. Imas Damayanti, Dosen Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia)

Powered by ScribeFire.

Anak Sakit Perut, Waspadalah!

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

KETIKA sakit perut mendera, tak semua anak — terutama usia balita — bisa menggambarkan dengan tepat, bagian mana dari tubuhnya yang terganggu. Sering kali, ia menunjukkan rasa sakitnya dengan tangisan saja. Akibatnya, kaum ibu pun bingung, tak tahu pertolongan pertama macam apa yang harus diberikan pada si buah hati.

Ditilik dari asal usulnya, sakit perut dibedakan jadi gangguan yang berasal dari dalam dan luar saluran cerna. Secara medis, sakit perut timbul karena terganggunya fungsi alat-alat cerna (lambung, usus, hati, dan pakreas). Padahal, perangkat cerna ini punya tugas penting, bukan saja mampu mengolah makanan, tapi juga menyerap sarinya untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sakit perut yang berasal dari dalam saluran cerna di antaranya adalah diare, sembelit, apendisitis (radang usus buntu). Sedangkan yang berasal dari luar saluran cerna adalah penyakit infeksi seperti radang telinga, radang saluran kemih, dan lain-lainnya.

Kadang-kadang, ketika anak mengeluh perutnya mulas, orang tua hanya menganggapnya sebagai penyakit ringan biasa. Padahal, sakit perut bisa merupakan indikasi penyakit berat. Selebihnya, dengan mengetahui seluk beluk penyakit perut, para ibu bisa memiliki gambaran penanganan darurat jika anak tiba-tiba menangis seraya memegangi perut.

Faktor psikis

Pusat sakit perut bisa saja bercokol di ulu hati. Kalau ini terjadi, artinya penderita mengalami kelainan pada lambung, usus halus bagian awal, pankreas, dan hati. Penyakit yang tergolong kelompok ini di antaranya hepatitis (radang hati), pankreatitis (radang pankreas), dan maag (tukak lambung).

Namun, jika sumber rasa sakit terjadi di sekitar pusar, biasanya sudah terjadi gangguan pada pangkal usus halus, seperti tampak pada penyakit ileititis (radang ujung usus halus).

Sementara, rasa sakit yang meletup-letup di bagian bawah perut biasanya dialami penderita kelainan kolon (usus besar), saluran kencing, dan alat kelamin perempuan, khususnya daerah pelvis atau panggul.

Ada kalanya serangan sakit perut terjadi cukup lama sehingga menyebabkan anak begitu rewel dan merepotkan. Sebaliknya, ada juga mulas yang berlangsung sebentar saja. Begitu bagian perut anak diolesi dengan minyak kayu putih atau selesai buang air besar, penderita jadi ceria kembali.

Secara medis, berdasarkan lamanya serangan, gangguan perut dibedakan jadi akut dan kronis. Sakit perut akut datang secara tiba-tiba. Sakit perut kronis biasanya terjadi berulang-ulang, yakni timbul paling sedikit sebulan sekali selama tiga bulan.

Kalau tergolong parah dan membutuhkan pembedahan, tentu pengobatan sakit perut harus diatasi dengan bedah. Biasanya, ini terjadi pada apendisitis, invaginasi (masuknya sebagian usus ke dalam usus lain sehingga menimbulkan sumbatan), dan sebagainya. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian.

Sedangkan diare atau intoleransi laktosa (tak tahan terhadap laktosa) tergolong penyakit nonbedah. Jadi, dengan obat saja sakit perut sudah bisa dikendalikan.

Pada anak-anak, umumnya sakit perut disebabkan oleh tiga hal, yakni kelainan organik di dalam tubuh seperti terjadi pada saluran makanan, saluran kemih, hati, dan empedu. Selain itu, ada juga kelainan organik dan sistematik dari luar rongga perut yang dipicu gangguan di atas sekat rongga dada seperti radang paru-paru, kelainan darah, dan kejang otot perut. Sementara penyebab nonorganik lebih berkaitan dengan faktor psikis.

Gejala penyerta

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

Pada apendisitis yang biasanya membutuhkan bedah, selain gejala sakit perut, muncul pula gejala panas tinggi dan muntah. Sakit perutnya pun khas, yaitu pada bagian bawah kanan perut.

Demikian pula dengan invaginasi. Sumbatan usus pada penyakit ini mengakibatkan timbulnya derita ikutan seperti kembung, muntah lendir, dan darah. Biasanya, anak tiba-tiba menangis sambil menjerit kesakitan. Jenis lainnya adalah valvulus (usus berputar). Akibatnya, di samping perut sakit, anak akan muntah, sulit buang air besar, dan kembung. Namun ingat, bila gejala penyerta tidak muncul, tak perlu panik.

Bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan akan menunjukkan gejala itu. Lain halnya dengan bayi usia tiga bulan hingga dua tahun. Selain muntah, mungkin tiba-tiba ia menjerit dan menangis. Sedangkan anak usia 2-5 tahun mengekspresikan rasa sakitnya dengan keluhan, meskipun belum bisa menunjukkan dengan tepat bagian mana yang sakit.

Seperti penyakit lainnya, kunci utama menanggulangi sakit perut pada anak adalah mencari penyebabnya. Cara paling sederhana, amati perubahan anak. Bayi, misalnya, menderita sakit perut kalau berganti susu atau makanan padat. Selain itu, perlu diperhatikan pula perubahan frekuensi buang air besar, kondisi kotoran atau faeces, kandungan muntahan, juga posisi anak saat serangan (menekuk lutut ataukah membungkukkan badan). Keterangan yang diberikan orang tua dapat membantu dokter menentukan penanganan medis. Di samping pemeriksaan fisik, bila diperlukan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan laboratorium, untuk mendeteksi adanya infeksi atau gangguan pencernaan dan penyerapan. Namun, pada kasus-kasus berat, biasanya dilakukan pemeriksaan lebih teliti menggunakan rontgen, USG (ultrasonografi), EEG (elektroensefalografi), dan EMG (elektromiografi).

Pencegahan gangguan alat cerna tergantung penyakitnya. Meskipun demikian, sebenarnya ada banyak kebiasaan baik yang dapat mencegah terjadinya sakit perut. Misalnya saja, mengonsumsi makanan kaya serat, memilih makanan yang terjamin kebersihannya, berolah raga secara rutin, dan membiasakan buang air teratur. Ini bisa dilatih sejak anak masih kecil.

Selain itu, terbinanya komunikasi yang baik dan teratur antara orang tua dengan anak banyak menolong mengatasi masalah yang dihadapi anak. Jika ia tiba-tiba sakit perut, ciptakanlah suasana menyenangkan, hindari pula rasa panik. Dengan demikian, anak akan merasa terlindungi dan tenang. Sebab, tak jarang juga, sakit perut yang diderita anak hanyalah refleksi dari kekecewaannya. (dr. Nita Yoenika).***

Powered by ScribeFire.

Anak Sakit Perut, Waspadalah!

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

KETIKA sakit perut mendera, tak semua anak — terutama usia balita — bisa menggambarkan dengan tepat, bagian mana dari tubuhnya yang terganggu. Sering kali, ia menunjukkan rasa sakitnya dengan tangisan saja. Akibatnya, kaum ibu pun bingung, tak tahu pertolongan pertama macam apa yang harus diberikan pada si buah hati.

Ditilik dari asal usulnya, sakit perut dibedakan jadi gangguan yang berasal dari dalam dan luar saluran cerna. Secara medis, sakit perut timbul karena terganggunya fungsi alat-alat cerna (lambung, usus, hati, dan pakreas). Padahal, perangkat cerna ini punya tugas penting, bukan saja mampu mengolah makanan, tapi juga menyerap sarinya untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sakit perut yang berasal dari dalam saluran cerna di antaranya adalah diare, sembelit, apendisitis (radang usus buntu). Sedangkan yang berasal dari luar saluran cerna adalah penyakit infeksi seperti radang telinga, radang saluran kemih, dan lain-lainnya.

Kadang-kadang, ketika anak mengeluh perutnya mulas, orang tua hanya menganggapnya sebagai penyakit ringan biasa. Padahal, sakit perut bisa merupakan indikasi penyakit berat. Selebihnya, dengan mengetahui seluk beluk penyakit perut, para ibu bisa memiliki gambaran penanganan darurat jika anak tiba-tiba menangis seraya memegangi perut.

Faktor psikis

Pusat sakit perut bisa saja bercokol di ulu hati. Kalau ini terjadi, artinya penderita mengalami kelainan pada lambung, usus halus bagian awal, pankreas, dan hati. Penyakit yang tergolong kelompok ini di antaranya hepatitis (radang hati), pankreatitis (radang pankreas), dan maag (tukak lambung).

Namun, jika sumber rasa sakit terjadi di sekitar pusar, biasanya sudah terjadi gangguan pada pangkal usus halus, seperti tampak pada penyakit ileititis (radang ujung usus halus).

Sementara, rasa sakit yang meletup-letup di bagian bawah perut biasanya dialami penderita kelainan kolon (usus besar), saluran kencing, dan alat kelamin perempuan, khususnya daerah pelvis atau panggul.

Ada kalanya serangan sakit perut terjadi cukup lama sehingga menyebabkan anak begitu rewel dan merepotkan. Sebaliknya, ada juga mulas yang berlangsung sebentar saja. Begitu bagian perut anak diolesi dengan minyak kayu putih atau selesai buang air besar, penderita jadi ceria kembali.

Secara medis, berdasarkan lamanya serangan, gangguan perut dibedakan jadi akut dan kronis. Sakit perut akut datang secara tiba-tiba. Sakit perut kronis biasanya terjadi berulang-ulang, yakni timbul paling sedikit sebulan sekali selama tiga bulan.

Kalau tergolong parah dan membutuhkan pembedahan, tentu pengobatan sakit perut harus diatasi dengan bedah. Biasanya, ini terjadi pada apendisitis, invaginasi (masuknya sebagian usus ke dalam usus lain sehingga menimbulkan sumbatan), dan sebagainya. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian.

Sedangkan diare atau intoleransi laktosa (tak tahan terhadap laktosa) tergolong penyakit nonbedah. Jadi, dengan obat saja sakit perut sudah bisa dikendalikan.

Pada anak-anak, umumnya sakit perut disebabkan oleh tiga hal, yakni kelainan organik di dalam tubuh seperti terjadi pada saluran makanan, saluran kemih, hati, dan empedu. Selain itu, ada juga kelainan organik dan sistematik dari luar rongga perut yang dipicu gangguan di atas sekat rongga dada seperti radang paru-paru, kelainan darah, dan kejang otot perut. Sementara penyebab nonorganik lebih berkaitan dengan faktor psikis.

Gejala penyerta

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

Pada apendisitis yang biasanya membutuhkan bedah, selain gejala sakit perut, muncul pula gejala panas tinggi dan muntah. Sakit perutnya pun khas, yaitu pada bagian bawah kanan perut.

Demikian pula dengan invaginasi. Sumbatan usus pada penyakit ini mengakibatkan timbulnya derita ikutan seperti kembung, muntah lendir, dan darah. Biasanya, anak tiba-tiba menangis sambil menjerit kesakitan. Jenis lainnya adalah valvulus (usus berputar). Akibatnya, di samping perut sakit, anak akan muntah, sulit buang air besar, dan kembung. Namun ingat, bila gejala penyerta tidak muncul, tak perlu panik.

Bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan akan menunjukkan gejala itu. Lain halnya dengan bayi usia tiga bulan hingga dua tahun. Selain muntah, mungkin tiba-tiba ia menjerit dan menangis. Sedangkan anak usia 2-5 tahun mengekspresikan rasa sakitnya dengan keluhan, meskipun belum bisa menunjukkan dengan tepat bagian mana yang sakit.

Seperti penyakit lainnya, kunci utama menanggulangi sakit perut pada anak adalah mencari penyebabnya. Cara paling sederhana, amati perubahan anak. Bayi, misalnya, menderita sakit perut kalau berganti susu atau makanan padat. Selain itu, perlu diperhatikan pula perubahan frekuensi buang air besar, kondisi kotoran atau faeces, kandungan muntahan, juga posisi anak saat serangan (menekuk lutut ataukah membungkukkan badan). Keterangan yang diberikan orang tua dapat membantu dokter menentukan penanganan medis. Di samping pemeriksaan fisik, bila diperlukan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan laboratorium, untuk mendeteksi adanya infeksi atau gangguan pencernaan dan penyerapan. Namun, pada kasus-kasus berat, biasanya dilakukan pemeriksaan lebih teliti menggunakan rontgen, USG (ultrasonografi), EEG (elektroensefalografi), dan EMG (elektromiografi).

Pencegahan gangguan alat cerna tergantung penyakitnya. Meskipun demikian, sebenarnya ada banyak kebiasaan baik yang dapat mencegah terjadinya sakit perut. Misalnya saja, mengonsumsi makanan kaya serat, memilih makanan yang terjamin kebersihannya, berolah raga secara rutin, dan membiasakan buang air teratur. Ini bisa dilatih sejak anak masih kecil.

Selain itu, terbinanya komunikasi yang baik dan teratur antara orang tua dengan anak banyak menolong mengatasi masalah yang dihadapi anak. Jika ia tiba-tiba sakit perut, ciptakanlah suasana menyenangkan, hindari pula rasa panik. Dengan demikian, anak akan merasa terlindungi dan tenang. Sebab, tak jarang juga, sakit perut yang diderita anak hanyalah refleksi dari kekecewaannya. (dr. Nita Yoenika).***

Powered by ScribeFire.

Antibiotik Sang Penyelamat yang Bisa Jadi Musuh

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

Patut diakui, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat kuman atau bakteri. Oleh karena itu, antibiotik dapat menjadi penyelamat jiwa. Akan tetapi, penggunaan yang membabi buta menyebabkan antibiotik kehilangan kemujarabannya. Saat ini di seluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Sang kuman ini, kita sebut “superbugs”, menyebabkan infeksi merajalela, kematian meningkat, biaya pengobatan mahal.

DOKTER spesialis anak Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto, Sp.A.K., M.M.Ped. dari Yayasan Orangtua Peduli mengatakan, bakteri resisten alias si superbugs telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius terhadap masyarakat luas. “Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya ‘merugikan’ individu yang berangkutan atau pasien yang memperoleh terapi antibiotik, melainkan juga lingkungan sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik,” katanya dalam seminar di Bandung, belum lama ini.

Ia mengingatkan, antibiotik hanya bisa digunakan untuk penyakit infeksi berat akibat bakteri. Akan tetapi, antibiotik “impoten” terhadap penyakit infeksi akibat virus. “Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh antibiotik. Demam, diare, radang tenggorokan, batuk, hampir selalu diberi antibiotik. Padahal, penyebab umum penyakit itu adalah infeksi virus. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau lambat kita akan ‘terpental balik’ kembali ke era kegelapan, era praantibiotik di mana kematian akibat infeksi kuman mencuat akibat kebalnya kuman terhadap antibiotik yang ada,” ujar Purnamawati.

Apabila kita tak mengubah perilaku menggunakan antibiotik (tidak rasional), niscaya dalam waktu singkat antibiotik keluaran teranyar sekalipun akan menjadi “impoten”.

Bakteri dan virus

Apa bedanya bakteri dan virus? Jelas berbeda, dari ukurannya pun keduanya sudah menunjukkan perbedaan. Virus berukuran lebih kecil daripada bakteri.

Banyak sekali bakteri di tubuh kita, bahkan ASI pun mengandung bakteri, tapi bakteri “baik”. Menurut Purnamawati, mayoritas bakteri memang tidak jahat, bahkan menguntungkan bagi kesehatan kita.

Ada dua jenis bakteri, bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif umumnya lebih mudah dilawan dibandingkan dengan gram negatif. Infeksi di bagian atas diafragma, umumnya disebabkan oleh bakteri gram positif, sedangkan di bawah diafragma umumnya disebabkan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif umumnya dapat diatasi dengan antibiotik ringan (narrow spectrum antibiotic). Antibiotik spektrum luas mampu menyerang kedua kelompok bakteri tersebut.

Tubuh kita penuh bakteri, terutama di saluran cerna (mulut, usus, sampai anus). Usus dipenuhi kurang lebih 500 jenis bakteri, dan berat bakteri di usus orang dewasa mencapai 1,5 kg!

Bakteri di usus kita berfungsi banyak, seperti mengubah makanan menjadi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, memproduksi vitamin B dan K, memperbaiki sel dinding usus yang tua dan rusak, merangsang gerak usus (peristaltis), dan menghambat berkembang biaknya bakteri jahat. Secara tidak langsung, bakteri baik mencegah tubuh agar tidak terinfeksi bakteri jahat. Nah, jika kita mengonsumsi antibiotik, bakteri baik pun mati.

Virus berkembang biak dengan menggunakan sel tubuh kita. Di luar tubuh kita virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat maupun antibiotik. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh.

Antibiotik vs bakteri

Penelitian menunjukkan, paling tidak ada empat kondisi yang umumnya diterapi antibiotik, yakni demam, radang tenggorokan, batuk, dan diare. Namun perlu diingat, antibiotik tidak bekerja untuk colds dan flu, batuk atau bronkhitis, radang tenggorokan yang disebabkan virus, infeksi telinga (tidak semua infeksi telinga membutuhkan antibiotik), sebagian besar sinusistis, influenza, cairan di telinga tengah.

Pada dasarnya, antibiotik aman dipakai untuk memerangi infeksi kuman jahat. Akan tetapi, seperti obat lainnya, antibiotik juga dapat merugikan, menyebabkan maraknya superbugs dan bisa menimbulkan beberapa komplikasi:

1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah) merupakan efek samping yang paling sering terjadi. Terkadang hal ini dapat menimbulkan dehidrasi.

2. Reaksi alergi, mulai dari yang ringan berupa ruam di kulit hingga yang berat berupa pembengkakan bibir, mata, atau gangguan napas.

3. Demam (drug fever).

4. Gangguan darah. Beberapa antibiotik dapat mengganggu sumsum tulang, misalnya menurunkan produksi sel-sel darah. Beberapa antibiotik juga menurunkan produksi sel darah putih atau menurunkan kadar trombosit.

5. Kelainan hati.

6. Gangguan fungsi ginjal.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak mati mengalami perubahan (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan dengan antibiotik atau menjelma jadi superbugs. Superbugs juga sering berhasil meloloskan diri dari serangan sistem imun kita.

“Infeksi akibat superbugs memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya kembali kebal terhadap antibiotika yang superkuat tadi. Yang akan dirugikan bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” papar Purnamawati.

Pemberian antibiotik memang harus tepat. Sebab, alih-alih sembuh, antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan matinya “kuman baik” di tubuh kita. Tempat yang sebelumnya mereka tempati akan diisi oleh “kuman jahat” atau jamur. Ini disebut dengan superinfection.

Semakin sering dan lama kita mengonsumsi antibiotik, kian besar risiko terbentuknya superbugs dan risiko superinfection. “Semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin sering kita sakit,” ujar Purnamawati.

Aman dengan antibiotik

Setelah mengetahui bahaya antibiotik, sebaiknya kita berhati-hati untuk mengonsumsi dan menggunakannya. Berikut ini cara bijaksana menggunakan antibiotik.

1. Seandainya anak membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik yang hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju (antibiotik yang narrow spectrum)

2. Untuk infeksi bakteri yang ringan (infeksi saluran napas, telinga, sinus) yang memang perlu antibiotik, pilih yang bekerja terhadap bakteri gram positif.

3. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi di bawah diafragma: infeksi ginjal, saluran kemih, usus buntu, tifus, meningitis bakteri) pilih antibiotik yang membunuh kuman gram negatif.

4. Hindarkan pemakaian salep antibiotik, kecuali untuk infeksi mata.

5. Jika Anda diberi antibiotik oleh dokter, tanyakan kenapa perlu antibiotika? Apa yang dilakukan oleh antibiotik tersebut? Apa efek sampingnya? Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah efek sampingnya? Apakah antibiotik itu harus dimakan pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan? Bagaimana kalau antibiotik itu dimakan dengan obat yang lain? “Cerewet” sedikit tak apa, asalkan kesehatan tubuh terjaga.

Jika Anda punya alergi makanan atau obat tertentu, jangan segan untuk memberi tahu dokter.

Kehatian-hatian Anda bisa menyelamatkan diri dan lingkungan sekitar dari sang superbugs. (Ella Yuniaperdani/”PR”)***

Powered by ScribeFire.

Memberi Obat pada Anak

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

USAHAKAN memberikan obat dalam jangka waktu yang tepat. Aturan meminum obat 3 x 1 tablet berarti dalam satu hari (24 jam) obat tersebut harus diminum tiga kali, setiap kali minum satu tablet. Itu pun berarti obat harus diminum setiap 8 jam sekali (24 jam dibagi 3 kali). Jika bingung, tanyakan dengan jelas aturan minum obat ini pada apoteker tempat Anda membeli obat.

Urusan memberikan obat pada anak saat sedang sakit memang menjadi pekerjaan yang gampang-gampang sulit. Tidak setiap anak akan dengan sukarela membuka mulutnya dan menelan obat dengan manisnya. Sering kali terjadi “peperangan” sebagai akibat “pemberontakan” si kecil yang menolak minum obat.

Karena khawatir dengan kondisi sakit anak, orang tua sering kali akhirnya memutuskan untuk memberikan obat dengan cara apa pun, bahkan dengan “kekerasan” sekalipun. Bujuk rayu bisa berubah menjadi bentakan, ancaman, cubitan, bahkan “pengeroyokan”. Jerih payah itu pun kadang kala mengecewakan, obat yang dengan susah payah berhasil dimasukkan terbuang kembali, seiring muntahan si kecil kadang isi perut lainnya pun ikut tertumpah. Kalau sudah begini, orang tua jadi pusing tujuh keliling, alih-alih manfaat obat dirasakan, kekhawatiran pun semakin bertambah.

Sabar dan berempati

Memberikan obat pada anak saat sakit memang membutuhkan “keahlian” tersendiri, tetapi kunci terpentingnya adalah kesabaran. Usahakan tidak memaksa anak untuk meminum obat. Biasanya anak menolak minum obat karena rasa obat yang tidak enak, umumnya karena pahit. Namun, ada juga anak yang mengasosiasikan pengalaman minum obat sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan karena “trauma“ pernah dipaksa minum obat. Itulah yang menyebabkan anak memuntahkan kembali obat atau menolak dengan kuat upaya pemberian obat.

Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua perlu membujuk atau mencoba cara lain mengurangi rasa tidak enak obat. Dapat diberikan sedikit demi sedikit diselingi dengan cairan favoritnya, misalnya jus, sari buah, sirup, atau madu. Sebaiknya jangan membohongi anak dengan mencampur obat pada susu, makanan, minuman. Dikhawatirkan anak berpikiran makanan dan minuman tersebut tidak enak dan menolak mengonsumsinya ketika sedang sehat, padahal dia membutuhkannya untuk asupan nutrisi yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.

Cara pemberian obat pun sebaiknya dilakukan sambil bercanda atau bersifat permainan. Misalnya bermain dokter-dokteran, pesawat-pesawatan, atau pura-pura memberikan obat pada boneka kesayangannya.

Pada anak yang lebih besar dapat diajak bercerita mengenai manfaat yang akan dia dapatkan jika meminum obat, tentunya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.

Selain itu, orang tua pun harus ingat bahwa anak sedang sakit sehingga ia perlu mendapatkan empati lebih banyak. Sehingga, jangan lupa memberikan pujian jika anak berhasil melakukannya, namun jangan dikecilkan hatinya dengan dimarahi atau dikecam jika anak belum dapat sepenuhnya kooperatif. Pemberian obat dapat dicoba beberapa menit kemudian.

Tepat dosis dan tepat waktu

Saat dokter membuat resep, orang tua sebaiknya tahu persis obat apa yang akan diberikan pada anaknya. Jangan sungkan untuk berkomunikasi dan bertanya pada dokter tentang tujuan pemberian obat-obatan tersebut, dan bagaimana cara meminumnya, efek samping yang mungkin muncul, kapan waktu meminumnya, serta sediaan obat yang diresepkan. Selain itu, orang tua juga perlu tahu dengan jelas jenis obat yang harus dihabiskan walau sudah terlihat perbaikan kondisi kesehatan anak (misalnya obat antibiotik).

Kadang kala dokter meresepkan obat dalam bentuk puyer. Jika anak sulit meminum obat jenis ini sampaikan pada dokter untuk mencari alternatif sediaan obat lainnya. Jika disampaikan dengan alasan yang tepat tentunya dokter akan memahami kebutuhan pasiennya.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah dosis obat. Perhatikan jumlah takaran yang tepat. Dosis obat sudah dipertimbangkan dengan saksama, gunakanlah sendok takar khusus untuk obat jangan diganti dengan sendok ukuran rumah tangga, misalnya sendok teh atau sendok makan.

Kadang kala obat untuk anak sulit diberikan dengan sendok obat. Orang tua dapat mencoba memberikannya dengan pipet, sebaiknya pilih pipet dari bahan plastik agar tidak pecah saat tergigit anak.

Usahakan memberikan obat dalam jangka waktu yang tepat. Aturan meminum obat 3 x 1 tablet berarti dalam satu hari (24 jam) obat tersebut harus diminum tiga kali, setiap kali minum satu tablet. Itu pun berarti obat harus diminum setiap 8 jam sekali (24 jam dibagi 3 kali). Jika bingung, tanyakan dengan jelas aturan minum obat ini pada apoteker tempat Anda membeli obat.

Saat menerima obat di apotek pun sebaiknya orang tua meminta kopi resepnya, cek tanggal kedaluwarsa obat, pastikan obat yang tertera di resep sama dengan obat yang diberikan. Jika obatnya diganti tanyakan pada apotekernya apakah dokter Anda sudah mengetahui hal tersebut? Seharusnya dokter selalu dikonfirmasi untuk setiap perubahan obat dari resep yang ditulisnya.

Jika anak mutah tidak lama setelah meminum obat, ulangi pemberian obat dengan dosis yang sama. Namun, jika muntah setelah lebih dari setengah jam, tidak perlu diulangi. Ikuti saja pola pemberian obat pada waktu pemberian obat berikutnya.

Orang yang sakit yang minum obat

Saat meresepkan obat, dokter akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk siapa yang akan meminum obat tersebut. Tentunya obat untuk anak akan berbeda dosisnya dengan obat untuk dewasa. Umumnya, dosis untuk anak akan disesuaikan dengan berat badannya. Kekurangan dan kelebihan dosis akan berakibat pada efektivitas dan efek samping yang mungkin timbul.

Oleh karena itu, sebaiknya orang tua memberikan obat sesuai dengan dosis yang tertera dan diberikan pada anaknya. Sering kali ibu-ibu menyusui yang anaknya sakit memutuskan menelan obat untuk anaknya, dengan pemikiran bahwa obat tersebut akan dikeluarkan melalui air susu ibu. Sayangnya, perwujudan bentuk kasih ibu yang bersedia melakukan apa pun demi buah hatinya tersebut tidaklah tepat. Obat yang dikeluarkan melalui ASI kadarnya tidak akan cukup untuk mengatasi sakit anaknya. Akibatnya manfaat obat untuk anak tidak didapatkan, malah ibu menelan obat yang tidak perlu. Logikanya yang sakitlah yang meminum obat, yang tidak sakit yang memberikan obat.

Tidak ada satu pun orang tua yang senang jika anaknya sakit. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan akan lebih bermakna daripada pengobatan. Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?*** (dr. Ginna Megawati, pengelola media keluarga dan kesehatan ”Sehati Paper”.)

Powered by ScribeFire.

Memberi Obat pada Anak

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

USAHAKAN memberikan obat dalam jangka waktu yang tepat. Aturan meminum obat 3 x 1 tablet berarti dalam satu hari (24 jam) obat tersebut harus diminum tiga kali, setiap kali minum satu tablet. Itu pun berarti obat harus diminum setiap 8 jam sekali (24 jam dibagi 3 kali). Jika bingung, tanyakan dengan jelas aturan minum obat ini pada apoteker tempat Anda membeli obat.

Urusan memberikan obat pada anak saat sedang sakit memang menjadi pekerjaan yang gampang-gampang sulit. Tidak setiap anak akan dengan sukarela membuka mulutnya dan menelan obat dengan manisnya. Sering kali terjadi “peperangan” sebagai akibat “pemberontakan” si kecil yang menolak minum obat.

Karena khawatir dengan kondisi sakit anak, orang tua sering kali akhirnya memutuskan untuk memberikan obat dengan cara apa pun, bahkan dengan “kekerasan” sekalipun. Bujuk rayu bisa berubah menjadi bentakan, ancaman, cubitan, bahkan “pengeroyokan”. Jerih payah itu pun kadang kala mengecewakan, obat yang dengan susah payah berhasil dimasukkan terbuang kembali, seiring muntahan si kecil kadang isi perut lainnya pun ikut tertumpah. Kalau sudah begini, orang tua jadi pusing tujuh keliling, alih-alih manfaat obat dirasakan, kekhawatiran pun semakin bertambah.

Sabar dan berempati

Memberikan obat pada anak saat sakit memang membutuhkan “keahlian” tersendiri, tetapi kunci terpentingnya adalah kesabaran. Usahakan tidak memaksa anak untuk meminum obat. Biasanya anak menolak minum obat karena rasa obat yang tidak enak, umumnya karena pahit. Namun, ada juga anak yang mengasosiasikan pengalaman minum obat sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan karena “trauma“ pernah dipaksa minum obat. Itulah yang menyebabkan anak memuntahkan kembali obat atau menolak dengan kuat upaya pemberian obat.

Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua perlu membujuk atau mencoba cara lain mengurangi rasa tidak enak obat. Dapat diberikan sedikit demi sedikit diselingi dengan cairan favoritnya, misalnya jus, sari buah, sirup, atau madu. Sebaiknya jangan membohongi anak dengan mencampur obat pada susu, makanan, minuman. Dikhawatirkan anak berpikiran makanan dan minuman tersebut tidak enak dan menolak mengonsumsinya ketika sedang sehat, padahal dia membutuhkannya untuk asupan nutrisi yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.

Cara pemberian obat pun sebaiknya dilakukan sambil bercanda atau bersifat permainan. Misalnya bermain dokter-dokteran, pesawat-pesawatan, atau pura-pura memberikan obat pada boneka kesayangannya.

Pada anak yang lebih besar dapat diajak bercerita mengenai manfaat yang akan dia dapatkan jika meminum obat, tentunya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.

Selain itu, orang tua pun harus ingat bahwa anak sedang sakit sehingga ia perlu mendapatkan empati lebih banyak. Sehingga, jangan lupa memberikan pujian jika anak berhasil melakukannya, namun jangan dikecilkan hatinya dengan dimarahi atau dikecam jika anak belum dapat sepenuhnya kooperatif. Pemberian obat dapat dicoba beberapa menit kemudian.

Tepat dosis dan tepat waktu

Saat dokter membuat resep, orang tua sebaiknya tahu persis obat apa yang akan diberikan pada anaknya. Jangan sungkan untuk berkomunikasi dan bertanya pada dokter tentang tujuan pemberian obat-obatan tersebut, dan bagaimana cara meminumnya, efek samping yang mungkin muncul, kapan waktu meminumnya, serta sediaan obat yang diresepkan. Selain itu, orang tua juga perlu tahu dengan jelas jenis obat yang harus dihabiskan walau sudah terlihat perbaikan kondisi kesehatan anak (misalnya obat antibiotik).

Kadang kala dokter meresepkan obat dalam bentuk puyer. Jika anak sulit meminum obat jenis ini sampaikan pada dokter untuk mencari alternatif sediaan obat lainnya. Jika disampaikan dengan alasan yang tepat tentunya dokter akan memahami kebutuhan pasiennya.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah dosis obat. Perhatikan jumlah takaran yang tepat. Dosis obat sudah dipertimbangkan dengan saksama, gunakanlah sendok takar khusus untuk obat jangan diganti dengan sendok ukuran rumah tangga, misalnya sendok teh atau sendok makan.

Kadang kala obat untuk anak sulit diberikan dengan sendok obat. Orang tua dapat mencoba memberikannya dengan pipet, sebaiknya pilih pipet dari bahan plastik agar tidak pecah saat tergigit anak.

Usahakan memberikan obat dalam jangka waktu yang tepat. Aturan meminum obat 3 x 1 tablet berarti dalam satu hari (24 jam) obat tersebut harus diminum tiga kali, setiap kali minum satu tablet. Itu pun berarti obat harus diminum setiap 8 jam sekali (24 jam dibagi 3 kali). Jika bingung, tanyakan dengan jelas aturan minum obat ini pada apoteker tempat Anda membeli obat.

Saat menerima obat di apotek pun sebaiknya orang tua meminta kopi resepnya, cek tanggal kedaluwarsa obat, pastikan obat yang tertera di resep sama dengan obat yang diberikan. Jika obatnya diganti tanyakan pada apotekernya apakah dokter Anda sudah mengetahui hal tersebut? Seharusnya dokter selalu dikonfirmasi untuk setiap perubahan obat dari resep yang ditulisnya.

Jika anak mutah tidak lama setelah meminum obat, ulangi pemberian obat dengan dosis yang sama. Namun, jika muntah setelah lebih dari setengah jam, tidak perlu diulangi. Ikuti saja pola pemberian obat pada waktu pemberian obat berikutnya.

Orang yang sakit yang minum obat

Saat meresepkan obat, dokter akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk siapa yang akan meminum obat tersebut. Tentunya obat untuk anak akan berbeda dosisnya dengan obat untuk dewasa. Umumnya, dosis untuk anak akan disesuaikan dengan berat badannya. Kekurangan dan kelebihan dosis akan berakibat pada efektivitas dan efek samping yang mungkin timbul.

Oleh karena itu, sebaiknya orang tua memberikan obat sesuai dengan dosis yang tertera dan diberikan pada anaknya. Sering kali ibu-ibu menyusui yang anaknya sakit memutuskan menelan obat untuk anaknya, dengan pemikiran bahwa obat tersebut akan dikeluarkan melalui air susu ibu. Sayangnya, perwujudan bentuk kasih ibu yang bersedia melakukan apa pun demi buah hatinya tersebut tidaklah tepat. Obat yang dikeluarkan melalui ASI kadarnya tidak akan cukup untuk mengatasi sakit anaknya. Akibatnya manfaat obat untuk anak tidak didapatkan, malah ibu menelan obat yang tidak perlu. Logikanya yang sakitlah yang meminum obat, yang tidak sakit yang memberikan obat.

Tidak ada satu pun orang tua yang senang jika anaknya sakit. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan akan lebih bermakna daripada pengobatan. Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?*** (dr. Ginna Megawati, pengelola media keluarga dan kesehatan ”Sehati Paper”.)

Powered by ScribeFire.

Menghindarkan Sakit Gigi pada Anak

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 3, 2007

pr-head.gif

Proses pertumbuhan dan perkembangan gigi merupakan hal yang harus diketahui oleh orang tua. Karena proses pertumbuhan dan perkembangan gigi sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan/kesehatan umum anak. Orang tua semestinya mengetahui cara merawat gigi anak dengan baik, selain memerhatikan kesehatan umum lainnya.

JANGAN anggap sepele pertumbuhan dan perkembangan gigi serta keadaan kesehatan umum anak. Orang tua sering tidak menyadari bahwa kondisi gigi geligi anak yang buruk (oral hygiene buruk) akan membuat anak kehilangan berbagai kegiatan. Oleh karena itu, setiap orang tua hendaknya mempunyai komitmen dan keinginan bahwa membebaskan anak dari sakit gigi akan memberikan awal kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, anak dapat bebas beraktivitas dengan baik.

Setiap orang tua, tentunya menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang sesuai harapan, serta mampu melewati masa kanak-kanaknya dengan lancar tanpa hambatan. Untuk itu, sejak dini setiap anak perlu diberikan motivasi bagaimana menyongsong masa depan yang penuh persaingan dan tantangan. Anak harus mampu bertahan, penuh kreativitas, tidak mudah menyerah dan mampu menghadapi berbagai masalah.

Sang Pencipta, menciptakan berbagai macam organ tubuh dengan fungsinya masing-masing, di antaranya gigi geligi yang merupakan organ penting dari sekian organ tubuh yang ada. Tanpa gigi, bagaimana orang tersebut akan tersenyum, tertawa, mengunyah, dll., sehingga jika terdapat gangguan pada giginya tentu dapat mengganggu proses sosialisasi antarsesama.

Proses pertumbuhan dan perkembangan gigi merupakan hal yang harus diketahui oleh orang tua. Karena proses pertumbuhan dan perkembangan sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan/kesehatan umum anak. Orang tua semestinya mengetahui cara merawat gigi anak dengan baik, selain memperhatikan kesehatan umum lainnya.

Dengan merawat gigi anak sejak dini diharapkan dapat menghindari proses kerusakan gigi lebih lanjut/parah, seperti berlubang, permukaan gigi banyak sekali sisa makanan, bengkak, dll.

Jika anak memiliki masalah dengan gigi, akibatnya akan mengganggu konsentrasi anak, bahkan sampai anak menjadi kurang pede (percaya diri) dalam bergaul. Akibat lainnya, anak pun akan sakit-sakitan.

Gigi geligi berfungsi di antaranya untuk mengunyah makanan, karena makanan yang akan masuk ke saluran pencernaan terlebih dulu harus halus, sehingga lambung pun tidak terlalu berat dalam prosesnya lebih lanjut. Proses ini pun akan terus berlangsung dari mulai anak-anak, dewasa, sampai lansia.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, otomatis diikuti dengan teknologi pengolahan makanan, seperti semakin beragamnya jenis makanan berat/ringan/cemilan, dari yang manis sampai makanan lengket dan mudah melekat pada permukaan gigi. Lama-kelamaan, makanan tersebut bereaksi di dalam mulut, menempel, serta mengeras pada permukaan gigi dan sulit dibersihkan dengan sikat gigi. Hal ini bila dibiarkan terus-menerus lambat laun akan merusak mahkota gigi itu sendiri dan napas pun menjadi tidak sedap/bau (halitosis), dan akan meninggalkan sisa akar gigi susu/sulung. Pada individu tertentu, sering kali dapat menimbulkan rasa sakit/demam/pembengkakan, apalagi bila kondisi gizi anak sampai buruk/daya tahan tubuh rendah hingga akhirnya kesehatan umum pun terganggu.

Guna menghindari hal-hal yang tidak diharapkan terhadap pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi anak dan kesehatannya, ikutilah tips-tips di bawah ini:

1. Pada usia anak 6 sampai 9 bulan akan tumbuh dua gigi seri bawah, diikuti oleh gigi seri rahang atas. Usia 7 hingga 10 bulan tumbuh lagi dua gigi seri depan kedua, baik rahang atas maupun rahang bawah. Pada saat ini, orang tua/ibu harus telaten membersihkan sisa makanan/susu yang menempel pada permukaan gigi, dengan penggunakan cotton bud ataupun dengan kain kasa yang dibalutkan ke jari telunjuk, kemudian bersihkanlah permukaan gigi yang kotor tadi sampai bersih. Periode pertumbuhan gigi berikutnya, yaitu usia 16 sampai dengan 20 bulan. Pada saat ini akan tumbuh gigi geraham depan dan gigi taring. Selanjutnya, usia 23 sampai 30 bulan, tumbuh lagi gigi geraham kedua. Gigi anak akan lengkap (20 gigi) saat usia 3 tahun. Seterusnya akan diganti dengan gigi tetap sesuai waktunya satu per satu secara berurutan, dari usia 17 sampai dengan 22 tahun atau lebih.

Pada periode gigi susu ini, berikan pengertian pada anak tentang pentingnya menggosok gigi. Caranya dengan memberitahu anak bagaimana cara menyikat dan memakai sikat gigi yang benar. Tentunya, dengan motivasi ini akan menumbuhkan sikap disiplin hingga dewasa/lansia.

2. Hindari/kurangi jenis makanan manis/lengket, walau terasa sulit, karena umumnya anak-anak gemar sekali mengonsumsi jenis makanan tersebut.

3. Biasakan menggosok gigi dua kali sehari, sehabis makan dan sebelum tidur. Menggosok gigi di pagi hari akan memberikan hasil yang baik bila dikerjakan setelah sarapan/makan pagi. Begitu pula menggosok gigi dimalam hari dikerjakan setelah makan malam atau menjelang tidur. Jangan sekali-kali membiarkan anak mengemut makanan/mengedot susu botol sambil tidur, karena gigi akan cepat rusak. Usahakan supaya tidak membiasakan hal di atas menjadi kebiasaan buruk, begitu pula mengisap-isap ibu jari saat tidur akan mengganggu pertumbuhan gigi dan rahang anak.

4. Ada tidaknya keluhan, kunjungilah dokter gigi setiap enam bulan sekali, sehingga kondisi gigi geligi dan perkembangannya dapat terpantau dengan baik. Bila anak takut pergi ke dokter gigi, orang tua sebaiknya tidak memaksakan kehendak guna mencegah anak semakin takut ke dokter gigi. Ajaklah anak untuk ikut melihat orang tuanya/ kakaknya/ saudaranya berobat gigi. Lalu berkenalan dengan dokter gigi dan melihat-lihat sekitar ruangan/tempat praktik dokter gigi. Lambat laun anak pun akan mau untuk diperiksa. Mungkin waktu pendekatan akan lebih banyak jika pasien anak yang sangat penakut akan sulit untuk diperiksa.

5. Segera lakukan tindakan bila ditemukan kelainan-kelainan yang masih dini, jangan menunda-nunda perawatan gigi. Hal ini guna menghindari lamanya kunjungan ke dokter gigi, mengurangi beban biaya berobat, dan mencegah/menghindari kondisi penyakit gigi ke arah yang lebih parah hingga dapat memengaruhi kesehatan umum.

6. Beritahukan ke dokter gigi bila anak memiliki sesuatu kelainan penyakit atau alergi terhadap obat/zat-zat tertentu. Hal ini untuk menghindari keadaan yang tidak diharapkan.

7. Mengonsumsi buah-buahan berserat setiap hari dapat membantu membersihkan gigi karena buah-buahan berserat bersifat self -cleaning. Meskipun begitu, menggosok gigi tetap dikerjakan.

Pepatah mengatakan, “Pencegahan akan lebih -baik daripada pengobatan”. (drg. H.R. Ginandjar A.M., RS Al Islam Bandung)

Powered by ScribeFire.

Mencegah Keguguran Berulang

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 3, 2007

pr-head.gif

Jadi, agar keguguran tidak berulang, begitu menunjukkan tanda-tanda kehamilan, mereka yang punya sejarah keguguran, segeralah melakukan terapi hormon di awal usia kehamilan.

TAK sulit membayangkan bagaimana beratnya beban ibu yang mengalami keguguran. Apalagi jika hal tersebut terjadi sampai berulang-ulang. Tak dapat dimungkiri, bagi ibu yang belum memiliki keturunan, torehan luka fisik dan nyeri batin bisa mengundang keputusasaan.

Sesungguhnya, keguguran berulang bukanlah hal berat bila penyebab utamanya sudah diketahui. Oleh karena itu, mereka yang “berbakat” keguguran dianjurkan mengetahui gejalanya secara dini, agar kegagalan kehamilan dapat dicegah.

Yang pertama-tama perlu dicermati adalah indikasinya. Jika melihat gejala bercak merah dibarengi rasa mulas, cepatlah hubungi dokter. Dengan penanganan dini, entah pemberian obat maupun istirahat total, kemungkinan keguguran bisa diperkecil. Tahap berikutnya adalah mencari penyebabnya, ini sudah termasuk wewenang dokter. Biarkan dokter mendapatkan keleluasaan untuk menyelidiki, karena kasus keguguran cukup kompleks, butuh pemeriksaan akurat, dan tak bisa disimpulkan terburu-buru.

Pada kasus ketidakseimbangan hormon yang mencetuskan keguguran, orang awam sering menyebutnya sebagai “lemah kandungan”. Istilah ini sebenarnya tidak tepat, karena kesalahan tidak terletak pada rahim, melainkan pada hormon. Pada awal kehamilan (1-3 bulan), peran hormon sangat penting. Melalui suatu tes dapat diketahui apakah seseorang mengalami ketidakseimbangan hormon atau tidak. Jika hasilnya positif, kasus keguguran biasanya memang tak bisa dihindari, karena janin tak dapat berkembang. Dalam hal ini, dokter akan memberikan terapi hormon.

Jadi, agar keguguran tidak berulang, begitu menunjukkan tanda-tanda kehamilan, mereka yang punya sejarah keguguran, segeralah melakukan terapi hormon di awal usia kehamilan.

Kualitas bibit

Kualitas sel telur atau sperma pun turut menentukan “nasib” janin. Jika kualitasnya buruk, kemungkinan janin tidak terbentuk normal, lalu gugur. Hal ini kerap terjadi pada wanita yang hamil di usia 35 tahun ke atas atau sang suami 45 tahun ke atas. Pada usia itu, kualitas sel telur dan sperma mulai menurun. Selain faktor usia, bibit jelek bisa juga dikarenakan salah satu pasangan menderita penyakit menahun.

Jika kehamilan tidak bisa dipertahankan, tindakan yang dilakukan dokter adalah kuret. Kalau itu keguguran pertama, eksekusi kuret harus benar-benar bersih. Jika tidak, atau terdapat jaringan yang tertinggal, akan menyulitkan kehamilan berikutnya. Pada kondisi demikian, otak seolah-olah terus menerima sinyal bahwa wanita itu masih mengandung. Akibatnya, sel telur malas tumbuh lagi.

Supaya bisa hamil kembali, kuret bisa dieksekusi ulang untuk membuang jaringan tertinggal. Jika keguguran hanya dibersihkan ala kadarnya, misalnya hanya dengan jari tangan, justru cenderung menimbulkan masalah. Selain tertinggalnya jaringan, juga mengakibatkan infeksi.

Gangguan pada kehamilan juga bisa gara-gara tumbuhnya kista atau tumor jinak pada rahim, yang mengganggu penempelan plasenta. Dikhawatirkan, plasenta tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup, sehingga janin hanya bisa bertahan hingga usia 2-3 bulan. Keguguran pada usia kandungan 2-3 bulan juga tidak bisa dihindari kalau terjadi kehamilan di luar kandungan, akibat janin menempel pada saluran tuba falopi.

Bila seorang wanita mengalami keguguran berulang-ulang, padahal sebelumnya pernah sukses melahirkan, bisa jadi karena terdapat banyak jaringan perut atau ikat pada tempat menempelnya plasenta. Ini terjadi lantaran saat melahirkan anak pertama, tempat itu kurang dibersihkan secara maksimal. Akibatnya, darah yang terkirim ke plasenta kurang. Janin pun loyo karena tidak atau kurang mendapatkan pasokan makanan.

Sebenarnya, plasenta pandai mencari tempat yang enak dan aman. Namun, adakalanya terjadi error, misalnya plasenta memilih posisi di bawah, sehingga ketika bayi akan lahir, ibunya mendapatkan kesulitan.

Akan muncul masalah yang berbeda apabila saat kehamilan pertama, mulut rahim sang ibu pecah. Sebab, pada kehamilan berikutnya mulut rahim jadi rentan, dan tak kuat lagi menahan beban janin yang semakin besar. Kasus semacam itu biasanya diatasi dengan cara “mendadani” mulut rahim dengan jahitan shirodkar, suatu jahitan yang mirip penutup kantong uang atau pundi-pundi. Agar aman, ibu hamil yang mengalami jahitan shirodkar tidak dianjurkan melakukan hubungan suami istri selama hamil. Jika aturan ini tidak dilanggar, jahitan tersebut akan tetap erat, hingga tiba saatnya melahirkan.

Virus

Kehamilan yang terganggu virus, entah itu herpes atau toksoplasma boleh dikatakan jarang. Keguguran justru lebih banyak akibat peradangan pada mulut rahim atau vagina karena ulah kuman.

Namun, tidak ada salahnya bila wanita hamil selalu waspada terhadap serangan apa pun. Salah satunya, anjuran agar tidak memelihara kucing selama mengandung. Pasalnya, kucing merupakan induk semang sejati dari parasit toksoplasma, penyebab toksoplasmosis.

Selain mencegah terkontaminasi kotoran kucing, ibu yang sedang berbadan dua juga disarankan menghindari makan lalapan mentah untuk sementara dan dianjurkan mengonsumsi daging yang dimasak sampai matang benar. Dikhawatirkan, daging setengah matang atau lalapan mentah sudah terkontaminasi virus tersebut. Kemungkinannya memang selalu terbuka.

Gejala yang ditunjukkan apabila terkena virus tokso biasanya hanya berupa pembesaran kelenjar getah bening, umumnya pada leher bagian belakang, dan sedikit demam. Bila tidak sampai terjadi gangguan pada sistem kekebalan tubuh, ibu hamil biasanya tidak merasakan gejala apa pun.

Virus rubella (campak Jerman) pun wajib diwaspadai. Rubella memang hanya membuat penderitanya demam ringan dan keluar bintik-bintik merah. Namun, jangan anggap enteng bila rubella sampai menyerang ibu hamil. Pasalnya, tanpa terasa, tahu-tahu si janin terinfeksi lewat plasenta. Bagi mereka yang tidak mengandung, rubella memang hanya penyakit ringan, tapi tidak demikian halnya bagi wanita hamil.

Jadi, bila ada keluarga yang terjangkit rubella atau herpes, sebaiknya ibu hamil dijauhkan sementara dari mereka. Jangan sampai ia tertular. Risiko terkontaminasi virus memang tidak ringan. Bisa-bisa ia mengalami keguguran, bayi lahir cacat, prematur, atau bahkan lahir meninggal.

Makanan beralkohol

Jika mau janin sehat, ibu hamil wajib menjauhi rokok. Merokok dapat mengganggu diameter pembuluh darah, sehingga mengurangi pasokan darah ke rahim. Demikian pula minuman atau makanan beralkohol seperti brem, tape, durian, minuman keras, dan lain-lainnya.

Tekanan darah yang mendadak naik pada usia kandungan sekitar lima bulan perlu mendapatkan perhatian lebih, karena dikhawatirkan sang ibu menderita pre-eklamsia. Waspadai juga konsumsi obat. Perlu diketahui, obat batuk yang mengandung antihistamin (pencegah alergi) dapat membahayakan keselamatan janin. Begitu juga obat-obatan penghilang rasa mual. Jadi, ketimbang menuai petaka, lebih baik keluhan yang ada dikonsultasikan saja pada dokter kandungan.

Lalu, bolehkah selama masa kehamilan melakukan hubungan seksual? Yang penting, tahu batas. Soalnya, orgasme bisa menimbulkan kontraksi kandungan dan bisa jadi salah satu pengganggu kehamilan. Selain itu, suami dianjurkan mengenakan kondom selama berhubungan intim. Kondom dapat menghindarkan janin dari kuman yang mungkin terbawa dalam sperma.

Jika ingin cepat hamil, yang perlu diketahui adalah masa subur, yang biasanya berlangsung pada hari ke 12-16 setelah haid. Hanya, kalau usia perkawinan sudah dua tahun namun belum muncul juga tanda-tanda kehamilan, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Percayalah, jika dokter sudah mengemukakan penyebabnya, tak kelewat sulit untuk mencari solusinya. (dr. Nita Yoenika)***

Powered by ScribeFire.

Toksoplasma Musuh Para Ibu Hamil

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 3, 2007

pr-head.gif

SEORANG wanita pada usia reproduktif yang menderita toksoplasmosis dapat mengalami kemandulan karena parasit tersebut menyerang sel-sel kelamin (gamet), termasuk juga sel-sel hasil pembuatan sehingga penderita tidak kunjung memiliki keturunan.

Kita sering mendengar istilah toksoplasma dan sebagian besar wanita telah mengenalnya sebagai penyakit yang menyebabkan kemandulan, cacat, bahkan kematian janin. Pengetahuan ini benar, namun pengetahuan tentang dampak toksoplasma terhadap kehamilan dan janin saja tidak cukup. Pengetahuan yang lengkap mengenai apa itu toksoplasma, gejala yang ditimbulkan, pencegahan, dan pengobatannya juga hendaknya menjadi dasar dan bekal bagi setiap wanita yang ingin menikah dan memiliki keturunan. Selain itu, pengetahuan mengenai toksoplasma juga sebaiknya diberikan sebagai bagian dari konseling pranikah bagi para pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Selanjutnya, kelak diharapkan ada screening toksoplasma terhadap semua pasangan yang ingin menikah, juga dilakukan pemeriksaan awal penyakit lain yang dapat membahayakan kehamilan dan janin.

Sebelum membahas lebih lanjut topik di atas, lebih dahulu kita harus mengenal apakah yang disebut dengan toksoplasma. Toksoplasma (Toksoplasma gondii) adalah nama protozoa yang bersifat parasit. Ia biasa ditemukan dalam hewan peliharaan, baik hewan pemakan tumbuhan, pemakan daging, atau pemakan segala sekalipun. Hewan peliharaan berupa mamalia dan burung dapat menjadi induk pembawa toksoplasma. Manusia sendiri dapat terinfeksi oleh toksoplasma dari hewan peliharaannya. Masuknya toksoplasma ke dalam tubuh dalam bentuk kista melalui:

- Makanan yang terkontaminasi kista toksoplasma.
- Tangan yang mengandung kista toksoplasma.
- Transfusi darah dari penderita toksoplasma.
- Transplantasi organ.

Saat seseorang terinfeksi oleh parasit ini, ia dikatakan menderita toksoplasma.

Pada manusia, toksoplasma tidak menimbulkan gejala yang mencolok sehingga ibu-ibu yang ingin memiliki anak tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi oleh parasit ini. Gejala-gejala yang berat akan dialami oleh penderita dengan gangguan pada sistem kekebalan tubuhnya seperti AIDS, penyakit keganasan (kanker). Gejala berat pun sangat mudah dialami oleh pengguna obat imunosupresan, janin pada usia enam bulan, dan lain-lain.

Organ tubuh yang terserang serta kekuatan parasit untuk menimbulkan penyakit (virulensi) juga dapat memengaruhi berat ringannya gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien. Bila parasit menyerang kelenjar getah bening, dapat ditemukan adanya pembesaran pada kelenjar getah bening tersebut. Pembesaran biasanya terdapat pada kelenjar getah bening di daerah leher. Bila dilihat dengan mata, dapat tidak tampak adanya pembesaran, namun pasien mungkin dapat merasakan adanya rasa tidak enak pada leher bagian samping kiri dan kanan, dan mungkin saja penderita sendiri dapat meraba adanya pembesaran. Kemungkinan yang lain adalah bila parasit menyerang paru-paru, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan yang disertai dengan batuk dan demam. Dalam kaitan ini, dokter dapat mendiagnosis pasien menderita pneumonia karena kesamaan gejalanya dengan pneumonia yang diakibatkan virus atau bakteri. Selain itu, parasit juga dapat menyerang otot jantung yang menimbulkan nyeri dada dan dapat pula menyerang otot-otot lainnya.

Bagaimanapun juga, toksoplasmosis lebih sering ditemukan secara tidak sengaja atau ditemukan melalui screening. Hal ini disebabkan karena toksoplasmosis sering tidak bergejala dan pada wanita hamil diagnosis baru ditegakkan setelah timbul abnormalitas pada kehamilan dan janin. Pemeriksaan darah merupakan cara untuk menegakkan diagnosis toksoplasmosis secara dini sebelum terjadi gangguan pada kehamilan dan janin.

Pada wanita hamil, parasit dapat masuk ke dalam janin melalui darah ibu, kemudian menembus plasenta dan masuk ke dalam tubuh janin (darah ibu dan janin tidak pernah bercampur karena adanya plasenta). Kelainan atau abnormalitas yang timbul, baik pada kehamilan maupun pada janin, tergantung dari usia kehamilan penderita tersebut.

Seorang wanita pada usia reproduktif yang menderita toksoplasmosis dapat mengalami kemandulan karena parasit tersebut menyerang sel-sel kelamin (gamet), termasuk juga sel-sel hasil pembuatan sehingga penderita tidak kunjung memiliki keturunan. Selain itu, toksoplasmosis pada ibu hamil dapat juga menyebabkan abortus, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, kematian janin dan kematian bayi baru lahir. Kalaupun bayi-bayi itu bertahan hidup akan timbul cacat bawaan seperti hidrosefalus, mikrosefalus (kepala kecil), kelainan otak, mata, dan organ keseimbangan. Kelainan-kelainan fisik pada janin dapat dilihat melalui pemeriksaan USG selama kehamilan secara berkala. Pada anak-anak yang telah menderita toksoplasmosis, dapat mengalami gangguan perkembangan mental (retardasi mental) serta serangan kejang-kejang.

Mencegah

Cara terbaik untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama kehamilan akibat infeksi oleh toksoplasma adalah dengan melakukan screening terhadap wanita yang ingin memiliki keturunan. Screening dilakukan dengan pemeriksaan darah yang dilakukan sebelum menikah.

Pemeriksaan terhadap toksoplasma biasanya sudah digabung dalam suatu pemeriksaan yang dinamakanTORCH. TORCH adalah suatu pemeriksaan kadar beberapa antibodi di dalam darah yang timbul akibat penyakit yang dapat memengaruhi kehamilan dan janin, yaitu toksoplasma, rubella, cytomegalovirus (CMV), dan herpes virus simplex II (HSV II).

Pada ibu hamil dan terinfeksi oleh toksoplasma akan diberikan obat oleh dokter. Obat itu bertujuan untuk menurunkan risiko infeksinya terhadap janin, selebihnya daya tahun tubuh ibu adalah yang berperan penting dalam mencegah terjadinya gangguan selama kehamilan. Selain itu, pemeriksaan USG secara berkala juga perlu diperhatikan.

Setelah bayi lahir, ibu yang terinfeksi dapat tetap memberikan ASI karena parasit toksoplasma tidak akan menular kepada bayi melalui ASI.

Karena risiko yang besar terhadap kehamilan dan janin, pencegahan terhadap toksoplasmosis adalah cara terbaik untuk menyelamatkan kehamilan dan janin. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara:

1. Hindari makan daging mentah.
2. Membakar atau memberikan antiseptik pada tinja hewan peliharaan.
3. Menjaga keberhasilan makanan terhadap kontaminasi lalat atau binatang.
4. Mencuci tangan sebelum mengolah makanan dan setelahnya.
5. Mencuci tangan sebelum makan.
6. Menggunakan sarung tangan saat sedang mengurus hewan peliharaan, baik mamalia maupun burung.
7. Memeriksakan kesehatan hewan peliharaan pada dokter hewan secara berkala.
8. Menjauhi hewan peliharaan selama kehamilan.
9. Melakukan pemeriksaan kehamilan secara berkala.

Dengan melakukan pemeriksaan TORCH sebelum menikah atau merencanakan kehamilan, tidak ada lagi alasan untuk menjadikan toksoplasma sebagai sesuatu yang menakutkan dalam kehamilan. (dr. Ivander Utama/ dokter yang baru menyelesaikan Program Profesi Dokter di Universitas Kristen Maranatha)***

Powered by ScribeFire.

Mempersiapkan Kelahiran Bayi

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on September 25, 2007

pr-head.gif

Menyambut kelahiran calon jabang bayi sungguh memerlukan persiapan yang sangat ekstra. Persiapan tersebut meliputi persiapan fisik, mental, dan aspek keuangan.

Sebenarnya mempersiapkan kelahiran bayi sebaiknya dilakukan sejak awal, bahkan sejak mulai berumah tangga. Berikut adalah daftar pengeluaran yang bersifat wajib atau sebaiknya dilakukan, yakni :

- Konsultasi rutin tiap bulan ke dokter kandungan.
- Vitamin dan susu khusus ibu hamil.
- Baju, celana, dan popok bayi.
- Kosmetik dan perlengkapan mandi bayi.
- Boks bayi dan perlengkapan tidur.
- Biaya melahirkan dan rawat inap.
- Biaya konsultasi ke dokter anak, imunisasi.
- Biaya tak terduga lainnya seperti kalau bayi sakit.

Banyak bukan komponen biayanya? Itu belum semua biaya, ada baiknya mencoba menyusun perkiraan biaya yang mungkin timbul.

Lakukanlah perhitungan secara teliti dan detail seluruh kebutuhan biaya yang mungkin timbul. Kemudian mulai sisihkan dana tersebut sedikit demi sedikit, bahkan setiap saat kita memiliki uang lebih, simpanlah dalam tabungan di bank.

Bagi yang kebetulan menjadi karyawan atau karyawati, periksalah apa yang menjadi hak kita selaku pegawai apabila istri melahirkan. Berapa besar biaya yang dapat ditanggung oleh perusahaan. Pilihlah salah satu fasilitas kesehatan atau melahirkan dari perusahaan yang memberikan pelayanan paling tinggi. Kita juga bisa meminta informasi lebih detail kepada bagian SDM mengenai perkiraan tanggal cuti, gaji semasa cuti, biaya konsultasi ke dokter kandungan, dan biaya melahirkan.

Kemudian dari daftar kebutuhan perlengkapan bayi, sesungguhnya kita bisa berhemat asalkan kita mau menggunakan seluruh perlengkapan dan keperluan bayi yang sudah pernah dipakai. Tentunya hal ini bisa dilakukan jika kita memiliki saudara atau teman dekat yang rela menghibahkan perlengkapan dan kebutuhan bayi tersebut. Pada umumnya, bila masih terhitung saudara dekat seperti kakak, adik, atau sepupu, sepanjang mereka tidak sedang memerlukan, dengan senang hati mereka akan meminjami atau bahkan memberikannya.

Sebagai langkah antisipasi darurat mengenai kebutuhan dana yang mungkin harus kita sediakan nantinya, bisa kita siapkan melalui :

- Memeriksa kartu kredit dan tagihannya. Memeriksa kembali penggunaan kartu kredit dan tagihan-tagihan yang belum terbayar merupakan langkah bijak. Bagaimanapun, kelahiran anak memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalau harus dilakukan operasi sesar. Jika masih lama masa kelahiran calon bayi, ada baiknya kita membayar tagihan-tagihan semaksimal mungkin. Kemudian minimalkan penggunaan kartu kredit sementara waktu, karena bunganya tergolong tinggi. Jika saatnya tiba, kita akan memiliki cadangan penggunaan uang melalui kartu kredit.

Jika Anda masih merasa khawatir akan kekurangan dana dalam menyambut kelahiran anak, pertimbangkan dengan baik tawaran kredit tanpa agunan dari salah satu bank terpercaya untuk mendapatkan dana tambahan. Pilihlah bank yang dapat membantu dan memberi kemudahan dengan bunga pinjaman yang tidak terlalu tinggi.

Bagaimana jika semua upaya secara dini keuangan diperkirakan kita tidak akan mencukupinya? Bagaimanapun kelahiran tersebut pasti akan terjadi jika Tuhan tidak menentukan lain. Oleh karena itu, carilah upaya semaksimal mungkin dan lakukan secara terus-menerus penyesuaian terhadap pengeluaran saat ini maupun nanti. Sebagai contoh, jika kita tidak mampu membayar tenaga dokter, memakai jasa bidan juga merupakan alternatif yang baik. Langkah antisipasinya adalah mulai sekarang carilah bidan bayi yang dikenal memiliki reputasi yang baik. Persiapan mental terakhir yang dapat dilakukan adalah jangan terlalu khawatir dan percayalah bahwa pada akhirnya sesulit apa pun masalahnya, selalu akan ada pintu keluar yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Hal ini dapat kita capai jika kita menyerahkan semua urusan kepada Sang Maha Pencipta. Bukankah pada hakikatnya Dia yang menciptakan segala sesuatu?

Langkah terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan persiapan segala sesuatunya sedini dan sebaik mungkin. Diharapkan ketika tiba hari “H”, kita tidak terlalu pusing dan repot dengan dana yang harus dikeluarkan. Selamat berhitung dan persiapkan dana untuk calon bayi yang lucu dan menyenangkan!***

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.