Pustaka Digital Ibu dan Anak


Imunisasi MMR

Posted in Imunisasi by nugraad001 on February 5, 2007

Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.

Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian.
Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan.
Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.

Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli).
Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR.

Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman.
Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.

Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).

Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD.
Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut pada masa kanak-kanak.

Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak, campak Jerman dan gondongan.
Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.

Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin:

  • Komponen campak
    1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR.
    Demam 39,5° Celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama 1-2 hari.
    Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.
  • Komponen gondongan
    Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.
  • Komponen campak Jerman
    Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang mendapat suntikan MMR.
    Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul).
    Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini.
    Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada orang dewasa.
    Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi.

    Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius.

    Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih.
    Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada:
    – anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin
    – anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin
    – anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan.
    – wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.

  • Imunisasi TT

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on February 5, 2007

    Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.

    Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan.
    Vaksin ini disuntikkan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 mL.

    Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.

    PERTANYAAN FAVORIT TENTANG IMUNISASI DPT & BCG

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 25, 2007

    Tahun pertama kehidupan seorang bayi akan dipenuhi dengan kegiatan imunisasi. Tak heran jika muncul banyak pertanyaan seputar masalah ini. Berikut pertanyaan favorit para ibu baru yang dijawab oleh dr. Alan R. Tumbelaka, Sp.A(K) dari FKUI-RSUPNCM Jakarta.

    SELUK BELUK IMUNISASI DPT

    * Apakah jadwal imunisasi bayi prematur sama dengan anak lahir cukup bulan?
    Seharusnya sama. Namun imunisasi baru bisa dimulai pada saat kondisi bayi prematur dianggap memadai untuk memberikan respons yang baik terhadap imunisasi.

    * Bagaimana kondisi bayi prematur yang dianggap siap untuk diimunisasi?
    Bukan tergantung pada usia saja, sebab berat badan (BB) juga menentukan. Bayi yang lahir normal cukup bulan bisa langsung divaksinasi, sementara bayi prematur harus menunggu waktu. Dengan imunisasi diharapkan tubuh bayi dapat terangsang untuk membuat suatu zat anti, akan tetapi bayi prematur seringkali belum mampu melakukannya. Untuk itu, diadakan penundaan imunisasi pertama sekitar 1-2 bulan, di mana usianya dianggap sudah hampir sama dengan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, BB-nya sudah bagus, sekitar 3 kg. Tentunya, siap-tidaknya bayi prematur tersebut diimunisasi, tergantung pada pemeriksaan dokter sebelumnya.

    * Biasanya imunisasi DPT menyebabkan demam. Mengapa bayi saya tidak?
    Reaksi pada anak bisa bermacam-macam. Demam-tidaknya, ditentukan banyak faktor. Antara lain kondisi anak saat diimunisasi dan kondisi vaksin. Demam atau panas disebabkan suntikan P (Pertusis) yang merupakan kuman yang dilemahkan. Jika tubuh tak bereaksi terhadap kuman, berarti daya tahan tubuh kurang memadai. Jadi, dengan suntikan DPT memang diharapkan timbul reaksi panas/demam.

    Kalau vaksinnya jelek, juga ada kemungkinan tak muncul reaksi panas. Dokter apalagi awam tentunya tak akan tahu apakah vaksinnya bagus atau tidak. Untuk menjamin vaksin yang berkualitas baik, dokter harus mendapatkannya dari jalur resmi dan juga prosedur penyimpanannya harus sesuai dengan ketentuan.

    * Kalau anak tak demam, berarti imunisasi gagal?
    Dalam usia setahun, imunisasi DPT dilakukan 3 kali, yaitu DPT I, II, dan III sebagai imunisasi dasar. Berhasil-tidaknya imunisasi itu tidak bisa dilihat dari sekali suntik saja, melainkan setelah 3 kali.

    Lagi pula, tak ada vaksin yang bisa 100 persen melindungi atau menimbulkan kekebalan. DPT misalnya, punya daya lindung sekitar 80-90 persen. Jadi masih ada 10-20 persen yang tak terlindung. Di sisi lain, bukan berarti jika imunisasi DPT I tidak menimbulkan demam lalu harus segera diulang lagi. Pengulangan baru bisa dilakukan sekurang-kurangnya 1 tahun sejak pemberian terakhir DPT dasar. Jadi, tetap harus melewati tahap DPT II dan III dulu. Baru kemudian di usia antara 18 bulan sampai 2 tahun, diberi DPT IV. Lalu DPT V di usia 5 tahun.

    Pengulangan imunisasi DPT diperlukan untuk memperbaiki daya tahan tubuh yang mungkin menurun setelah sekian lama. Karena itu mestii diperkuat lagi dengan pengulangan pemberian vaksin (booster).

    Kalau sudah dilakukan 5 kali suntikan DPT, maka biasanya dianggap sudah cukup. Namun di usia 12 tahun, seorang anak biasanya mendapat lagi suntikan DT atau TT (tanpa P/Pertusis) di sekolahnya. Di atas usia 5 tahun, penyakit pertusis jarang sekali terjadi dan dianggap bukan masalah. Jadi, suntikan P tak perlu diberikan lagi.

    * Adakah pengaruh buruk bila tak diberi vaksin DPT ulangan?
    Tentu. Pada saat daya tahan tubuh menurun, kemungkinan terkena penyakit DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) lebih besar.

    * Berapa lama anak demam akibat imunisasi? Berapa kisaran suhu panasnya dan bagaimana mengatasinya?
    Biasanya 1-2 hari. Malah kadang cuma sehari. Panas tubuh pada setiap anak tidak sama karena daya tahan masing-masing tubuhnya berbeda. Jadi, reaksinya berlainan dan sangat individual. Apalagi setelah suntikan pertama, ada yang sekadar hangat, ada juga yang panas tinggi. Kisarannya di atas suhu normal 37,5 derajat Celcius sampai 40 derajat Celcius. Mengatasinya dengan obat penurun panas yang takarannya sesuai usia dan BB anak.

    * Bolehkah bayi tidak diberi imunisasi DPT? Apa pengaruhnya bagi anak?
    Imunisasi DPT, Polio, Hepatitis, Campak dan BCG diwajibkan pemerintah lewat Program Pengembangan Imunisasi. Tujuannya untuk melindungi anak balita dari penyakit tersebut. Meski wajib, bayi diimunisasi atau tidak, tergantung pada orang tuanya. Seperti halnya asuransi, kalau mau ikut silakan, berarti ada perlindungan, kalau tidak, ya, tak ada jaminan perlindungan.

    * Apakah anak harus diimunisasi dengan urutan yang benar? Apa alasannya?
    Jelas harus. Karena itu dibuat urutan I hingga III. Ini berdasarkan angka seringnya kejadian penyakit tersebut di usia yang tertentu pula. Misalnya, vaksin DPT harus diberikan di usia 2, 3, dan 4 bulan, karena di usia itu penyakit sudah bisa berjangkit.

    * Bagaimana kalau tidak sesuai jadwal?
    Yang sesuai jadwal saja, tak bisa 100 persen melindungi anak. Misalnya, 3 kali suntikan imunisasi DPT, hanya bisa memberi perlindungan 90 persen. Jadi, kalau hanya sekali saja dilakukan dan yang selebihnya tertunda, efek perlindungannya pun semakin kecil. Mungkin hanya 30 persen saja. Alhasil, kemungkinan terkena penyakitnya jadi cukup besar.Jadi, imunisasi tetap harus diberi sesuai jadwal. Tak ada istilah hangus.

    * Ibu yang pernah mengalami kejang di masa kecilnya, benarkah bayinya hanya diimunisasi DT saja tanpa P (Pertusis) Mengapa?
    Sebetulnya, bila dulu ibu pernah kejang demam, anaknya belum tentu mengalami hal sama. Dengan kata lain, walau kemungkinan itu selalu ada, selama si anak terbukti tak pernah kejang, suntikan DPT tetap bisa diberikan. Kalau tidak, ia tak kebal pertusis.

    Lain hal jika anak pernah mengalami kejang karena demam. Ia hanya akan diberi suntikan DT atau DPT yang vaksin Pertusisnya tidak menimbulkan demam. Namanya P Acelular. Bayi yang pernah kejang akan kembali kejang jika diberi vaksin DPT yang vaksin P-nya utuh atau bisa menimbulkan panas. Risikonya tentu saja tidak kecil. Kejang yang berlangsung lama bisa merusak otaknya.

    SELUK-BELUK IMUNISASI BCG

    * Apa ciri keberhasilan imunisasi BCG?
    Suntikan BCG yang benar adalah yang ditanam di kulit, tidak dalam, dan tidak masuk ke otot seperti halnya suntikan DPT. Setelah disuntik, permukaan kulit yang menjadi lokasi suntikan akan melendung/membengkak karena suntikannya menyusur kulit itu.

    Dua bulan kemudian, di bekas suntikan tersebut terjadi luka kecil yang melendung dan kadang bernanah. Itu pertanda bahwa vaksin BCG-nya “jadi” dan luka itu nantinya akan mengering menjadi bentol kecil. Jadi, ciri imunisasi BCG yang berhasil ada dua, yaitu kulit yang melendung jika penyuntikan dilakukan dengan benar dan terjadinya luka kecil dua bulan kemudian jika vaksinnya mencapai sasaran.

    Sesuai konsensus nasional, agar mudah dilihat apakah seorang anak pernah atau belum diimunisasi BCG, maka suntikan ini umumnya dilakukan di lengan atas sebelah kanan.

    * Apa artinya bila suntikan BCG tidak berbekas?
    Mungkin kualitas vaksinnya tak bagus atau tubuh anak tak bereaksi. Pada anak yang mengalami kurang gizi, suntikan BCG ini tak akan “jadi” karena daya tahan tubuhnya kurang bagus. Anak yang kurang gizi biasanya tak akan memberi reaksi terhadap vaksinasi apa pun. Agar berhasil, vaksinasi hanya bisa diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh baik. Kalau gizi atau daya tahan tubuhnya jelek, maka tubuhnya tak mampu membuat zat-zat tertentu yang dibutuhkan untuk membuat zat anti.

    * Haruskah vaksinasi diulang dan kapan sebaiknya dilakukan?
    Pengulangan memang perlu tapi tak perlu dilakukan saat itu juga. Idealnya, harus dilakukan tes Mantoux dulu setelah 2 bulan. Tes ini akan menunjukkan apakah tubuh sudah membentuk zat antinya atau belum. Kalau hasilnya positif dan besarnya sudah mencapai 10 ml atau 1 cm, berarti sudah ada zat antinya. Namun jika lebih dari 15 ml, berarti yang terbentuk adalah penyakit TBC-nya. Bila hasilnya negatif, berarti tubuh tak membuat zat anti sama sekali. Berarti vaksinasi yang diberikan gagal dan harus diulang. Kapan waktunya, akan diatur oleh dokter.

    * Apa akibatnya bila bayi mendapat imunisasi BCG pada usia 3 bulan lebih?
    Penyakit tuberkulosis sebetulnya mempunyai masa inkubasi sekitar 2 bulan atau 6-8 minggu. Jadi kalau imunisasi baru diberikan setelah umurnya lewat 2 bulan, jangan-jangan dia sudah terkena kuman tuberkulosis itu. Entah ditularkan orang tua atau lingkungannya. Maka itu, suntikan BCG akan lebih baik jika diberikan lebih awal sebelum usia bayi 2 bulan.

    * Bayi yang akan diimunisasi BCG pada usia lebih dari 3-4 bulan, apakah harus dites Mantoux dulu untuk memastikan ia belum terkena TBC?
    Idealnya begitu. Namun tes Mantoux relatif mahal. Akibatnya, kadang-kadang di puskesmas, suntikan BCG akan langsung diberikan walaupun usia bayi sudah lewat dari 3 bulan. Kalau misalnya dilakukan tes mantoux dan hasilnya positif TBC, maka suntikan BCG tak perlu diberikan. Tinggal penyakitnya itu saja yang diobati. Setelah sembuh dari TBC, tubuh yang bersangkutan akan membuat zat anti dan kemungkinan besar tidak akan terkena lagi.

    * Katanya ada bayi yang kena TBC kulit akibat imunisasi BCG. Ada juga yang di dada kanannya tumbuh jaringan lain. Mengapa bisa demikian?
    Kalau cara menyuntiknya salah, hal itu bisa terjadi. Suntikan yang terlalu dalam bisa menimbulkan reaksi berupa TBC kulit. Kadang, vaksin/kuman masuk ke kelenjar di dada sehingga terjadi pembesaran. Untuk mengatasinya, kadang harus dilakukan pengangkatan kelenjar dengan tindakan operasi.

    * Apakah suntikan BCG selalu disertai dengan benjolan di ketiak?
    Tidak selalu. Benjolan di ketiak bisa terjadi kalau vaksin BCG masuk ke kelenjar melalui cara penyuntikan yang salah. Kalau menyuntiknya benar belum tentu benjolan terjadi. Itulah bahayanya kalau salah menyuntik. Anak malah terinfeksi TBC karena vaksin BCG sebetulnya merupakan kuman yang dilemahkan.

    Apakah bayi yang sudah mendapat imunisasi BCG masih mungkin tertular TBC? Mengapa?
    Ya, karena tak ada satu pun vaksinasi yang dapat menjamin perlindungan seutuhnya. Namun, kalau anak terkena penyakit, hal itu sebetulnya sama dengan mendapat vaksinasi. Hanya saja, vaksinasi adalah kuman yang diberikan secara sengaja agar muncul zat anti dari tubuh. Sementara sakit disebabkan oleh kuman yang didapat dengan sendirinya.  

    Dedeh Kurniasih. Ilustrator: Pugoeh

    ANEKA FAKTA MENGENAI IMUNISASI

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 25, 2007

    Setelah si kecil diimunisasi, sudah pastikah ia aman dari penyakit? Pada kondisi apa imunisasi harus ditunda?

    “Buat apa, sih, vaksinasi MMR, Tifoid, dan sebagainya? Zaman dulu juga enggak ada vaksinasi macam-macam dan terbukti sehat-sehat saja!” Pendapat seperti ini, tentu saja tidak benar. Memang, mungkin anak yang tidak diimunisasi tak kena penyakit. “Tapi kemungkinan besar lebih karena si anak tak terpapar kuman penyakit itu,” jelas dr. Hartono Gunardi, Sp.A, dari Sub-Bagian Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, Jakarta.

    Sementara anak-anak lain, bila tak diimunisasi bisa jadi sakit. Kalau memang penyakit tersebut ada vaksinnya danbisa dicegah, kenapa tak kita cegah? Imunisasi HiB, misal, untuk mencegah infeksi kuman Haemophilus Influenzae tipe B. Kalau tak diberikan dan si anak kecil terkena infeksi kuman HiB hingga terjadi meningitis (radang selaput otak), bisa fatal akibatnya.

    Jadi, kalau memang penyakit tersebut sudah ditemukan vaksinnya, ya, lebih baik divaksinasi, kan? Memang, imunisasi tak 100 persen menjamin anak terbebas dari penyakit. Tapi minimal, kalau sampai kena pun, tak bakal separah seperti mereka yang tidak diimunisasi. Lagi pula, sekarang ini ilmu kedokteran sudah semakin maju. Tak ada salahnya dimanfaatkan untuk keluarga tercinta, bukan?

    TINGKAT KEKEBALAN

    Yang jelas, imunisasi, seperti kita ketahui, akan menimbulkan kekebalan. “Ia bisa mencegah penyakit sampai 96 persen ke atas.” Dengan kata lain, tak ada imunisasi yang bisa menjamin 100 persen kebal. Bahkan, aku Hartono, tingkat 96 persen ke atas saja, sudah bagus sekali.

    Walaupun kecil kemungkinannya, kegagalan imunisasi tetap bisa terjadi. Misal, karena penyimpanan vaksin yang tak baik. Suhu tempat penyimpanannya tak sesuai dengan yang seharusnya. Faktor lain, potensi vaksin sudah berkurang, tanggal kadaluarsa terlampaui, dan respon tubuh yang kurang membentuk zat anti. Memang sebagian besar penyebab tadi dapat dicegah bila semua prosedur dijalankan petugas kesehatan dengan baik.

    Jadi, apa yang harus kita lakukan? Jika jadwal imunisasinya tak teratur, kadar zat kekebalan yang ditimbulkan jadi lebih sedikit dan tak optimal. “Nah, inilah pentingnya orang tua mengikuti jadwal imunisasi agar tak terjadi kegagalan dan supaya responnya optimal,” pesan Hartono.

    Yang harus dipahami, ada 3 faktor yang berperan dalam masalah sakit-tidaknya anak, yaitu daya tahan tubuh anak, lingkungan, dan kuman. Kalau anak kuat, daya tahannya bagus, status gizi baik, lalu terinfeksi kuman yang jumlahnya sedikit dan tak begitu ganas, “Kemungkinan dia tak akan jatuh sakit. Nah, kalau anak sudah diimunisasi, kekebalan sebenarnya sudah ada dan daya tahan tubuh jadi lebih baik. Meski sakit pun, akan lebih ringan dibanding jika tak pernah diimunisasi.”

    BERLEBIH TAK MASALAH

    Hal lain yang perlu diperhatikan, orang tua kerap lupa imunisasi ulang. Padahal, ada beberapa imunisasi yang perlu diulang agar responnya sesuai harapan. Salah satunya, imunisasi DPT, yang perlu diulang antara usia 18 bulan-2 tahun, kemudian diulang lagi saat usia masuk 1 SD atau umur 5 tahun, dan terakhir di usia 10-12 tahun (hanya DT saja). Demikian pula imunisasi polio dan campak yang juga perlu diulang. Jika imunisasi ulangan tak diberikan, daya tahan tubuh jadi tak terlalu baik. Alhasil, imunisasi jadi kurang berhasil.

    Orang tua juga kerap khawatir anak kelebihan imunisasi, saat ia memperolehnya di sekolah lewat program BIAS. “Tak perlu khawatir karena tak akan memberi efek samping. Yang terjadi justru daya tahan anak akan terpacu lagi dan meningkat.” Kalau toh ada efek sampingnya, jelas Hartono, “Hanya efek vaksinnya. Misal, bercak kemerahan atau demam ringan.” Ia juga menjelaskan, saat dokter ragu akan riwayat imunisasi anak, “Biasanya dokter akan memberi vaksinasi.” Jadi, tak perlu khawatir, Bu-Pak!

      Kapan Harus Ditunda

    Dalam keadaan khusus, dokter kerap menyarankan menunda imunisasi. Misal, saat anak panas tinggi. Tujuannya, agar imunisasi memberi respon optimal dan mencegah komplikasi yang tak diinginkan. “Tapi kalau sakitnya hanya pilek-pilek sedikit, bukan halangan untuk imunisasi,” bilang Hartono.

    Contoh lain, sakit asma yang mendapat pengobatan yang bisa menurunkan kekebalan tubuh. Pada kasus seperti ini, pemberian imunisasi dengan vaksin hidup sebaiknya ditunda. Tapi jika penyakit asmanya hanya diobati dengan obat pelonggar saluran napas, “Tak ada halangan untuk imunisasi.” Jadi, penting untuk memberi tahu dokter mengenai kondisi anak sebelum melakukan imunisasi, ya, Bu-Pak!

    KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

    Ada pendapat, sehabis disuntik imunisasi, akan timbul reaksi yang menandakan keberhasilan imunisasi tersebut. Misal, habis disuntik vaksinasi DPT (difteri-pertusis-tetanus), anak jadi demam. Menurut Hartono, “Ini sebenarnya efek samping vaksin. Istilahnya KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Setiap vaksin ada KIPI-nya. Ada yang ringan dan berat.”

    Pada imunisasi DPT, misal, bisa terjadi bengkak dan kemerahan di bekas suntikan atau badan jadi panas. Memang, biasanya muncul panas setelah 24 jam pertama. “Tapi tak selalu 100 persen memunculkan reaksi. Jadi, tak selalu timbul.” Contoh lain, imunisasi campak yang juga bisa menimbulkan KIPI. Reaksinya, demam ringan pada hari ke-6 atau 7, selama 1-2 hari, demam tak tinggi, juga efek kemerahan selama sekitar 3 hari (dimulai pada hari ke-7). Efek samping kemerahan akan hilang sejalan dengan waktu. Kemerahannya memang seperti campak tapi jauh lebih ringan. “Untuk mengatasinya, bisa dengan minum yang banyak, pakai baju tipis, dan minum obat penurun panas,” terang Hartono. Yang jelas, tegas Hartono, “KIPI tak selalu terjadi dan juga bukan patokan berhasil-tidaknya imunisasi.”

    Boleh Beda Merek

    Menggunakan vaksin dengan merek berbeda, kata Hartono, tak masalah, sepanjang jenisnya sama. “Misal, untuk imunisasi hepatitis B, yang pertama memakai tipe recombinant vaccine, yang selanjutnya gunakan tipe sama. Jangan yang tipe plasma derived vaccine, misal.” Tipe yang digunakan ini biasanya ditulis di buku catatan pasien.

    Begitu juga soal tempat, sama saja. Baik di puskesmas, tempat praktek dokter, dan lainnya. Bedanya, di puskesmas harganya lebih murah karena memperoleh subsidi dari pemerintah. Jadi, tak benar kalau dibilang mutunya jelek karena harganya jauh lebih murah. “Memang ada beberapa vaksin yang tak ada di puskesmas. Tapi untuk vaksin yang sama, mutunya sama saja,” terang Hartono.

    Vaksin yang ada di puskesmas adalah vaksin untuk imunisasi yang diwajibkan pemerintah, yaitu BCG, Hepatitis B, Campak, DPT, dan Polio. Sedangkan untuk imunisasi lainnya, seperti MMR, HiB, Hepatitis A, Tifoid, dan lainnya, belum ada subsidi dari pemerintah hingga tak tersedia di puskesmas dan biayanya pun jadi lebih mahal.

    Tanda Keberhasilan

    Tanda khusus keberhasilan imunisasi, menurut Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A(K), hanya bisa dilihat pada imunisasi BCG dan Hepatitis B. “Pada vaksinasi BCG, keberhasilan suntikan imunisasi memang bisa dilihat dari adanya jaringan parut di bekas suntikan. Tapi pada imunisasi-imunisasi lainnya, tak didapatkan tanda-tanda klinis yang bisa dijadikan patokan.” Sedangkan Hepatitis B dilihat dengan cara pemeriksaan darah.

    Untuk menjaga keberhasilan imunisasi, Sri juga mengingatkan para orang tua akan pentingnya mematuhi jadwal imunisasi yang sudah ditetapkan. Jika jadwalnya berantakan, tentu hasilnya tak begitu optimal, kan?

    Martin

    Informasi Perihal Imunisasi

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 10, 2007


    Apakah Imunisasi itu ?

    Imunisasi ialah tindakan untuk memberikan perlindungan (kekebalan) di dalam tubuh bayi dan anak.

    Apakah tujuan dan gunanya ?
    Untuk melindungi dan mencegah terhadap penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak.

    Penyakit-penyakit apa saja yang dapat dicegah dengan imunisasi ?
    Yang terpenting dan diwajibkan ialah terhadap 6 macam penyakit:

    1. Tuberkolosis (TBC)
    2. Difteri
    3. Pertusis (Batuk rejan/batuk 100 hari)
    4. Tetanus
    5. Poliomielitis
    6. Campak

    Apakah hanya 6 penyakit tersebut yang perlu dicegah ?
    Sebenarnya ada beberapa penyakit menular lain yang dapat dicegah dengan imunisasi, misalnya:

    1. Penyakit radang hati (Hepatitis)
    2. Penyakit gondongan (Mumps)
    3. Penyakit campak jerman (Rubella)
    4. Penyakit tifes?paratifes
    5. Penyakit kolera

    Untuk no : 7, 8 dan 9 biayanya masih mahal. Bagi yang mampu diajurkan untuk diberikan.
    Untuk no : 10 dan 11 vaksin yang tersedia belum memuaskan

    Siapa saja yang perlu mendapat Imunisasi ?

    1. Semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir memerlukan Imunisasi untuk melindungi tubuhnya dari penyakit-penyakit yang berbahaya.
    2. Semua orang yang kontak (berhubungan) dengan penderita penyakit menular seperti tersebut di muka.

    Sedini mungkin atau secepatnya, lihat jadwal imunisasi dibawah.

    Apakah imunisasi masih dapat diberikan apabila sudah terlambat ?
    Dapat, pepatah mengatakan lebih baik terlambat dari pada tidak diberikan sama sekali.

    Apakah imunisasi harus diberikan sewaktu bayi dan anak dalam keadaan sehat ?
    Sebaiknya demikian, tetapi penyakit-penyakit ringan, batuk, pilek, sedikit mencret dan gizi yang agak kurang tidak merupakan halangan untuk diberikan imunisasi.

    Apakah imunisasi harus diulang, tidak cukup sewaktu bayi saya ?
    Sebaiknya imunisasi diulang untuk membuat anak lebih kebal, sesuai dengan jadwal di halaman belakang.

    Dimana imunisasi dapat diperoleh ?

    • Rumah Sakit
    • Puskesmas
    • BKIA / Rumah Bersalin
    • Pos Yandu
    • Praktek dokter swasta
    • (terutama dokter specialis anak)

    Apakah penyakit TBC itu ?
    TBC biasanya oleh orang awam disebut penyakit paru-paru. Penyakit ini sangat menular. Penularannya melalui : pernafasan, percikan ludah waktu batuk, bersin atau bercakap-cakap dan melalui udara yang mengandung kuman TBC (karena meludah di sembarang tempat).

    Apakah bahayanya ?

    • Kerusakan paru
    • Kerusakan tulang
    • Cacat mental dan kaku karena kerusakan otak.

    Bagaimana cara pencegahannya ?
    Dengan imunisasi BCG, caranya dengan suntikan di daerah lengan bagian atas (Intrakutan)

    Kapan pemberiannya ?
    Sedini mungkin atau secepatnya, lihat jadwal imunisasi di halaman belakang.

    Bagaimana tahu bahwa bayi dan anak menderita TBC atau bukan ?
    Dapat diketahui dengan Tes tuberkulin (Tes mantoux atau PPD). Tes ini biasanya di kerjakan pada bayi dan anak yang dicurigai menderita TBC atau akan di BCG tetapi umumnya terlambat pemberiannya tidak sesuai dengan jadwal.

    Kapan BCG diperlukan diulang?
    Pada waktu anak umur:

    • 5 tahun atau masuk SD
    • 10 tahun atau tamat SD dan
    • bila tes tuberkulin negatif (tidak ada kekebalan terhadap TBC)

    Apakah arti singkatan DPT ?
    DPT = (Difteri – Pertusis – Tetanus)
    Difteri adalah radang tenggorokan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian anak hanya dalam beberapa hari saja.
    Pertusis adalah penyakit radang pernafasan (paru) yang disebut juga batuk rajan atau batuk 100 hari, karena lama sakitnya dapat mencapai 3 bulan lebih atau 100 hari.
    Gejala penyakit ini sangat khas, batuk yang bertahap, panjang dan lama disertai bunyi whoop dan diakhiri dengan muntah. Mata dapat bengkak dan berdarah atau penderita dapat meninggal karena kesulitan bernafas.
    Tetanus adalah penyakit kejang otot seluruh tubuh dengan mulut terkancing tidak bisa dibuka.

    Dapatkah imunisasi DPT diberikan sekaligus dan apakah tidak berbahaya ?
    DPT dapat diberikan, bahkan dapat pula diberikan bersama dengan imunisasi poliomielitis (penyakit lumpuh).
    Efek samping suntikan DPT dan pemberian polio melalui mulut tidak berbahaya. Bayi dan anak mungkin akan pegal-pegal, sedikit demam dan rewel selama 1-2 hari, yang tidak perlu diberikan obat apa-apa. Bila ibu merasa khawatir dapat diberikan obat penurun panas (misalnya Tempra).

    Bagaimana penularan Difteri, Pertusis dan Tetanus ?
    Diferi dan Pertusis cara penularannya ialah:

    • Melalui percikan-percikan ludah penderita waktu batuk dan bersin.
    • Melalui saputangan, handuk dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut.

    Sedangkan Tetanus penularannya melalui tali pusat karena pertolongan persalinan yang tidak bersih/steril, melalui luka (tertusuk paku, beling) dll.

    Apakah bahayanya ?

    • Difteri : – Kerusakan jantung
                  – Pernafasan tersumbat
    • Pertusis : – Batuk panjang berminggu-minggu
                    – Radang otak
                    – Radang paru
    • Tetanus : – Mulut terkancing
                    – Kaku
                    – Kejang
                    – Radang paru

    Dapatkah DPT diberikan pada semua bayi dan anak ?
    Dapat, hanya untuk anak yang pernah mengalami kejang demam atau yang pernah menderita kejang (misalnya : karena epilepsi/ayan), sebaiknya diberikan DT saja, agar tidak panas dan tidak timbul kejang. Untuk ulangan 5 tahun usia masuk SD dan 10 tahun usia keluar SD cukup diberikan DT saja.

    Campak itu penyakit apa ?
    Campak yang nama lainnya adalah Tampek (Betawi), Gabagan (Jawa), Mazelen (Belanda), Measles (Inggris), Morbili (Latin) adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya untuk bayi dan anak karena sering disertai komplikasi bronchopneumoni yang banyak menyebabkan kematian pada bayi dan anak.

    Apakah bahayanya ?

    • Panas tinggi
    • Radang mulut dan tenggorokan
    • Diare
    • Radang otak
    • Gizi memburuk
    • Radang paru

    Penyakit apakah polio itu ?
    Polio atau lengkapnya poliomielitis ialah penyakit radang yang menyerang saraf dan dapat menyebabkan lumpuh kedua kaki. Walaupun dapat sembuh tetapi akan pincang seumur hidup.

    Apa Bahayanya ?
    Otot-otot lumpuh dan tetap kecil.

    Bagaimana cara penularannya ?
    Secara langsung adalah melalui percikan ludah penderita atau makanan dan minuman yang dicemari. Pencegahannya ialah dengan menelan vaksin polio 2 tetes setiap kali sesuai dengan jadwal imunisasi di halaman belakang.

    Bagaimana cara penularannya dan pencegahannya ?
    Secara kontak langsung dan melalui pernafasan penderita. Pencegahannya dengan imunisasi campak pada waktu bayi berusia 9-14 bulan. Cukup diberikan sekali seumur hidup. Dapat pula diberikan pada usia 5-6 bulan tetapi harus diulangi sekali lagi pada waktu umur 1-2 tahun.


    Umur Jenis Vaksin
    0 Bulan Hepatitis B1 BCG Polio 1 - -
    2 Bulan Hepatitis B2 - Polio 2 DPT 1 -
    3 Bulan - - Polio 3 DPT 2 -
    4 Bulan - - Polio 4 DPT 3 -
    9 Bulan Hepatitis B3 - - - Campak


    Umur 1,5 Tahun Boster 1 (1 Th dari imunisasi dasar 3)
    Umur 4,5 Tahun Boster 2 (3 Th dari imunisasi Boster 1)

    Vaksin DPaT/Hib Lindungi Bayi dari 4 Penyakit

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 5, 2007

    Vaksin DPaT/Hib Lindungi Bayi dari 4 Penyakit

    Gizi.net – Vaksin kombinasi DPaT/Hib memberikan proteksi optimal terhadap empat jenis penyakit berbahaya sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus, dan miningitis. Ditambah lima vaksin yang disarankan, yaitu polio, campak, DPT, BCG, dan hepatitis B.

    ”Vaksin kombinasi merupakan penemuan terakhir di bidang vaksin yang sangat menguntungkan. Di samping efektif, penerapan vaksin ini lebih efisien dari segi waktu dan biaya,” kata Dr Htay Htay Han, Direktur Penelitian dan Pengembangan Klinis dan Masalah Kesehatan Glaxo SmithKline Biological kepada wartawan, kemarin.

    Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtferiae yang menyerang saluran pernapasan seperti hidung dan tenggorokan, sedangkan partusis atau batuk rejan disebut juga batu seratus hari. Penyebabnya adalah bakteri Bordetella pertussis yang menghasilkan racun (toksin).

    Penyakit tetanus disebabkan racun dari bakteri Clostridium tetani yang menular melalui debu dan kotoran binatang. Penyakit ini merusak sistem saraf. Sedangkan meningitis atau radang selaput otak ditularkan oleh bakteri Hib (Haemophipus influenza tipe B) yang sangat menular melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Penularannya menimbulkan meningitis atau radang selaput otak.

    Gejala penyakit ini tidak spesifik, dan penyakitnya hanya diketahui setelah terjadi kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Anak balita dan bayi paling berisiko tertular penyakit ini. ”Meski pasien dapat disembuhkan, kemungkinan besar ia akan mengalami gangguan pada otak,” jelas Htay Htay Han

    Menurutnya, vaksin kombinasi dengan merek dagang Infantrix/Hib tersebut dapat diberikan sebagai kelanjutan dari vaksin yang telah diberikan terlebih dahulu secara terpisah.

    ”Jadi, orang tua bukan dari segi waktu saja diuntungkan, namun vaksin kombinasi ini juga memiliki efek samping yang minim sehingga nyaman bagi bayi dan orang tua,” ujarnya.

    Menurut Htay Htay Han, hasil penelitian membuktikan bahwa efek samping demam dari pemberian vaksin DPaT sangat minimal, yaitu hanya 9,9% jika dibandingkan dengan pemberian vaksin DPT konvensional yang memberikan dampak demam pada bayi hingga 42,2%.

    Vaksin ini, lanjutnya, juga mengurangi jumlah suntikan dari enam kali menjadi tiga kali. Dengan vaksin tunggal, imunisasi DPT dan Hib masing-masing harus diberikan sebanyak tiga kali.

    Selain itu, tambahnya, adalah praktis karena menghemat waktu para orang tua untuk membawa bayinya ke dokter, meningkatkan kepatuhan imunisasi serta minim efek samping seperti demam, bengkak, kemerahan, dan rasa nyeri pada bekas suntikan.

    Dikatakan, semula vaksin infanrix sudah dapat dikombinasikan, namun belum dalam satu kemasan. Kini vaksin tersebut sudah dikemas dalam satu kemasan sehingga memudahkan bagi dokter untuk menggunakannya.

    Vaksin kombinasi DPaT/Hib B sebetulnya penting diberikan bagi bayi. Namun, mengingat harganya yang masih tinggi, jenis vaksinasi tersebut belum diwajibkan oleh pemerintah. Sampai saat ini program vaksin kombinasi tersebut masih ditawarkan di rumah sakit-rumah sakit swasta.

    Spesialis anak dr Soejatmiko dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada acara sosialisasi vaksin kombinasi beberapa waktu lalu mengatakan, para dokter spesialis anak semakin menyadari pentingnya menginformasikan vaksin kombinasi tersebut kepada para orang tua. (Men/V-1)

    Imunisasi

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 5, 2007


    Kita sering mendengar kata “Imunisasi”. Apa sebenarnya arti kata tersebut ? Dalam kamus besar bahasa Indonesia, imunisasi diartikan “pengebalan” (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun).

    Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.

    Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.

    Jenis-jenis Imunisasi

    Imunisasi BCG

    Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.

    Imunisasi DPT

     Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang

    Imunisasi DT

    Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus.

    Imunisasi TT

    Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.

    Imunisasi Campak

    Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.

    Imunisasi MMR

    Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.

    Imunisasi Hib

    Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.

    Imunisasi Varisella

    Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.

    Imunisasi HBV

    Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.

    Imunisasi Pneumokokus Konjugata

    Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).


    VAKSIN DTP- HB

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 4, 2007

    VAKSIN DTP- HB 

    Deskripsi

    Vaksin DTP-HB merupakan suspensi koloidal homogen bewarna putih susu dalam vial gelas tidak bewarna, mengandung toksiod tetanus murni, difteri murni, dan bakteri pertusis yang diinaktivasi serta vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung partikel HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) yang sangat murni dan bersifat non-infectious.

    Komposisi

    Setiap dosis (0.5 ml) mengandung Zat aktif : 
    Toksoid difteri murni : ………………………..20 Lf
    Toksoid Tetanus murni : ……………………….. 7,5 Lf
    B Pertussis Inaktif : ………………………..12 OU
    HBsAg : ………………………..10 mcg
    Zat tambahan : 
    aluminium fosfat : ………………………..1,5 mg 
    Natrium klorida : ………………………..4,5 mg 
    Thimerosal : ………………………..0,05 mg 

    Indikasi

    Imunisasi aktif terhadap difteri, tetanus, pertussis (batuk rejan) dan Hepatitis B secara simultan.

    Cara Kerja Obat

    Merangsang tubuh membentuk antibody terhadap difteri, tetanus, pertusis, (batuk rejan) dan Hepatitis B secara simultan pada anak-anak. 

    Posologi

    Vaksin harus disuntikkan secara intramuskuler. Setiap dosis adalah 0.5 ml. Setiap penyuntikan harus menggunakan syringe dan jarum yang steril.
    Diberikan mulai pada bayi usia 8 minggu, dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval waktu 4 minggu.

    Efek Samping

    Untuk DTP, reaksi lokal atau sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang sering terjadi adalah bengkak, nyeri, penebalan, kemerahan pada bekas suntikan, menangis > 3 jam bersamaan dengan demam. Kadang-kadang terjadi reaksi umum seperti demam > 38.5 ? C, muntah, diare.

    Kontra Indikasi

    Hipersensitivitas salah satu komponen vaksin, reaksi berat terhadap dosis vaksin kombinasi sebelumnya, atau bentuk-bentuk reaksi sejenis lainnya adalah merupakan kontraindikasi terhadap dosis lanjutan vaksin kombinasi atau vaksin tertentu yang diketahui menimbulkan efek samping. Terdapat beberapa kontraindikasi terhadap dosis pertama DTP : fits atau gejala cerebral abnormality pada periode baru lahir atau neurological abnormality serius lainnya merupakan kontraindikasi terhadap dosis pertama DTP karena komponen pertusis. Pada kasus ini, vaksin jangan diberikan dalam bentuk Vaksin Kombinasi, tetapi sebaiknya diberikan secara terpisah, yaitu dengan memberi vaksin DT (Penderita acute severe febrile illness)

    Interaksi Obat

    Pada orang yang sedang menjalani pengobatan dengan obat-obatan yang menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid, respon tidak akan tercapai.

    Peringatan Perhatian

    Hati-hati penggunaan pada anak dengan riwayat kejang dan demam
    Vial vaksin harus dikocok untuk menghomogenkan suspensi. 
    Penyuntikan pada bagian pantat anak tidak direkomendasikan karena dapat menyebabkan luka pada syaraf sciatic dan tidak boleh disuntikkan secara intrakutan karena dapat menimbulkan reaksi lokal. 
    Sebelum vaksin digunakan, informasi pada gambar Vaccine Vial Monitor (VVM) agar diikuti.

    Cara Penyimpanan dan Kadaluarsa

    Simpan pada suhu +2?C sampai dengan +8?C. Jangan dibekukan. Shelf Life 18 bulan pada suhu 4?C. Lindungi terhadap cahaya matahari.

    Kemasan

    Box @ 10 vial (2,5 ml / 5 dosis) ; Reg. No :GKL 0302906043B1
    Box @ 10 vial (5 ml/ 10 dosis) ; Reg. No :GKL 0302906043B1

    Vaksin DTP

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 4, 2007

    Deskripsi

    Vaksin Jerap DTP adalah vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan, serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi yang teradsorbsi ke dalam 3 mg / ml Aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Potensi vaksin per dosis tunggal sedikitnya 4 IU pertussis, 30 IU difteri dan 60 IU tetanus.

    Indikasi

    Untuk Imunisasi secara simultan terhadap difteri, tetanus dan batuk rejan.

    Komposisi

    Tiap ml mengandung : Toksoid difteri yang dimurnikan 40 Lf
    Toksoid tetanus yang dimurnikan 15 Lf
    B, pertussis yang diinaktivasi 24 OU
    Aluminium fosfat 3 mg
    Thimerosal 0,1 mg

    Dosis dan Cara Pemberian

    Vaksin harus dikocok dulu untuk menghomogenkan suspensi. Vaksin harus disuntikkan secara intramuskuler atau secara subkutan yang dalam. Bagian anterolateral paha atas merupakan bagian yang direkomendasikan untuk tempat penyuntikkan. (Penyuntikan di bagian pantat pada anak-anak tidak direkomendasikan karena dapat mencederai syaraf pinggul). Tidak boleh disuntikkan pada kulit karena dapat menimbulkan reaksi lokal. Satu dosis adalah 0,5 ml. Pada setiap penyuntikan harus digunakan jarum suntik dan syringe yang steril.

    Di negara-negara dimana pertussis merupakan ancaman bagi bayi muda, imunisasi DTP harus dimulai sesegera mungkin dengan dosis pertama diberikan pada usia 6 minggu dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval masing-masing 4 minggu. Vaksin DTP dapat diberikan secara aman dan efektif pada waktu yang bersamaan dengan vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV dan IPV), Hepatitis B, Hib. dan vaksin Yellow Fever.

    Efek Samping

    Terjadinya gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, kemerahan pada tempat suntikan. Kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas, dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi. Menurut dugaan komplikasi neurologis yang disebabkan oleh komponen pertusis sangat jarang terjadi, observasi yang telah dilakukan menunjukkan gejala ini jarang terjadi jika dibandingkan dengan gejala-gejala lain yang ditimbulkan oleh imunisasi DTP.

    Kontraindikasi

    Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan suntikan pertama DTP. Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi dari komponen pertussis. Imunisasi DTP kedua tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama DTP. Komponen pertussis harus dihindarkan, dan hanya dengan diberi DT untuk meneruskan imunisasi ini. Untuk individu penderita virus human immunodefficiency (HIV) baik dengan gejala maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi DTP sesuai dengan standar jadual tertentu.

    Penyimpanan dan Daluarsa

    Vaksin DTP harus disimpan dan ditransportasikan pada suhu 2o – 8oC.
    TIDAK BOLEH DIBEKUKAN.
    Daluarsa : 2 tahun

    Kemasan

    Vaksin tersedia dalam kemasan vial 10 dosis.

    Vaksin BIO-TT

    Posted in Imunisasi by nugraad001 on January 4, 2007

    Deskripsi

    BIO TT adalah Vaksin TT  yang mengandung toksoid Tetanus yang telah dimurnikan yang teradsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0,5 ml vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU. Vaksin TT dipergunakan untuk pencegahan terhadap tetanus pada bayi yang baru lahir dengan mengimunisasi wanita usia subur dan juga untuk pencegahan terhadap tetanus.Vaksin ini telah memenuhi persyaratan Farmakopea Indonesia dan WHO requirements for Biological Substances.

    Indication

    Imunisasi aktif terhadap Tetanus

    Komposisi

    Tiap dosis (0,5 ml) mengandung :
    Toksoid tetanus yang dimurnikan 10 Lf
    Aluminium fosfat (sebagai adsorban) 1,5 mg
    Thimerosal (sebagai preservatif) 0,05 mg

    Cara Pemberian

    Vaksin dikocok sebelum digunakan. Suntikan diberikan secara intramuskular atau subkutan yang dalam dengan menggunakan jarum suntik sekali pakai.

    Jadwal Immuniasasi

    Imunisasi dasar terdiri dari dua dosis utama yang diberikan dengan jarak tidak kurang dari 4 minggu, diikuti dosis ketiga yang diberikan 6 bulan kemudian imunisasi ulangan 1 tahun sesudah dosis ke-3, kemudian 1 tahun setelah dosis ke-4 dengan dosis 0,5 ml intramuskular.Imunisasi dapat diberikan selama kehamilan, termasuk selama trimester pertama

    Efek Samping

    Biasanya hanya gejala ringan yang bersifat sementara seperti demam, kemerahan dan pembengkakan pada lokasi suntikan, reaksi alergi akut, dyspnoeae, urticaria, angioneurotic oedema, reaksi anaphylactic akut. 

    Kontra Indikasi

    Hypersensitif terhadap salah satu komponen vaksin, imunisasi sebaiknya tidak diberikan pada keadaan demam.

    Peringatan dan Perhatian

    Imunisasi dapat diberikan pada infeksi ringan pernafasan bagian atas.

    Interaksi Obat

    Hindari penggunaan bersamaan antibiotik karena respons terhadap tetanus toksoid dapat mengganggu dosis terapi chloramphenicol.

    Penyimpanan

    Pada suhu 2 – 8C. Jangan dibekukanoVaksin yang telah dibuka harus disimpan pada suhu 2 – 8C dan masih dapat digunakan jika belum kadaluarsa. Jika diduga telah terkontaminasi atau terjadi perubahan bentuk fisik vaksin harus segera dimusnahkan.

    Kadaluarsa

    Dua tahun.

    Kemasan

    Ampul 0,5 ml (1 dosis)
    Dus @ 10 ampulNo.

    « Previous PageNext Page »

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.