Pustaka Digital Ibu dan Anak


“Kembar Air” Bukan Karena Minum Es

Posted in Parent Guide by nugraad001 on December 4, 2007

parent-guide.jpg

Kembar air itu istilah yang berasal dari masyarakat untuk bayi yang “kembar” dengan air. Padahal, itu terjadi karena ukuran kandungan besar –karena air ketuban berlebih—sehingga seolah-olah kembar dengan air.

‘’Yuk, silahkan diminum orange juice-nya?,’’kata Sisca (32 tahun), mempersilahkan adik iparnya, Shinta (26 tahun) yang sedang bertamu di rumahnya,  agar meminum jus jeruk yang disuguhkannya. ‘’Mmh…makasih Mbak, tapi aku gak berani minum air es,’’ungkap customer service di sebuah bank swasta itu. Mendengar jawaban Shinta, ibu dua putra itu segera mengernyitkan dahinya, kebingungan. ‘’Memangnya, kenapa?,’’tanya Sisca, heran. ‘’Kata ibuku, kalau sedang hamil minum air es, apalagi kalau kebanyakan, bisa bikin kembar air,’’terang Shinta. ‘’Kembar air?,’’tanya Sisca, tambah bingung. ‘’Iya, perutnya jadi besar, seperti hamil anak kembar, padahal isinya air,’’kata Shinta lugu.

Ya, selama ini bermacam-macam mitos seputar kehamilan ‘beredar’ di masyarakat, ‘diwariskan’ dari generasi ke generasi, dan diyakini kebenarannya. Termasuk, mitos bahwa minum air es apalagi secara berlebih selama kehamilan bisa membuat perut si ibu membesar, seolah sedang mengandung anak kembar. Bisa jadi, mitos itu didasari atas fakta pada sejumlah kasus, kehamilan dengan ukuran perut ibu sangat besar, ternyata di dalam rahim ibu terdapat cairan dalam jumlah banyak. Tetapi, benarkah itu diakibatkan oleh konsumsi air es selama kehamilan?

Bukan Karena Air Es
Menurut dr. Nurwansyah, SpOG, dokters spesialis obstetri dan ginekologi, Brawijaya Women and Children Hospital, pendapat tersebut tidak benar. ‘’Kembar air itu istilah yang berasal dari masyarakat untuk bayi yang seolah ‘kembar’ dengan air.

Padahal, itu terjadi karena ukuran kandungan besar -karena air ketuban berlebih-sehingga seolah-olah kembar dengan air,’’paparnya. Kondisi seperti itu, lanjutnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan minum air es selama kehamilan. ‘’Minum berapa banyak pun air es, tidak akan berpengaruh pada kehamilan dan janin. Karena, sebenarnya di dalam rahim –saat hamil, ada plasenta dan bayi yang keduanya memiliki regulator. Jadi, jika minum banyak sekalipun, yang diserap hanya sesuai kebutuhan saja,’’paparnya.

Secara sederhana, bila diilustrasikan, saat Anda minum, air akan diserap usus, lalu masuk ke dalam jantung, sehingga membuat darah encer dan dapat beredar ke seluruh tubuh. Nah, sebagian lagi yang ‘tidak terpakai’ akan dibuang melalui urin.

Polihidramnion
Sebenarnya, kondisi ‘kembar air’ bukan disebabkan oleh minum air es, melainkan adanya kondisi polihidramnion. ‘’Polihidramnion adalah terkumpulnya cairan di dalam ketuban di atas 2 liter. Banyaknya air ketuban itu secara garis besar bisa disebabkan oleh faktor yang diketahui sebabnya, dan faktor yang tidak diketahui sebabnya,’’terang dr. Nurwansyah.

Faktor yang diketahui sebabnya, terjadi karena :

  • Terdapat gangguan/sumbatan pada saluran pencernaan janin. Misalnya, bagian kerongkongan yang tidak berlubang, atau usus 12 jari yang tersumbat. Sehingga, memberikan dampak cairan ketuban lebih banyak dari seharusnya.  Dalam keadaan normal, lanjutnya, bayi dalam kandungan selain akan minum, juga akan buang air kecil, dan buang air besar. Nah, yang diminum itu adalah air ketuban. Setelah minum, air akan masuk ke dalam perutnya, kemudian diserap oleh tubuh. Air terminum yang tidak terpakai, akan dibuang dalam urin dan feses janin. ‘’Jika ada sumbatan pada saluran pencernaan, yang terjadi adalah air ketuban menjadi banyak,’’tuturnya.
  • Adanya infeksi. Infeksi bisa menyebabkan produksi air ketuban lebih sedikit, ataupun lebih banyak.
  • Bayi kembar. Terjadi apabila pada kehamilan bayi kembar, terdapat kondisi Twin to twin Transfusion  Sydrome (TTTS). Artinya, bayi yang satu menjadi donor, sedangkan yang lain menjadi resipien (penerima darahnya). Pada kasus seperti ini, biasanya salah satu bayi akan memiliki kelebihan cairan, sedangkan satunya justru hanya mempunyai sedikit cairan. Ini dapat terjadi karena adanya pembuluh darah yang terkoneksi antara tali pusat bayi yang satu ke bayi lainnya. Bila demikian, ini harus diputus agar tidak terjadi polihidramnion.

Sedangkan faktor yang tidak diketahui penyebabnya, berarti memang tidak diketahui kenapa bisa terjadi polihidramnion. ‘’Tetapi, pada kondisi ini umumnya dianggap ada gangguan pada selaput ketuban, sehingga ketuban menghasilkan cairan yang berlebihan,’’tuturnya. Penyebabnya, banyak yang mengaitkan dengan adanya kelainan kromoson, gen,dll.

Sementara itu, menurut  Roland L. Boyd, DO, FAAP, FACOP, seorang neonatologi dari American Academy of Pediatrics, air ketuban dalam jumlah proposional tetap dibutuhkan bayi  selama dalam kandungan. ‘’Sebenarnya, air ketuban dibutuhan bayi di dalam janin agar dapat bertumbuh kembang sesuai dengan seharusnya, tetapi, jika berlebihan tentu akan menimbulkan masalah lain,’’katanya dalam emedicine.com.

Bayi Prematur
Polihidramnion, kata, dr. Nurwansyah, tidak akan berdampak pada bayi, melainkan pada kehamilan. ‘’Jadi, umumnya, kehamilan tidak bisa berlangsung 9 bulan 10 hari, tetapi harus dilahirkan lebih cepat (prematur),’’ungkapnya. Pasalnya, bila dibiarkan kondisi ini akan membuat sang ibu merasa sesak sehingga  tidak nyaman.
Menurut dr. Nurwansyah, polihidramnion dapat terjadi pada ibu manapun, dan hingga saat ini belum ada faktor pencegahnya, oleh karenanya lakukan pemeriksaan secara rutin sesuai anjuran dokter kandungan. Sehingga, kondisi kehamilan Anda dapat senantiasa terpantau.

Dengan demikian, jelaslah bahwa minum air es tidak akan menyebabkan kehamilan menjadi besar atau ‘kembar air’. Jadi, mulai sekarang, Anda tak perlu khawatir lagi untuk meminum air es ya. Apalagi, jika itu adalah es jus buah. Justru, akan membuat Anda merasa segar bukan? Nah, selamat minum ya! PG


Bisa Terdeteksi Setiap Saat

Menurut dr. Nurwansyah, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Brawijaya Women and Children Hospital sebenarnya kondisi polihidramnion dapat terdeteksi setiap saat, sepanjang Anda rutin memeriksakan kehamilan.

  1. Pemeriksaan tanpa USG. Jika terdapat kondisi ukuran rahim lebih besar dari usia kehamilan berdasarkan haid terakhir, misalnya usia kehamilan 16 minggu, tapi besarnya kehamilan seperti usia 20 minggu. Maka, dapat dicurigai adanya polihidramnion.
  2. Pemeriksaan USG (ultrasonografi). Untuk memastikan kecurigaan, dapat melalui pemeriksaan USG.

Powered by ScribeFire.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: