Pustaka Digital Ibu dan Anak


Anak Sakit Perut, Waspadalah!

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

KETIKA sakit perut mendera, tak semua anak — terutama usia balita — bisa menggambarkan dengan tepat, bagian mana dari tubuhnya yang terganggu. Sering kali, ia menunjukkan rasa sakitnya dengan tangisan saja. Akibatnya, kaum ibu pun bingung, tak tahu pertolongan pertama macam apa yang harus diberikan pada si buah hati.

Ditilik dari asal usulnya, sakit perut dibedakan jadi gangguan yang berasal dari dalam dan luar saluran cerna. Secara medis, sakit perut timbul karena terganggunya fungsi alat-alat cerna (lambung, usus, hati, dan pakreas). Padahal, perangkat cerna ini punya tugas penting, bukan saja mampu mengolah makanan, tapi juga menyerap sarinya untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sakit perut yang berasal dari dalam saluran cerna di antaranya adalah diare, sembelit, apendisitis (radang usus buntu). Sedangkan yang berasal dari luar saluran cerna adalah penyakit infeksi seperti radang telinga, radang saluran kemih, dan lain-lainnya.

Kadang-kadang, ketika anak mengeluh perutnya mulas, orang tua hanya menganggapnya sebagai penyakit ringan biasa. Padahal, sakit perut bisa merupakan indikasi penyakit berat. Selebihnya, dengan mengetahui seluk beluk penyakit perut, para ibu bisa memiliki gambaran penanganan darurat jika anak tiba-tiba menangis seraya memegangi perut.

Faktor psikis

Pusat sakit perut bisa saja bercokol di ulu hati. Kalau ini terjadi, artinya penderita mengalami kelainan pada lambung, usus halus bagian awal, pankreas, dan hati. Penyakit yang tergolong kelompok ini di antaranya hepatitis (radang hati), pankreatitis (radang pankreas), dan maag (tukak lambung).

Namun, jika sumber rasa sakit terjadi di sekitar pusar, biasanya sudah terjadi gangguan pada pangkal usus halus, seperti tampak pada penyakit ileititis (radang ujung usus halus).

Sementara, rasa sakit yang meletup-letup di bagian bawah perut biasanya dialami penderita kelainan kolon (usus besar), saluran kencing, dan alat kelamin perempuan, khususnya daerah pelvis atau panggul.

Ada kalanya serangan sakit perut terjadi cukup lama sehingga menyebabkan anak begitu rewel dan merepotkan. Sebaliknya, ada juga mulas yang berlangsung sebentar saja. Begitu bagian perut anak diolesi dengan minyak kayu putih atau selesai buang air besar, penderita jadi ceria kembali.

Secara medis, berdasarkan lamanya serangan, gangguan perut dibedakan jadi akut dan kronis. Sakit perut akut datang secara tiba-tiba. Sakit perut kronis biasanya terjadi berulang-ulang, yakni timbul paling sedikit sebulan sekali selama tiga bulan.

Kalau tergolong parah dan membutuhkan pembedahan, tentu pengobatan sakit perut harus diatasi dengan bedah. Biasanya, ini terjadi pada apendisitis, invaginasi (masuknya sebagian usus ke dalam usus lain sehingga menimbulkan sumbatan), dan sebagainya. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian.

Sedangkan diare atau intoleransi laktosa (tak tahan terhadap laktosa) tergolong penyakit nonbedah. Jadi, dengan obat saja sakit perut sudah bisa dikendalikan.

Pada anak-anak, umumnya sakit perut disebabkan oleh tiga hal, yakni kelainan organik di dalam tubuh seperti terjadi pada saluran makanan, saluran kemih, hati, dan empedu. Selain itu, ada juga kelainan organik dan sistematik dari luar rongga perut yang dipicu gangguan di atas sekat rongga dada seperti radang paru-paru, kelainan darah, dan kejang otot perut. Sementara penyebab nonorganik lebih berkaitan dengan faktor psikis.

Gejala penyerta

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

Pada apendisitis yang biasanya membutuhkan bedah, selain gejala sakit perut, muncul pula gejala panas tinggi dan muntah. Sakit perutnya pun khas, yaitu pada bagian bawah kanan perut.

Demikian pula dengan invaginasi. Sumbatan usus pada penyakit ini mengakibatkan timbulnya derita ikutan seperti kembung, muntah lendir, dan darah. Biasanya, anak tiba-tiba menangis sambil menjerit kesakitan. Jenis lainnya adalah valvulus (usus berputar). Akibatnya, di samping perut sakit, anak akan muntah, sulit buang air besar, dan kembung. Namun ingat, bila gejala penyerta tidak muncul, tak perlu panik.

Bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan akan menunjukkan gejala itu. Lain halnya dengan bayi usia tiga bulan hingga dua tahun. Selain muntah, mungkin tiba-tiba ia menjerit dan menangis. Sedangkan anak usia 2-5 tahun mengekspresikan rasa sakitnya dengan keluhan, meskipun belum bisa menunjukkan dengan tepat bagian mana yang sakit.

Seperti penyakit lainnya, kunci utama menanggulangi sakit perut pada anak adalah mencari penyebabnya. Cara paling sederhana, amati perubahan anak. Bayi, misalnya, menderita sakit perut kalau berganti susu atau makanan padat. Selain itu, perlu diperhatikan pula perubahan frekuensi buang air besar, kondisi kotoran atau faeces, kandungan muntahan, juga posisi anak saat serangan (menekuk lutut ataukah membungkukkan badan). Keterangan yang diberikan orang tua dapat membantu dokter menentukan penanganan medis. Di samping pemeriksaan fisik, bila diperlukan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan laboratorium, untuk mendeteksi adanya infeksi atau gangguan pencernaan dan penyerapan. Namun, pada kasus-kasus berat, biasanya dilakukan pemeriksaan lebih teliti menggunakan rontgen, USG (ultrasonografi), EEG (elektroensefalografi), dan EMG (elektromiografi).

Pencegahan gangguan alat cerna tergantung penyakitnya. Meskipun demikian, sebenarnya ada banyak kebiasaan baik yang dapat mencegah terjadinya sakit perut. Misalnya saja, mengonsumsi makanan kaya serat, memilih makanan yang terjamin kebersihannya, berolah raga secara rutin, dan membiasakan buang air teratur. Ini bisa dilatih sejak anak masih kecil.

Selain itu, terbinanya komunikasi yang baik dan teratur antara orang tua dengan anak banyak menolong mengatasi masalah yang dihadapi anak. Jika ia tiba-tiba sakit perut, ciptakanlah suasana menyenangkan, hindari pula rasa panik. Dengan demikian, anak akan merasa terlindungi dan tenang. Sebab, tak jarang juga, sakit perut yang diderita anak hanyalah refleksi dari kekecewaannya. (dr. Nita Yoenika).***

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Anak Sakit Perut, Waspadalah!

Posted in Pikiran Rakyat by nugraad001 on October 8, 2007

pr-head.gif

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

KETIKA sakit perut mendera, tak semua anak — terutama usia balita — bisa menggambarkan dengan tepat, bagian mana dari tubuhnya yang terganggu. Sering kali, ia menunjukkan rasa sakitnya dengan tangisan saja. Akibatnya, kaum ibu pun bingung, tak tahu pertolongan pertama macam apa yang harus diberikan pada si buah hati.

Ditilik dari asal usulnya, sakit perut dibedakan jadi gangguan yang berasal dari dalam dan luar saluran cerna. Secara medis, sakit perut timbul karena terganggunya fungsi alat-alat cerna (lambung, usus, hati, dan pakreas). Padahal, perangkat cerna ini punya tugas penting, bukan saja mampu mengolah makanan, tapi juga menyerap sarinya untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sakit perut yang berasal dari dalam saluran cerna di antaranya adalah diare, sembelit, apendisitis (radang usus buntu). Sedangkan yang berasal dari luar saluran cerna adalah penyakit infeksi seperti radang telinga, radang saluran kemih, dan lain-lainnya.

Kadang-kadang, ketika anak mengeluh perutnya mulas, orang tua hanya menganggapnya sebagai penyakit ringan biasa. Padahal, sakit perut bisa merupakan indikasi penyakit berat. Selebihnya, dengan mengetahui seluk beluk penyakit perut, para ibu bisa memiliki gambaran penanganan darurat jika anak tiba-tiba menangis seraya memegangi perut.

Faktor psikis

Pusat sakit perut bisa saja bercokol di ulu hati. Kalau ini terjadi, artinya penderita mengalami kelainan pada lambung, usus halus bagian awal, pankreas, dan hati. Penyakit yang tergolong kelompok ini di antaranya hepatitis (radang hati), pankreatitis (radang pankreas), dan maag (tukak lambung).

Namun, jika sumber rasa sakit terjadi di sekitar pusar, biasanya sudah terjadi gangguan pada pangkal usus halus, seperti tampak pada penyakit ileititis (radang ujung usus halus).

Sementara, rasa sakit yang meletup-letup di bagian bawah perut biasanya dialami penderita kelainan kolon (usus besar), saluran kencing, dan alat kelamin perempuan, khususnya daerah pelvis atau panggul.

Ada kalanya serangan sakit perut terjadi cukup lama sehingga menyebabkan anak begitu rewel dan merepotkan. Sebaliknya, ada juga mulas yang berlangsung sebentar saja. Begitu bagian perut anak diolesi dengan minyak kayu putih atau selesai buang air besar, penderita jadi ceria kembali.

Secara medis, berdasarkan lamanya serangan, gangguan perut dibedakan jadi akut dan kronis. Sakit perut akut datang secara tiba-tiba. Sakit perut kronis biasanya terjadi berulang-ulang, yakni timbul paling sedikit sebulan sekali selama tiga bulan.

Kalau tergolong parah dan membutuhkan pembedahan, tentu pengobatan sakit perut harus diatasi dengan bedah. Biasanya, ini terjadi pada apendisitis, invaginasi (masuknya sebagian usus ke dalam usus lain sehingga menimbulkan sumbatan), dan sebagainya. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian.

Sedangkan diare atau intoleransi laktosa (tak tahan terhadap laktosa) tergolong penyakit nonbedah. Jadi, dengan obat saja sakit perut sudah bisa dikendalikan.

Pada anak-anak, umumnya sakit perut disebabkan oleh tiga hal, yakni kelainan organik di dalam tubuh seperti terjadi pada saluran makanan, saluran kemih, hati, dan empedu. Selain itu, ada juga kelainan organik dan sistematik dari luar rongga perut yang dipicu gangguan di atas sekat rongga dada seperti radang paru-paru, kelainan darah, dan kejang otot perut. Sementara penyebab nonorganik lebih berkaitan dengan faktor psikis.

Gejala penyerta

Seperti apa pun kondisinya, berat atau ringan, sakit perut tetap harus diwaspadai. Mau tak mau, dokter harus jeli dalam menentukan apakah sakit perut pada anak berbahaya ataukah tidak.

Pada apendisitis yang biasanya membutuhkan bedah, selain gejala sakit perut, muncul pula gejala panas tinggi dan muntah. Sakit perutnya pun khas, yaitu pada bagian bawah kanan perut.

Demikian pula dengan invaginasi. Sumbatan usus pada penyakit ini mengakibatkan timbulnya derita ikutan seperti kembung, muntah lendir, dan darah. Biasanya, anak tiba-tiba menangis sambil menjerit kesakitan. Jenis lainnya adalah valvulus (usus berputar). Akibatnya, di samping perut sakit, anak akan muntah, sulit buang air besar, dan kembung. Namun ingat, bila gejala penyerta tidak muncul, tak perlu panik.

Bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan akan menunjukkan gejala itu. Lain halnya dengan bayi usia tiga bulan hingga dua tahun. Selain muntah, mungkin tiba-tiba ia menjerit dan menangis. Sedangkan anak usia 2-5 tahun mengekspresikan rasa sakitnya dengan keluhan, meskipun belum bisa menunjukkan dengan tepat bagian mana yang sakit.

Seperti penyakit lainnya, kunci utama menanggulangi sakit perut pada anak adalah mencari penyebabnya. Cara paling sederhana, amati perubahan anak. Bayi, misalnya, menderita sakit perut kalau berganti susu atau makanan padat. Selain itu, perlu diperhatikan pula perubahan frekuensi buang air besar, kondisi kotoran atau faeces, kandungan muntahan, juga posisi anak saat serangan (menekuk lutut ataukah membungkukkan badan). Keterangan yang diberikan orang tua dapat membantu dokter menentukan penanganan medis. Di samping pemeriksaan fisik, bila diperlukan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan laboratorium, untuk mendeteksi adanya infeksi atau gangguan pencernaan dan penyerapan. Namun, pada kasus-kasus berat, biasanya dilakukan pemeriksaan lebih teliti menggunakan rontgen, USG (ultrasonografi), EEG (elektroensefalografi), dan EMG (elektromiografi).

Pencegahan gangguan alat cerna tergantung penyakitnya. Meskipun demikian, sebenarnya ada banyak kebiasaan baik yang dapat mencegah terjadinya sakit perut. Misalnya saja, mengonsumsi makanan kaya serat, memilih makanan yang terjamin kebersihannya, berolah raga secara rutin, dan membiasakan buang air teratur. Ini bisa dilatih sejak anak masih kecil.

Selain itu, terbinanya komunikasi yang baik dan teratur antara orang tua dengan anak banyak menolong mengatasi masalah yang dihadapi anak. Jika ia tiba-tiba sakit perut, ciptakanlah suasana menyenangkan, hindari pula rasa panik. Dengan demikian, anak akan merasa terlindungi dan tenang. Sebab, tak jarang juga, sakit perut yang diderita anak hanyalah refleksi dari kekecewaannya. (dr. Nita Yoenika).***

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: